Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Ahlul Bait (Kerancuan Tafsir Ibnu Katsir dkk)


Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Ahlul Bait (Kerancuan Tafsir Ibnu Katsir dkk)

SUMBER: Blog Analisis Pencari Kebenaran

ditulis Oleh: J. Algar (SP)

Kerancuan Tafsir Ayat Tathir oleh Ibnu Katsir, Ibnu Taimiyyah dan Ali As Salus.

Ibnu Katsir, Ibnu Taimiyyah dan Ali As Salus menyatakan bahwa Ahlul bait dalam Ayat Tathir adalah istri-istri Nabi SAW beserta Ali, Fatimah, Hasan dan Husain. Karena menurut mereka hadis-hadis shahih menunjukkan bahwa Ahlul Bait itu tidak terbatas pada istri-istri Nabi SAW.

Hal ini telah dikutip oleh saudara Ja’far dalam tulisannya

 

Ibnu Katsir dalam tafsirnya berkata bahwa sesungguhnya ayat ini adalah dalil masuknya para istri Nabi SAW dalam ahlul bait karena merekalah yang menjadi sebab turunnya ayat. Dan menurut pendapat shahih, yang termasuk ahlul bait itu adalah mereka ditambah dengan yang lainnya. (Tafsir Ibnu Katsir)

dan saudara Ja’far juga mengutip Ali As Salus

Menurut DR.Ali Ahmad As-Salus, Q.S.Al-ahzab ayat 33 tsb berlaku umum yaitu bukan hanya untuk istri nabi saw, tetapi juga untuk Ali, Fatimah, Hasan dan Husein. Jika ayat 33 tsb hanya untuk istri nabi saw maka harusnya digunakan kata jamak perempuan (muannats) yaitu ‘ankunna dan yuthohhirokunna. Alasan mengapa dalam ayat 33 ini digunakan kata jamak laki-laki (Mudzakkar) yaitu ‘ankum (darimu) dan yuthohhirokum (menyucikanmu) adalah karena dalam ayat tsb juga mengacu kepada Ali, Hasan dan Husein. karena Karena jika bentuk Mudzakkar (mengacu pada Ali, Hasan dan Husein) dan Muannats (mengacu Istri-istri Nabi dan Fatimah) berkumpul maka yang digunakan bentuk Mudzakkarnya. Waallahu’alam bishowab.

Kemudian ketika menafsirkan Ayat tathir tersebut saudara Ja’far menuliskan

Q.S.Al-Ahzab 33 ini juga tidak menyatakan kemaksuman ahlul bait.
“…Allah bermaksud HENDAK menghilangkan dosa dari kamu..” (Q.S.Al-Ahzab 33).
Ayat ini bukanlah bercerita tentang penghapusan dan penyucian dosa ahlul bait. Ayat ini menyatakan keinginan Allah agar ahlul bait suci dan terpelihara dari dosa karena mereka diutamakan oleh Allah. Lihatlah ayat 30-32, dalam ayat ini Allah sangat memperhatikan mereka (istri nabi saw) sehingga bila mereka berbuat dosa maka mereka akan mendapatkan siksaan dua kali lipat dan bila mereka taat maka mereka akan mendapat pahala dua kali lipat. Mereka tidak sama dengan wanita lain jika mereka bertakwa.

Dimana letak kerancuannya? Saudara Ja’far ketika menafsirkan ayat tathir beliau mengaitkan kesucian itu dengan ayat sebelumnya. Dia menulis

Lihatlah ayat 30-32, dalam ayat ini Allah sangat memperhatikan mereka (istri nabi saw) dan kata-kata Mereka tidak sama dengan wanita lain jika mereka bertakwa.

Seandainya kita berusaha menafsirkan Ayat Tathir dengan melihat ayat-ayat sebelumnya, seperti yang dikatakan saudara Ja’far

Ayat ini menyatakan keinginan Allah agar ahlul bait suci dan terpelihara dari dosa karena mereka diutamakan oleh Allah.

Berarti kesucian dalam Ayat Tathir itu berkaitan dengan syariat Allah yang ditetapkan oleh ayat sebelumnya atau jika pribadi-pribadi yang dimaksud dalam Ayat Tathir itu melaksanakan ketentuan-ketentuan Allah pada ayat-ayat sebelumnya maka mereka akan mendapat kesucian yang dikehendaki allah SWT untuk mereka. Nah letak kejanggalannya adalah Ketentuan yang dimaksud itu adalah

• Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik
• Hendaklah kamu tetap di rumahmu
• Janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu
• Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ta’atilah Allah dan Rasul-Nya.

Semua ketentuan ini selain yang terakhir adalah ketentuan khusus wanita dalam hal ini istri-istri Nabi SAW, jadi bagaimana bisa itu dikaitkan dengan Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husain. Padahal jelas sekali Ibnu Katsir, Ibnu Taimiyyah, Ali As Salus menyatakan bahwa mereka juga termasuk Ahlul Bait dalam ayat tersebut dan ini yang dikutip oleh saudara Ja’far.

Bukankah dia saudara Ja’far menulis

Juga salah jika dikatakan ayat 33 tsb hanya berlaku untuk istri nabi SAW padahal Ali, Fatimah, Hasan dan Husein juga termasuk didalamnya sebagaimana hadis shahih Muslim yang disebut diatas.

Lalu apa sebenarnya makna kesucian bagi Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husain?.

Mungkin saudara Ja’far akan berkata seperti yang dia kutip dari Ibnu Taimiyyah,

Ibnu Taimiyah berkata bahwa ayat ke-33 surat Al-Ahzab bukanlah berita tentang penghapusan dan penyucian dosa ahlul bait. Dalam ayat ini justru terdapat perintah yang wajib dilaksanakan oleh Ahlul Bait (Al-Muntaqa)..yaitu perintah untuk menjaga kesucian diri dari dosa-dosa.

Maka kita dapat bertanya dari mana dalilnya bahwa perintah yang dimaksud untuk Ahlul Bait itu adalah perintah untuk menjaga kesucian diri dari dosa-dosa. Apakah anda melihat perintah Allah dalam ayat Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan mensucikan kamu sesuci-sucinya.(QS Al Ahdzab 33). Jelas tidak ada perintah apapun dalam ayat ini, kemudian apakah anda akan berkata bahwa perintah itu ada pada ayat-ayat sebelumnya. Kalau begitu maka kerancuannya juga sama, perintah pada ayat sebelumnya jelas perintah khusus untuk wanita. Lantas apa kaitannya dengan Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husain.

Kemudian saudara Ja’far menuliskan

Jumhur ulama AhluSunnah tidak setuju bahwa Ahlul Bait Nabi SAW hanya terbatas pada keturunan Fatimah r.a.

Jawab saya: saya tidak tahu darimana dalilnya pernyataan ini. Padahal telah jelas dari Rasulullah SAW bahwa Ahlul Bait Nabi SAW adalah Sayyidah Fatimah as, Imam Ali as, Imam Hasan as dan Imam Husain as. Jika istri-istri Nabi SAW, keluarga Aqil, Ja’far dan Abbas juga disebut Ahlul Bait maka sebutan itu adalah dari segi bahasa saja yaitu mereka memiliki hubungan kekerabatan dengan Nabi SAW. Sedangkan istilah Ahlul Bait yang berkaitan dengan keutamaan mereka jelas ditujukan kepada Sayyidah Fatimah as, Imam Ali as, Imam Hasan as dan Imam Husain as beserta keturunan Sayyidah Fathimah as yang memiliki nasab dengan Nabi SAW.

Bahwa Rasulullah SAW bersabda”Setiap Sebab dan Nasab akan putus pada hari kiamat kecuali Sebab dan NasabKu”.(Hadis riwayat Hakim dalam Al Mustadrak jilid III hal 142,Thabrani, Al Haitsami dalam Al Majma Az Zawaid jilid 9 hal 173 dimana Rijalnya(perawinya) tsiqat dan hadis dalam Siyar A’lam An Nubala jilid III hal 500. Hadis ini telah dinyatakan shahih oleh Hasan As Saqqaf dalam Shahih Sifat Shalat An Nabiy).

Kemudian penulis mengutip pernyataan Al Hakim

Bahkan, Al-Hakim, ulama dan ahli hadis AhluSunnah yang banyak meriwayatkan hadis keutamaan-keutamaan Ali tidak pernah menganggap ahlul bait seperti dalam pemahaman Syi’ah. Al-Hakim berkata, “Yang dimaksud dengan ahlul bait disini adalah ulama yang mengamalkan ilmunya karena mereka adalah orang-orang yang tidak meninggalkan Al-Qur’an. Adapun orang yang bodoh, atau orang alim yang bercampur dengan kemaksiatan, mereka itu adalah orang yang asing dalam posisi ini.”

Jelas sekali Syiah ketika berbicara tentang Ahlul Bait adalah mereka yang dimuliakan Allah SWT dalam hadis Tsaqalain dan Ayat Tathiir dan pernyataan mereka dalam hal ini memiliki dalil yang kuat.

Sedangkan pernyataan Al Hakim(jika benar dia berkata seperti itu, pernyataan ini sebenarnya ada dalam Imamah dan Khilafah Ali As Salus) bahwa Ahlul Bait adalah ulama yang mengamalkan ilmunya karena mereka adalah orang-orang yang tidak meninggalkan Al Quran jelas membutuhkan dalil dari mana dasarnya itu, kalau Cuma sekedar pendapat yang didasari dugaan bahwa ulama adalah orang yang tidak meninggalkan Al Quran maka ini tidak bisa menjadi hujjah sama sekali. Ulama adalah orang yang berusaha untuk tidak meninggalkan Al Quran bukan orang yang selalu bersama dengan Al Quran. Ada bedanya itu.

Atau tulisan saudara Ja’far bahwa

Asy-Syarif berkata, “Hadis ini memberikan pengertian tentang adanya orang dari ahlul bait yang suci yang pantas dijadikan pedoman dalam setiap masa sampai hari kiamat. Begitu juga Al-Qur’an. Oleh karena itu, mereka mendatangkan kesejahteraan terhadap penduduk bumi. Dan jika mereka pergi, maka hilanglah ketentraman penduduk bumi”.

Hadis yang dimaksud adalah hadis tsaqalain dan anehnya justru pengertian Asy Syarif seperti ini menjadi hujjah bagi Syiah bahwa harus berpegang dan berpedoman kepada Imam-imam Ahlul Bait as. Kalau ditujukan kepada Sunni maka saya dapat bertanya memangnya siapa diantara ahlul bait suci yang dijadikan pedoman dalam setiap masa oleh Sunni?. Salam damai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: