Mengapa Imam Ali Membai’at ??? inilah dokumen rahasia syi’ah

Posted on Mei 12, 2010 by syiahali

kenapa imam Ali Membai’at Abubakar Didepan Massa ( Orang Ramai ) ??? Abubakar meraih peluang besar ketika gelombang kemurtadan dan penentangan terhadap islam melanda Hijaz… Kaum Muslimin yang tercekam MENOLAK BERPERANG MELAWAN Musailamah Al Kadzab dan KAUM MURTAD kecuali Imam Ali membai’at ABUBAKAR… Sehingga Imam Ali TERPAKSA membai’at Abubakar … Menentang Abubakar hanya akan membuat islam lenyap (punah) padahal KAUM MUSLiMiN berkepentingan menyelamatkan islam agar langgeng … Jika Imam Ali Memerangi Abubakar Maka Tidak Ada Lagi Islam Yang Tersisa

.abubakar memerangi orang-orang murtad. Sepeninggal Rasulullah memang banyak kaum muslimin yang kembali ke agamanya semula. Karena Nabi Muhammad, pimpinan mereka, sudah wafat, mereka merasa berhak berbuat sekehendak hati. Bahkan muncul orang-orang yang mengaku Nabi, antara lainMusailamah Al-Kadzab, Thulaiha Al-Asadi, dan Al-Aswad Al-Ansi

.
Kemurtadan saat itu terjadi di mana-mana dan menimbulkan kekacauan.. Untuk itu Abu Bakar mengirim 11 pasukan perang dengan 11 daerah tujuan. Antara lain, pasukan Khalid bin Walid ditugaskan menundukkan Thulaiha Al-Asadi, pasukan ‘Amer bin Ash ditugaskan di Qudhla’ah. Suwaid bin Muqrim ditugaskan ke Yaman dan Khalid bin Said ditugaskan ke Syam

Tindakan pencegahan yang diambil oleh Abu Bakr r.a. dan Jemaat Islam terhadap Musailima dan pengikutnya sepeninggal Nabi s.a.w.
BUKAN saja karena pendakwaan kenabiannya. Tindakan militer yang diambil itu karena Musailima dan para pengikutnya bersekutu dengan Banu
Hanifah yang bertujuan untuk menghancurkan sendi-sendi kehidupan dan persatuan Islami Jemaat Muslim yang baru lahir tumbuh berkembang
setelah wafatnya Nabi Muhammad s.a.w

Aksi-aksi yang dilancarkan Abu Bakar pada masa kekhilafahannya, dikarenakan para nabi palsu itu telah berubah menjadi ancaman disintegrasi terhadap tatanan kehidupan umat Islam

Pemberontakan, pembelotan atau separatisme terhadap negara dilakukan kaum MURTAD mengancam eksistensi Islam, baik yang pro maupun yang menentang Abubakar tentu sepakat akan ancaman Musailamah Al Kadzab dll .. Allah berfirman, “Dan kalau salah satu dari
mereka memberontak pada yang lainnya, maka perangilah yang memberontak itu sampai mereka kembali pada hukum Allah” (Al
Hujurat 49:9) .

Kenapa imam Ali Membai’at Abubakar Didepan Massa ( Orang Ramai ) ??? Abubakar meraih peluang besar ketika gelombang kemurtadan dan penentangan terhadap islam melanda Hijaz… Kaum Muslimin yang tercekam MENOLAK BERPERANG MELAWAN Musailamah Al Kadzab dan KAUM MURTAD kecuali Imam Ali membai’at ABUBAKAR… Sehingga Imam Ali TERPAKSA membai’at Abubakar … Menentang Abubakar hanya akan membuat islam lenyap (punah) padahal KAUM MUSLiMiN berkepentingan menyelamatkan islam agar langgeng … Jika Imam Ali Memerangi Abubakar Maka Tidak Ada Lagi Islam Yang Tersisa

==============================================================

****Dalam buku :
PERBANDI NGAN MAZHAB
SJ I ‘ AH RASIONALISME DALAM ISLAM
Oleh H. ABOEBAKAR ATJEH
Diterbitkan oleh : Jajasan Lembaga Penjelidikan Islam
Djakarta 1965

H.Aboebakar Atjeh menulis sbb:

Setengah sahabat menerangkan, bahwa wasiat jang akan ditulis itu terdiri dari tiga perkara, salah satunya bahwa Nabi akan mendjadikan Ali sebagai wali atau penggantinja. Tetapi keadaan politik dan perimbangan kekuatan ketika itu tidak mengizinkan, wasiat itu diumumkan. Sji’ah menuduh, bahwa banjak sahabat jang melupakannja. Buchari berkata pada penutup hadis wafat Rasulullah itu, bhw. ia berwasiat tiga perkara, jaitu mengeluarkan orang musjrik dari djazirah Arab, menerima utusan sebagaimana jang diterima, kemudian ia berkata, bahwa ia lupa wasiat jang ketiga. Demikian djuga pengakuan Muslim dan pengakuan semua pengarang Sunnan dan Musnad****
==========================================================================================================
Mengapa Ali Melakukan Pembaiatan Atas Abu Bakar? (1)

Protes tersebut beliau demonstrasikan dengan beragam cara di antaranya dengan sikap praktis yang akan menjadi bukti disepanjang sejarah yang tidak akan dapat ditutup-tutupi oleh upaya pembutaan apapun!

Imam Ali as. melakukan protes keras dengan menolak memberikan pengakuan legalitas syar’i atas hasil pembaiatan Abu Bakar di Saqîfah! Dan berbagai upaya termasuk dengan cara kekerasan sekalipun ternyata para pendukung kekhalifahan Abu Bakar tidak mampu membuat Imam Ali as. bertekuk lutut memberikan baiat dan restu serta pengakuan akan keabsahan Khalifah Abu Bakar!

Imam Ali as. tetap tegar dengan pendiriannya, dan membuktikan kepada umat dan sejarah bahwa hak kewalian beliau yang telah ditetapkan Allah SWT melalui Nabi-Nya di Ghadir Khum telah dibekukan dan diambil alih oleh kelompok Saqîfah!

Berita tentang keengganan Imam Ali as. untuk membaiat Abu Bakar sedemikian masyhur, sehingga kitab hadis paling selektif, seperti Shahih Bukhari pun melolos-sensorkannya.

Imam Ali as. menolak memberikan baiat selama kurun waktu enam bulan dari pembaiatan Abu Bakar! Sebuah waktu yang sangat panjang! Dalam kurun waktu itu, Imam Ali as. tak henti-hentinya membuktikan hak kewaliannya atas umat Islam! Sehingga terjadi kerenggangan hubungan antara beliau dengan Abu Bakar dan kelompoknya.

Penentangan Imam Ali as. atas rekayasa pembaitan Abu Bakar di Saqîfah berbuntut panjang!

Di antara ekor panjang penentangan Imam Ali as. atas pembaiatan Abu Bakar adalah peristiwa-peristiwa berikut ini:

A) Ancaman Pembakaran.

Para sejarawan Islam melaporkan berbagai peristiwa penting di antaranya apa yang dilaporkan oleh Ibnu Abi Syaibah (w.235H) dalam Mushannaf-nya dengan sanad bersambung kepada Zaid ibn Aslam dari ayahnya, ia berkata:

حين بويع لابي بكر بعد رسول الله، كان علي والزبير يدخلان على فاطمة بنت رسول الله، فيشاورونها ويرتجعون في أمرهم، فلمّا بلغ ذلك عمر بن الخطّاب، خرج حتّى دخل على فاطمة فقال: يا بنت رسول الله، والله ما أحد أحبّ إلينا من أبيك، وما من أحد أحبّ إلينا بعد أبيك منك، وأيم الله ما ذاك بمانعي إنْ اجتمع هؤلاء النفر عندك أن أمرتهم أن يحرّق عليهم البيت.

“Ketika Abu Bakar dibaiat sepeninggal Rasulullah, Ali dan Zubair masuk menemui Fatimah putri Rasulullah. Mereka bermusyawarah dengannya tentang urusan mereka. Ketika berita itu didengar oleh Umar ibn al Khaththab, ia keluar sehingga menemui Fatimah dan berkata kepadanya, ‘Hai putri Rasulullah, demi Allah tiada seorang yang lebih aku cintai dari ayahmu dan tiada seorang setelah ayahmu yang lebih kami cintai darimu. Demi Allah hal itu sama sekali tidak akan mencegahku jika mereka berkumpul di sisimu untuk kuperintahkan agar rumah ini dibakar bersama mereka.’” [1]

Ath Thabari juga melaporkan dalam Târîkh al Umam wa al Mulûk:

أتى عمر بن الخطّاب منزل علي، وفيه طلحة والزبير ورجال من المهاجرين فقال: والله لاُحرقنّ عليكم أو لتخرجنّ إلى البيعة، فخرج عليه الزبير مصلتاً سيفه، فعثر فسقط السيف من يده، فوثبوا عليه فأخذوه.

“Umar ibn al Khaththab mendatangi rumah Ali, di dalamnya berkumpul Thalhah dan Zubair dan beberapa orang Muhajirin, ia berkata (mengancam), ‘Demi Allah aku benar-benar akan membakar kalian atau kalian keluar untuk memberikan baiat!’ Maka Zubair keluar sambil menghunuskan pedangknya, lalu ia terpeleset dan jatuhlah pedang itu dari tangannya, lalu mereka mengeroyoknya dan mengambil pedang itu darinya.”[2]

B) Mereka Membawa Obor Yang Menyala.

Jika pada pada laporan-laporan di atas hanya disebutkan bahwa mereka (Umar dkk.) hanya mengancam akan membakar rumah Fatimah bersama penghuninya karena mereka berkumpul menentang Khalifah Abu Bakar, maka dalam laporan-laporan di bawah ini disebutkan bahwa Umar dan rekan-rekannya benar-benar ingin membuktikan keseriusan ancaman mereka itu dengan membawa obor yang menyala-nyala.

Dalam Ansâb al Asyrâf-nya, al Balâdzuri (w.224H) melaporkan:

إنّ أبا بكر أرسل إلى علي يريد البيعة، فلم يبايع، فجاء عمر ومعه فتيلة، فتلقّته فاطمة على الباب، فقالت فاطمة: يابن الخطّاب، أتراك محرّقاً عَلَيّ بابي ؟! قال: نعم، وذلك أقوى فيما جاء به أبوك.

“Sesunggunya Abu Bakar mengutus (seorang utusan) kepada Ali memintanya agar membaiat, tapi Ali tidak mau membaiat. Maka datanlah Umar dengan membawa obor, lalu Fatimah menghadangnya di depan pintu, ia berkata, ‘Hai putra al Khaththab, apakah engkau akan membakarku dengan membakar pintu rumahku?!’ Umar menjawab, ‘Ya, dan hal itu akan menguatkan agama yang dibawa ayahmu.’”[3]

Ibnu Abdi Rabbih (w.328 H) melaporkan dalam al ‘Iqdu al Farîd-nya:

وأمّا علي والعباس والزبير، فقعدوا في بيت فاطمة حتّى بعث إليهم أبو بكر ليخرجوا من بيت فاطمة وقال له: إنْ أبوا فقاتلهم، فأقبل بقبس من نار على أنْ يضرم عليهم الدار، فلقيته فاطمة فقالت: يابن الخطّاب، أجئت لتحرق دارنا؟ قال: نعم، أو تدخلوا ما دخلت فيه الاُمّة.

“Adapun Ali, Abbas dan Zubair mereka duduk/bertahan di rumah Fatimah sehingga Abu Bakar mengutus utusan menemui mereka agar mereka segera keluar dari rumah Fatimah. Abu Bakar berkata kepada utusannya itu, ‘Jika mereka enggan keluar maka perangi mereka!’. Lalu ia (utusan itu) datang dengan membawa seonggok api untuk membakar rumah itu atas mereka. Kemudian Fatimah menghadangnya, ia berkata, ‘Hai putra al Khtaththab, apakah engkau datang untuk membakar rumah kami?! Ia berkata, ‘Ya. Atau kalian semua mau masuk bersama umat menerima baiat Abu Bakar.”[4]

C) Mereka Menyiapkan Kayu Bakar

Ternyata konflik yang terjadi antara kubu Imam Ali as. dan kubu Abu Bakar tidak berhenti sampai di sini; hanya mengancam dan membawa obor api. Akan tetapi mereka benar-benar telah mempersiapkan kayu bakar untuk menghanguskan rumah Fatimah dan Ali serta membakar seluruh penghuni yang bertahan di rumah tersebut dalam protes mereka atas pengangkatan Abu Bakar sebagai Khalifah! Paling tidak demikian yang dilaporkan dalam data-data sejarah yang ada.

Al Mas’ûdi melaporkan dalam Murûj adz Dzahab-nya yang kemudian dinukil oleh Ibnu Abil Hadid al Mu’tazili dalam Syarah Nahjul Balaghah-nya dari Urwah ibn Zubair –keponakan Ummul Mukminin Aisyah- bahwa ia ketika memberikan uzur mengapa kakaknya yang bernama Abdullah ketika berkuasa di Hijâz pernah berniat membakar tokoh-tokoh Bani Hasyim dikarenakan mereka menolak membaiatnya sebagai pemimpin/ Khalifah. Urwah memberikan uzur akan hal itu dengan alasan bahwa dahulu Bani Hasyim juga pernah diancam untuk dibakar dikarenakan keengganan mereka memberikan baiat untuk Abu Bakar.[5]
Al Ya’qubi dan al Jauhari juga melaporkan, “Dan sekelompok kaum Muhajirin dan Anshar bertahan tidak memberikan baiat kepada Abu Bakar, mereka berpihak kepada Ali bin Abi Thalib, di antara mereka adalah Abbas ibn Abdul Muththalib, Fadhl ibn Abbas, Zubair ibn Awwâm, Khalid bin Said, Miqdad ibn ‘Amr, Salman al Fârisi, Abu Dzarr al Ghiffari, Ammar ibn Yasir, al Barâ’ ibn ‘Âzib dan Ubai ibn Ka’ab. Maka Abu Bakar memanggil Umar, Abu Ubaidah dan Mughirah ibn Syu’bah. Ia berkata, “Bagaimana pendapat kalian?”

Mereka menjawab, “Yang tepat Anda temui adalah Abbas ibn Abdul Muththalib, dan berikan baginya dan keturunannya bagian dari kekuasaan ini, maka dengan demikian Anda melemahkan posisi Ali ibn Abi Thalib dan bukti kuat bagi Anda atas Ali jika ia (Abbas) mau berbagung dengan pihak kalian….“[6]

Umar berkata, “Termasuk kisah kami ketika Nabi wafat bahwa Ali dan Zubair bersama mereka yang tidak mau berbaiat, mereka berkumpul di rumah Fatimah.[7]

Imam Bukhari dan Imam Muslim dalam kedua kitab Shahih-nya meriwayatkan dari Ummul Mukminin A’isyah bahwa Imam Ali as. tidak mau memberikan baiat untuk Abu Bakar selama masa hidup Fatimah putri Nabi saw. Dan setelah wafat Fatimah, Ali menganggap mungkar wajah-wajah manusia, maka ia menawarkan mushâlahata/perdamaian dan berbaiat untuk Abu Bakar. Sementara ia tidak memberikan baiat… “ [8]

Ibnu Ja’fari berkata:

Dalam laporan dan pernyataan Aisyah di atas yang telah diriwayatkan para muhaddis Ahlusunnah, utamanya Bukhari dan Muslim, ditegaskan bahwa Ali enggan memberikan baiat untuk Abu Bakar, dan setelah wafat Fatimah as. Ali menjadi merasa gusar terhadap orang-orang, lalu ia –masih kata Aisyah ra.- menawarkan opsi damai kepada Abu bakar, iltamasa mushâlahata Abi Bakr[9] dan mengakhiri kondisi persengketaan antara keduanya!

Pertama yang perlu diperhatikan di sini ialah bahwa benar-benar telah terjadi sengketa antara Abu Bakar dan Imam Ali as. dalam masalah Khilafah sebagai sikap protes Imam Ali atas pembaiatan Abu Bakar. Dan protes itu dilakukan bukan sekedar karena Imam Ali as. tidak diikut sertakan dalam rapat dadakan di Saqîfah, seperti yang hendak disipmpulkan sebagian peneliti, melainkan karena Imam Ali as, pada dasarnya melihat baiat yang terjadi di sana itu ilegal, keluar dari ketentuan Allah dan Rasul-Nya dalam kepemimpinan.

Sebab –dalam pandangan Ahlusunnah-[10] betapapun Imam Ali as. tidak hadir dalam rapat di Saqîfah, pembaiatan itu telah sah, jadi adalah wajib atas Imam Ali as. untuk menerimanya dan tidak menolak hasil pembaiatan yang telah dilakukan oleh banyak kalangan sahabat… masalah tidak diikut sertakannya Imam Ali as. dalam rapat itu hanya membenarkan Imam Ali as. untuk menegur pelanggaran etis tersebut, bukan membenarkannya membangkang dan menolak pembaiatan!

Dari sini di hadapan kita hanya ada dua opsi tentang sikap Imam Ali as. tersebut:

Opsi Pertama, Sikap keengganan dan penentangan Imam Ali as. itu dipicu oleh emosi dan atau persaingan dalam memperebutkan jabatan Khilafah!

Opsi Kedua, Karena Imam Ali as. meyakini bahwa kekhalifahan adalah hak beliau, dan tidaklah sah pengangkatan siapapun selain dirinya.

Opsi pertama jelas tertolak… tidak ada seorang Muslim yang sadar apa yang ia pikirkan akan terlintas dalam pikirannya bahwa Imam Ali as. menentang pembaiatan atas Abu Bakar atas dorongan hawa nafsu dan emosi serta persaingan tidak sehat! Sebab, seperti disabdakan Nabi saw. bahwa “Ali senantiasa bersama Al Qur’an” “Ali senantiasa bergandengan dengen kebenaran/haq”

Terlebih lagi, dalam benyak kesempatannya, Imam Ali as. menyatakan dengan tegas bahwa Imamah/Khilafah adalah hak beliau yang mereka rampas dan mereka halang-halangi Ali dari mengambilnya kembali dengan cara damai.

Dalam salah sebuah pidatonya, Imam Ali as. mempertegas hal tersebut:

وقال قائل: إنّك يا ابن أبي طالب على هذا الامر لحريص، فقلت: بل أنتم ـ والله ـ أحرص وأبعد، وأنا أخص وأقرب، وإنّما طلبت حقّاً لي وأنتم تحولون بيني وبينه، وتضربون وجهي دونه، فلما قرّعته بالحجة في الملا الحاضرين هبّ كأنه بهت لا يدري ما يجيبني به.
اللهم إني استعديك على قريش ومن أعانهم، فانهم قطعوا رحمي، وصغّروا عظيم منزلتي، وأجمعوا على منازعتي أمراً هو لي، ثم قالوا: ألا إنَّ في الحق أنْ تأخذه وفي الحق أن تتركه .

“Ada seorang berkata, ‘Hai putra Abu Thalib, Sesungguhnya engkau rakus terhadap urusan (Kekhalifahan) ini!’ Maka aku berkata, “Demi Allah, kalian-lah yang lebih rakus dan lebih jauh, adapun aku lebih khusus dan lebih dekat. Aku hanya meminta hakku, sedangkan kalian menghalang-halangiku darinya, dan menutup wajahku darinya. Dan ketika aku bungkam dia dengan bukti di hadapan halayak ramai yang hadir, ia terdiam, tidak mengerti apa yang harus ia katakan untuk membantahku.

Ya Allah, aku memohon pertolongan-Mu atas Quraisy dan sesiapa yang membela mereka, karena sesungguhnya mereka telah memutus tali kekerabatanku, menghinakan keagungan kedudukanku dan bersepakat merampas sesuatu yang menjadi hakku. Mereka berkata, ‘Ketahuilah bahwa adalah hak kamu untuk menuntut dan hak kamu pula untuk dibiarkan.”[11]
Jadi di hadapan kita hanya tersisa opsi kedua yaitu bahwa konsep pemilihan yang menjadi dasar syar’i dalam pembaiatan Saqîfah adalah ilegal, tidak syar’i secara mendasar di mata Imam Ali as.! Dan hak Imamah dan Khilafah adalah hak Imam Ali as. yang telah Allah dan Rasul-Nya tetapkan untuknya di Ghadir Khum! Di hadapan puluhan ribu umat Islam dalam sebuah rapat besar pengangkatan!

Mungkinkah Imam Ali as. menyengaja berbohong dan mengada-ngada atas nama Rasulullah saw. bahwa kepemimpinan umat pasca masa kerasulan adalah hak beliau as.?!

Kedua, pertanyaan yang layak muncul di sini, mungkinkan opsi damai itu ditawarkan tanpa ada persengketaan antara keduanya?!

Al Balâdzuri melaporkan, “Abu Bakar mengutus Umar untuk menemui Ali ra., ketika ia duduk (menolak) memberikan baiat, ia berkata, “Datangkanlah dia kepadaku dengan cara yang paling kasar!” Setelah Ali didatangkan, terjadilah antara keduanya pembicaraan, lalu Ali (berkata kepada Umar), ‘Perahlah susu itu satu kali perahan, untukmu separohnya.’”[12] Maksudnya bahwa apa yang dilakukan Umar dalam mendukung kekhalifahan Abu Bakar ini dengan semangat bahwa nantinya ia juga akan menjabatnya!

Adz Dzahabi meriwayatkan sebuah hadis riwayat al ‘Uqaili dari Abdurrahman yang melaporkan bahwa Abu Bakar pernah menyesali sikap kasarnya terhadap Imam Ali as. dan para pembelanya yang menolak memberikan baiat dan mengakuinya sebagai Khalifah! Abu Bakar berkata, “… Aku tidak menyesali sebuah tindakan yang aku lakukan seperti penyesalanku atas tiga perkara, andai dahulu aku tidak menyerang rumah Fatimah dan aku biarkan saja walaupun mereka menutupnya untuk menyatakan perang.”[13]

Ada seseorang bertanya kepada Zuhri, “Apakah Ali tidak membaiat Abu Bakar selama enam bulan?” Maka Zuhri menjawab, “Ya, benar. Ali tidak membaiat dan tidak juga satupun dari keluarga bani Hasyim sampai Ali mau membaiat. Dan ketika Ali melihat bahwa orang-orang berpaling darinya, ia meminta mushâlahah/damai dengan Abu Bakar.”[14]

Al Hafidz Ibnu Hajar berkomentar, ”Baiat yang mereka berikan menurut pendapat yang benar adalah setelah enam bulan.”[15]

Al Ya’qubi melaporkan, “Ali tidak memberikan baiatnya melainkan setelah enam bulan.”[16]

Ibnu Hazm berkata, “Kami mendapatkan bahwa Ali terlambat memberikan baiat sampai enam bulan.”[17]

Ibnu al Atsîr menegaskan bahwa, “Yang shahih, benar ialah bahwa Ali tidak memberikan baiat untuk Abu Bakar melainkan setelah enam bulan.”[18] (Bersambung)

[1] Al Mushannaf,7/432. Aslam adalah maula Umar ibn al Khaththab. Sebagian ulama tidak membiarkan riwayat ini tertulis tanpa disensor, seperti yang dilakukan Ibnu Abdil Barr dalam kitab al Istî’âb-nya,3/975, kendati ia meriwayatkan dengan sanad yang sama dengan sanad Ibnu Abi Syaibah ia membuang kata-kata Umar yang mengancam akan membakar rumah putri tercinta Rasulullah saw. berserta seluruh penghuninya, termasuk Ali, Hasan, Husain, Zubair, Thalhah dkk.

[2] Târîkh ath Thabari,3/202.

[3] Ansâb al Asyrâf,1/586.

[4] Al Iqdu al Farîd,3/15.

[5]Murûj adz Dzahab,3/86. Dâr al Fikr. Bairut dengan tahqîq MuhammadMuhyiddîn Abdul Hamîd. Dan Syarah Nahjul Balaghah,20/147.

[6] Târîkh al Ya’qubi, 2\103, as Saqifah, baca Syarah Nahjul Balaghah; Ibnu Abi al Hadid, 2\13 dan 74 dan al Imamah wa as Siyasah,1\14.

[7] Musnad Ahmad,1\55, Tarikh al Umam wa al Mulk; ath Thabari,2\466, al Kamil; Ibnu, 2\124, Al Bidayah wa an Nihayah, 5\246, Shafwat ash Shafwah,1\97, Syarah NAhjul Balaghah; Ibnu Abi al Hadid, 1\123, Tarikh al Khulafa’; As Suyuthi: 45, Sirah Ibnu Hisyam,4\338 dan Taisir al Wushul, 2\41.

[8] Ath Thabari,2\448 Shahih Bukhari; Kitab al Maghazi, bab Ghazwah Khaibar, 3\38, Shahih Muslim,2\72 dan 5\153, bab Qaulu Rasulillah: Nahnu La Nurats, Ibnu Katsir, 5\285-258, Ibnu Abdi Rabbih, 3\64, Ibnu al Atsir, 2\126, Kifayah ath Thalib; Al Kinji: 225-226, Syarah Nahjul Balaghah, 1\122, Muruj adz Dzahab, 2\414, Tanbih wa al Isyraf: 250, ash Shawaiq, Tarikh al Khamis,1\193, al Imamah wa as Siyasah,1\14, al Isti’ab, 2\244, al Bad’u wa at Tarikh,5\66 dan Ansab al Asyraf,1\586.

[9] Ini adalah redaksi berbahasa Arab seperti dalam riwayat Imam Bukhari yang artinya: Ali meminta damai dengan Abu Bakar!.

[10] Seperti telah lewat dijelaskan bahwa legalitas pembaiatan untuk pengangkatan seorang Khalifah tidak harus dihadiri oleh seluruh anggota Ahlul Halli wa al Aqdi, cukup dihadiri oleh beberapa onggota saja yang telah mewakili. Bahkan di antara ulama Ahlusunnah ada yang mencukupkan dengan jumlah yang sangat sedikit. Artinya dalam kaca mata Teologi Ahlusunnah, pembaitan Abu Balkar di Saqîfah itu sudah memenuhi syarat dan adalah kewajiban atas Imam Ali as. untuk menerimanya, bukan menentangnya!!

[11] Nahjul Balaghah, kuthbah ke.172.

[12] Ansâb al Asyrâf,1/587.

[13] Mizân al I’tidâl,3/109 dan riwayat itu juga disebutkan Ibnu Hajar dalam Lisân al Mizân,4/189.

[14] Ibid.

[15] Usdu al Ghâbah, 3\222 .

[16] Târîkh al Ya’qûbi :2\126 .

[17] Al Ghadir, 3\102 dari al Fishal: 96-97.

[18] Al Kâmil Fi at Târîkh; ‘Izzuddîn Ibnu al Atsîr,2/326. Dâr Shâdir-Beirut.
==========================================================================================================
Mengapa Ali Melakukan Pembaiatan Atas Abu Bakar? (2)

Mengapa Imam Ali as. Akhirnya Membaiat Abu Bakar?

Adapun mengapa akhirnya Imam Ali as. memberikan baitannya untuk Abu Bakar? Riwayat-riwayat dari Aisyah di atas mengatakan bahwa ia memohon perdamaian dengan pihak Abu Bakar dikarenakan kematian Fatimah yang mengakibatkan berpalingnya orang-orang dari Ali as.

Demikian Aisyah menganalisa sikap politis Imam Ali as. dan itu adalah hak Aisyah untuk mengatakannya! Sebagaimana orang lain juga boleh mengutarakan analisanya dalam masalah tersebut. Akan tetapi Imam Ali as. menerangkan kepada kita sebab mengapa beliau pada akhirnya memberikan baiat untuk Abu Bakar dan tidak terus mengambil sikap oposisi, apalagi perlawanan bersenjata!

Dalam keterangan-keterangan yang dinukil dari Imam Ali as. ada beberapa sebab:

Pertama, tidak adanya pembela yang cukup untuk mengambil alih kembali hak kewalian beliau.

Sikap Imam Ali as. itu telah beliau abadikan dalam benyak kesempatan, di antara dalam pidato beliau yang terkenal dengan nama khuthbah Syiqsyiqiyyah.

Imam Ali as. berpidato:

أَمَا وَاللهِ لَقَدْ تَقَمَّصَهَا إبْنُ اَبِيْ قُحَافَةَ وَإِنَّهُ لَيَعْلَمُ أَنَّ مَحَلِّي مِنْهَا مَحَلُّ اْلقُطْبِ مِنَ الْرُحَى , يَنْحَدِرُ عَنِّي اْلسَيْلُ وَ لاَ يَرْقَى إلَىَّ الْطَيْرُ. فَسَدَلْتُ دُوْنَهَا ثَوْبًا وَ طَوَيْتُ عَنْهَا كَشْحًا . وَ طَفِقْتُ أَرْتَئِ بَيْنَ أنْ أَصُوْلَ بِيَدٍ جَذَّاءَ أوْ أَصْبِرَ عَلَى طِخْيةٍ عَمْيَاءَ , يَهْرَمُ فِيْهَا الْكَبِيْرُ وَ يَشِيْبُ فِيْهَا الْصَغِيْرُ, وَ يَكْدَحُ فِيْهَا الْمُؤْمِنُ حَتَّى يَلْقَى رَبَّهُ !

فَرَاَيْتُ اَنَّ الْصَبْرَ عَلَى هَاتَا أَحْجَى . فَصَبَرْتُ , وَ فِي الْعَيْنِ قَذًى, و فِي الْحَلْقِ شَجًا أَرَى تُرَاثِيْ نَهْبًا.

“Demi Allah, sesungguhnya putra Abu Quhafah (Abu ABakar) telah mengenakan busana kekhilafahan itu, padahal ia tahu bahwa kedudukanku sehubungan dengan itu adalah bagaikan kedudukan poros pada penggiling. Air bah mengalir dariku dan burung tak dapat terbang sampai kepadaku. Maka aku mengulur tabir terhadap kekhilafahan dan melepaskan diri darinya.

Kemudian aku mulai berpikir, apakah aku harus menyerang dengan tangan terputus atau bersabar atas kegelapan yang membutakan, dimana orang dewasa menjadi tua bangka dan anak kecil menjadi beruban dan orang mukmin yang sesungguhnya hidup dalam tekanan sampai ia menemui Tuhannya!

Maka aku dapati bahwa bersabar atasnya lebih bijaksana. Maka aku bersabar, walaupun ia menusuk mata dan mencekik kerongkongan. Aku menyaksikan warisanku dirampok … “ [1]

Kedua, sikap enggan memberikan baiat itu sudah cukup membuktikan hak kewalian beliau yang mereka bekukan.

Dan ketiga, mengingat maslahat umat Islam menuntut agar beliau mengorbankan hak beliau demi meraih maslahat Islam yang lebih abadi. Sebab eksistenti kaum Muslimin dan Dawlah Islam sedang terancam dengan maraknya kaum murtad yang meninggalkan agama Islam dan berniat untuk menyerang kota suci Madinah dan memerangi kaum Muslim!

Dari arah lain, pada zaman itu raja Rom ingin menyerang, sehingga Islam terancam. Dari satu arah lagi orang Yahudi sudah bersiap sedia menyerang Islam, golongan Munafik juga sibuk merencana konspirasi.

Dalam suasana begini Amirul Mukminin Ali bin Abi Talib berkata: Jikalau aku bangun demi kebangkitan dan hak-hak, peperangan dari dalam meletus dan musuh memanfaatkan peluang ini dan Islam yang sebenar akan jatuh dalam mara bahaya. Nahjul Balaghah, surat 62; As-Syafi 3/243.

Dalam sebuah pernyataannya, Imam Ali as. menjelaskan sebab mengapa beliau sudi memberikan baiat untuk Abu Bakar:

فأَمْسَكْتُ يدي حتَّى رأيتُ راجِعَةَ الناسِ قد رجعت عن الإسلامِ , يدعون إلى مَحقِ دين محمد (ص), فَخَشيتُ إن لم أنصرِ الإسلامِ و أهلَه أن أرى فيه ثَلْمًا أو هدمًا تكون المصيبةُ بِهِ عليَّ أعظَم من فوتِ ولايَتِكم.

“Dan ketika aku saksikan kemurtadan orang-orang telah kembali meninggalkan Islam, mereka mengajak kepada pemusnahan agama Muhammad saw., maka aku khawatir jika aku tidak membela Islam dan para pemeuluknya aku akan menyaksikan celah atau keruntuhan Islam yang bencananya atasku lebih besar dari sekedar hilangnya kekuasaan atas kalian.”[2]

Inilah sebabh hkiki dalam maalah ini, bukan seperti yang diasumsikan sebagian orang.

Adapaun tuduhan Syeikh bahwa dengan demikian kaum Syi’ah menuduh Imam mereka bersikap pengecut, maka kesimpulan miring itu sama sekali tidak berdasar, sebab pada diri Nabi Harun as. terdapat uswah, teladah baik bagi Imam Ali as. ketika beliau berkata, seperti diabadikan dalam Al Qur’an:

وَ لَمَّا رَجَعَ مُوسى‏ إِلى‏ قَوْمِهِ غَضْبانَ أَسِفاً قالَ بِئْسَما خَلَفْتُمُوني‏ مِنْ بَعْدي أَ عَجِلْتُمْ أَمْرَ رَبِّكُمْ وَ أَلْقَى الْأَلْواحَ وَ أَخَذَ بِرَأْسِ أَخيهِ يَجُرُّهُ إِلَيْهِ قالَ ابْنَ أُمَّ إِنَّ الْقَوْمَ اسْتَضْعَفُوني‏ وَ كادُوا يَقْتُلُونَني‏ فَلا تُشْمِتْ بِيَ الْأَعْداءَ وَ لا تَجْعَلْني‏ مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمينَ

“Dan tatkala Musa telah kembali kepada kaumnya dengan marah dan sedih hati berkatalah dia: “Alangkah buruknya perbuatan yang kamu kerjakan sesudah kepergianku! Apakah kamu hendak mendahului janji Tuhanmu?” Dan Musa pun melemparkan luh-luh (Taurat) itu dan memegang (rambut) kepala saudaranya (Harun) sambil menariknya ke arahnya. Harun berkata: “Hai anak ibuku, sesungguhnya kaum ini telah menganggapku lemah dan hampir-hampir mereka membunuhku, sebab itu janganlah kamu menjadikan musuh-musuh gembira melihatku, dan janganlah kamu masukkan aku ke dalam golongan orang-orang yang lalim.” (QS.A’râf [7];150)

Imam Ali as. mengalami kondisi serupa dengan parnah dialami oleh Nabi Harun as. ketika kaumnya membangkang dengan kesesatan akibat provokasi Samiri.

Ketertindasan dan ketidak-berdayaan Imam Ali as. itu telah diberitakan Nabi saw. dalam banyak sabda beliau, di antaranya adalah hadis yang sangat terkenal yang berbunyi:

أنتم المستَضْغَفٌون بَعدي

“Sepeninggalku, kalian akan ditindas.”[3]

Nabi saw. Mengabarkan Bahwa Umat Akan Mengkhianati Imam Ali as.

Bahkan lebih dari itu, Nabi saw. telah memberitakan dari balik tirai ghaib, bahwa umat ini akan menelantarkan Ali as. dan tidak memberikan kesetian pembelaan untuknya. Mereka akan mengkhianatinya!

Imam Ali as. berulang kali mengatakan:

إنّه ممّا عهد إليّ النبي (صلى الله عليه وآله وسلم) أنّ الاُمّة ستغدر بي بعده.

“Termasuk yang dijanjikan Nabi kepadaku bahwa umat akan mengkhianatiku sepeninggal beliau.”

Hadis ini telah diriwayatkan dan dishahihkan al Hakim dan adz Dzahabi. Ia berkata:

صحيح الاسناد

“Hadis ini sahih sanadnya.”

Adz Dzahabi pun menshahihkannya. Ia berkata:

صحيح

“Hadis ini shahih.” [4]

Sebagaimana juga diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, al Bazzâr, ad Dâruquthni, al Khathib al Baghdâdi, al Baihaqi dkk.

Nabi saw. Mengabarkan Bahwa Umat Akan Menuangkan Kedengkian Mereka Kepada Imam Ali as.

Demikian juga, sebagian orang yang memendam dendam kusumat dan kebencian kepada Nabi saw. akan menuangkannya kepada Imam Ali as., dan puncaknya akan mereka lakukan sepeninggal Nabi saw.

Kenyataan itu telah diberitakan Nabi saw. kepada Ali as. Para ulama meriwayatkan banyak hadis tentangnya, di antaranya adalah hadis di bawah ini:

Imam Ali as. berkata:

بينا رسول الله (صلى الله عليه وسلم) آخذ بيدي ونحن نمشي في بعض سكك المدينة، إذ أتينا على حديقة، فقلت: يا رسول الله ما أحسنها من حديقة ! فقال: إنّ لك في الجنّة أحسن منها، ثمّ مررنا بأُخرى فقلت: يا رسول الله ما أحسنها من حديقة ! قال: لك في الجنّة أحسن منها، حتّى مررنا بسبع حدائق، كلّ ذلك أقول ما أحسنها ويقول: لك في الجنّة أحسن منها، فلمّا خلا لي الطريق اعتنقني ثمّ أجهش باكياً، قلت: يا رسول الله ما يبكيك ؟ قال: ضغائن في صدور أقوام لا يبدونها لك إلاّ من بعدي، قال: قلت يا رسول الله في سلامة من ديني ؟ قال: في سلامة من دينك.

“Ketika Rasulullah saw. memegang tanganku, ketika itu kami sedang berjalan-jalan di sebagian kampong kota Madinah, kami mendatangi sebuah kebun, aku berkata, ‘Wahai Rasulullah alangkah indahnya kebun ini!’ Maka beliau bersabda, ‘Untukmu di surga lebih indah darinya.’ Kemudian kami melewati tujuh kebun, dan setiap kali aku mengatakannya, ‘Alangkah indahnya’ dan nabi pun bersabda, ‘Untukmu di surga lebih indah darinya.’ Maka ketika kami berda di tempat yang sepi, Nabi saw. memelukku dan sepontan menangis. Aku berkata, ‘Wahai Rrasulullah, gerangan apa yang menyebabkan Anda menangis?’ Beliau menjawab, ‘Kedengkian-kedengkian yang ada di dada-dada sebagian kaum yang tidak akan mereka tampakkan kecuali setelah kematianku.’ Aku berkata, ‘Apakah dalam keselamatan dalam agamaku?’ Beliau menjawab, ‘Ya. Dalam keselamatan agamamu.’”

Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Ya’la, al Bazzâr dengan sanad shahih, al Hakim dan adz Dzahabi dan mereka menshahihkannya,[5] Ibnu Hibbân dkk. [6]

Ia juga disebutkan oleh asy Syablanji dalam kitab Nûr al Abshârnya:88

Jadi jelaslah bagi kita apa yang sedang dialami oleh Imam Ali as. dari sebagian umat ini!

Imam Ali as. Mengeluhkan Pengkhiatanan Suku Quraisy!

Dalam banyak pernyataannya, Imam Ali as. telah mengeluhkan kedengkian, kejahatan dan sikap arogan suku Quraisy terhadap Nabi saw. yang kemudian, ketika mereka tidak mendapatkan jalan untuk meluapkannya kepada beliau saw., mereka meluapkan dendanm kusumat kekafiran dan kemunafikan kepadanya as.

Di bawah ini akan saya sebutkan sebuah kutipan pernyataan beliau as. tersebut.

اللهمّ إنّي أستعديك على قريش، فإنّهم أضمروا لرسولك (صلى الله عليه وآله وسلم) ضروباً من الشر والغدر، فعجزوا عنها، وحُلت بينهم وبينها، فكانت الوجبة بي والدائرة عليّ، اللهمّ احفظ حسناًوحسيناً، ولا تمكّن فجرة قريش منهما ما دمت حيّاً، فإذا توفّيتني فأنت الرقيب عليهم وأنت على كلّ شيء شهيد.

“Ya Allah, aku memohon dari Mu agar melawan Quraisy, karena mereka telah memendam bermacam sikpa jahat dan pengkhianatan kepada Rasul-Mu saw., lalu mereka lemah dari meluapkannya, dan Engkau menghalang-halangi mereka darinya, maka dicicipkannya kepadaku dan dialamatkannya ke atasku. Ya Allah peliharalah Hasan dan Husain, jangan Engkau beri kesempatan orang-orang durjana dari Quraisy itu membinasakan keduanya selagi aku masih hidup. Dan jika Engkau telah wafatkan aku, maka Engkau-lah yang mengontrol mereka, dan Engkau Maha Menyaksikan segala sesuatu.”[7]

Coba Anda perhatikan pernyataan Imam Ali as. di atas, bagaimana dendam dan pengkhianatan Quraisy terhadap Nabi saw. akan mereka luapkan kepadanya! Dan di dalamnya juga terdapat penegasan bahwa mereka tidak segan-segan akan menghabisi nyawa bocah-bocah mungil kesayangan Rasulullah saw.; Hasan dan Husain as. yang akan meneruskan garis keturunan kebanian sebagai melampiasan dendam mereka kepada Nabi saw.!

[1]Nahjul Balaghah, pidato ke3.

[2] Ibid. pidato ke74.

[3] Musnad Ahmad,6/339.

[4] Mustadrak al Hakim,3/140 dan 142.

[5] Al Mustadrak,3/139 hanya saja bagian akhir radaksi hadis ini terpotong, sepertinya ada “tangan-tangan terampil” yang sengaja menyensor hadis di atas.

[6]Teks hadis di atas sesuai dengan yang terdapat Majma’ az Zawâid,9/118.

[7] Syarah Nahjul Balaghhah, 20/298.

=================================================
=================================================
SAYYiDAH FATiMAH KEGUGURAN KARENA PENYERBUAN KERUMAH NYA OLEH ABUBAKAR DAN UMAR

Permasalahan sudah muncul ketika Abu Bakar dibaiat menjadi Khalifah di Saqifah. Beberapa sahabat Nabi jelas menganggap pengangkatan ini dilakukan secara terburur-buru dan dilakukan ketika para keluarga Rasul sedang mengurus jenazah Rasul. Mereka menganggap kekhalifahan harus tetap berada di tangan keluarga nabi (dari sinilah sebenarnya sudah muncul bibit2 pendukung/syiah Imam Ali).

Ketakpuasan ini ditunjukkan dgn jalan menolak memberikan baiat kepada Abu Bakar seperti yg dilakukan oleh Ali, Ibnu Abbas, Bilal, Salman al-Farisi, Abu Dzar, Zubair, Thalhah dll, sementara beberapa yg lainya menunjukkan ketaksetujuannya dgn menolak membayar zakat karena menganggap kekhalifahan yg ada tidak sah (seperti yg dilakukan oleh Malik bin Nuwairah, namun akhirnya Malik dibunuh dan istrinya diperkosa oleh Khalid bin Walid). Para penentang Abu Bakar berkumpul di rumah Imam Ali, bagaimanapun juga beberapa pendukung Abu Bakar seperti Umar, Khalid bin Walid, Mughirah bin Syu’bah dll memaksa mereka memberikan baiat pd Abu Bakar, dan mengancam kan membakar rumah Imam Ali jika mereka menolak berbaiat.

Pembakaran memang tidak dilakukan, tetapi para pendukung Abu Bakar mendobrak pintu rumah tsb, dan mengenai Fatimah yg mengakibatkan Fatimah keguguran bayi yg dikandungnya. TAk diragukan lagi Fatimah marah kepada Abu Bakar dan Umar karena mereka telah meninjak-injak hak keluarga Nabi dlm masalah Imamah/kepemimpinan dan juga dlm masalah waris (peristiwa Fadak, dimana Abu Bakar mengambil tanah Fadak yg dimiliki Fatimah karna menganggap Nabi tdk meninggalkan warisan). Sekitar 75 hari kemudian Fatimah wafat dgn membawa hati yang sakit.

Menjelang wafatnya, Fatimah berpesan agar dia dikuburkan dlm keadaan diam diam dan tak ingin Abu Bakar maupun Umar melakukan shalat jenazah atas dirinya, Wasiat ini dilakukan oleh Imam Ali dgn menguburkan Fatimah pd malam hari

=====================================================
============================
KESALAHAN PARA KHALiFAH

Mana mungkin kesalahan yg dibuat oleh orang orang yang menjabat khalifah kaum muslimin tidak berdampak pada menyesatkan umat ? Inilah beberapa bukti kesalahan mereka yang sangat fatal dan dampak terasa sampai saat ini.

1. Merampas kekhalifahan Nabi yg seharusnya menjadi hak Ali bin Abi Thalib sesuai wasiat Nabi sewaktu di Ghadir KHum. Ali adalah salah satu figur yg disucikan Allah dlm hadis al Kisa dan Ahzab 33. Jadi jabatan kekhalifahan Nabi (Imamah) adalah suatu kepemimpinan Ilahiyah yg merupakan lanjutan sebelumnya (kenabian) sampai Hari Kiamat..

Sungguh menderitanya dirimu Rasul saw akibat ulah “sahabat besar”mu..belum juga jasadmu dikafani, “sahabat” mu membuat pertemuan di bani saidah memilih penggantimu.. padahal penggantimu itu sudah ditunjuk sebelum engkau wafat..

didalam surat abasa,engkau menjadi olok olokan sahabatmu (Nabi dituduh bermuka masam, padahal yang bermuka masam adalah sahabat yang duduk dekat Nabi) .. sedangkan disurat dimana Allah menegur keras “dua sahabatmu” orang orang memakluminya..dimana letak penghormatan mereka terhadapmu ya Musthafa saw, mereka lebih hormat terhadapsahabat daripada dirimu..

2. Dampak dari point sangat sangat fatal, yaitu berubahnya jabatan Ilahiyah (yg hanya dijabat oleh orang orang maksum) menjadi hanya jabatan keduniaan seperti penguasa biasa (presiden, raja, kaisar dll).

3. Abu Bakar, Umar dan Usman telah melarang penulisan sunnah Rasul saw (hadis) termasuk penguasa Bani Umayyah sehingga sunnah Rasul baru dapat dibukukan pada abad III dengan mata rantai yang sangat panjang. Dampaknya mencari atau menetap kan sahih tidaknya suatu hadis tdk gampang dan sering menjadi hal yang kontroversial.

4. Umar mengatakan sudah cukup Al-Qur’an bagi kita,, Abu Bakar mengumpulkan catatan hadits utk dibakar… tetapi anehnya kita disuruh pedomani sunnah khulafaurrasyidin oleh jumhur ulama aswaja

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata:Sesungguhnya kerugian segala kerugian adalah terhalangnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam untuk menulis wasiat kepada mereka, karena adanya perselisihan dan silang pendapat di antara mereka. (HR. Bukhari dalam Kitabul Maghazi, bab Maradlun Nabi; Fathul Bari, juz 8, hal. 132 no. hadits 4432; Muslim dalam Kitabul Wasiat, bab Tarkul Wasiat liman laisa lahu Syaiun Yuushi bihi, juz 3 hal. 1259, no. 22)

5.Umar dalam memilih penerus beliau, beliau mensyaratkan selain mengikuti Qur’an dan Rasul, juga wajib mengikuti ketentuan khalifah sebelumnya, dan Imam Ali menolak itu

6. Pengingkaran terhadap wasiat Nabi saw spt tercantum dlm hadis Tsaqalain : Kitabullah dan Ithrah Ahlul Bait. Dampaknya umat Islam sekarang ini sangat sedikit yg mengenal Ahlul Bait. Mereka lebih mengenal Ahlul Bait hanya sebagai istri istri Nabi dan keturunannya (dzuriah) ketimbang Ahlul Bait sebagai padanan Kitabullah dan Imam yg harus diikuti ajarannya. Padahal masalah ini sangat menentukan sesat tidaknya umat.

7. Masa Usman kesenjangan sosial semakin lebar. Salah satu sahabat Nabi yang menentang kebijakannya Abu Dzar al Ghifari, untuk membungkam protesnya beliau diasingkan dan meninggal di pengasingan dalam kesendirian kecuali ditemani istrinya. Salam kami wahai abu dzar engkau syiah Ali yang dirindukan surga. Saya baca dari Sahih Bukhari dan Muslim sepertinya Abu Zarr al-Ghiffari kedudukannya lebih utama dari Utsman dimata Rasullullah, Abu Zarr lebih dulu masuk Islam dari pada Utsman

8.Melakukan ijtihad yang bertentangan dengan nash.. Catat sama lu, saya takkan kompromi dengan orang orang yang membela sahabat yang memerangi Imam Ali dan keturunannya sampai kiamat dan sampai kapapun saya takkan menerima.. Jika Anda tak terima saya ikut melaknat muawiyah dan konco konco nya yang memerangi Imam Ali dan menzalimi Hasan harusny..Anda juga protes ke Nabi dan Rabb yang melaknat sahabat nabi yg memerangi washi dan anak cucu nabi Nya.

9. Muawiyah Bughat kepad Ali, Pemilihan yazid sebagai khalifah dinasti jelas berbeda dengan keputusan Rasulullah dan Perintah mencela Imam Ali as di mimbar jumat barat membersihakan barang yg sudah KARATAN terlalu lama ya memang harus pelan2. sdr kita sunni sudah sejak kecil didoktrin tentang kesucian para sahabat sedemikian rupa sehingga membutakan segalanya. bukankah doktrin itu sudah menjadi aqidah/keyaqinan mereka, sehingga bila ada koreksi tentunya akan marah,bak kiyamat akan datang. bila kesucian sahabat dikoreksi sedikit yang muncul kecaman dan cacian tanpa dalil. tapi bila kesucian Nabi saw dilecehkan dengan cerita bermuka masam, kehormatan keluarga nabi dihina (cerita kesaksian bohong si abu kucing tetang wafatnya paman nabi rh) mereka tidak keberatan bahkan membenarkan hal itu. coba renungkan dikit bro

IMAM HASAN DAN IMAM HUSAIN SAJA YANG SUDAH TERJAMIN KESUCIANNYA OLEH AL-QUR’AN BISA DIBUNUH DENGAN KEJI TANPA PERASAAN. YANG BUNUH NGAKU PULA SEBAGAI KHALIFAH ISLAM (koq bisa, ya??)

Yang paling bisa kita lakukan khanyalah setiap saat bersalawat kepada mereka (Ahlulbait) dalam shalat dengan konsisten dan mengambil ajaran dari mereka walaupun banyak ajaran mereka telah dimusnahkan oleh “konon” Khalifah Islam.

Yang pasti Ahlusunnah telah meninggalakan ajaran mereka, buktinya coba periksa sendiri (sebelum anda menyuruh orang lain belajar) dalam kitab standar Ahlusunnah, ajaran agama dan riwayat hadis yang bersumber dari orang orang suci (Imam Hasan dan Husain) tidak ada, tapi ajaran agama dari musuh mereka yaitu kaum munafikun justru kalian anggap sunnah Nabi.

Yang bilang membunuh cucu Nabi adalah ijtihad adalah Ulama anda IBNU TAIMIYYAH dan IBNU HAJAR AL-HAITSAMI dalam Kitab Syarah Tuhfatul Muhtaj.. Ibnu Hajar al-Haitsami juga mengatakan demikian, silahkan anda baca sendiri di kitab Syarah Tuhfatul Muhtaj ilaa Adillatil Minhaj.

IMAM HASAN AS. TERBUNUH OLEH RACUN JA’DAH BINTI AL-ASY’AT KARENA PERINTAH KHALIFAH MUAWIYYAH BIN ABI SUFYAN DENGAN IMING2 100.000 DINAR DAN AKAN DIKAWINKAN DENGAN ANAKNYA (YAZID BIN MUAWIYAH). Kemudian wanita itu mendatangi Muawiyah menagih janjinya, Muawiyah hanya membayar 100.000 Dinar tapi menolak untuk menikahkannya. Dan IMAM HUSAIN TERBUNUH DI KARBALA OLEH BALA TENTARA YAZID BIN MUAWIYAH YANG DIPIMPIN OLEH IBNU ZIYAD. (Begitulah kesaksian kitab Ulama anda seperti; Tarikh Al-Balazzuri, Tabaqat Ibnu Sa’at, Tarikh Ibnu Atsir, dan beberapa kitab lainnya)

Begitu sulitkah melihat kenyataan? Begitu sulitkah membayangkan msh adanya orang-orang di sekitar Nabi saw yg msh berprilaku buruk akibat kebiasaan jahiliyyah yg msh melekat? Begitu sulitkah menyadari bahwa setiap manusia selalu memiliki derajat prilaku yang berbeda? Baik akhlak, ketaqwaan, keimanan, kepatuhan, ketaatan, ketulusan, kelembutan, keberanian, keadilan, dst?

Semua jawaban sama. Setiap kali dihadapkan dengan riwayat-riwayat (sejarah) yang kontradiksi yang notebene berasal dari tokoh-tokoh yang dianggap mulia, mereka selalu mengatakan, “Janganlah mencaci-maki sahabat”

Padahal yang mencaci-maki, tokoh-tokoh mereka sendiri.
Mana kedudukan lebih dipercaya hadits anda yang berbunyi::Sabda Rasulullah saw. tentang kaum Anshar, “Kaum Anshar, mereka tidak dicintai kecuali oleh orang Mukmin, dan mereka tidak dibenci kecuali orang munafik. Barangsiapa mencintai mereka, ia dicintai Allah. Dan barangsiapa membenci mereka, ia dibenci Allah.” (Diriwayatkan Bukhari, Muslim).

Dan Firman Allah dalam Surah at-Taubah 101. Di antara orang-orang Arab Badwi yang di sekelilingmu[ itu, ada orang-orang munafik; dan di antara penduduk Madinah. Mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. Kamu tidak mengetahui mereka, ( Kamilah yang mengetahui mereka. Nanti mereka akan Kami siksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar..Masih anda sok pintar? Masalahnya di Madinah itu kan tempatnya kaum anshar.. jika kesalahan mereka tak berdampak pada menyesatkan umat, tak membuat paham/ajaran yg menyesatkan

Hadits tersebut adalah rekayasa, karena menyebut semua Ansar tanpa pengecualian.

Tidak mungkin Rasul bertentangan dengan Firman Allah . Terkecuali Rasul mengatakan sebagian..Dan menurut saya kalau ada hadits tsb. maka ada kata kata yang dihilangkan yaitu SEBAGIAN…loh,bukankah hadis itu buat imam Ali? tdk mencintaimu kecuali mukmin,tdk membencimu kecuali munafik..
==================================================

Dialog Amir Al-Mukminin `Ali bin Abi Thalib dengan Khalifah Abu Bakar mengenai Khilafah

Dialog Madzhab |

Tuntutan Amir al-Mukminin `Ali b. Abi Talib A.S terhadap jawatan khalifah selepas Rasulullah s.`a.w adalah satu hakikat yang tidak boleh dinafikan kerana ia dicatat di dalam buku-buku muktabar Ahl al-Sunnah dan Syi`ah.

Tuntutan tersebut lebih terserlah di dalam bentuk munasyadah (soal jawab) di mana beliau mengemukakan beberapa soalan kepada Khalifah Abu Bakr berdasarkan kepada hadis-hadis Rasulullah s.`a.w mengenai hak dan kelebihan dirinya, di mana orang yang ditanya harus menjawab soalan-soalan tersebut.

Bagi Amir al-Mukminin `Ali A.S, tuntutan beliau terhadap jawatan khalifah selepas Rasulullah s.`a.w adalah satu hak yang wajib dituntut. Kerana Rasulullah s.`a.w telah melantik beliau dan sebelas anak cucunya daripada Fatimah A.S sebagai Imam/Khalifah. Bagi `Ali, perlantikan beliau adalah daripada Allah S.W.T.melalui rasulNya. Justeru itu orang ramai harus mentaatinya dansebelas para imam selepas beliau satu persatu. Apatah lagi khutbah/hadis Rasulullah s.`a.w di Ghadir Khum pada 18 Dhu l-Hijjah tahun 10 hijrah menjadi asas yang penting di dalam tuntutan beliau terhadap jawatan khalifah secara langsung selepasRasulullah s.`a.w.

Terjemahan Teks Dialog

Di sini akan diperturunkan dialog Amir al-Mukminin `Ali A.S yang dikemukakan kepada Khalifah Abu Bakr mengenai Imamah/Khilafah. Di dalam pembentangan ini, penulis mengemukakan terjemahan teks tersebut menurut catatan al-`Allamah al-Tabarsi di dalam al-Ihtijaj(1),. Kemudian penulis membuat rujukan kepada buku-buku Ahl al-Sunnah kita sebagai pengukuhan kepada kesahihan hadis-hadis tersebut.

Daripada Ja`far, Imam Ja`far al-Sadiq adalah imam keenam Ahl al-Bait Rasulullah s.`a.w.Ja`far b. Muhammad, Imam Muhammad al-Baqir b. `Ali Zain al-Abidin b. Husain b.Ali adalah imam kelima Ahl al-Bait Rasulullah s.`a.w.daripada bapanya, daripada datuknya A.S. Beliau berkata: Apabila selesai urusan Abu Bakr dan bai`ah orang ramai kepadanya serta perbuatan mereka terhadap `Ali, Abu Bakr masih mengharapkan bai`ah daripada `Ali, tetapi beliu A.S telah menunjukkan sikap negatif terhadapnya. Abu Bakr menganggapnya sebagai serius lalu beliau ingin berjumpa dengannya dan meminta maaf daripadanya di atas bai`ah orang ramai kepadanya sedangkangkan dia (Abu Bakr) sendiri tidak begitu berhasrat untuk memegang jawatan khalifah kerana kezuhudannya.Dia mengadakan pertemuan empat mata dengan `Ali A.S.

Dia berkata: Wahai Abu l-Hasan! Demi Allah perkara ini bukanlah aku benar-benar mencintainya kerana aku tidak mempunyai keyakinan kepada diriku sendiri terhadap keperluan umat ini. Aku tidak mempunyai harta yang banyak dan keluarga yang ramai. Oleh itu kenapa anda menyembunyikan kepadaku apa yang aku tidak berhak daripada anda. Anda melahirkan kebencian terhadapku(2).

Amir al-Mukminin berkata:

1. Apakah yang mendorong anda untuk memegang jawatan khalifah sekiranya anda benar-benar tidak menghendakinya dan anda pula kurang yakin kepada diri anda sendiri untuk mengendalikannya?

Abu Bakr berkata: Sebuah hadis yang aku mendengarnya daripada Rasulullah s.`a.w bermaksud “Sesungguhnya Allah tidak akan mengumpulkan umatku di atas kesesatan”. Apabila aku melihat ijmak mereka terhadapku, maka akupun mengikuti sabda Nabi s.`a.w tersebut(3).

Dan aku tidak terfikir ijmak mereka menyalahi petunjuk. Lantaran itu aku memberi jawapan yang positif. Dan sekiranya aku mengetahui mahupun seorang yang tidak bersetuju di atas perlantikanku nescaya aku menolaknya.

2. `Ali berkata: Adapun sabda Nabi s.`a.w yang anda menyebutkannya “Sesungguhnya Allah tidak akan mengumpulkan umatku di atas kesesatan”, adakah aku daripada umat ataupun tidak?

Abu Bakr menjawab: Tentu sekali anda daripada umat.

3. `Ali berkata: Adakah golongan menentang anda yang terdiri daripada Salman, `Ammar, Abu Dhar, al-Miqdad, Ibn `Ubbad dan orang-orang Ansar yang lain bersamanya termasuk di dalam umat?

Abu Bakr menjawab: Semuanya termasuk di dalam umat.

4. `Ali berkata: Bagaimana anda berhujah dengan hadis tersebut sedangkan orang seperti mereka telah membelakangi anda? Sedangkan umat tidak mencela mereka dan persahabatan mereka dengan Rasulullah adalah baik!

Abu Bakr menjawab: Aku tidak mengetahui penentangan mereka melainkan selepas berlaku pemilihan khalifah. Aku khuatir sekiranya aku meninggalkan “perkara” tersebut orang ramai akan menjadi murtad dari agama mereka. Lantaran itu perlakuan mereka terhadapku – sekiranya aku menyahuti seruan mereka – lebih senang bagikumememberi pertolongan di dalam agama dan mengekalkannya dari permusuhan di kalangan mereka. Justeru itu mereka kembali menjadi kafir. Aku menyedari bahawa anda bukanlah orang yang dapat mengekalkan keadaan mereka dan agama mereka.

5. `Ali berkata: Ya! Tetapi beritahukan kepadaku tentang orang yang berhak jawatan khalifah dan dengan apakah dia berhak?

Abu Bakr menjawab: Dengan nasihat, kesetiaan, perlakuan yang baik, melahirkan keadilan, alim dengan kitab dan sunnah, percakapan yangtinggi, zuhud di dalam soal keduniaan, tidak terlalu cintakan dunia, menyelamatkan orang yang tertindas dari ditindas,sama ada jauh dan dekat. Kemudian dia (Abu Bakr) diam.

6. `Ali berkata: Orang yang terawal memeluk Islam dan kerabat?

Abu Bakr menjawab: Ya!

7. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah wahai Abu Bakr, adakah sifat-sifat tersebut terdapat pada diri anda atau pada diriku?

Abu Bakr menjawab: Malah pada diri anda wahai Abu l-Hassan(4).

8. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah aku yang telah menyahuti dakwah Rasulullah (s.`a.w) dari kaum lelaki atau anda?

Abu Bakr menjawab: Anda(5).

9. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah, adakah aku yang mengistiharkan Surah al-Bara’ah di musim haji akbar di hadapan kaum muslimin atau anda?

Abu Bakr menjawab: Anda(6).

10. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah, aku telah mempertahankan Rasulullah s.`a.w. dengan diriku di hari al-Ghadiratau anda?

Abu Bakr menjawab: Anda(7).

11. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah, adakah aku maula kepada anda dan semua muslimin melalui hadis Nabi (s.`a.w.) di hari al-Ghadir atau anda?

Abu Bakr menjawab: Anda(8).

12. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah ayat al-Wilayah (al-Maidah5:55) daripada Allah bersama Rasul-Nya mengenai zakat dengan sebentuk cincin untuk aku atau anda?

Abu Bakr menjawab: Untuk anda(9).

13. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah al-Wazarah (wazir) untukku bersama Rasulullah (s.`a.w.) umpama Harun bersama Musa atau untuk anda?

Abu Bakr menjawab: Untuk anda(10).

14. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah Rasulullah (s.`a.w.) mempertaruhkan dengan aku, isteriku dan ana- anak lelakiku apabila bermubahalah dengan Musyrikin atau dengan isteri anda dan anak-anak lelaki anda?

Abu Bakr menjawab: Dengan kalian(11).

15. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah ayat al-Tathir (Surah al-Ahzab 33: 33) untukku, isteriku dan anak-anak lelakiku atau untuk anda, isteri anda dan anak-anak lelaki anda?

Abu Bakr menjawab: Anda dan anak isteri anda(12).

16. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah aku, isteriku dan anak-anak lelakiku yang didoakan oleh Rasulullah (s.`a.w.) di hari al-Kisa’ “Wahai Tuhanku mereka itulah keluargaku kepada Mu dan bukan kepada neraka” atau anda?

Abu Bakr menjawab: Anda, isteri anda dan anak-anak lelakianda(13).

17. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah aku yang dimaksudkan dengan ayat “Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana” (Surah al-Insan76:7) atau anda?

Abu Bakr menjawab: Anda(14).

18. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah anda yang dikembalikan matahari untuk waktu solat lalu ditunaikan solatnya kemudian ia terbenam atau aku?

Abu Bakr menjawab: Anda(15).

19. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah anda yang telah melegakan Rasulullah (s.`a.w.) dan kaum Muslimin dengan pembunuhan `Amru b. `Abd Wuddin atau aku?

Abu Bakr menjawab: Anda(16).

20. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah anda yang telah diamanahkan oleh Rasulullah (s.`a.w.) dalam perutusannya kepada jin lalu anda menyahutinya atau aku?

Abu Bakr menjawab: Anda(17).

21. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah aku yang disucikan oleh Allah dari perzinaan semenjak Adam sehinggalah kepada bapanya dengan sabda Rasulullah (s.`a.w.) “Aku dan anda (`Ali) dari nikah yang sah dan bukan dari perzinaan semenjak Adam hinggalah `Abdu l-Muttalib” atau anda?

Abu Bakr menjawab: Anda(18).

22. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah aku yang telah dipilih oleh Rasulullah dan mengahwinkan aku dengan anak perempuannya Fatimah (`a.s) dan bersabda: “Allah telah mengahwinkan anda dengan Fatimah di langit” atau anda?

Abu Bakr menjawab: Anda(19).

23. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah aku bapa Hasan dan Husain manakala beliau bersabda: “Kedua-duanya pemuda Ahli Syurga dan bapa mereka berdua adalah lebih baik daripada mereka berdua” atau anda?

Abu Bakr menjawab: Anda(20).

24. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah saudara anda yang dihiasi dengan dua sayap terbang di syurga bersama para malaikat atau saudaraku?

Abu Bakr menjawab: Saudara anda(21).

25. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah aku yang telah menjamin hutang Rasulullah (s.`a.w.) dan mengadakan perisytiharan di musim haji dengan melaksanakan janjinya atau anda?

Abu Bakr menjawab: Anda(22).

26. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah, adakah aku orang yang didoakan oleh Rasulullah (s.`a.w.) dalam keadaan burung di sisinya, di mana beliau ingin memakannya. Beliau bersabda: “Wahai Tuhanku! bawa datanglah kepadaku orang yang paling Engkau cintai selepasku bagi memakan (daging) burung itu bersamaku “. Maka tidak seorangpun datang selain daripadaku atau anda?

Abu Bakr menjawab: Anda(23).

27. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah akukah orang yang telah diberi mandat oleh Rasulullah (s.`a.w.) supaya memerangi al-Nakithin, al-Qasitin, al-Mariqin menurut takwil al-Qur’an atau anda?

Abu Bakr menjawab: Anda(24).

28. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah aku yang telah ditunjukkan oleh Rasulullah (s.`a.w.) dengan kehakiman dan kefasihan di dalam percakapan dengan sabdanya: “`Ali adalah orang yang paling alim di dalam ilmu penghakiman” atau anda?

Abu Bakr menjawab: Anda(25).

29. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah aku di mana Rasulullah (s.`a.w.) memerintahkan para sahabatnya supaya memberi salam kepadanya untuk menjadi ketua pada masa hidupnya atau anda?

Abu Bakr menjawab: Anda(26).

30. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah aku yang menyaksi percakapan Rasulullah (s.`a.w.) yang terakhir, menguruskan “mandi” dan mengkafannya atau anda?

Abu Bakr menjawab: Anda(27).

31. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah anda kerabat Rasulullah (s.`a.w.) atau aku?

Abu Bakr menjawab: Anda(28).

32. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah anda yang dikurniakan oleh Allah dengan dinar ketika dia memerlukannya dan Jibra’il menjualkannya kepada anda dan anda menjadikan Muhammad sebagai tetamu lalu anda memberi makan anaknya atau aku?

Abu Bakr menangis dan berkata: Anda(29).

33. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah anda yang telah diletakkan oleh Rasulullah (s.`a.w.) di atas bahunya bagi menolak dan memecahkan berhala-berhala di atas ka`bah sehingga jika aku kehendaki nescaya aku dapat menyentuhi ketinggianlangit atau anda?

Abu Bakr menjawab: Anda(30).

34. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah anda yang disabdakan oleh Rasulullah (s.`a.w.) “Andalah pemilik bendera di dunia dan di akhirat” atau aku?

Abu Bakr menjawab: Anda(31).

35. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah anda yang diperintahkan oleh Rasulullah (s.`a.w.) supaya membuka pintu di masjidnya ketika beliau memerintahkan supaya ditutup semua pintu keluarganya dan para sahabatnya dan membenarkan pintu anda dibuka atau aku?

Abu Bakr menjawab: Anda(32).

36. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah anda telah mengeluarkan sadqah apabila anda mengadakan perbicaraan khusus dengan Rasul dikala itu Allah mengkritik satu golongan”Apakah kamu takut akan (menjadi miskin) kerana kamu memberi sadqah sebelum pembicaraan dengan Rasul?” (Surah al-Mujadalah 58:13) atau aku?

Abu Bakr menjawab: Anda(33).

37. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah anda yang dimaksudkan oleh Rasulullah (s.`a.w.) ketika beliau bersabda kepada Fatimah: “Aku nikahkan akan anda kepada orang yang pertama beriman kepada Allah” atau aku?

Abu Bakr menjawab: Anda(34).

38. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah anda yang telah diberi salam oleh para malaikat tujuh langit di hari al-Qulaib atau aku?

Abu Bakr menjawab: Anda(35).

39. `Ali berkata: Adakah dengan ini dan seumpamanya anda berhak melaksanakan urusan umat Muhammad? Apakah yang membuatkan anda terlanjur jauh dari Allah dan Rasul-Nya sedangkan anda tidak mempunyai sesuatu yang diperlukan oleh penganut agamanya!

Abu Bakr menangis dan berkata: Memang benar apa yang anda perkatakan wahai Abu l-Hassan. Tunggulah aku hingga berlalunya hariku. Aku akan memikirkan tentang jawatanku sebagai khalifah dan aku tidak akan mendengar lagi percakapan sebegini daripada anda(36).

30. `Ali berkata: Itu terserah kepada anda wahai Abu Bakr. Lantas dia kembali dan jiwanya agak tenang di hari itu dan tidak membenar seorangpun berjumpa dengannya sehingga di malam hari.

Ulasan

Di dalam munasyadah di antara Amir al-Mukminin `Ali dan Khalifah Abu Bakr ternyata bahawa Amir al-Mukminin telah mengemukakan beberapa soalan kepada Khalifah Abu Bakr khususnya mengenai Imamah/Khilafah di mana beliau berhujah bahawa jawatan Imamah/Khilafah secara langsung selepas Rasulullah (s.`a.w.) adalah haknya berdasarkan hadis-hadis Rasulullah (s.`a.w.) mengenai perlantikan beliau sebagai imam/khalifah. Ia juga disebut oleh beliau ketika melakukan munasyadah di antara beliau dan Khalifah Abu Bakr di mana Khalifah Abu Bakr kelihatan memperakui hakikat ini dan hampir-hampir menyerah jawatan Khalifah kepada Amir al-Mukminin `Ali b. Abi Talib jika tidak dihalang oleh `Umar.(37)

Persoalan yang timbul, jika perlantikan Rasulullah (s.`a.w.) ke atas `Ali sebagai imam/khalifah selepas beliau itu adalah benar – Ia memang benar berdasarkan hadis-hadis Nabi (s.`a.w.) -kenapa umat mengabaikan tanggungjawab mereka untuk mentaati perlantikan beliau? Atau jika perlantikannya daripada Rasulullah s.`a.w. tidak benar, kenapa `Ali A.S menuntut bukan haknya?

Adakah ini sifat Ahl al-Bait Rasulullah s.`a.w. yang telah disucikan di dalam Surah al-Ahzab 33: 33? Sebenarnya Amir al-Mukminin `Ali telah menerangkan kedudukannya mengenai imamah/khilafah kepada Ibn Qais yang mengemukakan soalan kepadanya. Sulaim b. Qais al-Hilali, meriwayatkan bahawa Ibn Qais bertanya kepada Amir al-Mukminin `Ali A.S: Apakah yang menghalang anda dari menghunus pedang anda untuk menuntut jawatan imamah/khilafah?(38)

Amir al-Mukminin `Ali A.S menjawab: Wahai Ibn Qais! Dengarlah jawapanku: Bukanlah kerana perasaan pengecut dan kebencianku menemui Tuhanku. Aku bukanlah tidak mengetahui bahawa apa yang ada di sisi Allah itu lebih baik bagiku daripada dunia dan kekal di dalamnya. Tetapi perintah Rasulullah (s.`a.w.) yang telah menghalangku dan janji beliau kepadaku. Rasulullah (s.`a.w.) telah memberitahuku bahawa umat akan belot selepasnya(39).

Meskipun begitu aku tidak begitu yakin terhadap apa yang mereka perlakukan di hadapanku kerana aku lebih menyakini sabda Rasulullah (s.`a.w.) daripada apa yang aku melihatnya sendiri.

Aku berkata: Wahai Rasulullah! Apakah janji anda kepadaku sekiranya ia berlaku sedemikian? Beliau bersabda: Jika anda dapat mencari pembantu-pembantu, maka tentangilah “mereka” dan jika anda tidak dapat pembantu-pembantu, tahanlah tangan anda, peliharalah darah anda sehingga anda mendapati pembantu-pembantu bagi menegakkan agama, kitab Allah dan Sunnahku(40).

Rasulullah (s.`a.w.) telah memberitahuku bahawa sesungguhnya umat aka menghinaku, membai`ah dan mengikut orang lain selain daripadaku. Rasulullah (s.`a.w.) telah memberitahuku bahawa kedudukanku di sisinya sepertilah kedudukan Harun di sisi Musa dan umat selepasnya seperti kedudukan Harun serta orang yang mengikutnya(41) , dan kedudukan al-`Ajl (anak lembu jantan) serta orang yang mengikutnya kerana Musa berkata kepadanya: “Wahai Harun, apa yang menghalang kamu ketika kamu melihat mereka telah sesat (sehingga) kamu tidak mengikuti aku? Maka apakah kamu telah (sengaja) mendurhakai perintahku? Harun menjawab: Wahai putera ibuku, janganlah kamu pegang janggutku dan jangan (pula) kepalaku, sesungguhnya aku khuatir bahawa kamu akan berkata (kepadaku): Kamu telah memecah antara Bani Isra’il dan kamu tidak memelihara ummatku” (SurahTaha 20: 92-94).

Apa yang dimaksudkan oleh Allah adalah sesungguhnya Musa telah memerintahkan Harun ketika beliau melantiknya ke atas mereka jika mereka sesat dan beliau (Harun) dapat pembantu-pembantunnya, hendaklah beliau menentang mereka dan sekiranya beliau tidak dapat pembantu-pembantu, hendaklah beliau menahan tangannya dan memelihara darahnya dan janganlah beliau melakukan perpecahan di kalangan mereka(42). Dan sesungguhnya aku takut saudaraku Rasulullah (s.`a.w.) akan berkata kepadaku kenapa anda memecahbelahkan mereka dan tidak memelihara ummatku? Sedangkan aku telah menjanjikan anda sesungguhnya jika anda tidak ada pembantu-pembantu, hendaklah anda menahan tangan anda, memelihara darah anda, darah keluarga anda dan Syi`ah anda(43).

Amir al-Mukminin `Ali berkata lagi: Apabila Rasulullah (s.`a.w.) wafat, orang ramai cenderung kepada Abu Bakr lantas mereka memberi bai`ah kepadanya. Sedangkan aku sibuk memandi dan mengkafan jenazah Rasulullah (s.`a.w.). Kemudian aku menghabiskan masaku dengan mengumpulkan al-Qur’an sehingga aku mengumpulkannya di dalam satu kain. Kemudian aku, Fatimah dan di tangan-nya Hassan dan Husain, menyeru kesemua orang-orang yang terlibat di dalam peperangan Badar dan orang-orang terdahulu memeluk Islam yang terdiri daripada orang-orang Muhajirin dan Ansar, semuanya aku telah mengemukakan hujah-hujahku dengan nama Allah S.W.T.mengenai hakku dan aku telah menyeru mereka supaya membantuku. Tetapi semua mereka tidak menyahut seruanku selain daripada empat orang; al-Zubair, Salman, Abu Dhar dan al-Miqdad(44).

Kemudian `Ali meneruskan kata-katanya: Wahai Ibn Qais, sesungguhnya mereka telah memaksaku dan menekanku hampir mereka membunuhku. Jika mereka berkata kepadaku: Kami semata-mata mahu membunuh anda, nescaya aku akan menghalang pembunuhan mereka terhadapku sekalipun aku seorang. Tetapi mereka berkata: Sekiranya anda memberi bai`ah (kepada Abu Bakr) nescaya kami akan melepaskan anda, memuliakan anda, mendampingi anda, menghormati anda. Dan sekiranya anda tidak melakukannya, nescaya kami membunuh anda. Apabila aku tidak dapati seorangpun yang akan membantuku, maka akupun memberi bai`ah kepada mereka. Tetapi bai`ahku terhadap mereka bukanlah membenarkan kebatilan mereka dan tidaklah mewajibkan kebenaran untuk mereka.

Kemudian `Ali berkata lagi: Sekiranya aku dapati di hari Abu Bakr dibai`ah empat puluh orang lelaki yang taat, nescaya aku menentang mereka(45).

Beliau begitu menyesali sikap orang-orang Ansar dan Muhajirin yang tidak membantunya. Beliau mengatakan bahawa mereka telah mencintai Abu Bakr dan `Umar secara membuta tuli. Beliau berkata: Hairan sekali! Hati umat ini telah dimabukkan oleh cinta kepada mereka berdua dan mencintai orang-orang yang menyimpang dari jalan Allah.

Sekiranya umat ini berdiri di atas kakinya ke tanah dan meletakkan debu di atas kepala mereka bermunajat kepada Allah, serta menyeru di hari kiamat ke atas orang-orang yang telah menyesat dan menghalang mereka dari jalan Allah; menyeru mereka ke neraka, membentangkan mereka kepada kemurkaan Allah dan mewajibkan azab-Nya ke atas mereka kerana jenayah yang “mereka”lakukan ke atas mereka, nescaya mereka tergolong juga dari orang-orang yang cuai (muqassirin) kerana pengkaji yang benar dan alim dengan Allah dan Rasul-Nya merasa takut jika ia mengubah sesuatu sunnah dan bid`ah mereka berdua, orang ramai (umat) akan memusuhinya.

Apabila dia melakukannya, mereka akan menyulitkan (kehidupan)nya, menentangnya, membersihkan diri daripadanya, menghinanya, merampas haknya. Dan sekiranya ia mengambil sunnah mereka berdua, memperkuinya, memujinya dan menjadikannya agama, nescaya umat mencintainya, memuliakannya dan melebih-lebihkannya.(46)

Demi Allah sekiranya aku menerangkannya kepada askar-askarku segala kebenaran yang diturunkan oleh Allah ke atas Nabi-Nya, dan aku mendedah pentafsirannya menurut apa yang aku dengar dari Nabi Allah `a.s, nescaya sedikit sahaja askar-askarku tinggal bersama ku kerana mereka takut mendengarnya(47).

Sekiranya janji Rasulullah (s.`a.w.) tidak ada denganku, nescaya aku melakukannya (menyerang mereka dengan pedang). Tetapi Rasulullah (s.`a.w.) bersabda kepadaku: “Wahai saudaraku! Apabila seorang hamba itu terpaksa melakukan sesuatu, maka Allah menghalalkannya untuknya dan mengharuskannya untuknya”. Dan aku mendengar beliau bersabda: “Taqiyyah adalah dari agama Allah, tidak ada agama (al-Din) bagi orang yang tidak melakukan taqiyyah untuknya”(48).

Walaupun begitu `Ali percaya bahawa orang lain selain Ahl al-Bait a.s tidak layak memegang jawatan Imamah. Kerana ia telah dipilih oleh Allah S.W.T. Sulaim b. Qais al-Hilali menulis: `Ali berkata: Demi orang yang telah memuliakan kami Ahl al-Bait dengan “kenabian”. Dia telah menjadikan di kalangan kami Muhammad. Dia memuliakan kami selepasnya di mana Dia menjadikan pada kami para imam bagi mukminin, orang lain selain daripada kami tidak boleh mencapainya. Imamah dan Khilafah tidak layak melainkan pada kami(49).

Kesimpulan

Amir al-Mukminin `Ali b. Abu Talib yakin bahawa imamah/khilafah adalah haknya dan hak sebelas anak cucunya daripada Fatimah a.s berdasarkan kepada hadis al-Ghadir dan lain-lain. Oleh itu bai`ah beliau terhadap Abu Bakr selepas kewafatan Fatimah al-Zahra adalah secara terpaksa, tanpa pembantu-pembantu. Jika tidak beliau akan menghadapi musibat sebagaimana dihadapi oleh Nabi Harun a.s. Justeru itu janji Rasulullah (s.`a.w.) dengan beliau dipeliharanya demi perpaduan umat Islam sejagat.

Nota Kaki:

1 Al-Ihtijaj, I,hlm.115-129.

2 Ibn Qutaibah, al-Imamah wa al-Siyasah, I, hlm. 18-19; al-Mas`udi, Muruj al-Dhahab, II, hlm. 302; al-Ya`qubi, Tarikh al-Ya`qubi, II, hlm. 127.

3 Al-Syahrastani, al-Milal wa al-Nihal, I, hlm. 9.

4 Ibn Hajr al-`Asqalani, Lisan al-Mizan, VI, hlm. 78; al-Khawarizmi, al-Manaqib, hlm. 7;Ibn Kathir, al-Bidayah wa al-Nihayah, VII, hlm. 356.

5 Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi` al-Mawaddah, hlm. 91-92.

6 Ahmad b. Hanbal, al-Musnad, I, hlm. 156; al-Turmudhi, Sahih,

II, hlm. 461; al-Hakim, al-Mustadrak, II, hlm. 51; Ibn Hajr

al-`Asqalani, al-Isabah, II, hlm. 509; al-Muttaqi al-Hindi,

Kanz al-`Ummal, I, hlm. 246.

7 Al-Hakim, al-Mustadrak, II, hlm. 53-54.

8 Ahmad b. Hanbal, al-Musnad, IV, hlm. 370; al-Wahidi, Asbab al- Nuzul, hlm. 150; al-Suyuti, al-Durr al-Manthur, II, hlm. 298; al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi` al-Mawaddah, hlm. 120; al-Khatib

Tarikh Baghdad, VIII, hlm. 290; al-Syablanji, Nur al-Absar,

hlm. 75; al-Ya`qubi, Tarikh al-Ya`qubi, II, hlm. 32.

9 Al-Suyuti, al-Durr al-Manthur, II, hlm. 293; Fakhr al-Din al-Razi, Mafatih al-Ghaib, III, hlm. 417; al-Zamakhsyari, al-Kasysyaf, I, hlm. 422; al-Wahidi, Asbab al-Nuzul, I, hlm. 4

10 Ahmad b. Hanbal, al-Musnad, I, hlm. 175; al-Muttaqi al-Hindi,Kanz al-`Ummal, VI, hlm. 117; al-Hakim, al-Mustadrak, III, hlm 116; al-Turmudhi, Sahih, II, hlm. 301; al-Nasa’i, al-Khasa’is,

hlm. 78; Abu Daud, al-Musnad, I, hlm. 28; al-Khawarizmi, al-Manaqib, hlm. 83.

11 al-Zamakhsyari, al-Kasysyaf, I, hlm. 482; Fakhr al-Din al-Razi, Mafatih al-Ghaib, III, hlm. 20; Ahmad b. Hanbal, al-Musnad, I,hlm. 185; al-Suyuti, al-Durr al-Manthur, II, hlm. 38; al-Wahidi, Asbab al-Nuzul, hlm. 47; al-Syablanji, Nur al-Absar, hlm.101.

12 Al-Tabari, Jami` al-Bayan, XXII, hlm. 502; al-Suyuti, al-Durr al-Manthur, V, hlm. 198; Ahmad b. Hanbal, al-Musnad, III, hlm. 259; al-Wahidi, Asbab al-Nuzul, hlm. 251.

13 Ibid.

14 Al-Wahidi, Asbab al-Nuzul, hlm. 331; Fakhr al-Din al-Razi, Mafatih al-Ghaib, VIII, hlm. 392; Ibn Hajr al-`Asqalani, al-Isabah, VIII, hlm. 168; Ibn al-Athir, Usd al-Ghabah, V, hlm. 530; al-Syablanji, Nur al-Absar, hlm. 102.

15 Ibn Hajr, Lisan al-Mizan, V, hlm. 76; Ibn Kathir,

al-Bidayah wa al-Nihayah, VI, hlm. 80; al-Tahawi, Musykil al-Athar, II,

hlm. 8; al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi` al-Mawaddah, hlm. 137.

16 Lihat umpamanya, al-Kanji al-Syafi`i, Kifayah al-Talib, hlm. 277.

17 Ibid., hlm. 230-231.

18 Ibid., hlm. 379; al-Haithami, Majma` al-Zawa’id, IX, hlm. 168.

19 Ibn Hajr al-Makki, al-Sawa`iq al-Muhriqah, hlm. 84-85; Muhibb al-Tabari, Dhakha`ir al-Uqba, hlm. 29; al-Kanji al-Syafi`i, Kifayah al-Talib, hlm. 298-299.

20 Al-Kanji al-Syafi`i, Kifayah al-Talib, hlm. 204; al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi` al-Mawaddah, hlm. 166.

21 Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi` al-Mawaddah, hlm. 519.

22 Ahmad b. Hanbal, al-Musnad,I, hlm. 3; al-Dhahabi, Mizan al-I`tidal, I, hlm. 306; al-Suyuti, al-Durr al-Manthur, III, hlm. 209.

23 Al-Turmudhi, Sahih, II, hlm. 299; al-Hakim, al-Mustadrak, III, hlm. 130; Abu Nu`aim al-Asfahani, Hilyah al-Auliya’, VI, hlm. 339; Ibn al-Athir, Usd al-Ghabah, IV, hlm. 30; al-Dhahabi, Muruj al-Dhahab, II, hlm. 49.

24 Al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-`Ummal, VI, hlm. 154; Ibn Hajr,Tahdhib al-Tahdhib, III, hlm. 178; al-Kanji al-Syafi`i, Kifayah al-Tahdhib, hlm. 167-168.

25 Al-Kanji al-Syafi`i, Kifayah al-Talib, hlm. 112.

26 Ibn Hajr, al-Isabah, III, hlm. 20; al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-`Ummal, VI, hlm. 155; al-Hakim, al-Mustadrak, III, hlm. 128

27 Al-Khawarizmi, al-Manaqib, hlm. 60-63.

28 Al-Khawarizmi, al-Manaqib, hlm. 90; al-Kanji al-Syafi`i, Kifayah al-Talib, hlm. 76.

29 Ibn al-Athir, Usd al-Ghabah, V, hlm. 530; al-Kanji al-Syafi`i, Kifayah al-Talib, hlm. 348-349.

30 Al-Hakim, al-Mustadrak, III, hlm. 5.

31 Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi` al-Mawaddah, hlm. 81.

32 Al-Nasa’i, al-Khasa’is, hlm. 17; al-Hakim, al-Mustadrak, III,hlm. 125; al-Turmudhi, Sahih, II, hlm. 301; al-Kanji al-Syafi`i, Kifayah al-Talib, hlm. 201.

33 Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi` al-Mawaddah, hlm. 100.

34 Muhibb al-Din al-Tabari, Dhakha’ir al-Uqba, hlm. 29; Ibn Hajr, al-Sawa`iq al-Muhriqah, hlm. 85; al-Kanji al-Syafi`i, Kifayah al-Talib, hlm. 298.

35 Lihat umpamanya, al-Khatib, Tarikh Baghdad, IV, hlm. 403.

36 Lihat umpamanya, Ibn Qutaibah, al-Imamah wa al-Siyasah, I, hlm. 18-19; al-Ya`qubi, Tarikh al-Ya`qubi, II, hlm. 127-128.

37 Ibn Qutaibah, al-Imamah wa al-Siyasah, I, hlm. 18-19; al-Ya`qubi, Tarikh al-Ya`qubi, II, hlm. 127.

38 Kitab Sulaim , hlm.127

39 Lihat umpamanya, al-Bukhari, Sahih, IV, hlm. 94-99.

40 Sulaim b. Qais al-Hilali, Kitab Sulaim , hlm 128.

41 Muslim, Sahih, II, hlm. 236

42 Sulaim b. Qais al-Hilali, Kitab Sulaim, hal. 127.

43 Ibid., hlm. 127.

44 Ibid.

45 Ibid , hlm. 129.

46 Ibid, hlm.151.

47 Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi` al-Mawaddah, hlm. 403.

48 Sulaim b. Qais al-Hilali, Kitab Sulaim , hlm.151.

49 Ibid,hlm.120
========================

Hadis “Kitab Allah dan ‘Itrah Ahlul Bait” di dalam Referensi-Referensi Ahlus Sunnah

Dialog Madzhab

Adapun orang yang meriwayatkan hadis ini sesudah jaman sahabat dan tabi’in, dari kalangan ulama umat, para penghafal hadis dan para imam terkenal selama berabad-abad, bukanlah suatu jumlah yang dapat kami sebutkan nama dan riwayat mereka satu persatu. Sekelompok para ulama dan peneliti telah menghitung jumlah mereka, dan untuk lebih rincinya silahkan Anda merujuk kepada kitab ‘Abagat al-Anwar, juz pertama dan kedua.

Sanad Hadis
a. Jumlah Perawi Dari Kalangan Sahabat
Hadis ini telah mencapai derajat mutawâtir dari sekumpulan sahabat, dan inilah sebagian nama-nama mereka:

1. Zaid bin Arqam.

2. Abu sa’id al-Khudri.

3. Jabir bin Abdullah.

4. Hudzaifah bin Usaid.

5. Khuzaimah bin Tsabit.

6. Zaid bin Tsabit.

7. Suhail bin Sa’ad.

8. Dhumair bin al-Asadi,

9. ‘Amir bin Abi Laila (al-Ghifari).

10. Abdurrahman bin ‘Auf.

11. Abdullah bin Abbas.

12. Abdullah bin Umar.

13. ‘Uday bin Hatim.

14. ‘Uqbah bin ‘Amir.

15. Ali bin Abi Thalib.

16. Abu Dzar al-Ghifari.

17. Abu Rafi’.

18. Abu Syarih al-Khaza’i.

19. Abu Qamah al-Anshari.

20. Abu Hurairah.

21. Abu Hatsim bin #SENSOR#han.

22. Ummu Salamah.

23. Ummu Hani binti Abi Thalib.

24. Dan banyak lagi laki-laki dari kalangan Quraisy.

b. Jumlah Perawi Dari Kalangan Tâbi’în
Penukilan hadis ini juga telah mencapai tingkatan mutawatir pada jaman tâbi’în, dan inilah sebagian dari para tabi’in yang menukil hadis “Kitab Allah dan ‘itrahku”:

1. Abu Thufail ‘Amir bin Watsilah.

2. ‘Athiyyah bin Sa’id al-’Ufi.

3. Huns bin Mu’tamar.

4. Harits al-Hamadani

5. Hubaib bin Abi Tsabit.

6. Ali bin Rabi’ah.

7. Qashim bin Hisan.

8. Hushain bin Sabrah.

9. ‘Amr bin Muslim.

10. Abu Dhuha Muslim bin Shubaih.

11. YahyabinJu’dah.

12. Ashbagh bin Nabatah.

13. Abdullahbin Abirafi’.

14. Muthalib bin Abdullah bin Hanthab.

15. Abdurrahman bin Abi sa’id.

16. Umar bin Ali bin Abi Thalib.

17. Fathimah binti Ali bin Abi Thalib.

18. Hasan bin Hasan bin bin Ali bin Abi Thalib.

19. Ali Zainal Abidin bin Husain, dan yang lainnya.

c. Jumlah Para Perawi Hadis Ini Pada Tiap-Tiap Abad
Adapun orang yang meriwayatkan hadis ini sesudah jaman sahabat dan tabi’in, dari kalangan ulama umat, para penghafal hadis dan para imam terkenal selama berabad-abad, bukanlah suatu jumlah yang dapat kami sebutkan nama dan riwayat mereka satu persatu. Sekelompok para ulama dan peneliti telah menghitung jumlah mereka, dan untuk lebih rincinya silahkan Anda merujuk kepada kitab ‘Abagat al-Anwar, juz pertama dan kedua.

Pada kesempatan ini saya mencukupkan diri dengan hanya menyebutkan jumlah mereka pada setiap tingkatan masa, dari abad kedua hingga abad keempat belas.

• Abad kedua: Jumlah perawi sebanyak 36 orang.

• Abad ketiga: Jumlah perawi sebanyak 69 orang.

• Abad keempat: Jumlah perawi sebanyak 38 orang.

• Abad kelima: Jumlah perawi sebanyak 21 orang.

• Abad keenam: Jumlah perawi sebanyak 27 orang.

• Abad ketujuh: Jumlah perawi sebanyak 21 orang.

• Abad kedelapan: Jumlah perawi sebanyak 24 orang.

• Abad kesembilan: Jumlah perawi seabanyak 13 orang.

• Abad kesepuluh: Jumlah perawi sebanyak 20 orang.

• Abad kesebelas: Jumlah perawi sebanyak 11 orang.

• Abad kedua belas: Jumlah perawi sebanyak 18 orang.

• Abad ketiga belas: Jumlah perawi sebanyak 12 orang.

• Abad keempat belas: Jumlah perawi sebanyak 13 orang.

Dengan begitu jumlah para perawi hadis dari abad ketiga hingga abad keempat belas semuanya berjumlah 323 orang. Perhatikanlah ini!

Hadis “Kitab Dan ‘Itrah” Di Dalam Kitab-kitab Hadis
Adapun mengenai kitab-kitab hadis yang meriwayatkan hadis ini jumlahnya banyak sekali. Kami akan menyebutkan sebagian darinya:

1. Sahih Muslim, juz 4, halaman 123, terbitan Dar al-Ma’arif Beirut – Lebanon.

Muslim meriwayatkan di dalam kitab sahihnya, “Telah berkata kepada kami Muhammad bin Bakkar bin at-Tarian, “Telah berkata kepada kami Hisan (yaitu Ibnu Ibrahim), dari Sa’id (yaitu Ibnu Masruq), dari Yazid bin Hayan yang berkata, ‘Kami masuk kepada Zaid bin Arqam dan berkata, ‘Anda telah melihat kebajikan. Anda telah bersahabat dengan Rasulullah saw dan telah salat di belakangnya. Anda telah menjumpai banyak kebaikan, ya Zaid (bin Arqam). Katakanlah kepada kami, ya Zaid (bin Arqam), apa yang Anda telah dengar dari Rasulullah saw.’ Zaid (bin Arqam) berkata, ‘Wahai anak saudaraku, demi Allah, telah lanjut usiaku, telah berlalu masaku dan aku telah lupa sebagian yang pernah aku ingat ketika bersama Rasulullah. Oleh karena itu, apa yang aku katakan kepadamu terimalah, dan apa yang aku tidak katakan kepadamu janganlah kamu membebaniku dengannya.’ Kemudian Zaid bin Arqam berkata,

‘Pada suatu hari Rasulullah saw berdiri di tengah-tengah kami menyampaikan khutbah di telaga yang bernama “Khum”, yang terletak di antara Mekkah dan Madinah. Setelah mengucapkan hamdalah dan puji-pujian kepada-Nya serta memberi nasihat dan peringatan Rasulullah saw berkata,

‘Adapun selanjutnya, wahai manusia, sesungguhnya aku ini manusia yang hampir didatangi oleh utusan Tuhanku, maka aku pun menghadap-Nya. Sesungguhnya aku tinggalkan padamu dua perkara yang amat berharga, yang pertama adalah Kitab Allah, yang merupakan tali Allah. Barangsiapa yang mengikutinya maka dia berada di atas petunjuk, dan barangsiapa yang meninggalkannya maka dia berada di atas kesesatan.’ Kemudian Rasulullah saw melanjutkan sabdanya, ‘Adapun yang kedua adalah Ahlul Baitku. Demi Allah, aku peringatkan kamu akan Ahlul Baitku, aku peringatkan kamu akan Ahlul Baitku, aku peringatkan kamu akan Ahlul Baitku.’ Kemudian kami bertanya kepadanya (Zaid bin Arqam), ‘Siapakah Ahlul Baitnya, apakah istri-istrinya?’ Zaid bin Arqam menjawab, ‘Demi Allah, seorang wanita akan bersama suaminya untuk suatu masa tertentu. Kemudian jika suaminya menceraikannya maka dia akan kembali kepada ayah dan kaumnya. Adapun Ahlul Bait Rasulullah adalah keturunan Rasulullah saw yang mereka diharamkan menerima sedekah sepenggal beliau. ” Muslim juga meriwayatkan:

Dari Zuhair bin Harb dan Syuja’ bin Mukhallad, semuanya dari Ibnu ‘Uliyyah. Zuhair berkata, “Telah berkata kepada kami Ismail bin Ibrahim, ‘Telah berkata kepada kami Abu Hayan, ‘Telah berkata kepada kami Yazid bin Hayan yang berkata, ‘Saya pergi…’ dan kemudian dia menyebutkan hadis di atas.”

Muslim meriwayatkan dari Abu Bakar bin Abi Syaibah yang berkata, “Telah berkata kepada kami Muhammad bin Fudhail, ‘Telah berkata kepada kami Ishaq bin Ibrahim, ‘Telah memberitahukan kepada kami Jarir’, keduanya dari Abi Hayyan …. kemudian dia menyebutkan hadis.”

Seluruh riwayat Muslim kembali kepada Abi Hayyan bin Sa’id at-Tamimi. Adz-Dzahabi telah berkomentar tentangnya,

“Yahya bin Sa’id bin Hayyaan Abu Hayyan at-Tamimi adalah seorang pejuang yang diagungkan dan dipercaya. Ahmad bin Abdullah al-’Ajali berkata tentangnya, ‘Dia seorang yang dapat dipercaya, saleh dan unggul sebagai pemilik sunah.”[1]

Adz-Dzahabi juga berkata di dalam kitab al- ‘lbar, jilid 1, halaman 205, “Di dalamnya terdapat Yahya bin Sa’id at-Tamimi, Mawla Tim ar-Rabbab al-Kufi. Dia itu seorang yang dapat dipercaya dan Imam pemilik sunah. Asy-Sya’bi dan yang lainnya meriwayatkan darinya.

Yafi’i berkata, “Di dalamnya terdapat Yahya bin Sa’id at-Tamimi al-Kufi. Dia itu seorang yang dapat dipercaya dan Imam pemilik sunah.”[2]

Al-’Asqalani berkata, “Abu Hayyan at-Tamimi al-Kufi adalah seorang yang dapat dipercaya, salah seorang ahli ibadah yang enam, dan wafat pada tahun 45 Hijrah.”[3]

Dan komentar-komentar para ulama ilmu al-Jarh wa at-Ta’dil lainnya tentang Abu Hayyan at-Tamimi.

Sebagaimana diketahui dengan jelas bahwa hadis ini diriwayatkan di dalam Sahih Muslim, dan ini menunjukkan akan kesasihannya, dikarenakan kaum Muslimin sepakat untuk mensahihkan selurah hadis yang diriwayatkannya.

Muslim sendiri dengan tegas telah mengatakan bahwa seluruh hadis yang terdapat di dalam Kitab Sahihnya telah disepakati kesahih-annya. Apalagi dalam pandangannya sudah tentu sahih. Hafidz as-Suyuthi telah berkata, “Muslim berkata, ‘Tidak semua yang sahih saya letakkan di sini, melainkan saya hanya meletakkan yang telah disepakati kesahihannya.’” Sebagaimana tertulis di dalam kitab at-Tadrin ar-Rawi.

An-Nawawi berkata di dalam biografi Muslim, “Muslim telah menyusun banyak kitab di dalam ilmu hadis, dan salah satunya adalah kitab sahih ini, yang telah Allah SWT anugrahkan kepada kaum Muslimin.”[4]

Dan komentar-komentar yang lainnya yang tidak mungkin disebutkan seluruhnya.

2. Riwayat hadis pada al-Imam al-Hafidz Abi ‘Abdillah al-Hakim an-Naisaburi, di dalam kitab mustadraknya atas Bukhari dan Muslim, jilid 3, halaman 22, kitab Ma’rifah as-Shahabah, terbitan Dar al-Ma’rifah Beirut – Lebanon.

– Abu ‘Awanah meriwayatkan hadis ini dari al-A’masy Tsana Habib bin Abi Tsabit, dari Abi Laila, dari Zaid bin Arqam yang berkata, “Tatkala Rasulullah saw kembali dari haji wada’ dan singgah di Ghadir Khum, Rasulullah saw menyuruh para sahabatnya bernaung di bawah pepohonan. Kemudian Rasulullah saw bersabda, ‘Aku hampir dipanggil oleh Allah SWT, maka aku harus memenuhi panggilannya. Sesungguhnya aku meninggalkan dua perkara yang amat berharga, yang mana yang satunya lebih besar dari yang lainnya, yaitu Kitab Allah dan ‘itrah Ahlul Baitku. Maka perhatikanlah bagaimana sikapmu terhadap keduanya, karena sesungguhnya keduanya tidak akan pernah berpisah sehingga datang menemuiku di telaga.’ Kemudian Rasulullah melanjutkan sabdanya, ‘Sesungguhnya Allah Azza Wajalla adalah pemimpinku, dan aku adalah pemimpin setiap orang Mukmin’, lalu Rasulullah saw mengangkat tangan Ali seraya berkata, ‘Barangsiapa yang menjadikan aku sebagai pemimpinnya maka inilah Ali pemimpinnya.”‘ Dengan demikian, Rasulullah saw menekankan bahwa yang pertama dari Ahlul Bait dan sekaligus pemimpin mereka yang wajib diikuti ialah Ali as.

Sebagaimana juga diriwayatkan dari dari Hassan bin Ibrahim al-Kirmani Tsana Muhammad bin Salma bin Kuhail, dari ayahnya, dari Abi Thufail, dari Ibnu Watsilah yang berkata bahwa dirinya mendengar Zaid bin Arqam berkata… (dan dia menyebutkan hadis sebagaimana yang di atas), hanya saja dia menambahkan, ‘Kemudian Rasulullah saw bersabda, Tidakkah kamu tahu bahwa aku lebih berhak atas orang-orang Mukmin dibandingkan diri mereka sendiri’ sebanyak tiga kali. Mereka menjawab, ‘Ya.’ Rasulullah saw bersabda lagi, ‘Barangsiapa yang menjadikan aku sebagai pemimpinnya maka inilah Ali pemimpinnya.’”

– Al-Hakim juga meriwayatkannya melalui dua jalan yang lain; dan supaya tidak terlalu panjang saya cukupkan dengan hanya mem-buktikan dua jalan.

Dan di antara bukti yang menunjukkan kesahihan dan kemutawatiran hadis ini ialah bahwa al-Hakim telah meriwayatkannya dan telah menetapkan kesahihannya berdasarkan syarat Bukhari dan Muslim.

3. Riwayat hadis pada Ahmad bin Hanbal di dalam Musnadnya, jilid 3, halaman 14, 17, 26 dan 59, terbitan Dar Shadir Beirut – Lebanon.

Telah berkata kepada kami Abdullah, ‘Telah berkata kepada kami Abi Tsana Abu an-Nadzar Tsana Muhammad, yaitu Ibnu Abi Thalhah, dari al-A’masy, dari ‘Athiyyah al-’Ufi, dari Abi Sa’id al-Khudri, dari Rasulullah saw yang berkata, “Aku merasa segera akan dipanggil (oleh Allah) dan aku akan memenuhi panggilan itu. Aku tinggalkan padamu dua perkara yang amat berharga, yaitu Kitab Allah Azza Wajalla dan ‘itrahku (kerabatku). Kitab Allah, tali penghubung antara langit dan bumi; dan ‘itrahku, Ahlul Baitku. Dan sesungguhnya Allah Yang Maha Mengetahui telah berkata kepadaku bahwa keduanya tidak akan berpisah sehingga berjumpa kembali denganku di telaga. Oleh karena itu, perhatikanlah bagaimana kamu memperlakukan keduanya itu.”

Imam Ahmad bin Hanbal juga meriwayatkan, “Telah berkata kepada kami Abdullah, ‘Telah berkata kepada kami Tsana bin Namir Tsana Abdullah, yaitu Ibnu Abi Sulaiman, dari ‘Athiyyah, dari Abi Sa’id al-Khudri yang berkata, ‘Rasulullah saw telah bersabda, ‘Aku telah tinggalkan padamu dua perkara yang amat berharga, yang mana salah satunya lebih besar dari yang lainnya, yaitu Kitab Allah, yang merupakan tali penghubung antara langit dan bumi, dan ‘itrah Ahlul Baitku, Ketahuilah, sesungguhnya keduanya tidak akan pernah ber-pisah sehingga datang menemuiku di telaga.’” Ahmad bin Hanbal telah meriwayatkannya dari berbagai jalan, selain jalan-jalan yang di atas.

4. Riwayat hadis dari Turmudzi, jilid 5, halaman 662 – 663, terbitan Dar Ihya at-Turats al-’Arabi.

Telah berkata kepada kami Ali bin Mundzir al-Kufi, “Telah berkata kepada kami Muhammad bin Fudhail, ‘Telah berkata kepada kami al-A’masy, dari ‘Athiyyah, dari Abi Sa’id dan al-A’masy, dari Habib bin Abi Tsabit, dari Zaid bin Arqam yang berkata, ‘Rasulullah saw telah bersabda, ‘Sesungguhnya aku tinggalkan padamu sesuatu yang jika kamu berpegang teguh kepadanya niscaya kamu tidak akan tersesat sepeninggalku, yang mana yang satunya lebih besar dari yang lainnya, yaitu Kitab Allah, yang merupakan tali penghubung antara langit dan bumi, dan ‘itrah Ahlul Baitku. Keduanya tidak akan pernah berpisah sehingga datang menemuiku di telaga. Maka perhatikanlah bagaimana kamu memperlakukan keduanya.”‘

5. Sebagaimana juga ‘Allamah ‘Alauddin Ali al-Muttaqi bin Hisam ad-Din al-Hindi, yang wafat pada tahun 975 H, meriwayatkan hadis ini di dalam kitabnya Kanz al-’Ummal fi Sunan al-Aqwal wa al- Af’al, juz pertama, bab kedua (bab berpegang teguh kepada Al- Qur’an dan sunah), halaman 172, terbitan Muassasah ar-Risalah Beirut, cetakan kelima, tahun 1985, yaitu hadis nomer 810, 871, 872 dan 873.

Jika kita berlama-lama di dalam bab ini, untuk menyebutkan seluruh kitab yang meriwayatkan hadis ini, niscaya akan memakan waktu yang lama dan dibutuhkan kitab tersendiri. Sebagai contoh, di sini kami hanya akan menyebutkan sekumpulan para hafidz dan ulama yang meriwayatkan hadis ini. Adapun untuk lebih rincinya lagi silahkan Anda merujuk ke dalam kitab Ihqaq al-Haq, karya Asadullah al-Tusturi, jilid 9, halaman 311. Sebagian dari mereka itu ialah:

1. Al-Hafidz ath-Thabrani, yang wafat tahun 340 H, di dalam kitabnya al-Mu ‘jam ash-Shaghir.

2. ‘Allamah Muhibbuddin ath-Thabari, di dalam kitabnya Dzakha’ir al-’Uqba.

3. ‘Allamah asy-Syeikh Ibrahim bin Muhammad bin Abi Bakar al-Himwani, di dalam kitabnya Fara’id as-Sirnthain.

4. Ibnu Sa’ad, di dalam kitabnya ath-Thabaqat al-Kubra.

5. Al-Hafidz as-Suyuthi, di dalam kitabnya Ihya al-Mayyit.

6. Al-Hafidz al-’Asqalani, di dalam kitabnya al-Mawahib al-Ladunniyyah.

7. Al-Hafidz Nuruddin al-Haitsami, di dalam kitabnya Majma’ az-zawa’id.

8. ‘Allamah an-Nabhani, di dalam kitabnya al-Anwar al-Muhammadiyyah.

9. Allamah ad-Darimi, di dalam sunannya.

10. Al-Hafidz Abu Bakar Ahmad bin Husain bin Ali al-Baihaqi, di dalam kitabnya as-Sunan al-Kubra.

11. ‘Allamah al-Baghawi, di dalam kitabnya Mashabih as-Sunnah.

12. Al-Hafidz Abu al-Fida bin Katsir ad-Dimasyqi, di dalam kitabnya Tafsir al-Qur’an.

13. Kitab Jami’ al-Atsir, karya Ibnu Atsir.

14. Muhaddis terkenal, Ahmad bin Hajar al-Haitsami al-Maliki, yang wafat pada tahun 914 Hijrah, di dalam kitabnya ash- Shawa’ig al-Muhriqah fi ar-Radd ‘ala Ahlil Bida’ wa az- Zanadiqah, cetakan kedua, tahun 1965, Perpustakaan Kairo.

Setelah meriwayatkan hadis tsaqalain Ibnu Hajar berkata, “Ketahuilah bahwa hadis tentang kewajiban berpegang teguh pada keduanya (Kitab Allah dan Ahlul Bait) diriwayatkan melalui berbagai jalan oleh lebih dari dua puluh orang sahabat. Jalan riwayat hadis itu telah disebutkan secara terperinci pada bab kesebelas (dari kitabnya yang bernama ash-Shawa’iq al-Muhriqah).

Di antaranya disebutkan bahwa hadis itu diucapkan Rasulullah saw di Arafah pada waktu haji wada’. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa beliau mengucapkannya ketika sakit menjelang wafat, di hadapan para sahabat yang memenuhi kamar beliau. Riwayat lain lagi menyebutkan bahwa beliau mengucapkannya di Ghadir Khum. Ada juga riwayat yang menyebutkan bahwa beliau mengucapkan ucapannya itu pada saat beliau pulang dari Thaif, ketika beliau berpidato di hadapan para sahabat. Tidak dapat dikatakan bahwa riwayat-riwayat itu saling bertentangan, sebab mungkin saja Rasulullah saw sengaja mengulang-ulang pesannya itu di berbagai tempat dan situasi untuk menunjukkan betapa besar perhatian beliau terhadap Al-Qur’an dan Ahlul Bait yang suci. Pada sebuah riwayat yang berasal dari Thabrani, dari Ibnu Umar yang berkata bahwa perkataan terakhir yang diucapkan oleh Rasulullah ialah, ‘Berbuat baiklah kamu terhadap Ahlul Baitku.’ Sementara pada riwayat lain yang berasal dari Thabrani dan Abi Syeikh disebutkan, ‘Allah SWT mempunyai tiga kehormatan. Barangsiapa yang menjaga ketiganya maka Allah akan menjaga agama dan dunianya, dan barangsiapa yang tidak menjaga ketiganya maka Allah tidak akan menjaga dunia dan akhiratnya. Saya bertanya, ‘Apa ketiganya itu?’ Rasulullah saw menjawab, ‘Kehormatan Islam, kehormatanku dan kehormatan kerabatku.’ Pada riwayat Bukhari yang berasal dari ash-Shiddiq dikatakan, ‘Wahai manusia, apakah Muhammad mencintai Ahlul Baitnya? Artinya, jagalah Rasulullah dengan menjaga Ahlul Baitnya dan dengan tidak menyakitinya. Ibnu Sa’ad dan Mala meriwayatkan di dalam sirahnya bahwa Rasulullah saw telah bersabda, ‘Saya berpesan kepadamu untuk berbuat baik kepada Ahlul Baitku. Karena sesungguhnya besok aku akan memusuhimu tentang perihal mereka. Barang siapa yang aku menjadi musuhnya maka aku akan memusuhinya, dan barangsiapa yang aku musuhi maka dia akan masuk ke dalam neraka.’ Juga disebutkan bahwa Rasulullah bersabda, ‘Barangsiapa yang menjagaku pada Ahlul Baitku maka berarti dia telah mengambil perjanjian di sisi Allah.’ Ibnu Sa’ad dan Mala meriwayatkan: Yang pertama, hadis yang berbunyi, ‘Aku dan Ahlul Baitku adalah sebuah pohon di surga, yang dahan-dahannya menjulur sampai ke dunia, maka barangsiapa yang hendak mengambil jalan menuju Allah maka dia harus berpegang teguh kepada Ahlul Baitku.’

Adapun yang kedua adalah hadis yang berbunyi, ‘Pada setiap generasi umatku terdapat manusia-manusia adil dari kalangan Ahlul Baitku, yang menyingkirkan dari agama ini segala bentuk penyimpangan orang-orang yang sesat, pemalsuan orang-orang yang batil, dan petakwilan orang-orang yang bodoh.’ Adapun riwayat yang kedua ialah hadis yang berbunyi, ‘lngatlah, sesungguhnya pemimpin-pemimpin kamu adalah utusan kamu kepada Allah, maka oleh karena itu perhatikanlah siapa yang kamu jadikan utusan …’ Kemudian mereka berkata, ‘Rasulullah saw menamakan keduanya dengan nama ats-Tsaqalain dikarenakan ats-tsaql ialah segala sesuatu yang berharga, mulia dan terjaga; dan ke-duanya memang demikian. Karena keduanya adalah tambang ilmu-ilmu agama, hikmah dan hukum syariat. Oleh karena itu, Rasulullah saw menganjurkan untuk mengikuti mereka, berpegang teguh kepada mereka dan belajar dari mereka. Rasulullah saw bersabda, ‘Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan hikmah Ahlul Bait di tengah-tengah kita.’ Ada pendapat yang mengatakan bahwa keduanya dinamakan dengan ats-Tsaqlain adalah dikarenakan beratnya bobot kewajiban menjaga hak-hak mereka …”

Apakah Anda telah menjaga semua ini, wahai Ibnu Hajar, menjaga Rasulullah saw di dalam Ahlul Baitnya, mengikuti mereka dan mengambil agama dari mereka?!

Atau sebaliknya, apakah Anda hanya mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak ada di hati Anda?! “Sungguh besar kemurkaan di sisi Allah bahwa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan.”

Sungguh benar Imam Ja’far ash-Shadiq as manakala mengatakan, “Mereka mengklaim mencintai kami namun pada saat yang sama mereka melakukan pembangkangan terhadap kami.” Ibnu Hajar dan orang-orang yang sepertinya, mereka mengklaim mencintai dan mengikuti Ahlul Bait, namun pada saat yang sama mereka mengambil agama mereka dari orang-orang yang telah menzalimi Ahlul Bait. Dan Ibnu Hajar sendiri, tatkala membuktikan keutamaan-keutamaan Ahlul Bait dan mengakui kewajiban berpegang teguh kepada mereka, namun pada saat yang sama dia menyerang Syi’ah di dalam kitabnya ash-Shawa’iq, memasukkan mereka ke dalam kelompok yang sesat, dan mencaci maki mereka dengan seburuk-buruknya cacian.

Lantas, apa dosa mereka, wahai Ibnu Hajar?! Apakah hanya karena mereka mengikuti Ahlul Bait dan mengambil agama dari kalangan mereka.

Keraguan-raguan Terhadap Hadis Tsaqalain
Di dalam kitabnya yang berjudul al-’llal al-Mutanahiyah fi al-Ahadits al-Wahiyah Ibnu al-Jauzi mencela hadits ats-tsaqalain. Dia mengatakan, setelah sebelumnya mengutip hadis ini, “Hadis ini tidak sahih. Adapun ‘Athiyyah telah didhaifkan oleh Ahmad, Yahya dan selain dari mereka berdua. Adapun tentang Abdullah al-Quddus, Yahya telah mengatakan bahwa dia itu bukan apa-apa dan dia itu seorang rafidhi yang jahat. Sedang mengenai Abdullah bin Dahir, Ahmad dan Yahya telah mengatakan bahwa dia itu bukan apa-apa dan bukan termasuk manusia yang terdapat kebaikan dalam dirinya.”

Menolak Keragu-Raguan
1. Sanad hadis tsaqalain tidah hanya terbatas pada sanad ini saja. Hadis tsaqalain telah diriwayatkan melalui berbagai jalan, sebagaimana yang telah dijelaskan.

2. Muslim telah meriwayatkannya di dalam kitab sahihnya melalui banyak jalan. Dan, tidak diragukan bahwa riwayat Muslim, meski pun hanya melalui satu jalan sudah cukup untuk membuktikan kesahihannya, dan ini merupakan sesuatu yang tidak diperselisihkan di kalangan Ahlus Sunnah.

3. Demikian juga Turmudzi telah meriwayatkannya di dalam sahihnya melalui banyak jalan: Dari Jabir, dari Zaid bin Arqam, dari
Abu Dzar, dari Abu Sa’id dan dari Khudzaifah.

4. Perkataan Ibnu al-Jauzi sendiri di dalam kitabnya al-Mawdhu’at, jilid 1, halaman 99 yang berbunyi,

“Manakala Anda melihat sebuah hadis yang tidak terdapat di dalam diwan-diwan Islam (al-Muwaththa, Musnad Ahmad, Sahih Bukhari dan Sahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Turmudzi dan sebagainya) maka periksalah. Jika hadis ini mempunyai bandingan di dalam kitab-kitab sahih dan hasan maka tetapkanlah urusannya.” Dengan demikian berarti dia telah menentang dirinya sendiri, karena hadis ini telah diriwayatkan di dalam kitab-kitab hadis yang dinamakannya sebagai diwan-diwan Islam.

5. Sesungguhnya perkataan Ibnu al-Jauzi yang berkenaan dengan ‘Athiyyah itu tertolak disebabkan penguatan yang diberikan oleh Ibnu Sa’ad terhadapnya. Ibnu Hajar al-’Asqalani telah berkata, “Ibnu Sa’ad telah berkata, “Athiyyah pergi bersama Ibnu al- Asy’ats, lalu Hajjaj menulis surat kepada Muhammad bin Qasim untuk memerintahkan ‘Athiyyah agar mencaci maki Ali, dan jika dia tidak melakukannya maka cambuklah dia sebanyak empat ratus kali dan cukurlah janggutnya. Muhammad bin Qasim pun memanggilnya, namun ‘Athiyyah tidak mau mencaci maki Ali, maka dijatuhkanlah ketetapan Hajaj kepadanya. Kemudian ‘Athiyyah pergi ke Khurasan, dan dia terus tinggal di sana hingga Umar bin Hubairah memerintah Irak. ‘Athiyyah tetap terus tinggal di Khurasan hingga meninggal pada tahun seratus sepuluh hijrah. Insya Allah, dia seorang yang dapat dipercaya, dan dia mempunyai hadis-hadis yang layak.”[5] Padahal diketahui bahwa Ibnu Sa’ad adalah termasuk seorang nawasib yang memusuhi Ahlul Bait. Tingkat permusuhannya ter-hadap Ahlul Bait sampai sedemikian rupa sehingga Imam Ja’far ash-Shadiq as mendhaifkannya. Maka penguatan yang diberikannya kepada ‘Athiyyah cukup menjadi hujjah atas musuh.

6. Sesungguhnya ‘Athiyyah termasuk orangnya Ahmad bin Hanbal, dan Ahmad bin Hanbal tidak meriwayatkan kecuali dari orang yang dapat dipercaya (ats-tsiqah), sebagaimana yang sudah diketahui. Ahmad telah meriwayatkan banyak riwayat darinya, sehingga penisbahan pendhaifan ‘Athiyyah kepada Ahmad adalah sebuah kebohongan yang nyata. Taqi as-Sabaki telah mengatakan, “Ahmad —semoga Allah merahmatinya— tidak meriwayatkan kecuali dari orang yang dapat dipercaya (ats-tsiqah). Musuh (maksudnya Ibnu #SENSOR#miyyah) telah berterus terang tentang hal itu di dalam kitab yang dikarangnya untuk menjawab al-Bakri, setelah sepuluh kitab lainnya. Ibnu #SENSOR#miyyah berkata, ‘Sesungguhnya para ulama hadis yang mempercayai ilmu al-Jarh wa at-Ta’dil ada dua kelompok. Sebagian dari mereka tidak meriwayatkan kecuali dari orang yang dapat dipercaya dalam pandangan mereka, seperti Malik, Ahmad bin Hanbal dan lainnya.’”[6]

7. Penguatan yang diberilan oleh cucu Ibnu Jauzi kepada ‘Athiyyah. Cucu Ibnu Jauzi dengan tegas memberikan penguatan terhadap ‘Athiyyah dan menolak pendhaifannya.

8. Adapun usaha Ibnu Jauzi menisbahkan pendhaifan ‘Athiyyah kepada Yahya bin Mu’in itu tertolak, didasarkan kepada penukilan a-Dawri dari Ibnu Mu’in yang mengatakan bahwa ‘Athiyyah adalah seorang yang saleh. Al-Hafidz Ibnu Hajar telah berkata tentang biografi ‘Athiyyah, “Ad-Dawri telah berkata dari Ibnu Mu’in bahwa ‘Athiyyah adalah seorang yang saleh.”[7] Dengan begitu, gugurlah apa yang telah dinisbahan Ibnu Jauzi kepada Yahya Mu’in.

Sesuatu yang menunjukkan kebodohan Ibnu Jauzi akan hadis tsaqalain ialah dia mengira bahwa dengan semata-mata mendhaifkan ‘Athiyyah berarti dia telah mendhaifkan hadis tsaqalain, padahal sudah diketahui dengan jelas bahwa penguatan atau pendhaifan ‘Athiyyah sama sekali tidak mencemarkan hadis tsaqalain. Karena hadis yang telah diriwayatkan oleh ‘Athiyyah dari Abi Sa’id juga telah diriwayatkan dari Abi Sa’id oleh Abu Thufail, yang termasuk ke dalam kategori sahabat. Dan jika kita melangkah lebih jauh lagi dari itu niscaya kita akan menemukan bahwa kesahihan hadis tsaqalain tidak bergantung kepada riwayat Abi Sa’id, baik yang melalui jalan ‘Athiyyah maupun yang melalui jalan Abu Thufail. Jika seandainya kita menerima ke-dhaifan riwayat Abi Sa’id dengan semua jalannya, maka yang demikian itu tidak membahayakan sedikit pun terhadap hadis ini, disebabkan banyaknya riwayat dan jalan lain yang dimilikinya.

Jawaban Kepada Ibnu Jauzi Atas Pendhaifannya Terhadap Ibnu Abdul Quddus
1.Adapun celaannya terhadap Abdullah bin Abdul Quddus tertolak dengan penguatan yang diberikan oleh al-Hafidz Muhammad bin Isa terhadap Abdullah bin Abdul Quddus. Al-Hafidz Muhammad bin Isa berkata tentang biografi Abdullah bin Abdul Quddus, “Ibnu ‘Uday telah menceritakan dari Muhammad bin Isa yang mengatakan, ‘Dia (Abdullah bin Abdul Quddus) itu dapat dipercaya.”‘[8]

Al-Hafidz Ibnu Hajar al-’Asqalani berkata, “Telah diceritakan bahwa Muhammad bin Isa telah berkata, ‘Dia itu dapat dipercaya.’”[9]

Adapun tentang Muhammad bin Isa, al-Hafidz adz-Dzahabi telah berkata, “Abu Hatim telah berkata, ‘Dia seorang yang dapat dipecaya. Saya belum pernah melihat dari kalangan muhaddis yang lebih menguasai bab-bab hadis melebihi dia.’ Abu Dawud telah berkata, ‘Dia seorang yang dapat dipercaya.’”

2. Muhammad bin Hayan memasukkan Abdullah bin Abdul Quddus ke dalam kelompok orang yang dapat dipercaya. Ibnu Hajar telah berkata tentang biografi Abdullah bin Abdul Quddus, “Ibnu Hayan telah memasukkannya ke dalam kelompok orang yang dapat dipercaya.”[10]

3. Al-Haitsami telah menukil di dalam kitabnya Majma’ az-Zawa’id, “Bukhari dan Ibnu Hayan telah menguatkannya.”

4. Al-Hafidz al-’Asqalani telah berkata tentang biografinya, “Dia, pada dasarnya adalah seorang yang amat jujur, hanya saja dia meriwayatkan dari kaum-kaum yang dhaif.”[11]

Kritikan Bukhari terhadap Ibnu Abdul Quddus, setelah sebelumnya dia menguatkannya, bahwa dia meriwayatkan dari orang-orang yang lemah tidaklah tertuju kepada hadis ini. Karena Ibnu Abdul Quddus meriwayatkan hadis tsaqalain —yang disebutkan oleh Ibnu Jauzi— dari al-A’masy, dan dia adalah seorang yang dapat dipercaya.

5.Abdulah bin Abdul Quddus adalah termasuk orangnya Bukhari di dalam kitab sahihnya, di dalam bab at-Ta’liqat. Sebagaimana juga disebutkan di dalam kitab Tahdzib at-Tahdzib, jilid 5, halaman 303; dan juga kitab Tagrib at-Tahdzib, jilid 1, halaman 430. Kelulusan yang diberikan oleh Bukhari kepadanya, meskipun itu terdapat di dalam bab at-Ta’liqat merupakan bukti penguatan Bukhari terhadapnya.

Ibnu Hajar al-’Asqalani, di dalam memberikan jawaban terhadap tuduhan yang dilontarkan kepada orang-orang Bukhari berkata di dalam mukaddimah Fath al-Bari fi Syarh Shahih al-Bukhari, “Sebelum menyelami masalah ini, hendaknya setiap orang yang sadar mengetahui bahwa kelulusan yang diberikan oleh pemilik kitab sahih ini —yaitu Bukhari— kepada perawi mana saja, menuntut keadilan perawi tersebut dalam pandangan Bukhari, kebenaran rekamannya dan ketidaklalaiannya. Apalagi mayoritas para imam menamakan kedua kitab ini sebagai dua kitab sahih. Makna ini tidak berlaku bagi orang yang tidak diluluskan di dalam kedua kitab sahih ini.”

6. Abdullah bin Abdul Quddus termasuk orangnya Turmudzi.

7. Pencemaran terhadap Abdullah bin Abdul Quddus juga tidak membahayakan hadis ini. Bahkan sekali pun dengan riwayat al-A’masy dari ‘Athiyyah, dari Abi Sa’id, disebabkan tidak hanya Abdullah bin Abdul Quddus sendiri yang meriwayatkan hadis ini dari al- A’masy. Hadis ini juga telah diriwayatkan dari al-A’masy oleh Muhammad bin Thalhah bin al-Musharrih al-Yami dan Muhammad bin Fudhail bin Ghazwan adh-Dhibbi di dalam Musnad Ahmad dan Turmudzi, sebagaimana yang telah dijelaskan kepada Anda. Dan ini merapakan bukti kebenaran riwayat ini. Sebagaimana juga al-A’masy tidak hanya meriwayatkan hadis ini dari ‘Athiyyah, dia juga meriwayatkan hadis ini dari Abdul Malik bin Abi Sulaiman Masiri al-Ghazrami dan Abi Israil Ismail bin Khalifah al-’Abasi, sebagaimana disebutkan di dalam Musnad Ahmad, dan juga dari Harun bin Sa’ad al-’Ajali dan Katsir bin Ismail at-Timi, sebagaimana terdapat di dalam Mu’jam ath-Thabrani.

Adapun Pendhaifan Ibnu Jauzi Terhadap Abdullah bin Dahir:

1. Ini bertentangan dengan kaidah-kaidah ilmu al-Jarh wa at-Ta’dil. Karena tuduhan samar tidak dapat diterima dari siapa pun.

2. Tidak ada sebab yang rasional untuk menuduhnya di dalam riwayat ini, selain karena periwayatannya tentang keutamaan-keutamaan Amirul Mukminin. Sebagaimana dikatakan oleh adz-Dzahabi, “Ibnu ‘Adi berkata, ‘Kebanyakan riwayat yang diriwayatkannya berkenaan dengan keutamaan-keutamaan Ali, dan dia menjadi tertuduh karena hal itu.’”[12] Sungguh, pendhaifannya karena sebab ini tidak dapat diterima.

3. Dan yang lebih mengherankan dari Ibnu al-Jauzi ialah dia berusaha sedemikian rupa untuk mendhaifkan hadis ini dengan cara memasukkan Abdullah bin Dahir ke dalam sanad hadis ini, padahal dengan jelas diketahui bahwa Abdullah bin Dahir sama sekali tidak termasuk ke dalam sanad hadis ini. Silahkan rujuk kepada riwayat- riwayat yang telah disebutkan dan juga riwayat-riwayat yang belum kami sebutkan, apakah Anda mendapati Abdullah bin Dahir di dalam sanad hadis ini?! Dan saya tidak memahami hal ini selain dari permusuhan kepada Ahlul Bait dan usaha-usaha untuk menghapus hak-hak mereka. Akan tetapi Allah enggan akan hal itu kecuali Dia menyempurnakan cahaya-Nya, meskipun orang-orang yang kafir tidak suka.

4. Cucu Ibnu al-Jauzi, setelah menyebutkan hadis tsaqalain dari Musnad Ahmad bin Hambal dia mengatakan, “Jika dikatakan, ‘Kakek Anda telah mengatakan di dalam kitab al-Wahiyah, ‘…. (lalu dia menyebutkan perkataan Ibnu al-Jauzi di dalam mendhaifkan hadis ini, sebagaimana yang telah disebutkan)’, maka saya katakan, ‘Hadis yang kami riwayatkan telah disahkan oleh Ahmad di dalam al-Fadhail, dan tidak ada seorang pun di dalam sanadnya yang didhaifkan oleh kakek saya. Abu Dawud juga telah mensahkannya di dalam sunannya, dan begitu juga Turmudzi dan mayoritas kalangan muhaddis. Razin juga telah menyebutkannya di dalam kitab al-Jam’ Baina ash-Shabah. Sungguh mengherankan bagaimana mungkin hadis yang diriwayatkan oleh Muslim di dalam sahihnya dari Zaid bin Arqam dapat tersembunyi dari kakek saya.’”[13] Apa yang dikatakan oleh cucu Ibnu al-Jauzi tidak lain merupakan pembenaran bagi Ibnu al-Jauzi. Karena jika tidak maka tentu Ibnu al-Jauzi tidak lalai akan hadis yang dapat disaksikan di dalam referensi-referensi kaum Muslimin ini, dengan banyaknya ilmu dan pengetahuan yang dimilikinya, namun dia ingin menipu dan membuat makar maka Allah pun membuat makar terhadapnya dan menggagalkan urusannya.

Setelah terbukti dengan jelas kesahihan hadis ini bagi kita, maka kita wajib menyingkap penunjukkan maknanya, untuk kemudian berpegang teguh kepadanya.

Indikasi Hadis Tsaqalain Terhadap Keimamahan Ahlulbayt
Penunjukkan makna hadis tsaqalain terhadap keimamahan Ahlul Bait adalah sesuatu yang amat jelas bagi setiap orang yang adil. Karena makna hadis tsaqalain menunjukkan kepada wajibnya mengikuti mereka di dalam masalah-masalah keyakinan, hukum dan pendapat, dan tidak menentang mereka baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan. Karena amal perbuatan apa pun yang melenceng dari kerangka mereka maka dianggap telah keluar dari Al-Qur’an, dan tentunya juga telah keluar dari agama.

Dengan demikian, mereka adalah ukuran yang teliti, yang dengannya dapat diketahui jalan yang benar. Karena sesungguhnya tidak ada petunjuk kecuali melalui jalan mereka dan tidak ada kesesatan kecuali dengan menentang mereka. Inilah yang dimaksud dengan ungkapan, “jika kamu berpegang teguh kepada keduanya niscaya kamu tidak akan tersesat”. Karena yang dimaksud berpegang teguh kepada Al-Qur’an ialah mengamalkan apa yang ada di dalamnya, yaitu menuruti perintahnya dan menjauhi laranganya. Demikian juga halnya dengan berpegang teguh kepada ‘ltrah Ahlul Bait. Karena jawab syarat tidak akan dapat terlaksana kecuali dengan terlaksananya yang disyaratkan (al-masyruth) terlebih dahulu. Dhamir (kata ganti) “bihima” kembali kepada al-Kitab dan ‘ltrah. Saya kira tidak ada seorang pun dari orang Arab, yang mempunyai pemahaman sedikit tentang bahasa, yang menentang hal ini. Dengan demikian, maka mengikuti Ahlul Bait sepeninggal Rasulullah saw adalah sesuatu yang wajib, sebagaimana juga mengikuti Al-Qur’an adalah sesuatu yang wajib, terlepas dari siapa yang dimaksud dengan Ahlul Bait itu. Karena hal ini merupakan pembahasan berikutnya.

Yang penting di sini ialah kita membuktikan bahwa perintah dan larangan serta ikutan adalah milik Ahlul Bait. Adapun pembahasan mengenai siapa mereka, berada di luar konteks pembahasan hadis ini. Sebagaimana para ulama ilmu ushul mengatakan, “Sesungguhnya proposisi tidak menetapkan maudhu-nya”‘, maka tentu Ahlul Bait adalah para khalifah sepeninggal Rasulullah saw. Sabda Rasulullah yang berbunyi “Aku tinggalkan padamu….” adalah merupakan nas yang jelas bahwa Rasulullah saw menjadikan mereka sebagai khalifah sepeninggal beliau, dan berpesan kepada umat untuk mengikuti mereka. Rasulullah saw menekankan hal ini dengan sabdanya “Maka perhatikanlah bagaimana kamu memperlakukan keduanya sepeninggalku”. Kekhilafahan Al-Qur’an sudah jelas, sementara kekhilafahan Ahlul Bait tidak dapat terjadi kecuali dengan keimamahan mereka.

Oleh karena itu, Kitab Allah dan ‘ltrah Rasulullah saw adalah merupakan sebab yang menyampaikan manusia kepada keridaan Allah. Karena mereka adalah tali Allah yang kita telah telah diperintahkan oleh Allah untuk berpegang teguh kepadanya, “Dan berpegang teguh lah kamu kepada tali Allah.” (QS. Ali ‘lmran: 103)

Ayat ini bersifat umum di dalam menentukan apa dan siapa tali Allah yang dimaksud. Sesuatu yang dengan jelas dapat disimpulkan dari ayat ini ialah wajibnya berpegang teguh kepada tali Allah; lalu kemudian datang sunah dengan membawa hadis tsaqalain dan hadis-hadis lainnya, yang menjelaskan bahwa tali yang kita diwajibkan berpegang teguh kepadanya ialah Kitab Allah dan Rasulullah saw.

Sekelompok para mufassir telah mengatakan yang demikian itu. Ibnu Hajar telah menyebut nama-nama mereka di dalam kitabnya ash-Shawa’iq, di dalam bab “Apa-Apa Yang Diturunkan Dari Al-Qur’an Tentang Ahlul Bait”. Silahkan Anda merujuknya!

Al-Qanduzi menyebutkannya di dalam kitabnya Yanabi’ al-Mawaddah. Dia berkata tentang firman Allah SWT yang berbunyi “Dan berpegang teguhlah kamu semua kepada tali Allah”, “Tsa’labi telah mengeluarkan dari Aban bin Taghlab, dari Ja’far ash-Shadiq as yang berkata, ‘Kami inilah tali Allah yang telah Allah katakan di dalam firman-Nya ‘Dan berpegang teguhlah kamu semua kepada tali Allah danjanganlah berpecah-belah.’” Penulis kitab al-Manaqib juga mengeluarkan dari Sa’id bin Jabir, dari Ibnu Abbas yang berkata, “Kami pernah duduk di sisi Rasulullah saw, lalu datang seorang orang Arab yang berkata, ‘Ya Rasulullah, saya dengar Anda berkata, ‘Berpegang teguhlah kamu kepada tali Allah’, lalu apa yang dimaksud tali Allah yang kita diwajibkan berpegang teguh kepadanya?’ Rasulullah saw memukulkan tangannya ke tangan Ali seraya berkata, ‘Berpegang teguhlah kepada ini, dia lah tali Allah yang kokoh itu.’”[14]

Adapun sabda Rasulullah saw yang berbunyi “Keduanya tidak akan pernah berpisah hingga menemui aku di telaga”, menunjukkan kepada beberapa arti berikut:

Pertama, menetapkan kemaksuman mereka. Karena keseiringan mereka dengan Kitab Allah yang sama sekali tidak ada sedikit pun kebatilan di dalamnya, menunjukkan pengetahuan mereka tentang apa yang ada di dalam Kitab Allah dan bahwa mereka tidak akan menyalahinya, baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan. Jelas, munculnya penentangan dalam bentuk apa pun dari mereka terhadap Kitab Allah, baik disengaja maupun tidak disengaja, itu berarti keterpisahan mereka dari Kitab Allah. Padahal, secara tegas hadis mengatakan keduanya tidak akan pernah berpisah sehingga menjumpai Rasulullah saw di telaga. Karena jika tidak demikian, maka itu berarti menuduh Rasulullah saw berbohong. Pemahaman ini juga dikuatkan oleh dalil-dalil Al-Qur’an dan sunah. Kita akan tunda pembahasan ini pada tempatnya.

Kedua, sesungguhnya kata lan menunjukkan arti pelanggengan (ta’bidiyyah). Yaitu berarti bahwa berpegang teguh kepada keduanya akan mencegah manusia dari kesesatan untuk selamanya, dan itu tidak dapat terjadi kecuali dengan berpegang teguh kepada keduanya secara bersama-sama, tidak hanya kepada salah satunya saja. Sabda Rasulullah saw di dalam riwayat Thabrani yang berbunyi “Janganlah kamu mendahului mereka karena kamu akan celaka, janganlah kamu tertinggal dari mereka karena kamu akan binasa, dan janganlah kamu mengajari mereka karena sesungguhnya mereka lebih mengetahui dari kamu” memperkuat makna ini.

Ketiga, keberadaan ‘ltrah di sisi Kitab Allah akan tetap berlangsung hingga datangnya hari kiamat, dan tidak ada satu pun masa yang kosong dari mereka. Ibnu Hajar telah mendekatkan makna ini di dalam kitabnya ash-Shawa’iq, “Di dalam hadis-hadis yang menganjurkan untuk berpegang teguh kepada Ahlul Bait, terdapat isyarat yang mengatakan tidak akan terputusnya kelayakan untuk berpegang teguh kepada mereka hingga hari kiamat. Demikian juga halnya dengan Kitab Allah. Oleh karena itu, mereka adalah para pelindung bagi penduduk bumi, sebagaimana yang akan dijelaskan nanti. Hadis yang berbunyi ‘Pada setiap generasi dari umatku akan ada orang-orang yang adil dari Ahlul Baitku’, memberikan kesaksian akan hal ini. Kemudian, orang yang paling berhak untuk diikuti dari kalangan mereka, yang merupakan imam mereka ialah Ali bin Abi Thalib —karramallah wajhah, dikarenakan keluasan ilmunya dan ketelitian hasil-hasil istinbathnya.[15]

Keempat, kata ini juga menunjukkan kelebihan mereka dan pengetahuan mereka terhadap rincian syariat; dan itu dikarenakan keseiringan mereka dengan Kitab Allah yang tidak mengabaikan hal-hal yang kecil apalagi hal-hal yang besar. Sebagaimana Rasulullah saw telah bersabda, “Janganlah kamu mengajari mereka karena mereka lebih tahu darimu.”

Ringkasnya, mau tidak mau harus ada seorang dari kalangan Ahlul Bait pada setiap jaman hingga datangnya hari kiamat, yang ucapan dan perbuatannya tidak menyalahi Al-Qur’an, sehingga tidak berpisah darinya. Dan arti dari “tidak berpisah dari Al-Qur’an secara perkataan maupun perbuatan” ialah berarti dia maksum dari segi perkataan dan perbuatan, sehingga wajib diikuti karena merupakan pelindung dari kesesatan.

Tidak ada yang mengatakan arti yang seperti ini kecuali Syi’ah, di mana mereka mengatakan wajibnya adanya imam dari kalangan Ahlul Bait pada setiap jaman, yang terjaga dari segala kesalahan, yang kita wajib mengenal dan mengikutinya. Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang mati dalam keadaan tidak mengenal Imam jaman-nya maka dia mati sebagaimana matinya orang jahiliyyah.” Makna yang demikian ditunjukkan oleh firman Allah SWT yang berbunyi, “Dan pada hari di saat Kami memanggil setiap manusia dengan Imam mereka.” •

* Makalah ini adalah cuplikan dari buku “Kebenaran Yang Hilang”, karya Syeikh Mu’tashim Sayid Ahmad dengan pengeditan seperlunya.

[1] Tahdzîb at-Tahdzîb.

[2] Mir`ât al-Jinân, jld. 1, hal. 301.

[3] Taqrîb at-Tahdzîb, jld. 2, hal. 348.

[4] Tahdzîb al-Asmâ wa al-Lughât, jld. 2, hal. 91.

[5] Tahdzîb at-Tahdzîb, jld. 2, hal. 226.

[6] Syifâ al-Asqâm, jld. 10, hal. 11.

[7] Tahdzîb at-Tahdzîb, jld. 7, hal. 220.

[8] Khulâshah ‘Abaqât al-Anwâr, jld. 2, hal. 47.

[9] Tahdzib at-Tahdzib, jld. 5, hal. 303.

[10] Tahdzib at-Tahdzib, jld. 5, hal. 303.

[11] Tahdzib at-Tahdzib, jld. 5, hal. 303.

[12] Mizan al-l’tidal, jld. 2, hal. 417.

[13] Tadzkirah Khawash.

[14] Yanabi’ al-Mawaddah, hal. 118, terbitan Muassasah al-A’lami Beirut – Lebanon.

[15] Ash-Shawâ’iq, hal. 151.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: