QS; 33:33 Membicarakan Kema’shuman {Dialog di seconprince.wordpress.com}

SOALAN
a)saya masih tidak ngerti,,,,kata2 manakah dalam ayat tathir yang menetapkan sifat ma’sum kepada ahlil bait.
Pada tingkat pemahaman saya..berdasarkan kata2 “menghilangkan dosa dari kamu dan MEMBERSIHKAN kamu SEBERSIH-BERSIHNYA”
bukanlah penetapan sifat ma’shum..walaupun ditekankan dngan kata2 “sebersih-bersihnya”..
Menurut saya..sebelum ini ahlil bait mempunyai ‘rijs’(maafkan saya jika kata2 saya ini merendahkan AHLIL BAIT..saya memohon ampun pada Allah)setelah itu barulah Allah membersihkan mereka sebersih-bersihnya..
walhal..manusia yang ma’shum ialah orang yang sebelumnya memang tidak memiliki apa2 dosa.

 

JAWAPAN

“Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. 33: 33)

Terjemahan dari Depag RI.

Yang lebih tepat adalah “mencegah dosa dari kalian”

Karena “Liyudzhiba ‘an-kum” mengandung arti bahwa ar-rijs itu belum kena kepada mereka.

Sedangkan “Liyudzhiba min-kum” mengandung arti bahwa ar-rjs itu telah ada pada mereka.

Al-Quran menggunakan kata ” ‘an-kum ” bukan ” min-kum.” Dalam terjemah kata ” ‘an ” dan ” min ” suka diartikan sama yaitu “dari”

Sedangkan kata “dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya” adalah penegasan terhadap keabadian kesucian mereka dari ar-rijs itu.

 

SOALAN
inilah yang membuatkan saya semakin musykil..kerana kalau kita lihat pada ayat surah Hud.ayat..74..Allah berfirman..”maka hilanglah rasa takut dihati ibrahim”..pada ayat ini digunakan kata “an ibrahim raw’u”.. jadi maksudnya sebelum ini nabi ibrahim tidak punya rasa takut..kerna Allah menggunakan kata “an”..bukan “min”
maaf jika tanggapan saya salah..kerna saya tidak arif dalam berbahasa arab

 

JAWAPAN

QS. 11: 74 dengan QS. 33: 33 berbeda.

QS. Hud [11]: 74 berasal dari wazan fa’ala (dzahaba ‘an), sedangkan
QS. 33: 33 berasal dari wazan af’ala (adzhaba ‘an)

 

SOALAN

saya ini jahil bahasa arab..boleh kamu terangkan pada saya secara lebih mendalam apa itu wazan fa’ala dan wazan af’ala..

maaf kalau saya ini merepotin kamu..

 

JAWAPAN

QS. 33:33 = “liyudzhiba ‘an”
QS. 11:74 = “dzahaba ‘an”

yudzhibu berasal dari kata “adzhaba.” jadi berbeda dengan yang ada di QS. 11:74 yaitu “dzahaba”

Secara lekskal:
dzahaba artinya pergi
Adzhaba artinya menyuruh pergi

adzhaba sendiri berasal dari kata dzahaba+alif sehingga ia menetapi wazan (neraca) af’ala.
kata yang berwazan af’ala bisa mengandung berbagai makna. Salah satunya adalah menghilangkan. makanya kata liyudzhiba diartikan dengan menghilangkan.

Bila objek yang dihilangkannya tidak ada, maka maknanya bisa berarti mencegah untuk datang. Dikuatkan oleh penggunaan ‘an yang salah satu maknanya adalah untuk sesuatu yang belum terjadi.

Apakah ar-rijs itu sudah ada? ar-rijs hanya ada bagi orang yang dewasa. Sedangkan ayat tersebut ditujukan pula untuk anak kecil yang belum terkena taklif.

Bila kta berpikir bahwa yg dewasa telah ada padanya ar-rijs sedangkan anak kecil belum ada. Maka tentu saja yang anak kecil ini lebih mulia dari yang dewasa dan itu mustahil karena yang dewasa di sini adalah Rasul SAW.

Dari keterangan di atas makna mencegah itu lebih tepat karena objek yang dihilangkan yaitu ar-rijs belum ada pada mereka.

salam.

 

SOALAN

maaf sekali lagi saya bertanya..

lalu kenapa di QS 11:74 Allah menggunakan kata “an”..apa jadinya jika Allah guna kata min..

 

JAWAPAN
kata “min” memiliki banyak arti diantaranya untuk permulaan dan bagian. Bila min di tempatkan di situ maka ar-rawu’ (terkejut) bermula dari Ibrahim as. Artinya sudah ada sebelumnya kemudian pergi.

Sedangkan ‘an memiliki banyak arti di antaranya melewati, berdekatan, atau sesuatu belum terjadi, dsb. Penepatan ‘an di situ membawa arti bahwa ar-rawu’ (terkejut) hanya lewat saja.

Maaf bila kurang memuaskan.

Salam

 

SOALAN

terima kasih byk2..utk ini cukup memuaskan..

tapi saya masih ada satu lagi soalan..mungkin ini yg terakhir berkenaan ayat tathir..
maaf..saya ini jahil bahasa Arab..
mungkin soalan saya ini menampakkan kejahilan saya

saya mahu tanya…kalau “an” dlm QS. 11:74 memaksudkan hanya lewat saja…kenapa tidak kita menganggap QS 33:33 juga rijs itu lewat saja..

apa yg menyebabkan QS 33:33 memaksudkan bahawa istilah “an” tersebut adalah rijs yg belum ada pada ahl bait..

 

JAWAPAN

itu dikarenakan fi’il yang digandengkan dengan ‘an (QS. 33: 33) perlu pada objek, itu lazimnya wazan (neraca) af’ala. Sedangkan objeknya tidak ada, karena yang dituju ayat ini adalah anak kecil juga. Yang tentu saja belum ada ar-rijs. Maka maknanya berubah menjadi mencegah. Kalau digunakan min, itu menunjukkan sudah ada. Jadi makna mencegah menjadi tidak berarti. Maka ‘an di sini memuluskan jalan bagi makna mencegah.

 

SOALAN

yusuf…saya mahu bertanya lagi..
baru2 ini, saya ada terbaca komentar2 dari salah satu blog yg juga membahaskan berkenaan ayat tathir..

si komentar berkata
“ayat tathir ialah fa’il mudhari’/present tense..bukan fa’il madhi/past tense..jadi jelas disini Allah SENTIASA / SELALU / SETIAP MASA menghendaki untuk membersihkan ahl bait sebersih-bersihnya..

boleh kamu terangkan pada saya supaya saya lebih faham..apa itu fa’il madhi dan mudhari’…

 

JAWAPAN
fi’il madhi = kata yang menunjukkan telah lewat
fi’il mudhari = kata yang menunjukkan sekarang dan yang akan datang.

QS. 33: 33: Liyudzhiba = Li + Yudzhiba

Yudzhibu = fi’il mudhari. Fi’il madhinya= Adzhaba

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: