Membongkar Kebohongan Kaum Salafi Terhadap Apih Uyus& Orang-orang Awam , Dalam kasus Ahlul Bait yang dimaksud ayat Thahir

by Abu Sadra on Tuesday, May 10, 2011 at 7:32pm

 Oleh : Abu Sadra

Facebook

 

Kaum Salafi memang tidak ada habis-habisnya menyebar berbagai fitnah dan berbagai berita dusta.Seperrti halnya buku “ Mengapa Saya Keluar dari Syiah” karangan seorang pendusta yang mengaku bernama Sayid Husein Musawi, buku ini sangat laris dikalangan kaum Salafi yang memang menggemari berita dusta.Dalam artikel yang kami add minggu kemarin kami telah membantah buku dusta yang sebetulnya tidak perlu dibantah.

Seperti halnya Apih Uyus, kaum awam seperti kita banyak yang terkecoh dengan trik-trik kaum Salafi diberbagai situs mereka.Kadang mereka memunculkan satu hadist untuk mendukung pernyataan mereka sambil menyem,bunyikan hadist-hadist lainnya yang bertentangan dengan pendapat mereka..Dalam kasus pembelaan mereka terhadap Muawiyah misalnya.Hadist2 tentang kejahatan Muawiyah mereka buang jauh-jauh.

Kadang mereka mereka memunculkan isu yang menyerang syiah seperti “Orang-orang syiah percaya  tahrif (perubahan Alqur`an), sambil mengutip beberapa hadist seputar tahrif yang  mereka ambil dari Kitab Alkafi.Padahal semua sudah tahu bahwa Alkafi ini hanya sekitar sepuluh persennya saja yang sahih.Seperti itulah cara mereka untuk menyebar fitnah.

Dalam Alkafi memang ada riwayat tentang perubahan (tahrif) Qur`an.Tetapi Al-Kafi bukanlah kitab shahih, yang hadisnya pun sampai sekarang masih diteliti, makanya tidak bernama “Shahih Al-Kafi”. Lucunya (atau tidak lucunya) di dalam kitab Ahlus Sunnah, yang bernama Shahih Bukhari atau Shahih Muslim, juga terdapat hadis tentang perubahan Al-Quran. Bedanya, ini kitab shahih! Tentu saja shahih menurut penulisnya. Jadi di dalam Shahih Bukhari atau Muslim tidak perlu pengklasifikasian hadis, karena semuanya shahih (menurut saudara Ahlus Sunnah). Ada beberapa riwayat tahrif Al-Quran yang ada dalam kitab Ahlus Sunnah. Jadi baik Syiah maupun Ahlus Sunnah ada riwayat tahrif, bedanya yang satu shahih yang satu lagi tidak shahih (menurut masing-masing). Jadi jangan mengatakan bahwa Syiah mempunyai Quran yang berbeda, sementara di sisi lain ada juga riwayat tahrif dalam kitab shahih. Sudah saatnya berhenti bertikai. Justru kita harus mengamalkan apa yang ada di Al-Quran Al-Karim

Seorang ulama Syiah, Sayid Hasyim Ma’ruf Al-Hasani, pernah melakukan penelitian dan menyatakan bahwa Al-Kafi berisi 16.199 hadis; diantaranya 5.072 dianggap shahih, 144 hasan, 1128 nuwatstsa’, 302 qawiy, dan 9.480 hadis dhaif. Pengklasifikasian itu pun baru berdasarkan keabsahan sanad, belum isinya (matan).

Bila kaum Salafi menyerang kami dengan menunjukan pernyataan ulama syiah yang mendukung tahrif, kami pun tak segan-segan menunjukan adanya ulama besar kalian yang meyakini tahrif.

Ulama-ulama besar syiah yang menolak tahrif ini jumlahnya sangat banyak dan mereka sudah mencapai tingkatan marja.Sementara ulama syiah yang meyakini adanya tahrif , jumlahnya hanya satu atau dua orang dan itupun tidak masuk ke dalam marja. Ja’far Muhammad ibn Ali ibn Husain ibn Babawaih Al-Qummiy (Ash-Shaduq): “Keyakinan kita tentang Al-Quran yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW yaitu ada di antara dua sisi kitab yang berada di tangan kaum Muslim dan tidak lebih dari itu. Maka barang siapa yang mengatakan bahwa kami meyakini yang lebih dari itu, pastilah orang tersebut berbuat dusta.”

Syaikh Thaifah Abu Ja’far Muhammad ibn Hasan Ath-Thusiy: “Pembicaraan tentang adanya penambahan dan pengurangan pada Al-Quran adalah sesuatu yang tidak pantas… Dan itulah yang sesuai dengan kebenaran dari mazhab kita. Itulah yang dibela Al-Murtadha (Imam Ali ibn Abi Thalib AS), yang tampak dari banyak riwayat…”

Abu Ali Thabarsi: “…Adapun tentang adanya penambahan pada Al-Quran maka hal tersebut disepakati sebagai sesuatu yang batil…”

Sayid Ibnu Thawus: “Imamiyah yakin tidak ada tahrif dalam Al-Quran.”

Syaikh Muhammad ibn Hasan Al-Hurr Al-Amiliy: “Barang siapa mau meneliti tarikh, riwayat-riwayat dan atsar, maka dia tahu dengan pasti bahwa Al-Quran telah ditetapkan pada tingkat ke-mutawatir-an yang sangat kuat, dan dengan penukilan ribuan sahabat, dan bahwa Al-Quran telah tersusun dan terkumpul rapi pada masa Rasulallah SAW.”

Syaikh Abu Zuhrah: “Sejumlah ulama besar Imamiyah yang diketuai Al-Murtadha, Syaikh Thusi, dan lain-lain menolak…”

Ayatullah Sayid Burujerdi: “Merupakan suatu kemestian logis untuk menolak (tahrif) dan kabar-kabar yang menolak kemurnian ayat Al-Quran amat sangat lemah dan bertentang dengan hadis yang pasti (qath’i) dan mesti (dharurah), malah bertentangan dengan tujuan kenabian.Kemudian, sungguh sangat mengherankan adanya sebagian orang-orang yang mempertahankan kabar angin ini, lisan maupun tulisan yang tersimpan selama lebih dari tiga belas abad, yang menyatakan bahwa ada penghapusan ayat-ayat dalam Al-Quran Al-Majid.”

Allamah Syahsyahani: “Hadis-hadis ini tidak pantas diperhatikan bila ditinjau dari segi sanadnya. Tidak ada seorang pun yang menyatakan bahwa ada satu ayat saja dari hadis itu yang shahih… Hadis-hadis ini bertentangan dengan hadis-hadis mutawatir yang lebih kuat, dan sesuai dengan Al-Quran, sunnah, akal sehat, dan kesepakatan.”

Imam Khomaini: “Lemah, tidak pantas berdalil dengannya.”

Dan masih banyak ulama-ulama Syiah yang menolak perubahan Al-Quran, seperti Zainuddin Al-Bayadli, Al-Muqaddas Al-Baghdadi, Kasyful-Ghitha, Sayid Muhammad Jawad Al-Balaghiy, Sayid Muhammad Thabathaba’i Bahrul-Ulum, Ayatullah Kuh Kamariy, Sayid Muhsin Al-Amin Al-Amiliy, Sayid Muhammad Mahdi Syirazy, dll. Oleh karena di dalam kitab Al-Kafi terdapat hadis yang lemah, maka juga terdapat periwayat (rawi) yang lemah. Seperti Abi Al-Jarud Ziyad ibn Mundzir As-Sarhub (pemimpin sekte Jarudiyah/Sarhubiyah), Ahmad ibn Muhammad As-Sayyari, Mankhal ibn Jamil Al-Kufi, Muhammad ibn Hasan ibn Jumhur, dll.Kami akui memang ada satu atau dua ulama syiah yang  meyakini adanya tahrif, tapi tidak sebanding dengan mereka yang menolak. Itulah akidah Syiah Imamiyah terhadap Al-Quran yang tidak mengalami pengurangan atau penambahan hingga akhir zaman. Jadi apabila masih ada yang mengatakan bahwa Syiah memiliki Al-Quran yang berbeda, itu merupakan hal dusta, dan lebih konyol lagi ada yang mengatakan bahwa Jibril AS salah menyampaikan wahyu yang seharusnya diturunkan kepada Imam Ali AS. Pastilah kaum Syiah akan menertawakannya.

Al-Quran yang ada di Iran pun (yang notabene mayoritas Syiah) tidak sedikit yang didatangkan/dicetak dari Beirut (Lebanon) dan Kairo (Mesir). Iran pun mengadakan MTQ Internasional yang dihadiri negara-negara Timur Tengah, bahkan kalau tidak salah Indonesia pernah mengirim wakilnya. Entah bagaimana jadinya jika Quran yang dibaca wakil Iran berbeda? Pastilah juri akan pusing menilainya…

Pernah di kampus ada seminar tentang “Dikotomi Sunni Syiah” dan tema Al-Quran Syiah pun sempat ditanyakan. Pak Miftah (sebagai pembicara dari Syiah nya) menjelaskan, “Jadi perbedaan antara Al-Quran Syiah dan (Ahlus) Sunnah hanya terletak pada jenis kertas saja. Di Iran dicetak dengan jenis kertas yang paling mahal dan di dalamnya terdapat keindahan, karena Al-Quran merupakan kalamullah.” Jadi kaum Syiah di Indonesia tidak perlu impor Quran dari Iran, karena Quran nya sama.

Tetapi kaum yang menamakan diri mereka Salafi tetap “ngotot” memfitnah bahwa syiah m,eyakini tahrif Qur`an, lagi-lagi dengan menunjukan kitab Alkafi.Saat kaum syiah balik menuduh mereka dengan memperlihatkan beberapa hadist mereka (malah) dari Kitab sahih mereka, salah satunya seputar riwayat  tahrif (perubahan ) Qur`an berdasarkan pernyataan  Umar.Hebatnya kaum Salafi setelah adanya bukti ini, mereka dengan lihai mengatakan bahwa ayat tersebut mansukhul lafdzi (secara lafaz terhapus) akan tetapi baqaa’ul hukmi ( hukum tetap ada ).Artinya menurut mereka ayat tersebut secara hukum memang ada tetapi telah dihapus (dinasakh) secara lafadz , sehingga Umar mengakui adanya ayat tersebut. Mereka seolah mengatakan bahwa kaum syiah mengada-adakan dusta .Padahal bila pembaca teliti, niscaya pembaca sekalian akan melihat siapa yang berdusta itu.

Ini adalah salah satu dari sekian banyak hadist di dalam kitab rujukan kaum Salafi yang mnunjukan keyakinan bathil adanya tahrif atau perubahan dalam Alqur`an.Kami kaum syiah meyakini bahwa mustahil Qur`an ada yang hilang walau sepenggal ayat, Walloh Qur`an ini dijaga oleh perlindungan Allah yang Maha Kokoh dan tidak mungkin lengah.Perhatikan hadist berikut tentang tahrif Qur`an dalam riwayat yang menjadi rujukan Salafi :

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra., “Ia berkata, ‘Umar berkata dari atas mimbar, “Sesungguhnya Allah telah mengutus Muhammad dengan kebenaran dan menurunkan kepadanya sebuah kitab. Salah satu ayat yang diturunkan adalah ayat rajam, lalu kami menyadari sepenuhnya. Itulah sebabnya Rasulullah saw. malakukan perajaman, dan setelah beliau wafat kami melakukan hal yang sama. Lalu aku khawatir jika berlalu beberapa masa orang-orang akan mengatakan: ‘Demi Allah, kami tidak menemukan ayat rajam dalam kitab Allah.’ Kemudian dia menjadi sesat dengan tindakannya meninggalkan hukum wajib, farîdah yang diturunkan oleh Allah… Rajam itu ada di Kitabullah, ia adalah haq/wajib diberlakukan atas seorang baik laki-laki maupun wanita yang berzina jika ia telah menikah apabila telah tegak bukti atasnya…. Kemudian kami pernah membaca dalam sebuah ayat yang berbunyi:

لاَ تَرْغَبُوا عَنْ آبائِكُمْ فَإِنَهُ كُفْرٌ بكُمْ أنْ تَرْغَبُوا عَنْ آبائِكُمْ .

“Jangan kamu menisbatkan dirimu kepada selain ayah-ayah kandungmu, karena kafirlah apabila kamu menisbatkan kepada selain ayah-ayahmu.”

( Shahih Bukhari, Kitabul Muhâribîn, Bab Rajmul Hublâ idza ahshanat (merajam orang yang hamil yang berzina jika ia telah menikah),8/208, Shahih Muslim,Kitabul Hudûd, Bab rajmu ats Tsayyib min az Zinâ (merajam janda apabila berzina), 5/116. )

Kaum Salafi seperti yang kebakaran jenggot, mereka malah balik menuduh.Dari berbagai situs mereka, mereka berlomba-lomba membuat bantahan yang sebenarnya tidak membantah sama sekali.Dari beberapa bantahan mereka, ada satu artikel yang judulnya cukup profokatif :“Menjawab Fitnah Hilangnya ayat Rajam”.Mereka kemudian menjawab bahwa ayat  Rajam yang disebut – sebut Umar adalah mansukhul lafdzi (secara lafaz terhapus) akan tetapi baqaa’ul hukmi ( hukum tetap ada ).

Selanjutnya mereka berdalih (apologi) bahwa Umar mengatakan perkataannya ini karena takut hukum dalam ayat tersebut tidak diamalkan. Oleh karena itu dia ingin menulisnya dibagian sisi mushaf untuk mengingatkan manusia. Dia tidak bermaksud menulisnya didalam nash-nash Al-Qur’an karena dia tahu bahwa ayat itu telah dinasakh

Pertanyaan kita ialah, dalam riwayat tersebut Umar juga menyebut-nyebut adanya ayat lain “yang hilang” yang berbunyi “la targhobun ‘an abaikum……. “ apakah ayat ( la targhobun ‘an abaikum… )  tersebut ada di dalam Al Qur’an kita sekarang ini ? Kenapa ayat ini yang juga diyakini Umar tidak dibahas oleh kaum Salafi?. Kalau ada, di surah dan ayat keberapa adanya ayat tersebut ?.Kemana hilangnya ayat tersebut wahai Kaum Salafi? Tidak mungkin ada yang hilang dari Alqur`an hatta satu ayat pun.

Adapun tentang ayat  Rajam yang disebut – sebut Umar RA yang  kaum Salafi  mengaatakan dengan istilah yang diambil entah dari mana, bahwa ayat tersebut adalah mansukhul lafdzi (secara lafaz terhapus) akan tetapi baqaa’ul hukmi ( hukum tetap ada ).Benarkah ayat tersebut ‘mansukh lafdzi, baqaa’ul hukmi’ ?. Mari kita lihat beberapa riwayat

Dalam beberapa riwayat lain yang melaporkan pidato Khalifah Umar di atas terdapat redaksi tambahan yang mengatakan:

وَ ايْمُ اللهِ! لَوْ لا أَنْ يقولَ الناسُ زادَ عُمَرُ في كتابِ اللهِ عزَّ و جَلَّ لَكَتَبْتُها.

“Andai bukan karena takut manusia berkata, ‘Umar menambah dalam Kitab Allah- Azza wa Jalla- pastilah aku tulis ayat itu.” ( Nushbu ar Râyah; az Zaila’I al Hanafi,3/318 ).

Imam an Nasa’i juga meriwayatkan dalam kitab as Sunan al Kubrâ-nya dengan sanad shahih dari Abdurrahman ibn ‘Auf, ia berkata, “Umar berpidato, lalu berkata, ‘….. . Mereka juga berkata Rajam? Sungguh Rasulullah saw. telah merajam dan kamipun merajam. Dan Allah telah menurunkan (ayat Rajam) dalam Kitab-Nya.

وَ لَوْ لا أَنْ الناسُ يقولُونَ زادَ عُمَرُ في كتابِ اللهِ عزَّ و جَلَّ لَكَتَبْتُهُ بِخَطِّيْ حَتَّى أُلْحِقُهُ بالكتابِ.

“Andai bukan karena manusia mengatakan Umar menambah-nambah dalam Kitab Allah pasti aku telah menulisnya dengan tulisanku sendiri sehingga aku gabungkan dengan Kitabullah.” ( As Sunan al Kubrâ,4/272 hadis no.7151 )

Dalam riwayat lain, juga dalam as Sunan al Kubrâ dengan redaksi:

لولا أنْ يقولوا أثْبَتَ في كِتابِ اللهِ ما لَيْسَ فِيْهِ لأُثْبِتُها كما أُنزِلَتْ

“Andai bukan karena manusia akan berkata, ‘ia menetapkan dalam Kitab Allah sesuatu yang bukan darinya, pastilah aku akan tetapkan sebagaimana ia diturunkan.” ( As Sunan al Kubrâ,4/273 hadis no.7154 )

Jadi, dalam hadist-hadist tersebut sama sekali tidak ada keterangan bahwa ayat tersebut mansukhul lafdzi (secara lafaz terhapus) akan tetapi baqaa’ul hukmi ( hukum tetap ada ). Dalam riwayat  tersebut Umar tetap berkeyakinan bahwa ayat Rajam itu termasuk bagian dari ayat – ayat suci Al Qur’an. Sebetulnya dia ingin memasukkan ayat itu ke dalam kitab suci Al Qur’an sebagaimana ketika ia diturunkan, namun tidak jadi karena khawatir atau takut  orang banyak akan menuduhnya menambah – menambah ayat yang bukan berasal dari Al Qur’an.Dalam beberapa riwayat di  atas Umar masih tetap ngotot untuk memasukkan ayat rajam ke dalam Al Qur’an, namun ditolak oleh sahabat Nabi yang lain. Lagi pula jika benar bahwa ayat Rajam itu telah dimansukhkan tilawah-nya, pastilah Umar mengetahuinya dan tidak akan “ngotot” dan memaksa untuk memasukkannya ke dalam Al Qur’an. Bukankah menurut kalian Umar itu sahabat yang sangat pandai dan dekat dengan Nabi saw.?! Bukankah menurut kalian Nabi sa. telah bersabda bahwa Allah akan memberjalankan al haq pada lisan Umar?!

Laits ibn Sa’ad melaporkan, “Orang pertama yang mengumpulkan Al Qur’an adalah Abu Bakar dengan bantuan Zaid… dan Umar datang membawa ayat rajam tetapi Zaid tidak menulisnya, sebab ia datang sendiri (tanpa seorang saksi).” ( Al Itqân,1/121 ).Lalu mengapa Zaid tidak mengatakan pada Umar  bahwa ayat yang dibawa Umar itu mansukhul lafdzi (secara lafaz terhapus) akan tetapi baqaa’ul hukmi ( hukum tetap ada ).Sekali lagi lihatlah, dalam riwayat di kitab-kitab mereka disebutkan bahwa Umar ngotot meyakini bahwa ayat tersebut harusnya ada dalam kitabullah. “Andai bukan karena manusia mengatakan Umar menambah-nambah dalam Kitab Allah pasti aku telah menulisnya dengan tulisanku sendiri sehingga aku gabungkan dengan Kitabullah.”demikianlah keyakinan Umar, sama sekali tidak ada pembahasan tentang mansukhul lafdzi baaq`ul hukmi seperti yang mereka sebut.Bahkan …. Pernyataan Umar bahwa ayat ini hilang “Jangan kamu menisbatkan dirimu kepada selain ayah-ayah kandungmu, karena kafirlah apabila kamu menisbatkan kepada selain ayah-ayahmu.”, tidak mereka bahas.Mereka malah kembali mengalihkan perhatian para pembaca awam dengan melontarkan tuduhan pada syiah.

Jadi jelas bahwa kitab-kitab mereka memuat tentang Tahrif Qur`an.Kitab-kitab mereka menuduh Umar meyakini tahrif Qur`an.Dalam berbagai situs Salafi mereka membuat bantahan yang sebenarnya tidak membantah sama sekali, tapi menggunakan trik bahwa seolah sudah dibantah dan seolah (lagi-lagi) mereka menyebutkan bahwa hal ini adalah kebohongan yang diada-adakan syiah.,Sebenarnya ada banyak hadist dan riwayat di kalangan mereka  sendiri bahwa adanya perubahan dalam Alqur`an , namun selama ini kami kaum syiah tidak pernah menuduh mereka meyakini tahrif.Tetapi mereka ngotot mengatakan kaum syiah meyakini tahrif, itu semua karena kedengakian di dalam hati mereka.Perhatikan riwayat-riwayat di kalangan mereka sendiri tentang adanya tahrif .Ibarat gaajah dipelupuk mata tidak kelihatan, kuman diseberang lautan kelihatan.Itulah kaum Salafi

Berpegang pada Kitabullah dan Itrah Ahlul Bait Nabi, Amanat Nabi yang mereka ingkari

Biasanya kaum salafi akan selalu berdalih pada hadist “berpeganglah kamu sekalian pada kitabullah dan sunnahku ”.Padahal, sebagaimana kita telah bahas dalam diskusi dengan saudara Apih Uyus, berpegang pada Kitabullah wa sunati adalah hadist dhoif yang bahkan tidak tercantum dalam Bukhari-Muslim, bahkan Kutubus sittah (kitab hadist sahih yang enam versi ahlusunnah) .Inilah salah satu bukti ketidak konsistenan mereka,bila kami berhujjah pada hadits yang tidak terdapat di Sahih Bukhari-Muslim mereka akan berkata ,” lihat,orang-orang syiah mengada-adakan dusta dengan berpegang pada hadist-hadist dhaif!” Tetapi lucunya sebagaimana pembaca saksikan sendiri, bahkan dogma utama yang menjadi pilar pemikiran kaum ahlusunnah umumnya termasuk Salafi ini  “Berpeganglah Kamu sekalian pada Kitabullah dan Sunnahku.”, adalah hadist yang lemah.Artinya ,dogma utama pemikiran mereka sangat rapuh dan tidak kokoh sama sekali.

Demikianlah,bahwa telah disepakati dikalangan syiah termasuk ahlusunnah bahwa Nabi mewasiatkan agar kita berpegang teguh pada Qur`an dan Itrah (keturunan) ahlul baitnya.Kita wajib berpegang pada Ahlul Bait Nabi. Masalahnya adalah, apakah ahlul bait yang dimaksudkan ini yang kiita wajib untuk mentyaati mereka ? Secara bahasa ahlul bait ini artinya penghuni rumah.Menurut Ustadz Husen Alhabsyi, ahlul bait ini bermakna keluarga atau penghuni rumah.Bahkan pembantu pun termasuk ahlul bait.Tetapi ahlul bait Nabi secara syar`i bukanlah seluruh keluarga Nabi, tetapi keluarga Rasulullah saw yang dikhususkan yang atas mereka turun Ayat Thahir.Sebagaimana difahami oleh syiah secara mufakat dan  sebagian besar riwayat ahlusunnah,  ahlul Bait ini bermakna Keluarga dekat nabi, penghuni rumah Rasulullah.Kita diperintahkan agar berpegang pada mereka dan keturunan mereka yang terpilih sepeninggal Rasulullah. Nash ini diingkari kelompok yang menamakan diri mereka Salafi, mereka mengada-adakan dusta bahwa ahlul bait adalah isteri-isteri nabi.

Biasanya mereka akan mengada-adakan tafsiran tentang ayat di atas bahwa seluruh ayat-ayat tersebut turun berkenaan dengan isteri-isteri Nabi.Padahal ayat Q.S. 32-33 turun sebagai teguran pada isteri-isteri nabi,sementara ayat Thahir turun terpisah yaitu di rumah Ummu Salamah . Mereka kemudian mencoba menta`wilkan hadist Kisa dan ayat Thahir sebagai berikut bahwa ;

  • ayat ini turun di rumah Ummu Salamah artinya ayat ini turun untuk isteri-isteri Nabi , :
  • Saat Ummu Salamah bertanya  ‘Ya Rasulullah, tidakkah aku termasuk Ahlul Bait?!’ Nabi mengatakan kepada ummu Salamah “Rasulullah saw, ‘Sesungguhnya engkau berada pada kebajikan, dan sesungguhnya engkau termasuk istri Rasulullah saw.'”,ini dita`wilkan bahwa Ummu salamah adalah yang dimaksud ahlulbait dalam ayat thahir.
  • Mereka menyembunyikan riwayat dalam  riwayat-riwayat yang lain,dan menunjukan satu riwayat Ummu salamah melalui Umar bin Abi Salamah bahwa posisi Imam Ali dibelakang nabi,selanjutnya seperti biasa mereka langsung menyimpulkan bahwa Alipun bahkan bukan termasuk AhlulBait karena tidak ada di dalam kain Kisa nabi.
  • Dhomir Kum dalam ayat thahir mereka artikan untuk perempuan pun bisa(untuk isteri Nabi ) sambil menafikan ayat sebelumnya dimana Qur`an menggunakan dhomir kunna untuk memanggil isteri Nabi.

Untuk membantah seluruh ta`wil kaum Salafi ini,marilah kita buka terlebih dahulu Surat Al Ahzab yang berkenaan dengan teguran terhadap isteri-isteri Nabi dan penyucian terhadap Ahlul Bait Nabi. Berikut terjemah ayatnya :

“Wahai isteri-isteri nabi, kalian (lastunna) tidak seperti perempuan-perempuan yang lain jika kalian(tunna) bertaqwa.Maka janganlah kalian tunduk dalam berbicara sehingga bangkit nafsu orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya. Dan ucapkanlah perkataan yang baik.Dan hendaklah kalian tetap dirumah kalian( BUYUTikunna) dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seprti tingkah laku orang-orang jahiliah dahlu.Dan laksanakanlah shalat, tunaikanlah zakat,dan taatilah Allah dan RasulNya.” (Q.S.33:32-33) ayat teguran untuk untuk isteri-isteri Nabi

“Sesungguhnya Allah hendakmenghilangkan noda dan dosa atas kalian wahai AhlulBait (ALBAIT)dan mensucikan kalian ( yuthohirukum )sesuci-sucinya.”(Q.S.33:33) ayat thahir (penyucian ahlulbait)

Bila kita perhatikan sekilas, seolah seluruh ayat-ayat tersebut berbicara tentang sekelompok orang yang sama, seperti satu kesatuan.Itulah sebabnya mengapa banyak orang awam terutama yang tidak mengerti bahasa Arab  yang terkecoh dengan ta`wil kaum Salafi.Padahal bila kita mau teliti dan memperhatikan ayat-ayat tersebut satu demi satu,maka kita akan menemukan bahwa rangkaian ayat-ayat tersebut berbicara tentang dua kelompok orang yang berbeda.

  1. Rangkaian ayat-ayat di atasnya adalah teguran pada isteri-isteri Nabi , berkenaan dengan tingkah laku dua isteri Nabi yaitu Aisyah dan Hafsah yang kemudian ditegur Allah melalui ayat tersebut, sementara ayat thahir yang sengaja saya pisahkan dibawahnya adalah terpisah dan turun berkenaan dengan peristiwa pengemulan kain kisa pada Ali, Fatimah Hasan dan Husein.saudar pembaca bisa periksa di berbagai kitab asbabun nuzul ahlusunnah misalnya Asbabnun Nuzulnya Jalalluddin Suyuthi.
  2.  Bila kita perhatikan Arabnya dengan teliti ,kita akan temukan tata bahasa yang berbeda saat Qur`an bicara pada isteri-isteri Nabi dan pada ahlul bait Nabi.Pada isteri-isteri Nabi dalam rangkaian ayat-ayat sebelumnya Quran menggunakan dhomir KUNNA (kalian perempuan) untuk memanggil mereka.Sementara pada ahlul bait nabi yakni Ahlulkisa, Qur`an sengaja gunakan dhomir KUM untuk membedakan kedua kelompok orang yang qur`an ajak bicara dalam rangkaian ayat-ayat tersebut.
  3. Selanjutnya bila kita perhatikan lagi  Arabnya dengan teliti ,kita akan temukan pula tata bahasa yang berbeda saat Qur`an bicara pada kedua kelompok ini. Pada isteri-isteri Nabi dalam rangkaian ayat-ayat sebelumnya Quran menggunakan kata Buyut  (rumah-rumah / jama` dari rumah ) untuk menyebut rumah-rumah mereka.Sementara pada ahlul bait nabi yakni Ahlulkisa, Qur`an sengaja gunakan kata BAIT (satu rumah) untuk membedakan kedua kelompok orang yang qur`an ajak bicara dalam rangkaian ayat-ayat tersebut.
  4. Dan bila kita lihat berbagai kitab tarikh, misalnya yang disusun Haekal, bila kita  melihat denah lingkungan di sekitar masjid Nabawi, kita akan temukan bahwa rumah-rumah isteri-isteri Nabi itu terpisah-pisah satu dengan yang lain, dan tidak adasatupun pintu rumah mereka yang terhubung ke masjid. Sementara untuk ahlulkisa (Ali ,Fatimah, Hasan, dan Husein   ) rumahnya satu atap dengan Nabi hanya dipisahkan sekat , tetapi kata jama` Buyut untuk menyebut rumah-rumah isteri-isteri nabi, sementara untuk ahlul bait nabi Qur`an gunakan kata tunggal Bait.

Dalam kitab Lubab An Nuqul Fi Asbabun Nuzul As Suyuthi, Beliau membawakan riwayat Muslim, Ahmad dan Nasa’i yang berkenaan turunnya ayat ini, riwayat itu jelas berkaitan dengan peristiwa lain(bukan penyelimutan) dan ditujukan kepada istri-istri Nabi SAW.

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Abu Bakar meminta izin berbicara kepada Rasulullah SAW akan tetapi ditolaknya. Demikian juga Umar yang juga ditolaknya. Tak lama kemudian keduanya diberi izin masuk di saat Rasulullah SAW duduk terdiam dikelilingi istri-istrinya(yang menuntut nafkah dan perhiasan). Umar bermaksud menggoda Rasulullah SAW agar bisa tertawa dengan berkata “ya Rasulullah SAW sekiranya putri Zaid, istriku minta belanja akan kupenggal lehernya”.

Maka tertawa lebarlah Rasulullah SAW dan bersabda “Mereka ini yang ada disekelilingku meminta nafkah kepadaku”. Maka berdirilah Abu Bakar menghampiri Aisyah untuk memukulnya dan demikian juga Umar menghampiri Hafsah sambil keduanya berkata “Engkau meminta sesuatu yang tidak ada pada Rasulullah SAW”. Maka Allah menurunkan ayat “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu: “Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut’ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik .” sebagai petunjuk kepada Rasulullah SAW agar istr-istrinya menentukan sikap.

Beliau mulai bertanya kepada Aisyah tentang pilihannya dan menyuruh bermusyawarah lebih dahulu dengan kedua ibu bapaknya . Aisyah menjawab “Apa yang mesti kupilih?”. Rasulullah SAW membacakan ayat Dan jika kamu sekalian menghendaki Allah dan Rasulnya-Nya serta di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik diantaramu pahala yang besar .”Dan Aisyah menjawab “Apakah soal yang berhubungan dengan tuan mesti kumusyawarahkan dengan Ibu Bapakku? Padahal aku sudah menetapkan pilihanku yaitu Aku memilih Allah dan RasulNya”.(diriwayatkan oleh Muslim, ahmad dan Nasa’i dari Abiz Zubair yang bersumber dari Jubir).

Kaum Salafi biasanya mengeluarkan klaim ngawur bahwa Qur`an biasanya turun satu ayat. Memang biasanya Alqur`an turun satu ayat penuh.Tetapi  Al Quran juga bisa diturunkan dengan sepenggal-sepenggal dan berkaitan dengan peristiwa yang berlainan karena memang ada dalil shahih yang menunjukkan demikian. Ayat Tathir di atas jelas salah satunya. Mari kita lihat contoh lain yaitu Al Maidah ayat 3 dan 4. Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa ketika Hibban sedang menggodog daging bangkai, Rasulullah SAW ada bersamanya. Maka turunlah Al Maidah ayat 3 yang mengharamkan bangkai. Seketika itu juga isi panci itu dibuang. Riwayat ini jelas berkaitan dengan peristiwa yang berbeda dengan peristiwa hari arafah tetapi ayat yang dimaksud jelas sama-sama Al Maidah ayat 3(lihat Asbabun Nuzul Ashuyuthi). Adapun tentang sebagian ayat 4 surat Almaidah turun di saat yang lain.Dikemukakan bahwa Adi bin Hatim dan Zaid bin Al Muhalhal bertanya kepada Rasulullah SAW ”kami tukang berburu dengan anjing dan anjing suku bangsa dzarih pandai berburu sapi, keledai dan kijang, padahal Allah telah mengharamkan bangkai. Apa yang halal bagi kami dari hasil buruan itu? Maka turunlah Al Maidah ayat 4 yang menegaskan hukum hasil buruan.(riwayat Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Said bin Jubair). Dari sini bisa disimpulkan bahwa Al Maidah ayat 3 -4 turun sepenggal-sepenggal dan penggalan “Pada pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” turun pada peristiwa Haji Wada`.

Selanjutnya mari kita perhatikan seputar asbabunnuzul ayat thahir yang terpisah dari ayat sebelumnya yang menegur isteri-isteri Nabi:

Ummu Salamah  berkata, “Di rumahku turun ayat ‘Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan mensucikan kamu sesuci-sucinya.’ Saat itu di rumahku ada tujuh orang yaitu Jibril, Mikail, Ali, Fatimah, Hasan dan Husain, sementara aku berada di pintu rumah. Kemudian saya berkata, ‘Ya Rasulullah, tidakkah aku termasuk Ahlul Bait?!’ Rasulullah saw menjawab, ‘Sesungguhnya engkau berada pada kebajikan, dan sesungguhnya engkau termasuk istri Rasulullah saw.’ (Tafsir ad-Durr al-Mantsur, jld 5, hal 198.) Dalam riwayat Ahmad disebutkan, “Saya mengangkat pakaian penutup untuk masuk bersama mereka namun Rasulullah saw menarik tangan saya sambil berkata, ‘Sesungguhnya engkau berada dalam kebajikan.'” Musnad Ahmad, jld 3, hal 292 – 323.

Kaum salafi biasanya berdalih dengan riwayat di atas ini dengan menyembunyikan seluruh riwayat-riwayat lainnya untuk mendukung ta`wil mereka bahwa ahlu bait  yang dimaksud ayat ini adalah  isteri-isteri nabi.Mereka mengatakan bahwa ayat turun lebih dahulu,barulah Nabi memasukan Fatimah,Hasan dan Husen ke dalam Kisa.Jadi menurut ta`wil mereka, ayat ini turun berkenaan dengan isteri-isteri nabi karena turun di rumah Ummu Salamah. Karena ayat ini berisi penyucian, maka Nabi berkeinginan agar ahlul Kisa dimasukan pula ke dalam ahlubait yang disucikan dalam ayat ini.Seperti biasa senjata pamungkas mereka adalah berdalih dengan satu riwayat dengan menyembunyikan riwayat-riwayat lainnya.Mereka tidak tahu atau pura-pura tidak tahu bahwa ada beberapa riwayat lain yang menunjukan bahwa Ayat Thahir turun belakangan setelah Nabi memasukan keluarganya ke dalam kain kisa.

Padahal  dalam riwayat lainnya yang sudah pasti disembunyikan kaum Salafi, dari kesaksian Abdullah bin Ja’far bin Abi Thalib, ayat Thahir justeru turun belakangan, yakni setelah nabi mengemulkan keluarganya : Ali, Fatimah, Hasan dan Husein ke dalam kain Kisa barulah turun ayat tersebut. Perhatikan riwayat berikut : “Dari Abdullah bin Ja’far bin Abi Thalib yang berkata, ‘Ketika Rasulullah saw memandang ke arah rahmat yang turun, Rasulullah saw berkata, ‘Panggilkan untukku, panggilkan untukku.’ Shafiyyah bertanya, ‘Siapa, ya Rasulullah?!’ Rasulullah menjawab, ‘Ahlul Baitku, yaitu Ali, Fatimah, Hasan dan Husain.’ Maka mereka pun dihadirkan ke hadapan Rasulullah, lalu Rasulullah saw meletakkan pakaiannya ke atas mereka, kemudian Rasulullah saw mengangkat kedua tangannya dan berkata, ‘Ya Allah, mereka inilah keluargaku (maka sampaikanlah salawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad).’ Lalu Allah SWT menurunkan ayat ‘Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan mensucikan kamu sesuci-sucinya. ‘ Mustadrak al-Hakim, jld 3, hal 197 – 198.Al-Hakim berkata, “Hadis ini sahih sanadnya.”, hadist serupa bahwa ayat turun belakang setelah pengemulan kain Kisa juga ada dalam Sahih Muslim dengan mengambil kesaksian dari Shafiyah binti Syaibah.

Keterangan lain yang menyebutkan bahwa ayat Thahir turun setelah Nabi memasukan ahlul baitnya ke dalam Kisa pun datang dari isteri nabi yang lainnya yaitu Aisyah.Berdasarkan kesaksian Aisyah , “Rasulullah saw pergi ke luar rumah pagi-pagi sekali dengan mengenakan pakaian (yang tidak dijahit dan) bergambar. Lalu Hasan bin Ali datang, dan Rasulullah saw memasukkannya ke dalam pakaiannya; lalu Husain datang, dan Rasulullah saw memasukkannya ke dalam pakaiannya; lalu datang Fatimah, dan Rasulullah saw pun memasukkannya ke dalam pakaiannya; berikutnya Ali juga datang, dan Rasulullah saw memasukkannya ke dalam pakaiannya; kemudian Rasulullah saw berkata, “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan mensucikan kamu sesuci-sucinya.” (Sahih Muslim, bab fadhail ahlul bait / keutamaan-keutmaan Ahlul Bait.)

Sebelum kami melanjutkan argumentasi kami, izinkan kami bertanya pada kaum penyebar fitnah “DIKEMANAKAN RIWAYAT-RIWAYAT INI SAAT KALIAN MENYEBUTKAN BAHWA AHLUL BAIT ADALAH ISTERI-ISTERI NABI WAHAI KAUM SALAFI?TOLONG DIJAWAB !

Demikianlah, bahwa pendapat salafi bahwa ayat thahir turun di rumah lebih dulu barulah Nabi mengemulkan kain kisanya hanyalah merupakan pendapat  Ummu Salamah saja, dalam riwayat di atas , Jabir dan Aisyah mempunyai pendapat yang berbeda , bahwa ayat thahir turun setelah Nabi mengemulkan kain kisa pada keluarga sucinya.  Tetapi dari kedua pendapat yang berbeda ini, tetap ada satu kesamaan,bahwa  substansi ayat tersebut berkenaan dengan Ahlul Kisa.Apakah saudara pembacapun sama seperti saya, memahami bahwa ahlul kisa atau  orang-orang yang di dalam kain kisalah (Ali,Fatimah,Hasan dan Husein)  yang dimaksudkan sebagai ahlul bait yang disucikan . Juga bahwa Imam Ali ada dipunggung Nabi yang dita`wilkan kaum Salafi bahwa Imam Ali tidak masuk ke dalam Kisa hanyalah ada dalam riwayat Ummu Salamah melalui Umar bin Ummu Salamah, sedangkan dalam riwayat Ummu Salamah yang lain misalnya yang melalui Atha` bin Abi Rabah atau yang melalui  Abu Said Alkhudri disebutkan bahwa Imam Ali termasuk yang didalam Kisa.Perhatikan riwayat berikut :

Dari Abdul malik dari Atha` dari Ummu Salamah , ia berkata,”Fatimah datang dengan membawa makanan bagi ayahnya.Saat itu beliau di atas tempat tidur.Lalu beliau berkata ,” Bawalah kemari kedua putraku (Hasan dan Husein ) dan anak pamanmu (Imam Ali).lalu beliau mengerudungi mereka dengan kain dan berkata ,” Ya Allah merekalah ahlulbaitku dan orang kepercayaanku, maka hindarkanlah rijs dari mereka.” Ummu Salamah bertanya,”  Apakah aku beserta mereka Ya Rasulullah.” Nabi menjawab ‘Sesungguhnya engkau berada pada kebajikan, dan sesungguhnya engkau termasuk istri Rasulullah saw.'(SyawahidutTanzil 2/71 hadist no 737 Alhakim AlHiskani).

Abu Kuraib berkata ,” Hasan bin Athiah berbicara pada kami bahwa Waki` memberitakan pada kami  dari abdulHamid bin Bahram dari Fudhain bin Marzuq dari Abu Said Alkhudri dari Ummu salamah istri Nabi , beliau  berkata bahwa ketika ayat Thahir turun , Rasulullah kemudian memanggil Ali , Fatimah, Hasan, dan Husein kemudian menyelubungi mereka dengan selimut Kisa dari Khaibar dan berkata ,” Ya Allah merekalah ahlulbaitku dan orang kepercayaanku, maka hindarkanlah rijs dari mereka.” Ummu Salamah bertanya,”  Apakah aku beserta mereka Ya Rasulullah.” Nabi menjawab ‘Sesungguhnya engkau berada pada kebajikan, dan sesungguhnya engkau termasuk istri Rasulullah saw..Hadist ini diriwayatkan pula oleh  Al Bazzar dan Musnad pun meriwayatkannya melalui jalur Abu Ya`la.

Tidak hanya itu, masih dalam riwayat Ummu Salamah sebagaimana disebutkan Thabari melalui jalur Hakim bin Saad dan Abu Hurairah, disebutkan bahwa posisi Imam Ali saat itu ADA DI DALAM KISA.Anda bisa melihat di dalam Syawahid Tanzil Alhakim Alhiskani 2/81 , Almanaqib Ibnu Maghazih nomor 348, Bukhari dalam Tarikh Alkabir i/196, Al Bidayah wannihayah 7/338, dan seterusnya.

Yang menarik adalah dalam riwayat Ummu Salamah lainnya melalui jalur Abdullah bin Rafi` bahkan disebutkan dengan detail posisi Imam Ali .Perhatikan teksnya ,” dari Ummu salamah istri Nabi , beliau  berkata bahwa ketika ayat Thahir turun beliau berada di rumahku, Rasulullah kemudian memerintahkanku untuk memanggil Ali , Fatimah, Hasan, dan Husein .Lalu ketika mereka datang Rasulullah kemudian memeluk Ali di tangan kanannya, Hasan di tangan kirinya, Husein di perutnya, dan Fatimah disisi kedua kaki beliau.kemudian menyelubungi mereka dengan selimut Kisa dari Khaibar dan berdoa,” Ya Allah merekalah ahlulbaitku dan orang kepercayaanku, maka hindarkanlah rijs dari mereka.” Beliau mengulang ini tiga kali.Ummu Salamah bertanya,”  Apakah aku beserta mereka Ya Rasulullah.” Nabi menjawab ‘Sesungguhnya engkau berada pada kebajikan, dan sesungguhnya engkau termasuk istri Rasulullah saw..( Syawahid Tanzil Alhakim Alhiskani Alhanafi 2/62)

Tetapi seandainya kaum Salafi tetap ngotot dengan riwayat Ummu Salamah yang melalui jalur Umar bin Abi Salamah saja dengan menutup mata terhadap sanad yang lain, bahkan mengingkarinya , lagi-lagi jika kita teliti, dalam hadist tersebut pun  justeru dengan tegas membantah apologi atau dalih kaum Salafi. Dalam wacana ini dikatakan bahwa sebelumnya telah turun ayat teguran bagi isteri-isteri Nabi, maka saat turun ayat penyucian bagi keluarga Nabi ini, Nabi kemudian “menafsirkan” ayat tersebut  melalui “akal suci”nya   dengan memasukan keluarganya saww ke dalam Kisa, apa yang dilakukan nabi bukanlah hawa nafsunya tetapi adalah wahyu yang diwahyukan. Saat melihat hal ini, salah seorang isteri nabi yang setia yakni Ummu Salamah berkeinginan menjadi bagian dari ahlul bait yang dimaksud ayat tersebut.Pertanyaan Ummu Salamah menunjukan dengan tegas bahwa ayat yang dimaksud tidak turun untuk isteri-isteri Nabi.Jika ayat tersebut turun untuk isteri-isteri Nabi, maka Ummu Salamah tidak perlu bertanya,”  Apakah aku beserta mereka Ya Rasulullah.”Yang kemudian Nabi menolaknya dengan kata-kata penolakan yang sangat halus dan lembut ‘Sesungguhnya engkau berada pada kebajikan, dan sesungguhnya engkau termasuk istri Rasulullah saw.

Perkataan Nabi sambil menarik tangan ummu Salamah keluar Kisa ‘Sesungguhnya engkau berada pada kebajikan, dan sesungguhnya engkau termasuk istri Rasulullah saw.” Menunjukan bahwa walaupun beliau bukan yang dimaksud sebagai Ahlul Bait yang disucikan, tetapi menunujukan pula keutamaan Ummu Salamah yang setia bahkan setelah  Nabi wafat.Sebagaimana yang telah saya jelaskan  sebelumnya , tidak pernah ada satu ayatpun menegur Ummu Salamah, dan tidak pula Ummu Salamah keluar  dari rumahnya setelah nabi wafat, dan tidak pula menyebabkan peperangan yang menimbulkan puluhan ribu korban kaum muslimin yang tidak lain adalah anak-anaknya sendiri.Sementara isteri Nabi yang lain ada yang melanggar perintah dengan keluar rumah, menyebabkan peperangan  yang berakibat puluhan ribu korban terbunuh.Itulah sebabnya mengapa Nabi mengatakan  ‘Sesungguhnya engkau berada pada kebajikan, dan sesungguhnya engkau termasuk istri Rasulullah saw.” Ummu Salamah sangat mengerti bahwa beliau adalah isteri Nabi yang utama namun tidak termasuk dalam kedudukan ahlul bait yang khusus ini.Hal ini bahkan diakui Ummu Salamah sendiri, bukan ta`wil-ta`wilan seperti yang kaum Salafi lakukan. ‘Saat ditanya oleh Ummu salamah,nabi tidak mengatakan “ya”, ini adalah penolakan yang sangat halus dan penuh kelembutan .Perhatikan riwayat berikut ini .

Ummu Salamah  berkata, “Di rumahku turun ayat ‘Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan mensucikan kamu sesuci-sucinya.’ Saat itu di rumahku ada tujuh orang yaitu Jibril, Mikail, Ali, Fatimah, Hasan dan Husain, sementara aku berada di pintu rumah. Kemudian saya berkata, ‘Ya Rasulullah, tidakkah aku termasuk Ahlul Bait?!’ Rasulullah saw menjawab, ‘Sesungguhnya engkau berada pada kebajikan, dan sesungguhnya engkau termasuk istri ku yang salihah.’Seandainya beliau mengatakan “ya ( engkau juga termasuk ahlulbait)” .Niscaya jawaban itu lebih aku sukai ketimbang dunia dan segala isinya. ..( Syawahid Tanzil Alhakim Alhiskani 2/86)

Telah disebutkan dalam riwayat shahih kalau istri-istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] adalah Ahlul Bait dan telah disebutkan dalam riwayat shahih kalau Keluarga Ali, Keluarga Ja’far dan  Keluarga Abbas juga adalah Ahlul Bait Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Lantas apakah Ahlul Bait dalam surat Al Ahzab ayat 33 ditujukan untuk mereka semua?. Jawabannya tidak, tidak diperselisihkan kalau keluarga Abbas dan keluarga Ja’far tidak termasuk Ahlul Bait dalam Al Ahzab ayat 33 [Ayat tathiir]. Perselisihan yang terjadi adalah apakah istri-istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] termasuk Ahlul Bait dalam surah Al Ahzab 33 atau bukan?.

Diriwayatkan dengan sanad yang shahih kalau Ahlul Bait dalam Al Ahzab 33 adalah ahlul kisa’ yaitu Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam], Sayyidah Fathimah, Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husein. Ummu Salamah sendiri sebagai salah satu istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengakui kalau ayat tathiir turun di rumahnya dan dirinya bukan termasuk dalam ayat tersbeut.

Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Dawud yang berkata telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Dawud Al Mahriy yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Wahb yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Shakhr dari Abu Muawiyah Al Bajaliy dari Sa’id bin Jubair dari Abi Shahba’ dari ‘Amrah Al Hamdaniyah yang berkata Ummu Salamah berkata kepadaku “engkau ‘Amrah?”. Aku berkata “ya, wahai Ibu kabarkanlah kepadaku tentang laki-laki yang gugur di tengah-tengah kita, ia dicintai sebagian orang dan tidak dicintai oleh yang lain. Ummu Salamah berkata “Allah SWT menurunkan ayat Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya, dan ketika itu tidak ada di rumahku selain Jibril, Rasulullah, Ali, Fathimah, Hasan, Husein dan aku, aku berkata “wahai Rasulullah apakah aku termasuk Ahlul Bait?”. Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “engkau termasuk istriku yang shalih”. Ummu Salamah berkata “wahai ‘Amrah sekiranya Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] menjawab iya niscaya jawaban itu lebih aku sukai daripada semua yang terbentang antara timur dan barat [dunia dan seisinya] [Asy Syari’ah Al Ajjuri 4/248 no 1542]

Hadis ini sanadnya shahih. Diriwayatkan oleh para perawi yang terpercaya, ‘Amrah Al Hamdaniyah adalah tabiin wanita di kufah yang tsiqat dikenal meriwayatkan dari Ummu Salamah.

  • Ibnu Abi Dawud adalah Abdullah bin Sulaiman bin Al Asy’at As Sijistani putra dari Abu Dawud, kuniyahnya Abu Bakar sehingga lebih dikenal dengan sebutan Abu Bakar bin Abi Dawud. Al Khalili menyebutnya Al Hafizh Al Imam Baghdad seorang alim yang muttafaq ‘alaihi [Al Irshad Al Khalili 2/6]. Ia termasuk Syaikh [guru] Ath Thabrani, seorang yang hafiz tsiqat dan mutqin [Irsyad Al Qadhi no 576]
  • Sulaiman bin Dawud Al Mahriy adalah perawi Abu Dawud dan Nasa’i. Nasa’i menyatakan ia tsiqat dan Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [At Tahdzib juz 4 no 317]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat” [At Taqrib 1/384]. Adz Dzahabi menyatakan ia tsiqat faqih [Al Kasyf no 2083]
  • ‘Abdullah bin Wahb bin Muslim Al Qurasiy adalah perawi kutubus sittah yang dikenal tsiqat. Ahmad menyatakan shahih hadisnya. Ibnu Ma’in menyatakan tsiqat. Abu Zur’ah, Ibnu Sa’ad dan Al Ijli juga menyatakan tsiqat. Nasa’i menyatakan tsiqat. As Saji berkata “shaduq tsiqat”. Al Khalili berkata “tsiqat muttafaq ‘alaihi” [At Tahdzib juz 6 no 141]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat faqih hafizh dan ahli ibadah [At Taqrib 1/545]
  • Abu Shakhr adalah Humaid bin Ziyad perawi Bukhari dalam Adabul Mufrad, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasa’i. Yahya bin Sa’id Al Qaththan telah meriwayatkan darinya itu berarti Humaid tsiqat dalam pandangannya. Ahmad bin Hanbal berkata “tidak ada masalah padanya”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Daruquthni menyatakan ia tsiqat. [At Tahdzib juz 3 no 69]. Al Ijli menyatakan Humaid bin Ziyad tsiqat [Ma’rifat Ats Tsiqat no 362]. Terdapat perselisihan mengenai pendapat Ibnu Ma’in terhadapnya. Dalam riwayat Ad Darimi dari Ibnu Ma’in menyatakan “tsiqat tidak ada masalah” [Al Jarh Wat Ta’dil juz 3 no 975]. Dalam riwayat Ibnu Junaid dari Ibnu Ma’in menyatakan “tidak ada masalah padanya” [Sualat Ibnu Junaid no 835]. Dalam riwayat Ishaq bin Manshur dari Ibnu Ma’in menyatakan “dhaif” [Al Jarh Wat Ta’dil juz 3 no 975]. Dalam riwayat Ibnu Abi Maryam dari Ibnu Ma’in menyatakan “dhaif” [Al Kamil Ibnu Adiy 2/236]. An Nasa’i memasukkannya dalam Adh Dhu’afa dan berkata “tidak kuat” [Adh Dhu’afa An Nasa’i no 143]. Yang rajih disini Humaid bin Ziyad adalah seorang yang tsiqat, Ibnu Ma’in telah mengalami tanaqudh dimana ia melemahkannya tetapi juga menguatkannya sedangkan pernyataan Nasa’i “tidak kuat” berarti ia seorang yang hadisnya hasan dalam pandangan An Nasa’i [tidak mencapai derajat shahih].
  • Abu Muawiyah Al Bajaliy adalah ‘Ammar bin Muawiyah Ad Duhniy perawi Muslim dan Ashabus Sunan. Telah meriwayatkan darinya Syu’bah yang berarti ia tsiqat dalam pandangan Syu’bah. Ahmad, Ibnu Ma’in, Abu Hatim dan Nasa’i menyatakan tsiqat. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [At Tahdzib juz 7 no 662]. Ibnu Hajar menyatakan “shaduq” tetapi dikoreksi dalam Tahrir At Taqrib kalau ‘Ammar Ad Duhniy seorang tsiqat [Tahrir At Taqrib no 4833]
  • Sa’id bin Jubair adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat. Abu Qasim Ath Thabari berkata tsiqat imam hujjah kaum muslimin. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat dan menyatakan faqih ahli ibadah memilik keutamaan dan wara’. [At Tahdzib juz 4 no 14]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat tsabit faqih” [At Taqrib 1/349]. Al Ijli berkata “tabiin kufah yang tsiqat” [Ma’rifat Ats Tsiqat no 578]
  • Abu Shahba’ Al Bakriy namanya adalah Shuhaib termasuk perawi Muslim, Abu Dawud dan Nasa’i. Abu Zur’ah menyatakan ia tsiqat. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Nasa’i menyatakan “dhaif” [At Tahdzib juz 4 no 771]. Al Ijli berkata “Shuhaib mawla Ibnu Abbas tabiin Makkah yang tsiqat” [Ma’rifat Ats Tsiqat no 770]. Ibnu Khalfun menyebutkannya dalam Ats Tsiqat [Al Ikmal Mughlathai 2/198]. Yang rajih dia seorang yang tsiqat, sedangkan pernyataan Nasa’i tidak memiliki asal penukilan yang shahih, namanya tidak tercantum dalam kitab Adh Dhu’afa milik Nasa’i.
  • ‘Amrah Al Hamdaniyah adalah tabiin wanita kufah yang tsiqat. Dalam riwayat lain disebutkan kalau ia adalah ‘Amrah binti Af’a atau ‘Amrah binti Syafi’ [menurut Ibnu Hibban]. Al Ijli berkata “tabiin wanita kufah yang tsiqat” [Ma’rifat Ats Tsiqat no 2345]. Ibnu Hibban menyebutkan dalam Ats Tsiqat, ‘Amrah binti Asy Syaafi’ meriwayatkan dari Ummu Salamah dan telah meriwayatkan darinya ‘Ammar Ad Duhniy [Ats Tsiqat Ibnu Hibban juz 5 no 4880]

Jadi para perawi yang meriwayatkan hadis di atas dalah para perawi tsiqat sehingga hadis tersebut shahih. Tetapi para pendengki yang buruk ternyata tidak henti-hentinya menyebarkan syubhat untuk melemahkan hadis di atas. Diantara syubhat mereka ada yang memang layak ditanggapi dan ada pula yang tidak. Melemahkan salah satu perawinya adalah usaha yang sia-sia karena seluruh  para perawinya tsiqat seperti yang telah dibahas di atas.

Selanjutnya para ustadz Kaum pengingkar menyebutkan kebohongan lainnya dengan mengambil pernyataan dari AbuBakar bin Ayash  : ‘Ammar Ad Duhniy tidak mendengar dari Sa’id bin Jubair jadi riwayat itu terputus. Disebutkan dari Al Qawaririy dari Abu Bakar bin ‘Ayasy bahwa ‘Ammar Ad Duhniy tidak mendengar dari Sa’id bin Jubair [Ilal Ma’rifat Ar Rijal no 3033].

Pernyataan ini tidak benar karena Ammar Ad Duhny telah mendengar dari Sa’id bin Jubair.Al Bukhari telah menyebutkan biogarfi ‘Ammar bin Mu’awiyah Ad Duhniy dan berkata “mendengar dari Abu Thufail dan Sa’id bin Jubair” [Tarikh Al Kabir juz 7 no 120] kemudian Imam Muslim berkata

أبو معاوية عمار بن أبي معاوية الدهني سمع أبا الطفيل وسعيد بن جبير روى عنه الثوري أبو مودود وأبو صخر

Abu Mu’awiyah ‘Ammar bin Abi Muawiyah Ad Duhniy telah mendengar dari Abu Thufail dan Sa’id bin Jubair, telah meriwayatkan darinya Ats Tsawriy, Abu Mawdudi dan Abu Shakhr [Al Asma’ Wal Kuna Muslim 1/758 no 3803]

Selain itu ‘Ammar Ad Duhniy sendiri menyatakan kalau ia pernah bertemu Sa’id bin Jubair dan bertanya kepadanya, sebagaimana yang disebutkan oleh Abdurrazaq

أخبرنا عبد الرزاق قال أخبرنا بن عيينة عن عمار الدهني قال سألت سعيد بن جبير

Telah mengabarkan kepada kami ‘Abdurrazaq yang berkata telah mengabarkan kepada kami Ibnu Uyainah dari ‘Ammar Ad Duhniy yang berkata aku bertanya kepada Sa’id bin Jubair [Mushannaf Abdurrazaq 8/26 no 14160]

Jadi pernyataan Abu Bakar bin ‘Ayasy kalau ‘Ammar tidak mendengar dari Sa’id bin Jubair itu tidak shahih. Abu Bakar bin ‘Ayasy sendiri memang seorang yang tsiqat atau shaduq tetapi disebutkan kalau ia banyak melakukan kesalahannya karena hafalan yang buruk atau mengalami ikhtilath di akhir umurnya. Ahmad terkadang berkata “tsiqat tetapi melakukan kesalahan” dan terkadang berkata “sangat banyak melakukan kesalahan”. Muhammad bin Abdullah bin Numair mendhaifkannya, Al Ijli menyatakan ia tsiqat tetapi sering salah. Ibnu Sa’ad juga menyatakan ia tsiqat shaduq tetapi banyak melakukan kesalahan, Al Hakim berkata “bukan seorang yang hafizh di sisi para ulama” Al Bazzar juga mengatakan kalau ia bukan seorang yang hafizh. Yaqub bin Syaibah berkata “hadis-hadisnya idhthirab”. As Saji berkata “shaduq tetapi terkadang salah”. [At Tahdzib juz 12 no 151]. Ibnu Hajar berkata “tsiqah, ahli ibadah, berubah hafalannya di usia tua, dan riwayat dari kitabnya shahih” [At Taqrib 2/366].

Bisa jadi riwayat Abu Bakar bin ‘Ayasy ini bagian dari keburukan hafalannya atau bagian dari ikhtilathnya dimana tidak diketahui apakah Al Qawaririy meriwayatkan sebelum atau sesudah ia mengalami ikhtilath. Jadi riwayat Abu Bakar bin ‘Ayasy tidak bisa dijadikan hujjah apabila bertentangan dengan pendapat ulama lain dan riwayat shahih lain kalau ‘Ammar bertemu dengan Sa’id bin Jubair. Dari hadis di atas terdapat beberapa faedah yang bisa kita ambil

  • Al Ahzab 33 ayat tathiir turun di rumah Ummu Salamah dimana saat itu berkumpul Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam], Sayyidah Fathimah, Imam Hasan dan Imam Husein
  • Ayat tathiir turun untuk Ahlul kisa’ dan hal ini menjadi keutamaan bagi mereka, sehingga ketika ‘Amrah bertanya kepada Ummu Salamah tentang Ali maka Ummu Salamah menyebutkan keutamaan ini.
  • Ummu Salamah bukan ahlul bait dalam ayat tathir karena terdapat perkataan Ummu Salamah jika Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengiyakan atau membenarkan dirinya ahlul bait yang dimaksud maka itu lebih ia sukai dari dunia dan seisinya. Kalau sekiranya Ummu Salamah sebagai istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] adalah ahlul bait dalam Al Ahzab 33 maka dirinya tidak perlu berharap-harap. tidak mungkin mengharapkan sesuatu yang telah ditetapkan, perandaian atau harapan terjadi untuk peristiwa yang memang belum terjadi.
  • Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] menunjukkan akhlak yang mulia, dimana Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] menolak Ummu Salamah sebagai ahlul bait dengan penolakan yang halus dan menenangkan bagi Ummu Salamah. Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “engkau termasuk istriku yang shalih”. Perkataan ini juga mengisyaratkan kalau istri Nabi bukanlah ahlul bait yang dimaksud dalam Al Ahzab 33 tetapi walaupun begitu istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] tetap memiliki keutamaan.

Al-Hakim meriwayatkan hadis serupa dari Ummu Salamah yang berkata, “Di rumah saya turun ayat yang berbunyi ‘Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan mensucikan kamu sesuci-sucinya’. Lalu Rasulullah saw memasukkan Ali, Fatimah, Hasan dan Husain, dan kemudian berkata, ‘Mereka inilah Ahlul Baitku.’ “Mustadrak al-Hakim, jld 3, hal 197 – 198. Kemudian, al-Hakim berkata, “Hadis ini sahih menurut syarat Bukhari.” Di tempat lain al-Hakim juga meriwayatkan hadis ini dari Watsilah, dan kemudian berkata, “Hadis ini sahih menurut syarat mereka berdua.” Nabi menegaskan bahwa merekalah ahlu baitnya, seandainya dalih kaum Salafi benar, tentunya beliau akan mengatakan “ jadikanlah mereka ahlul baitku!”

Pada riwayat al-Hakim di dalam kitab Mustadraknya disebutkan, Ummu Salamah bertanya, “Ya Rasulullah, saya tidak termasuk Ahlul Bait?” Rasulullah saw menjawab, “Sesungguhnya engkau berada dalam kebajikan, mereka itulah Ahlul Baitku. Ya Allah, mereka inilah Ahlul Baitku yang lebih berhak.” Mustadrak al-Hakim, jld 2, hal 416.

Itulah sebabnya mengapa Ummu salamah sangat menginginkan masuk ke dalam Kisa, karena kedudukan mereka  .Dan mereka yang di dalam Kisa ini sangat mengetahui kedudukan diri mereka sendiri sehingga pada berbagai kesempatan, mereka yang di dalam Kisa ini berulangkali menyebutkan bnahwa merekalah ahlul bait yang dimaksud Syariat.

Imam Hasan berpidato panjang lebar , diantaranya beliau mengatakan,”Aku dari kalangan Ahlul Bait yang dihilangkan rijs darinya dan disucikan sesuci-sucinya.” (Alhakim dalam Mustadrak 3/172, Tafsir Thabari 4:/120, Syarah Nahjul Balaghah jilid 4 juz  16 halaman 11, Thabari 4/120, dan lainnya)

Imam Ali setelah ditikam sempat keluar rumah dan berpidato, diantaranya beliau menyebutkan ,” Wahai penduduk Irak bertakwalah pada Allah tentang kami, sebab kami adalah pemimpin kalian dan kami adalah ahlul bait yang telah disebutkan Allah dalam kitabnya.” (Syawahid Tanzil Alhakim Alhiskani 2/18, Ibnu Maghazili dalam almanaqib halaman 382 , At Thabrani  dalam Mu`jam Kabir halaman 142, Dzahabi dalam Siyar A`lam wan Nubala 3/180, Ibnu Atsir dalam Ushul Ghabah 2/14.

Bahkan Rasulullah sendiri sebagaimana yang diriwayatkan Abu Said dengan tegas bersabda ,” Ayat thahir ini turun untuk lima orang, untukku, untuk Ali,Untuk Fatimah, untuk Hasan dan untuk Husein.” (diriwayatkan AlBazzar,juga diriwayatkan  Ahmad, Thabrani, Manaqib n dan lain-lain)

Dalam riwayat Ummu salamah diceritakan bahwa ketika Ummu Salamah bertanya, “Ya Rasulullah, saya tidak termasuk Ahlul Bait?” Rasulullah saw menjawab, “Sesungguhnya engkau berada dalam kebajikan, mereka itulah Ahlul Baitku. Ya Allah, mereka inilah Ahlul Baitku yang lebih berhak.” Mustadrak al-Hakim, jld 2, hal 416.

Demikianlah,kaum Salafi berusaha membuat “Blur” tentang pengertian ahlul bait.Kami sudah membantahnya dengan berbagai hadist di atas, bila mereka tetap ngotot, minta saja mereka  menunjukan satu saja walaupun riwayat dhaif sekalipun yang berisi pengakuan dari para isteri-isteri nabi sendiri sebagaimana pengakuannya Imam Ali dan Hasan , bahwa mereka isteri-isteri Nabi adalah ahlul bait yang dimaksud Alqur`an.

Selanjutnya anda pun bisa mengecek sendiri dalam kitab-kitab Tafsir ahlusunnah,seperti   tafsir Baihaqi, di dalam Sunan al-Kubra, bab keterangan Ahlul Baitnya (Rasulullah saw); tafsir ath-Thabari, jld 22, hal 5; tafsir Ibnu Katsir, jld 3, hal 485; tafsir ad-Durr al-Mantsur, jld 5, hal 198 – 199; Sahih Turmudzi, bab keutamaan-keutamaan Fatimah; Musnad Ahmad, jld 6, hal 292 – 323, selanjutnya saudara pembaca dapat mengambil kesimpulan sendiri siapakan ahlubait yang dimaksud.

Adapun bila kaum Salafi tetap ngotot dengan mengatakan bahwa dalam hadist riwayat Ummu Salamah melalui jalurUmar bin Ummu salamah yang menyebutkan bahwa Imam Ali posisinya dibelakang nabi , bukan di dalam Kisa, maka kami akan menunjukan hadist pembanding lainnya  yaitu dari riwayat Aisyah dan Abdullah bin Ja`far  yang menerangkan dengan terang benderang bahwa Ali pun masuk ke dalam Kisa.Tetapi bila mereka mau tetap berhujjah dengan riwayat yang menyatakan bahwa  posisi Ali dibelakang Nabi,maka saya akan berhujjah bahwa dimanapun posisi Ali, beliau adalah wakil nabi dan belahan jiwa Nabi.Imam Ali adalah  bagian dari diri nabi dan bagian dari Risalah itu sendiri , sehingga “kemungkinan” bahwa beliau ada dipunggung Nabi saat peristiwa Kisa justeru menunjukan isyarat  bahwa beliau adalah wakil nabi, washi dan belahan jiwa dan penerus kepemimpinan ummat setelah nabi,  sebagaimana sabda beliau :

  • “Sesungguhnya Ali dariku dan aku darinya.Dan ia pemimpin setiap mukmin setelah aku ”( Sahih Tirmidzi jilid 5 hadist no 3796/Mustadrak Alhakim jilid III/Kanzul Ummal jilid 15/Usdul Ghabah Ibnu Atsir jilid IV/ShawaiqulMuhriqoh halaman 73/Fathul Kabir Annabani/Jamiul Ushul Ibnu Atsir/dll).
  • “Sesungguhnya Ali dariku dan aku darinya.Dan tidak ada yang dapat menggantikan tanganku kecuali Aku sendiri dan Ali.” (Sunan Ibnu Majah jilid I/Shahih Tirmidzi jilid V/Khashaish Amirul Mukminin Annasaa-I asSyafii halaman 33/Tarikh Damsyiq Tarjaman Imam Ali bin Abi Thalib jilid II , Ibnu Assakir/ Manaqib Ali Ibnu Maghazili Assyafii halaman 221/ Almanaqib oleh Khawarizmi Alhanafi hal 79/ Shawaiqul Muhriqoh hal 120, Ibnu hajar /Nurul Abshar hal 72, Syablanji/ Jami`us Shagir jilid II , Assuyuthi/Mustadrak Alhakim jilid III?Musnad Ahmad jilid V,Jamiul Ushul Ibnu Atsir jilid IX, dll)
  • Kedudukan Ali disisiku seperti kedudukan Harun disisi Musa , sebagaimana yang telah saya jelaskan di atas.

Demikianlah, walaupun mereka berhujjah dengan riwayat yang menyatakan bahwa Imam Ali tidak di dalam Kisa tetapi di punggung Nabi, dan menutup mata terhadap riwayat bahwa Ali di dalam kain Kisa tetap tidak bisa menunjukan dalih mereka.Dengan hadist tersebut justeru menunjukan bahwa Imam aAli yang dibelakang Nabi inilah yang akan menggantikan posisi nabi memimpin ummat dan menggantikan posisi beliau saw sebagai pemimpin keluarga suci Risalah. KEPALA KELUARGA RUMAH NABI. Pewaris  rumah Nabi yang suci.

  • Dari Anas bin Malik bahwa Nabi saw bersabda,”Sesungguhnya teman dekatku, penolong setiaku, khalifah agamaku dan yang memenuhi hutang-hutangku (dalam riwayat lainnya dengan lafadz  janjiku) adalah Ali). Tarikh Thabari juz 2 hal 313, Raghib Isfahani dalam Muhadharat al Adziba juz 2, diriwayatkan pula oleh Nasai dalam Alkhasa-isnya dalam hadist no 22,Sayid ali Hamadani Asysyafii dalam Mawaddah Qurba, Imam Ahmad  juga meriwayatkan dalam musnadnya dengan berbagai lafadz dan sanad yang berbeda, demikian pula dengan Baihaqi dan para muhadist ahlusunnah lainnya melalui beberapa jalur yang lain.
  • Rasulullah bersabda,” sesungguhnya setiap nabi mempunyai washy dan pewaris, sesungguhnya penerima wasiat dan pewarisku adalah Ali”(Tarjamah Ali bin Abi Thalib dalam Tarikh Damsyiq Ibnu Assakir jilid III/ Manaqib Ali olehIbnu Maghazili Assyafii hadist ke238/Mizanul I`tidal oleh Ibnu Assakir halaman Dzahabi jilid II/ Dhahairul Uqba oleh Muhibbin Thabari Asysyafii  halaman 42/ Almanaqib Khawarizmi Alhanafi halaman 42/Ihqaqul Haq Atstsari jilid IV,dll).

Dari berbagai riwayat di atas yang menunjukan bahwa Imam Ali adalah pengemban wasiat, pewaris, yang memenuhi hutang-hutang Nabi, saudara dekat Nabi, sangat jelas bahwa semua itu menunjukan bahwa posisi beliau adalah PEMUKA AHLUL BAIT NABI atau KEPALA KELUARGA NABI setelah Nabi wafat.Lalu dimana posisi Aisyah , Hafshah dan yang lainnya ? Bukankah mereka ahlul bait ? Dan siapa yang menempati rumah nabi setelah nabi wafat, apakah isteri-isteri nabi atau Imam Ali?

Jadi jelaslah, bahwa amanat nabi untuk berpegang kepada Kitabullah dan Ahlul Baitnya tidaklah bertentangan dengan amanat Nabi yang lain untuk Taat kepada Ali, karena Ali adalah bagian dari ahlul bait bahkan kepala rumah tangga Nabi setelah nabi wafat.

Bila Ali adalah ahlul bait yang kita harus berpegang kepadanya, begitupun isteri-isteri nabi juga adalah ahlul bait sebagaimana keinginan kaum Salafi, maka pada kasus perang Jamal misalnya saat Imam Ali berperang dengan Aisyah,maka kita harus berpegang dan membela siapa.bagaimana mungkin ahlul bait saling memerangi satu sama lain? Dan bagaimana mungkin Nabi menyuruh ummatnya untuk saling memerangi satu dengan yang lain?

Comments
One Response to “Membongkar Kebohongan Kaum Salafi Terhadap Apih Uyus& Orang-orang Awam , Dalam kasus Ahlul Bait yang dimaksud ayat Thahir”
  1. dudung says:

    sungguh lucu,,, pertanyaan apih uyus di akun kriya semesta saja belum terjawab….
    bahkan jawaban ukhti nadia di akun abu sadra sudah membuktikan bahwa nota http://www.facebook.com/notes/abu-sadra/muawiyah-perusak-islam-jawaban-ke-2-untuk-saudara-malikul/114257551991454 adalah copasan dari blog 2ndprince… anda bahkan meninggalkan jejak disana…
    anda benar2 ahli copas seperti syiahners yang lain..
    bahkan anda teriak2 menantang debat seseorang yang bahkan orang itu tidak dalam friendlist anda, dari pola pikir picik seperti itu saja sudah bisa membuktikan kenapa anda masuk syiah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: