Kekeliruan Ibnu Taimiyyah Terhadap Hadis Tsaqalain


Kekeliruan Ibnu Taimiyyah Terhadap Hadis Tsaqalain

SUMBER: Blog Analisis Pencari Kebenaran

ditulis Oleh: J. Algar (SP)

.

Ibnu Taimiyyah dalam kitab Minhaj As Sunnah mengkritik hadis Tsaqalain berikut “… dan ‘ltrah Ahlul Baitku. Karena sesungguhnya keduanya tidak akan pernah berpisah hingga menemuiku di telaga”, Ibnu Taimiyyah berkata

 

“Sesungguhnya hadis ini diriwayatkan oleh Turmudzi. dan, Ahmad telah ditanya tentang hadis ini, serta tidak hanya seorang dari ahli ilmu yang mendhaifkan hadis ini. Mereka mengatakan bahwa hadis ini tidak sahih.”

Selain itu Ibnu Taimiyyah juga menolak hadis ini karena didalam sanadnya terdapat Qasim bin Hishan, Ibnu Taimiyyah berkata

”Imam Ahmad bin Hanbal ditanya tentang Qasim maka ia menyatakan orang itu dhaif”.

Ibnu Taimiyyah juga mengatakan, hadis ini tidak menunjukkan kepada wajibnya berpegang teguh kepada Ahlul Bait melainkan hanya menunjukan kepada wajibnya berpegang teguh kepada Al-Qur’an saja. Hadis yang dijadikan argumentasi oleh Ibnu Taimiyyah dan lebih shahih menurutnya ialah, “Aku tinggalkan padamu sesuatu yang jika kamu berpegang teguh kepadanya niscaya kamu tidak akan tersesat sesudahnya, yaitu Kitab Allah.” (tanpa tambahan Ahlul BaitKu)

Tanggapan Terhadap Ibnu Taimiyyah

Hadis Tsaqalain salah satunya memang diriwayatkan oleh Turmudzi dalam Sunan Turmudzi, tetapi hadis ini juga diriwayatkan dalam Musnad Ahmad, Mustadrak Al Hakim, Mu’jam Ath Thabrani, Jamius Shaghir, Majmu Az Zawaid, Musnad Abu Ya’la, Shahih Ibnu Khuzaimah dan lain-lain. Jadi pernyataan Ibnu Taimiyyah bahwa hadis ini diriwayatkan Tirmidzi terkesan janggal, karena itu menunjukkan seolah-olah hanya Tirmidzi yang meriwayatkan hadis Tsaqalain dan ini jelas tidak benar.

Anehnya Ibnu Taimiyyah juga mengatakan bahwa banyak yang mengatakan hadis ini tidak shahih, tetapi beliau tidak menyebutkan siapa-siapa yang dimaksud. Imam Turmudzi tidak menyatakan hadis ini dhaif, beliau menyatakan hadis dalam Sunannya hasan gharib, Al Hakim menyatakan hadis ini shahih dalam Mustadraknya dan dibenarkan oleh Adz Dzahabi dalam Talkhis Al Mustadrak. Abu Ya’la meriwayatkan dalam Musnadnya seraya mengatakan bahwa sanad hadis ini tidak mengapa, beliau tidak menyatakan dhaif. Al Haitsami dalam Majmu az Zawaid menyatakan bahwa semua perawi hadis ini adalah tsiqah. Hadis ini juga dishahihkan oleh Jalaludin Al Suyuthi dalam Jamius Shaghir. Jadi dakwaan Ibnu Taimiyyah itu tidak jelas dan meragukan karena cukup banyak yang menguatkan hadis ini dan tidak menyatakan dhaif atau tidak shahih seperti yang dikatakan Ibnu Taimiyyah.

Ibnu Taimiyyah juga mengisyaratkan bahwa Imam Ahmad mendhaifkan hadis ini, seraya mengatakan bahwa Imam Ahmad menganggap Qasim bin Hishan adalah dhaif. Anehnya Ibnu Taimiyyah tidak menyebutkan dari mana sumber penukilannya dari Imam Ahmad. Qasim bin Hishan adalah salah satu perawi dalam Musnad Ahmad, bukankah Ibnu Taimiyyah sendiri dalam kesempatan lain menyatakan bahwa Imam Ahmad tidak meriwayatkan hadis kecuali dari perawi yang tsiqah menurut pandangan Imam Ahmad. Seperti yang telah dinukil oleh Ibnu Subki dalam Syifâ al-Asqâm, jilid. 10 hal 11 tentang perawi-perawi Ahmad bin Hanbal

“Ahmad(semoga Allah merahmatinya) tidak meriwayatkan kecuali dari orang yang dapat dipercaya (ats-tsiqah). Ibnu Taimiyyah telah berterus terang tentang hal itu di dalam kitab yang dikarangnya untuk menjawab al-Bakri, setelah sepuluh kitab lainnya. Ibnu Taimiyyah berkata, ‘Sesungguhnya para ulama hadis yang mempercayai ilmu al-Jarh wa at-Ta’dil ada dua kelompok. Sebagian dari mereka tidak meriwayatkan kecuali dari orang yang dapat dipercaya dalam pandangan mereka, seperti Malik, Ahmad bin Hanbal dan lainnya.”.

Jadi sebenarnya Qasim bin Hishan itu adalah tsiqah dalam pandangan Imam Ahmad. Hal ini juga dibenarkan oleh Syaikh Ahmad Syakir pentahqiq dan pensyarh Musnad Ahmad(lihat komentar syaikh Ahmad Syakir hadis no 3605), beliau justru dengan jelas menyatakan tsiqah kepada Qasim bin Hishan. Oleh karena itu dakwaan Ibnu Taimiyyah tentang Qasim dan pernyataannya bahwa Imam Ahmad telah mendhaifkan hadis Tsaqalain adalah tidak benar.

Pernyataan Ibnu Taimiyyah bahwa hadis ini tidak menunjukkan keharusan berpegang kepada Ahlul Bait melainkan keharusan berpegang kepada Kitabullah saja juga tidak benar karena zhahir hadis justru menyatakan harus berpegang kepada keduanya. Pernyataan Ibnu Taimiyyah ini jelas dilandasi oleh dugaannya bahwa hadis Tsaqalain dhaif dan yang shahih justru adalah hadis dengan riwayat berpegang kepada Kitabullah saja tanpa tambahan Ahlul Bait. Hadis yang dimaksud diriwayatkan dalam Shahih Muslim no 1218 juga diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dan Abu Dawud

Berkata Jabir bin ‘Abd Allah radiallahu ‘anhu, Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam telah berkhutbah: Demi sesungguhnya aku telah tinggalkan kalian sesuatu yang jika kamu berpegang kepadanya, kamu tidak akan sesat yaitu Kitab Allah (al-Qur’an).

Hadis ini memang shahih tetapi bukan berarti hadis ini bertentangan dengan hadis Tsaqalain, tetapi justru hadis Tsaqalain melengkapi hadis ini apalagi terdapat hadis Tsaqalain riwayat Jabir dalam Sunan Turmudzi dengan tambahan Ahlul Bait dan Turmudzi menyatakan hadisnya hasan gharib dan dinyatakan shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Turmudzi no 3786.

Bercerita kepada kami Nashr bin Abdurrahman Al Kufi dari Zaid bin Hasan Al Anmathi dari Ja’far bin Muhammad dari Ayahnya dari Jabir bin Abdullah,ia berkata’saya melihat Rasulullah SAW pada saat menunaikan ibadah haji pada hari Arafah, Beliau SAW menunggangi untanya al Qashwa dan saya mendengar Beliau SAW berkata ”wahai manusia,sesungguhnya Aku meninggalkan sesuatu bagimu yang jika kamu berpedoman kepadanya kamu tidak akan tersesat selama-lamanya yaitu Kitabullah dan Itrati Ahlul BaitKu”.

Jadi hadis riwayat Jabir dalam Shahih Muslim itu tidak menafikan hadis Tsaqalain, justru hadis tersebut harus digabungkan dengan hadis Tsaqalain karena keduanya adalah shahih apalagi hadis Tsaqalain memiliki banyak jalan yang menguatkannya. Kesimpulannya semua pernyataan Ibnu Taimiyyah tentang penolakannya terhadap hadis Tsaqalain adalah tidak benar dan hanya berdasarkan dugaan semata. Beliau sama halnya dengan Ibnul Jauzi tidak mengumpulkan semua riwayat hadis Tsaqalain yang terdapat dalam kitab-kitab hadis.

Comments
One Response to “Kekeliruan Ibnu Taimiyyah Terhadap Hadis Tsaqalain”
  1. catatan serbaneka asrir pasir
    Belajar menyimak teks (matan) hadits
    Dalam usia sudah lebih tujuh puluh tahun, isteri saya mencoba belajar mengetik, menulis menggunakan komputer pinjaman dari seoang keponakan. Saya iktu-ikutan turut membantu, menolongnya. Adakalanya ikut mencarikan, menemukan ayat-ayat Quran dan Hadits-hadits Rasulullah saw yang dicomot (diunduh, didownload) dari situs http://kitab_kuning.blogspot.com yang terhimpun, terkoleksi dalam suatu mausu’at yang terdiri dari 20 kitab hadits.
    Saya sendiri tak mengerti bahasa Arab, hanya sekedar mengenal bahasa Arab dasar yang sangat minim. Dengan hanya memiliki pengetahuan dasar bahasa bahasa Arab yang sangat minim itu, saya meraba-raba mencari teks (matan, naskah) hadits yang diperlukan sebagai rujukan tulisan oleh isteri saya dari mausu’at digital tersebut. Pernah mencari hadits yang maknanya, maksudnya “Aku tinggalakan kepada kamu sekalian dua hal (panduan hidup). Kamu sekalian tak akan tersesat bilamana kamu sekalian berpegang kepada keduanya, yaitu Kitabullah dan Sunnah RasulNya”. Namun saya gagal, tak berhasil menemukan teks (redaksi, matan) yang bermakna seperti itu. Yang saya temukan hanyalah hadits yang menyebutkan bahwa yang ditinggalkan oleh Rasulullah saw itu adalah Kitabullah dan Ahlul Bait, dalam “Mustadrak” AlHakim dari Zaid bin Arqam, pada kitab Makrifah Shahabat, hadits no.4577. Seangkan hadtis sebelumnya, hadits no.4576 menggunakan lafal “tsaqalain”, dan bukan “amrain”.
    Pernah pula mencari hadits yang maknanya, maksudnya “Peliharalah yang lima sebelum datang yang lima”. Hadits tersebut ditemukan dalam “Mustadrak” AlHakim, kitab ArRiqa, hadits no.7846 dari Ibnu Abbas, dalam “Mushanil” Ibnu Syaibah, kitab AzZuhd, hadits no 18/19, dalam “Fathul Bary” Ibnu Hajar, kitab ArRiqaq, komentar hdits no.6053. Sehubungan dengan hadits no.6053 yang maknanya, maksudnya “Hiduplah di dunia seolah-olah bagai orang asing atau sebagai musafir”, ketika mengomentari, mensyarah sanad hadits tersebut, Ibnu Hajar menyebutkan nama Ulama Hadits yang menemukan tadlis (penyamaran) dalam sanad hadits tersebut. Lafal ‘haddatsani” (telah memberitakan kepadaku) aalah tadlis (penyamaran) dari lafal “’an” (dari).
    A Qadir Hasan dalam kitabnya “Ilmu Musthalah hadits” menyebutkan bahwa di dalam kitab Bukhari terdapat 1341 hadits Mu’allaq dan dalam Shahih Muslim ada sedikit. Hadits Mu’allaq aalah hadits yang awal sanadnya gugur seorang rawi atau lebih secara berturut-turut. Hadits Mu’allaq itu hukumnya lemah, tidak boleh dipakai sebagai rujukan. Juga disebutkan bahwa dalam Kitab Bukhari dan Muslim terdapat riwayat Mudallas, tetapi riwayat-riwayat itu di bab lain dan di temapt lain, ada sanadnya yang tidak Mudallas. jadi boleh dikatakan tidak ada hadits Mudallas yang tersendiri dalam kedua-dua kitab itu. Hadits Mudallas adalah hadits yang sadanya samar (hal 92,93,99,107).
    Kesahihan hadits riwayat Bukhari disepakati oleh semua ahli hadits, apabila hadits-hadits itu dikembalikan kepada kriteria-kriteria jumhur Simak “Ragam Madah” ALMUSLIMUN, Bangil, No.215, hal 69)
    (BKS1105190830)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: