1.MEMBONGKAR KESESATAN SYI’AH ????? SEMUA POiNT TUDUHAN KESESATAN SYi’AH TERNYATA 100% MAMPU KAMi PATAHKAN !!!!!!! 2.PERBEDAAN ANTARA AHLUSSUNNAH SUNNi DAN SYiAH

Posted on Mei 12, 2010 by syiahali

1. POKOK POKOK KESESATAN SYiAH ???, SEMUA POiNT TUDUHAN KESESATAN SYi’AH TERNYATA 100% MAMPU KAMi PATAHKAN !!!!!!!

2.PERBEDAAN ANTARA AHLUSSUNNAH SUNNi DAN SYiAH
————————————————————–

Obyek-Obyek Isu Kesesatan Syiah

Ada beberapa poin yang sering dituduhkan para pembenci Syiah untuk memprovokasi kaum muslimin agar turut mengikuti langkah mereka dengan menyebarkan fitnah-fitnah terhadap Syiah. Di sini, kita akan sebutkan beberapa obyek yang sering dijadikan bahan untuk penyesatan Syiah beserta jawaban ringkasnya;

1. Syiah menyelewengkan al-Qur’an

Ulama Syiah dari dulu hingga sekarang menolak pendapat tentang berlaku penyelewengan dalam bentuk seperti berlaku perubahan/tahrif, lebih atau kurangnya ayat-ayat Qur’an sama ada dari kitab-kitab Syiah atau Ahlul Sunnah.

Mereka berpendapat jika hujah berlakunya perubahan ayat-ayat Qur an diterima maka Hadith sohih Nabi Muhammad SAW yang bermaksud, “Aku tinggalkan kamu dua perkara supaya kamu tidak akan sesat selama-lamanya iaitu al-Qur an dan Sunnah/Ahl Bayt,” tidak boleh dipakai lagi kerana al-Qur an yang diwasiatkan oleh Nabi SAW untuk umat Islam sudah berubah dari yang asal sedangkan Syiah sangat memberatkan dua wasiat penting itu dalam ajaran mereka.Lagi pun Hadith-hadith yang diriwayatkan dalam kitab-kitab Syiah berkaitan dengan tahrif keatas al-Qur an yang berjumlah kira-kira 300 itu adalah Hadith-hadith dhaif. Begitu juga dalam kitab-kitab Sunnah seperti Sahih Bukhari turut menyebut tentang beberapa Hadith tentang perubahan ayat-ayat Qur an misalnya tentang ayat rejam yang dinyatakan oleh Umar al-Khattab, perbedaan ayat dalam Surah al-Lail dan sebagainya. Bukahkah Allah SWT telah berfirman dalam al-Qur’an (Surah 15:9),: “Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Zikr (al-Qur’an), dan sesungguhnya Kami memeliharanya.” Sekiranya seseorang itu menerima pendapat bahawa al-Qur’an telah diselewengkan oleh sesuatu golongan maka di sisi lain orang ini sebenarnya telah menyangkal kebenaran ayat di atas. Oleh itu semua pendapat tentang kemungkinan berlakunya tahrif dalam ayat-ayat Qur an sama ada dari Syiah atau Sunnah wajib ditolak sama sekali.

Imam Ja’far al-Sadiq AS meriwayatkan sebuah Hadith dari datuknya Rasulullah SAW: “Setiap Hadith yang kamu terima dan bersesuaian dengan Kitab Allah tidak diragukan datangnya dari aku dan Hadith-hadith yang kamu terima yang bertentangan dengan Kitab Allah, sesungguhnya bukan datang dariku.” [Al-Kulaini, al-Kafi, Jilid I, Hadith 205-5]

_____________________________________________________________

2. Nikah Mut’ah

Berhubung dengan isu hangat yaitu Nikah Mut’ah yang dikaitkan dengan zina, pendapat ini menimbulkan kemusykilan yang amat sangat. Ini karena menyamakan Mut’ah Nikah dengan zina membawa maksud seolah-olah Nabi Muhammad SAW pernah menghalalkan zina dalam keadaan-keadaan darurat seperti perang Khaibar dan pembukaan kota Mekah. Pendapat ini tidak boleh diterima karena perzinaan memang telah diharamkan sejak awal Islam dan tidak ada rokhsah dalam isu zina.

Sejarah menunjukkan bahwa Abdullah bin Abbas diriwayatkan pernah membolehan Nikah Mut’ah tetapi kemudian menarik balik fatwanya di zaman selepas zaman Nabi Muhammad SAW.

Kalau mut’ah telah diharamkan pada zaman Nabi SAW apakah mungkin Abdullah bin Abbas membolehkannya?

Sekiranya beliau tidak tahu [mungkinkah beliau tidak tahu?] tentang hukum haramnya mut’ah apakah mungkin beliau berani menghalalkannya pada waktu itu?

Fatwa Abdullah bin Abbas juga menimbulkan tanda tanya karena tidak mungkin beliau berani membolehkan zina [mut’ah] dalam keadaan darurat seperti makan bangkai, darah dan daging babi kerana zina [mut’ah] tidak ada rokhsah sama sekali walaupun seseorang itu akan mati jika tidak melakukan jimak. Sebaliknya Abdullah menyandarkan pengharaman mut’ah kepada Umar al-Khattab seperti tercatat dalam tafsir al-Qurtubi meriiwayatkan Abdullah bin Abbas berkata, ” Sekiranya Umar tidak mengharamkan mut’ah nescaya tidak akan ada orang yang berzina kecuali orang yang benar-benar jahat.” (Lihat tafsiran surah al-Nisa:24)

Begitu juga pengakuan sahabat Nabi SAW yaitu Jabir bin Abdullah dalam riwayat Sohih Muslim, ” Kami para sahabat di zaman Nabi SAW dan di zaman Abu Bakar melakukan mut’ah dengan segenggam korma dan tepung sebagai maharnya, kemudian Umar mengharamkannya karena Amr bin khuraits.”

Jelaslah mut’ah telah diamalkan oleh para sahabat Nabi Muhammad SAW selepas zaman Rasulullah SAW wafat. Oleh itu hadith-hadith yang meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW telah mengharamkan mut’ah nikah sebelum baginda wafat adalah hadith-hadith dhaif.

Dua riwayat yang dianggap kuat oleh ulama Ahlul Sunnah yaitu riwayat yang mengatakan nikah mut’ah telah dihapuskan pada saat Perang Khaibar dan pembukaan kota Mekah sebenarnya hadith-hadith yang dhaif. Riwayat yang mengaitkan pengharaman mut’ah nikah pada ketika Perang Khaibar lemah karena seperti menurut Ibn al-Qayyim ketika itu di Khaibar tidak terdapat wanita-wanita muslimah yang dapat dikawini. Wanita-wanita Yahudi (Ahlul Kitab) ketika itu belum ada izin untuk dikawini. Izin untuk mengahwini Ahlul Kitab seperti tersebut dalam Surah al-Maidah terjadi selepas Perang Khaibar. Tambahan pula kaum muslimin tidak berminat untuk mengawini wanita Yahudi ketika itu karena mereka adalah musuh mereka.

Riwayat kedua diriwayatkan oleh Sabirah yang menjelaskan bahwa nikah mut’ah diharamkan saat dibukanya kota Mekah (Sahih Muslim bab Nikah Mut’ah) hanya diriwayatkan oleh Sabirah dan keluarganya saja tetapi kenapa para sahabat yang lain tidak meriwayatkannya seperti Jabir bin Abdullah, Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud?

Sekiranya kita menerima pengharaman nikah mut’ah di Khaibar, ini bermakna mut’ah telah diharamkan di Khaibar dan kemudian diharuskan pada peristiwa pembukaan Mekah dan kemudian diharamkan sekali lagi. Ada pendapat mengatakan nikah mut’ah telah dihalalkan 7 kali dan diharamkan 7 kali sehingga timbul pula golongan yang berpendapat mut’ah nikah telah diharamkan secara bertahap seperti pengharaman arak dalam al-Qur’an tetapi mereka lupa bahwa tidak ada ayat Qur’an yang menyebutkan pengharaman mut’ah secara bertahap seperti itu. Ini hanyalah dugaan semata-mata.

Yang jelas nikah mut’ah dihalalkan dalam al-Qur’an surah al-Nisa:24 dan ayat ini tidak pernah dimansuhkan sama sekali. Al-Bukhari meriwayatkan dari Imran bin Hushain: “Setelah turunnya ayat mut’ah, tidak ada ayat lain yang menghapuskan ayat itu. Kemudian Rasulullah SAW pernah memerintahkan kita untuk melakukan perkara itu dan kita melakukannya semasa beliau masih hidup. Dan pada saat beliau meninggal, kita tidak pernah mendengar adanya larangan dari beliau SAW tetapi kemudian ada seseorang yang berpendapat menurut kehendaknya sendiri.”

Orang yang dimaksudkan ialah Umar. Walau bagaimanapun Bukhari telah memasukkan hadith ini dalam bab haji tamattu.

Pendapat Imam Ali AS adalah jelas tentang harusnya nikah muta’ah dan pengharaman mut’ah dinisbahkan kepada Umar seperti yang diriwayatkan dalam tafsir al-Tabari: “Kalau bukan kerana Umar melarang nikah mut’ah maka tidak akan ada orang yang berzina kecuali orang yang benar-benar celaka.”

Sanadnya sahih. Justeru itu Abdullah bin Abbas telah memasukkan tafsiran (Ila Ajalin Mussama) selepas ayat 24 Surah al-Nisa bagi menjelaskan maksud ayat tersebut adalah ayat mut’ah (lihat juga Syed Sobiq bab nikah mut’ah).

Pengakuan Umar yang menisbahkan pengharaman mut’ah kepada dirinya sendiri bukan kepada Nabi SAW cukup jelas bahawa nikah mut’ah halal pada zaman Nabi SAW seperti yang tercatat dalam Sunan Baihaqi, ” Dua jenis mut’ah yang dihalalkan di zaman Nabi SAW aku haramkan sekarang dan aku akan dera siapa yang melakukan kedua jenis mut’ah tersebut. Pertama nikah mut’ah dan kedua haji tamattu”.

Perlulah diingatkan bahwa nikah mut’ah yang diamalkan oleh Mazhab Syiah bukan bermaksud semua orang wajib melakukan nikah mut’ah seperti juga kehalalan kawin empat bukan bermaksud semua orang wajib kawin empat. Penyelewengan yang berlaku pada amalan nikah mut’ah dan kawin empat bukan disebabkan hukum Allah SWT itu lemah tetapi disebabkan oleh kejahilan seseorang itu dan kelemahan akhlaknya sebagai seorang Islam. Persoalannya jika nikah mut’ah sama dengan zina, apakah bentuk mut’ah yang diamalkan oleh para sahabat pada zaman Nabi Muhammad SAW dan zaman khalifah Abu Bakar? [catatan: Nikah muta’ah memang tidak sama dengan zina]

_____________________________________________________________

3. Syiah Kafir?

Dakwaan Syiah golongan kafir menimbulkan kemusykilan kerana pada setiap tahun orang-orang Syiah mengerjakan ibadat haji misalnya pada tahun 1996, 70,000 jemaah haji Iran mengerjakan haji. Oleh itu bagaimanakah boleh terjadi orang kafir (Syiah?) dibenarkan memasuki Masjidil Haram sedangkan al-Qur’an mengharamkan orang kafir memasuki Masjidil Haram?

_____________________________________________________________

4. Syiah Yahudi?

Dakwaan Syiah adalah hasil ajaran Yahudi dan Nasrani juga tidak dapat diterima oleh akal yang sehat. Sebagai contoh, pada masa ini pejuang Hizbollah (Syiah) berperang dengan Yahudi di Lebanon. Banyak yang gugur syahid. Semua orang tahu Israel memang takut dengan pejuang Hizbollah sebab itu mereka sengaja mengebom markas PBB pada tahun 1996 untuk menarik negara-negara barat mencari jalan menghentikan peperangan dengan Hizbollah itu. Fakta Abdullah bin Saba yang dikatakan penggagas ajaran Syiah adalah kisah khayalan saja. Cerita Abdullah bin Saba hanya dikutip oleh ahli-ahli sejarah seperti al-Tabari dari seorang penulis khayalan yang bernama Saif bin Umar al-Tamimi yang ditulis pada zaman Harun al-Rasyid. Jika seseorang itu meneliti hadith-hadith tentang kelebihan Ali atau hadith tentang Ali sebagai wasyi selepas Rasulullah SAW yang dikatakan ajaran Abdullah bin Saba – sebenarnya tidak terdapat riwayat yang mengutip dari Abdullah bin Saba. Sebaliknya banyak hadith-hadith tentang kelebihan Ali datangnya dari Rasulullah SAW. Umar bin al-Khattab pula sewaktu mendengar berita kewafatan Rasulullah SAW enggan mempercayai kewafatan Rasulullah SAW tetapi Umar percaya Rasulullah SAW tidak wafat sebaliknya baginda SAW pergi menemui TuhanNya seperti yang berlaku kepada Nabi Musa AS menghadap Tuhan selama 40 hari dan hidup selepas itu. Menurut Umar Rasulullah SAW hanya naik ke langit. Lihat Tabari, Tarikh al-Muluk wal Umman, Jilid III,halaman 198]. Kisah seperti ini tidak ada dalam catatan Hadith-hadith Nabi SAW tetapi mengapakah kita tidak menuduh Umar terpengaruh ajaran Yahudi?

____________________________________________________________

5. Syiah memaksumkan imam-imam mereka

Mereka berhujah dengan ayat Quran 33:33: “Sesungguhnya Allah hendak mengeluarkan dari kalian kekotoran [rijsa] wahai Ahlul Bayt dan menyucikan kalian sebersih-bersihnya.”

Istilah Ahlul Bayt menurut Hadith Rasulullah SAW merujuk kepada lima orang iaitu Rasulullah SAW, Fatimah, Ali, Hassan dan Husayn seperti yang diriwayatkan dalam Sohih Muslim. Perkataan rijsa [kekotoran] sudah tentu bukan kotor dari segi lain seperti najis dan sebagainya tetapi merujuk kepada dosa-dosa dan apabila Allah ‘hendak secara berterusan’ [yuridu] menyucikan mereka sebersih-bersihnya tidak boleh diragukan lagi ia merujuk kepada penyucian total dari semua dosa yang dalam istilah lain bermaksud mereka adalah maksum.

Tambahan pula banyak ayat-ayat Qur’an yang menjelaskan perintah Allah SWT supaya manusia berbuat ma’ruf dan meninggalkan perbuatan dosa. Apabila Allah SWT memerintah manusia berbuat ma’ruf dan meninggalkan dosa sudah tentu Allah SWT tahu bahwa manusia itu memang mampu meninggalkan dosa kerana Allah SWT tidak akan membebankan manusia dengan suatu perintah yang manusia tidak mampu buat.

Oleh itu sekiranya Syiah mengatakan imam mereka maksum yaitu tidak berbuat dosa serta Allah SWT memelihara mereka daripada perbuatan dosa berdasarkan Surah 33:33 itu, adakah ia bertentangan dengan al-Qur’an? Adakah mereka yang tidak maksum layak menduduki maqam Imam ummah?

____________________________________________________________

6. Syiah didakwa mengkafirkan para sahabat Nabi SAW

Syiah mendiskreditkan sahabat-sahabat “besar” Nabi SAW seperti Abu Bakar dan Umar. Abu Bakar adalah sahabat Nabi Muhammad SAW dalam gua ketika peristiwa hijrah dan merupakan khalifah yang pertama. Begitu juga Umar al-Khattab adalah sahabat Nabi SAW dan khalifah kedua.

Sesiapa yang mencaci sahabat digolongkan sebagai kafir serta keluar dari Islam (Nabi SAW menyatakan siapa yang mencaci seorang muslim adalah fasiq dan membunuhnya adalah kafir [Sahih Bukhari, Jilid I Hadith 48]).[Nota: Syiah tidak mencaci sahabat-sahabat Nabi SAW tetapi menunjukkan perbuatan ‘beberapa orang’ dari mereka yang menyalahi al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAW seperti yang tercatat dalam kitab-kitab sejarah dan Hadith. Mereka menilai dan mengkritik perangai setengah sahabat dengan dasar al-Qur’an dan Hadith Nabi SAW.] Dan jangan lupa! Nabi Muhammad SAW juga pernah bersabda bahawa terdapat sahabat yang masuk neraka seperti dalam riwayat Sahih Muslim dan Sahih Bukhari [akan dijelaskan di bawah].Istilah sahabat telah digunakan dalam al-Qur’an untuk Abu Bakar dan ini tidak serta-merta menunjukkan beliau terjamin masuk syurga dan tidak melakukan kesalahan.

Hubungan Abubakar dan Umar dengan ahlulbayt tidak lah mulus dengan diketahuinya penyerangan Rumah Ahlulbayt dan pendrobakan pintu rumah Imam Ali As sehingga menyebabkan keguguran janin Al Muhsin As. Serta Persaksian Sayyidah Fatimah As yang diredaksikan Muslim bahwa Beliau As tidak meridhoi keduanya akibat perbuatan zalim mereka kepada Ahlu Kisa As

Apakah kita lupa istilah sahabat juga digunakan dalam al-Qur an untuk teman Nabi Yusuf yang bukan beriman kepada Allah SWT ketika dalam penjara? Silakan baca Surah Yusuf untuk memuaskan hati kita (istilah sohibi al-Sijni digunakan=sahabatku dalam penjara [nota:beliau bukan Islam dan bersama Nabi Yusuf AS dalam penjara]). Memang Nabi Muhammad SAW mempunyai sahabat-sahabat yang baik seperti Ammar bin Yasir, Abu Dzar al-Ghifari, Salman al-Farisi dan sebagainya tetapi di Madinah juga ada golongan munafiq yang dipanggil “sahabat” oleh Nabi SAW seperti Abdullah bin Ubay bin Salool. Dalam Sohih Bukhari juga diriwayatkan bahawa ada segolongan “sahabat” yang bakal masuk neraka ketika berjumpa Nabi Muhammad SAW di al-Haudh. Nabi SAW memanggil mereka dengan istilah ‘ashabi’ [sahabatku]. Silakan rujuk Sahih Bukhari [Sahih Al-Bukhari, Jilid 4, hlm.94-96]; Sahih Muslim, Jilid IV, hadith 2133,2440.] Sahabat yang baik memang kita hormati , sanjungi dan ikuti tetapi sahabat yang jahat seperti Muawiyah yang menentang Imam Ali AS dan mencaci Ali AS di atas mimbar patutkah kita berdiam diri?

Bukankah pasukan Muawiyah terlibat membunuh Amar bin Yasir dalam Perang Siffin? Nabi SAW pernah menyatakan sebuah hadith dalam Sahih Bukhari menyifatkan orang yang terlibat dalam pembunuhan Amar adalah golongan pemberontak dan Rasulullah SAW bersabda [terjemahan]:…Kamu (Amar) mengajak kelompok itu menuju ke Jannah tetapi kelompok itu mengajak ke neraka.” [Sahih Bukhari, Jilid II,Hadith 462].

Al-Qur’an memerintahkan kita taat kepada Ulil Amri – pada ketika itu Imam Ali AS sebagai khalifah yang sah dan wajib ditaati. Adakah tindakan Muawiyah itu selaras dengan ajaran al-Qur’an dan tidak boleh dikritik?

Kita ikuti ‘sahabat yang baik’ dan kita tinggalkan contoh sahabat yang jauh dari ajaran al-Qur’an dan Hadith Nabi SAW. Sejarah menunjukkan bahwa seorang sahabat bernama al-Walid bin Utbah dikaitkan dengan asbabul nuzul ayat 6 Surah al-Hujurat yang menyatakan beliau seorang fasiq. Qudamah bin Maz un seorang sahabat Badar dihukum had pada zaman khalifah Umar karena minum arak seperti dalam riwayat Sahih Bukhari.

Jika ada orang yang masih teguh dengan pendirian bahawa semua sahabat adalah ‘adil maka apakah hukumnya Muawiyah mencaci Ali di atas mimbar? Apakah ijtihad Muawiyah boleh sampai mencaci Ali? Sebaliknya orang yang mengkritik Muawiyah dikatakan mencaci sahabat Nabi SAW? Jika seseorang yang menolak kekhalifahan Abu Bakar dianggap kafir, apakah pula hukumnya orang yang menolak perlantikan Ali setelah ada Hadith al-Ghadir yang menetapkan Ali AS sebagai khalifah selepas Nabi SAW wafat? Bolehkah umat Islam memilih selain dari yang telah ditetapkan oleh Rasulnya?

Alllah SWT berfirman dalam Surah Hud:113,: “Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh oleh api neraka…”

Dan banyak lagi ayat-ayat al-Qur’an yang menyuruh manusia berbuat adil, dan melarang mereka dari berbuat zalim [nota: standard “adil”atau sebaliknya adalah berpandukan Kitab Allah Azza Wa-Jalla dan tidak ada siapapun dikecualikan hatta para “sahabat” sekalipun]. Balasan Allah SWT di akhirat kelak berasaskan segala amalan manusia ketika hidup di dunia – yang baik ke syurga dan yang buruk ke neraka.

Ini bermakna istilah “sahabatku”dalam Hadith Nabi SAW tidak bermakna merujuk kepada semua sahabat [sekiranya jumlah yang hadir pada Haji Wida’ sebanyak 140,000 atau 90,000 orang] adalah adil belaka. Sahabat yang adil memang ada seperti Abu Dzar al-Ghiffari yang dinyatakan sendiri oleh Nabi Muhammad SAW [terjemahan]:”Tidaklah langit menaungi seseorang dan tidak bumi membawa seseorang yang lebih jujur daripada Abu Dzar RA.”[Sunan al-Tirmidzi, Hadith 3889]. Begitu juga terdapat segolongan sahabat yang ingkar mengikut perintah Nabi SAW terutama selepas Nabi SAW wafat dan menjadi seteru Ahlul Bayt AS [keluarga Nabi SAW] seperti yang tercatat dalam kitab-kitab sejarah. Nabi SAW bersabda seperti yang diriwayatkan dalam Sunan al-Tirmidzi, hadith 3878,[terjemahan]: “Cintailah Allah karena nikmat-nikmatNya yang diberikan kepadamu dan cintailah aku karena cinta kepada Allah dan cintailah keluargaku karena cinta kepadaku.”

Oleh sebab itu siapa yang memusuhi Ahlul Bayt AS memang menjadi musuh Rasulullah SAW dan Allah SWT. Bukankah Allah SWT telah melaknat golongan yang zalim dalam al-Qur’an? “Ingatlah, laknat Allah (ditimpakan) ke atas orang-orang yang zalim.” [Qur’an: 11: 18]

_____________________________________________________________

7. Syiah didakwa bukan mengikuti ajaran Ahlul Bayt Nabi SAW

Imam Ja’far al-Sadiq bukan Syiah tetapi Ahlul Sunnah. Sebaliknya semenjak kita belajar Ahlul Sunnah nama Imam Ja’far al-Sadiq tidak dikenal langsung tetapi golongan Syiah sering mengutip hadith-hadith dari beliau dalam pelbagai aspek ajaran Islam. Malahan semua sarjana fiqh bersepakat bahwa Jaafar al-Sadiq pengasas fiqh Madzhab Syiah Ja’fariyyah. Oleh itu dakwaan di atas dibuat atas dasar emosi dan tidak berasaskan akademik.

_____________________________________________________________

8. Syiah percaya kepada kepada al-Bada’

Tuduhan: Ilmu Allah Berubah-ubah Mengikut Sesuatu Peristiwa Yang Berlaku Kepada Manusia (al-Bada’).

Ulama Syiah tidak pernah menganggap Allah tidak mengetahui seperti tuduhan-tuduhan yang sengaja menyelewengkan maksud sebenarnya.

Al-Bada’ tidak bermaksud kejelasan yang sebelumnya samar dinisbahkan kepada Allah SWT.

Al-Bada’ yang difahami oleh ulama Syiah ialah adalah Allah berkuasa mengubah sesuatu kejadian dengan kejadian yang lain seperti nasikh dan mansukh sesuatu hukum syariah yang tercatat dalam al-Qur’an tetapi al-Bada’ menyangkut tentang sesuatu kejadian [takwini] seperti hidup dan mati dan seumpamanya.

Misalnya kisah penyembelihan Nabi Ismail AS tetapi kemudian Allah Azza Wa-Jalla menggantikannya dengan seekor kibas.

Alllah SWT berfirman dalam al-Qur’an 13:39: “Allah menghapus apa yang Ia kehendaki dan menetapkan [apa yang Ia kehendaki] dan di sisinya terdapat Umm al-Kitab [Lauh al-Mahfuzh].”

Sebuah hadith yang dipetik dari al-Kulaini dalam Kitabul Tauhid, Usul al-Kafi, hadith 373.:”Allah tidak menerbitkan [bada’] pada sesuatu melainkan ianya berada dalam ilmuNya sebelum [Allah menetapkan] berlakunya [bada’ tersebut].”

Hadith 374 menegaskan:” Sesungguhnya Allah tidak menerbitkan Bada’ dari kejahilan[Nya]“.

Syeikh al-Mufid menulis dalam bukunya Awail Maqalat: ” Apa yang saya fatwakan tentang masalah al-bada’ ialah sama dengan pendapat yang diakui oleh kaum muslimin dalam menanggapi masalah nasakh [penghapusan] dan sebagainya seperti memiskinkan kemudian membuat kaya, mematikan kemudian menghidupkan dan menambah umur dan rezeki kerana ada sesuatu perbuatan yang dilakukan. Itu semua kami kategorikan sebagai bada’ berdasarkan beberapa ayat dan nas-nas yang kami dapatkan dari para Imam.”

____________________________________________________________

9. Syiah mengamalkan taqiyah

Mereka mendakwa taqiyyah bermaksud berpura-pura dan sinonim dengan perbuatan golongan munafiq. Syeikh Muhammad Ridha al-Muzaffar menulis dalam bukunya Aqidah Syiah Imamiyyah: “Taqiyah merupkan motto Ahlul Bayt AS bermotifkan untuk melindungi agama, diri mereka dan pengikut mereka dari bencana dan pertumpahan darah, untuk memperbaiki keadaan kaum muslimin serta penyelarasan mereka, dan memulihkan ketertiban mereka.”

Mengikut Alamah Tabatabai’ dalam bukunya Islam Syiah bahawa sumber amalan taqiyah ini merujuk juga kepada al-Qur’an seperti Surah 3:28,: “Jangan sampai orang-orang beriman menjadikan orang-orang kafir sebagai teman-teman mereka selain orang-orang beriman. Barang siapa yang melakukan hal itu maka tidak ada pertolongan dari Allah kecuali untuk menjaga diri terhadap mereka [orang-orang kafir] dengan sebaik-baiknya. Allah memperingatkan kalian [agar selalu ingat] kepadaNya. Dan kepada Allahlah kalian kembali.”

Ungkapan menjaga diri terhadap orang-orang kafir dengan sebaik-baiknya diterjemahkan dari tattaquu minhum tuqatan dan kata tattaquu dan tuqatan mempunyai akar kata yang sama dengan taqiyah.

Ayat al-Qur’an yang berkaitan dengan peristiwa taqiyah Amar bin Yasir yang mencari perlindungan dengan mengaku kafir di hadapan musuh-musuh Islam iaitu dalam Surah 16:106: “…kecuali orang yang terpaksa, padahal hatinya tetap tenang dalam beriman…”

Jelaslah bahwa taqiyah bukan membawa maksud berpura-pura seperti yang sering didakwa oleh orang yang berpura-pura berilmu pengetahuan tetapi sarat dengan kejahilan dan niat yang buruk.

____________________________________________________________

10. Mengapa Syiah sujud di Tanah Karbala?

Soal mengapa pengikut Syi’ah bersujud di atas tanah Karbala tidak bertentangan dengan hukum fiqh dari semua madzhab.

Solat adalah perbuatan ibadah yang cara-caranya terikat kepada amalan Rasulullah SAW. Kaedah ini diterima oleh semua madzhab dan tidak ada yang berani mempertikaikannya atau dia akan keluar dari status “Muslim”.

Hadith Nabi SAW yang mulia menjelaskan tentang cara-cara bersujud seperti yang tercatat dalam Sahih Muslim, misalnya hadith nomor 469, [terjemahan]…. Dan di mana saja kamu berada, jika waktu solat telah tiba, maka solatlah, karena bumi ialah tempat bersujud (masjid)

Atau hadith nomor 473, [terjemahan] “….Bumi dijadikan suci bagiku [nota: misalnya debu tanah boleh digunakan untuk bertayammum] dan menjadi tempat sujud [wa ju’ilat ila-l-ardh tuhura wa-masjidan].

Dan memang orang-orang Syiah mengikut contoh Imam-imam mereka seperti Imam Ali Zainal Abidin AS dan seterusnya, yang meletakkan tanah Karbala sebagai tempat untuk bersujud.

Yang patut diingatkan bahawa Syiah tidak sujud kepada tanah Karbala. [nota: perbuatan ini tentunya syirik] tetapi di atas tanah Karbala untuk merendahkan diri di hadapan Allah SWT.Imam Ja’far al-Sadiq AS ketika ditanya perkara tersebut berkata: “….karena sujud adalah untuk merendahkan diri di hadapan Allah, oleh karena itu adalah tidak wajar seseorang itu bersujud di atas benda-benda yang dicintai oleh manusia di dunia ini.” [Wasa’il al-Syi’ah, Juzuk III, hlm.591]

Dalam hadith yang lain Imam Ja’far al-Sadiq AS menjelaskan bahwa: “Sujud di atas tanah lebih utama karena lebih sempurna dalam merendahkan diri dan penghambaan di hadapan Allah Azza Wa-Jalla.” [Al-Bihar, Juzuk, 85, hlm.154]

_____________________________________________________________

11. Mengapa Syiah tidak boleh menerima Madzhab Ahlul Sunnah Wal-Jama’ah?

As-Sayyid Syarafuddin al-Musawi al-’Amili seorang ulama Syi’ah dengan tegas menjelaskan: ” Bila dalam kenyataannya kami kaum Syiah tidak berpegang kepada Madzhab Asy’ari dalam hal usuluddin dan madzhab yang empat dalam cabang syari’at, maka ini sekali-kali bukan kerana kami taksub; bukan pula kerana meragukan usaha ijtihad para tokoh-tokoh madzhab tersebut.Dan juga bukan kerana kami menganggap mereka itu tidak memiliki kemampuan, kejujuran, kebersihan jiwa atau ketinggian ilmu dan amal, tetapi sebabnya ialah bahawa dalil-dalil syari’ah telah memaksa kami untuk berpegang hanya kepada madzhab Ahlul Bayt AS, ahli rumah Rasulullah SAW, pusat Nubuwwah dan Risalah, tempat persinggahan para malaikat, dan tempat turunnya wahyu al-Qur’an. Maka hanya dari merekalah kami mengambil cabang-cabang agama dan aqidahnya, usul fiqh dan kaedahnya.Pengetahuan tentang al-Qur’an dan al-Sunnah. Ilmu-ilmu akhlak, etika dan moral. Hal itu semata-mata kerana tunduk pada hasil kesimpulan dalil-dalil dan bukti-bukti. Dan sepenuhnya mengikuti petunjuk dan jejak penghulu para Nabi, Rasulullah SAW.” [As-Syarafuddin al-Musawi,al-Muruja’at (Dialog Sunnah-Syi’ah, Penerbit Mizan,hlm.17-18]

Imam Ja’far al-Sadiq AS berkata: “Hadith-hadith yang aku riwayatkan adalah dari ayahku. Dan semua hadith tersebut adalah riwayat dari datukku. Dan semua riwayat datukku adalah dari hadith datukku al-Husayn AS. Dan semua riwayat al-Husayn AS adalah dari hadith al-Hasan AS. Dan semua hadith al-Hasan AS dari datukku Amirul Mu’minin Ali AS; dan semua hadith Amirul Mu’minin Ali AS adalah dari hadith Rasulullah SAW. Dan hadith-hadith Rasulullah SAW adalah Qaul Allah Azza Wa-Jalla.” [Al-Kulaini,al-Kafi, Juzuk I, hadith 154-14]

Bagi Syiah, tidak ada dalil bagi seseorang itu untuk menerima selain dari Mazhab Ahlul Bayt AS karena perkara itu telah diputuskan oleh Allah SWT.

__________________________________________________________________

12. Imam Mahdi AS hidup lebih dari 1000 tahun

Mereka mendakwa kepercayaan bahawa Imam Mahdi AS masih hidup sejak peristiwa ghaib kubra pada tahun 329H adalah sesuatu kepercayaan yang karut. Mengapa mereka lupa bahwa Allah SWT telah menghidupkan nabi-nabi terdahulu dengan umur yang panjang seperti Nabi Nuh AS dan Nabi Adam AS? Malahan umat Islam percaya Nabi Isa AS masih hidup hingga kini sejak beliau diangkat ke langit oleh Allah SWT dalam peristiwa beliau diselamatkan dari pembunuhan pengikut-pengikutnya. Ini bermakna beliau as telah hidup lebih seribu tahun. Pemuda-pemuda Ashabul Kahfi di bangkitkan oleh Allah SWT setelah ditidurkan dengan begitu lama. Begitu juga umat Islam percaya Nabi Khidir as masih hidup hingga kini. Malahan iblis syaitan la’natullah alahi masih hidup sejak makhluk ini engkar kepada Allah SWT. Ini bermakna iblis syaitan telah hidup lebih lama dari 1,000 tahun. Tidakkah kisah-kisah ini menunjukkan bahawa umur panjang bagi Imam Mahdi AS bukanlah sesuatu yang mustahil kerana Allah SWT Maha Berkuasa bagi perkara yang sekecil itu.

_____________________________________________________________

13. Aqidah Raja’ah

Al-Allamah al-Safi menjawab tentang masalah rajaah seperti berikut: ” Qaul tentang raja’ah itu merupakan qaul dari itrah Rasulullah SAW yang suci. Perbahasan tentang masalah ini telah beredar dikalangan mereka dan selain dari mereka. Pedoman mereka dalam masalah ini adalah ayat-ayat Qur’an dan hadith-hadith yang mereka riwayatkan dengan sanad yang turun temurun dari datuk-datuk mereka sampai kepada datuk Rasulullah SAW.

Kenyataan yang tidak mungkin diingkari oleh para peneliti masalah-masalah keislaman adalah bahwa sumber aqidah raja’ah itu adalah imam-imam Ahlul Bayt AS yang telah ditetapkan kewajiban berpegang teguh kepada mereka dengan keterangan dari hadith al- tsaqalain dan lain-lainnya.

Pihak syiah mengatakan tentang raja’ah secara global. Mereka membandingkan hal ini dengan kejadian-kejadian para ummah terdahulu seperti yang diceritakan oleh Allah Ta’ala dalam firmanNya,: “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang keluar dari kampung halaman mereka, sedang mereka beribu-beribu (jumlahnya) kerana takut; maka Allah berfirman kepada mereka:” Matilah kamu,” kemudian Allah menghidupkan mereka (kembali)…” (Al-Baqarah:243).

Ayat yang lain,: “Atau apakah (kamu tidak mepmerhatikan) orang yang melalui suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atasnya. Dia berkata:” Bagaimanakah Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah ia roboh?” Maka Allah mematikan orang itu selama seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali….” (Al-Baqarah:259)

Dan boleh juga mengambil teladan dari firman Allah Ta’ala dalam ayat berikut: “Maka Kami pun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada pada dirinya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami melipatgandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah.” (Al-Anbiya:84)

Mereka golongan syiah mengatakan bahawa hal itu tidak mustahil akan terjadi kepada umat ini berdasarkan firman Allah Ta’ala: “Dan (ingatlah) hari (ketika) Kami kumpulkan dari tiap-tiap umat segolongan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, lalu mereka dibagi-bagikan (dalam kelompok-kelompok).” (Al-Naml:83)

Hari yang disebutkan Allah SWT dalam ayat di atas, tentu bukan Hari Qiamat, karena pada Hari Qiamat Allah membangkitkan semua umat manusia, sebagaimana yang difirmankanNya dalam ayat berikut: “Dan Kami kumpulkan seluruh manusia dan tidak Kami tinggalkan seorang pun dari mereka.” (Al-Kahfi:47)

Dalam dua ayat di atas, Allah SWT menyatakan bahawa Hari Kebangkitan itu ada dua. Kebangkitan umum dan kebangkitan khusus. Hari yang dibangkitkannya segolongan orang-orang dari tiap-tiap umat itu bukan Hari Qiamat, jadi ia tidak lain adalah Yaumul Raja’ah.

Adapun tentang perincian Yaumul Raja’ah itu tidak ada hadith-hadtih sahih yang menyatakannya. Hadith-hadith yang menyebutkan tentang perincian Yaumul Raja’ah adalah hadith-hadith dhaif sama ada dari segi dalalahnya ataupun sanadnya. Pendapat ini juga dinyatakan oleh Lutfollah Saafi Golpayegani dalam bukunya yang bertajuk “Aqidah Mahdi dalam Syiah Imamiyyah” menyatakan bahawa hadith-hadith perincian tentang Yaumul Raja’ah adalah hadith-hadith dhaif dan ditolak oleh ulama hadith syiah.

Aqidah Raja’ah mempunyai asas ajaran dalam al-Qur’an dan dinyatakan oleh para Imam Ahlul Bayt AS, oleh itu apakah wajar kita menolaknya?

_____________________________________________________________

14. Isu-isu al-Qur’an, Mushaf, dan Wahyu kepada Fatimah AS

Apabila dibicarakan tentang persamaan antara sunnah dan syiah berarti di situ pasti ada perbedaannya.

Permasalahannya apabila ada perbedaan, apakah pegangan kepada satu mazhab menjadi penilai

kebenaran dalam mengukur mazhab yang lain atau dikembalikan kepada Al Quran dan hadis dan

mengukurnya secara rasional yang bebas dari ketasuban bermazhab?

Fitnah terhadap syiah bukan satu yang baru dan sepertinya tidak akan berahkir. Setelah membaca banyak buku yang menyalahkan syiah, kami melihat hal ini disebabkan oleh beberapa perkara.

1- Menilai kebenaran berdasarkan mazhab tertentu.

2- Mentafsir sendiri riwayat syiah tanpa melihat penafsiran ulama syiah tentang hadis tersebut, sehingga natijah yang diambil berdasarkan selera sendiri.

3- Mengambil kata-kata ulama sebagai sandaran tanpa menilai kembali pandangan mereka dan suasana mereka mengeluarkan fatwa.

4- Menungkilkan hadis separuh-separuh hingga menyebabkan maknanya berubah.

5- Menanggap apa saja yang tertulis dalam kitab-kitab hadis muktabar syiah itu sahih sebagai mana Ahlussunnah menanggap semua yang ada dalam Bukhari itu sahih.

Kami berterima kasih kepada penulis ABC kerana komentarnya atas artikel ‘persamaan dan perbedaan antara sunnah dan syiah’. Izinkan kami di sini untuk mengomentar kembali tilisannya berdasarkan ukhwah islamiah dan perbahsan ilmiah tulen yang menjadi pemangkin kepada pendekatan antara mazhab2 islam untuk saling mengenali hingga tidak timbul tuduhan liar.

1- Al Quran

a- makna mushaf

Kebanyakan umat Islam menanggap bahwa perkataan ‘mushaf’ itu sinonim ‘Al Quran’. Sedangkan dalam lisan Al Quran dan hadis Rasul tidak demikian. Mushaf itu artinya kumpulan tulisan dan selepas wafat Rasul digunakan untuk ayat2 al quran dikumpulkan oleh para sahabat dan juga tulisan2 hadis.

Oleh karena itu jika ada perkataan mushaf dalam riwayat syiah jangan terus menanggap ia adalah Al Quran. Penulis ABC juga ada menukilkan riwayat dari Al Kafi yang menunjukan bahawa mushaf Fatimah bukan Al Quran tetapi kumpulan khabar yang di sampaikan oleh Jibril.

b- Wahyu untuk Fatimah as

Persoalannya di sini apakah ia mungkin atau tidak? Pertama kita perlu mengenal maqam Fatimah as terlebih dahulu. Tiada yang mengingkari bahwa ia adalah penghulu wanita, yang paling mulia antara 4 wanita yang termulia.

Kedua apakah Jibril boleh menurunkan wahyu untuk selain nabi. Yang mengatakan tidak berarti ia jahil tentang Al Quran. Dalam surah Ali Imran ayat 42 hingga 45 menceritakan pembicaraan jibril dengan Mariam. Dan Fatimah as lebih mulia dari Mariam. Riwayat tentang turunnya Jibril pada Fatimah banyak dalam kitab-kitab syiah. Sudah tentu mereka yang menjauhinya tidak akan meriwayatkan peristiwa tersebut.

__________________________________________________________

15. Mazhab Ahlu Sunnah

a- Seperti penulis ABC setuju bahawa mazhab ahlu sunnah terbentuk secara evolusi. Malah pengikutnya hari ini pun tidak mengamalkan fatwa Imam2 mereka baik dari segi fiqih maupun akidah secara murni. Tetapi permasalahnnya bukan di sini tapi pada sumber hukum. Mereka mengenepikan Imam2 Ahlu Bait as. baik dalam fiqih maupun akidah. Bagaimana hati boleh aman dengan apa yang di amalkan sedangkan bahtera penyelamat umat Muhammad SAW ditinggalkan. Bukankah mereka sebagaimana sabda Ar Rasul SAW. Umpama ahlu baitku di dalam umatku seperti bahtera Nuh siapa yang menaikinya selamat siapa yang meninggalkannya akan tenggelam.

b- Para pemerintah yang zalim ketika itu mengambil kesempatan untuk menyebarkan fatwa para mujtahid tersebut dan menakutkan orang ramai dari mendekati Imam2 ahlu bait dan ulama mereka.

c- Penutupan pintu ijtihad oleh khalifah yang zalim bukan satu yang pelik tetapi yang pelik adalah apabila para ulama besar ahlu sunnah juga merelakan hal ini seperti Al Ghazali, Sayuti. Ibnu Hajar dll dan akhirnya percobaan membuka pintu ijtihad dianggap dosa besar sebagaimana penulisan hadis pada kurun pertama hijrah dan tidak melaknat Imam Ali pada hari jumaat pada 80 tahun pertama pemerintahan bani umaiyah. Sedangkan proses ijtihad terus subur dalam mazhab syiah dan tidak timbul kekalutan dalam permasalahan mujtahid palsu. Dan para muqalid sentiasa bertaqlid kepada mujtahid yang hidup pada setiap waktu.

___________________________________________________________

16. Ahlul Sunnah Wa l-Jama’ah dan Ahlu Bait AS

Syiah menerima bahawa ahlu sunnah mencintai dan memuliakan ahlu bait, tetapi apakah mereka benar-benar meletakkan ahlu bait pada posisi yang Allah SWT telah letakkan? Apakah tiada hikmah mengapa mereka disucikan dan diwajibkan kecintaan ke atas mereka dan solat dan selawat tidak diterima tanpa menyebut mereka.

Jika ahlu sunnah benar2 menghormati mereka sepatutunya mereka juga perlu menghormati orang2 yang mengikuti mereka, bukan menuduh dengan hal2 yang tidak benar. Kita diwajibkan untuk mengikuti Al Quran, apakah tidak wajib kita mengikuti mereka yang disucikan untuk menjaga Al Quran dan mendampingi Al Quran.

____________________________________________________________

17. Ilmu Para Imam AS

Hadis dari Imam Jaffar as Sadeq itu jelas menunjukkan, ilmu yang mereka miliki adalah kurnia Allah bukan mereka memiliki dengan sendiri, karena ini akan mendatangkan syirik.

Di dalam surah yunus ayat 20 dan an An’am jelas menunjukan bahawa yang mengetahui hal yang ghaib itu hanya Allah. Dan dalam surah az zhuruf ayat 4, al Buruj ayat 22, ar radh ayat 39, menunjuk bahwa ilmu Allah itu terletak di kitab almknun, kitabun mubin, umul kitab, luh mahfuz. Ia juga dipanggil Imamul mubin “kulu sha’ain ahsaina hu fi Imamul mubin” walau namanya berbeda ia memiliki hakikat yang sama yaitu khazahna ilmu Allah yang Allah berikan kepada orang2 yang tertentu (surah aj jin ayat 27) dan tidak akan menyentuhnya kecuali yang disucikan (al waqih’ah ayat 79) dan kita semua tahu yang disucikan hanya ahlu bait (al ahzab ayat 33)

Jadi jika ada yang masih tidak faham yang ahlu bait mengetahui yang ghaib atas izin Allah dengan mengunakan dalil-dalil Al Quran yang jelas bererti orang tersebut mau meletakkan dirinya pada jalan kedegilan dan ketasuban.

____________________________________________________________

18. Maqam Para Imam AS

a- Di dalam Al Quran membicarakan tugas para Rasul hanya sebagai hanya untuk menyampaikan saja (iblaq) dan tidak lebih dari itu. “ma ala Rasul ilal balaq” dan juga surah An Nissa, ayat 165 dan As Syura, ayat 3 dll.

Selain dari itu ada ayat2 yang membicarakan satu lagi maqam selain maqam Rasul dan memiliki tugas yang lain dengan tugas rasul iaitu maqam Imam ‘kami jadikan mereka Imam untuk memberi hidayah dengan urusan kami ketika mereka bersabar dan yakin dengan ayat2 kami’ surah as sajadah ayat 24.

Ayat di atas jelas menunjukkan sebagian Rasul di angkat menjadi Imam, satu maqam yang lebih tinggi dari maqam Rasul. Tugas Imam di sini berbeda dengan tugas Rasul yaitu sebagai pemberi hidayah.

Nabi Ibrahim sebagaimana dalam surah al Baqarah ayat 124 diangkat menjadi Imam selepas ia menjadi Rasul. Jelas di sini menunjukan maqam Imam lebih tinggi dari maqam Rasul. Persoalanya sekarang apakah maqam Imam ini berterusan? Sudah tentu selagi manusia wujud di atas muka bumi ini selagi itu manusia perlu kepada hidayah dan ini tugas Imam. Dalam surah di atas Allah juga mengangkat zuriah Ibrahim sebagai Imam sebagimana Ibrahim. Dalam surah Ar Radh, ayat tujuh, Allah SWT. berfirman “Sesungguhnya kau (Muhammad) pemberi peringatan dan untuk setiap kaum ada yang memberi hidayah”

Kami ulangi lagi bahawa tugas memberi hidayah adalah tugas Imam dan hanya Allah yang melantik Imam bukan manusia. Dan ayat ini jelas menunjukan Imam yang dilantik oleh Allah itu berterusan dan maqamnya lebih tinggi dari maqam Rasul. Apakah kita lupa pada satu hadis yang mahsyur yang bermaksud “ulama umatku lebih afdhal dari para nabi bani israel” atau kita menanggap hadis ini daif. Atau hadis yang mengatakan bahawa Nabi Isa as. akan solat dibelakang Imam Mahdi juga tidak benar.

b- Apakah pelik apabila kita mengatakan para Imam itu lebih mulia dari Malaikat sedangkan Abu Basyar Adam as. merupakan khalifah pertama dari sekian kahlifah Allah mendapat didikan langsung dari Allah (syarat khalifah Allah) dan menjadi guru kepada para Malaikat dan menjadi sujutan Malaikat, apakah ini tidak menunjukan bahawa maqam insan lebih mulia dari maqam malaikat? apakan lagi maqam imam. Apakah ini berarti mendewakan mereka atau meletakan mereka pada tempat yang sewajarnya?

Apakah menjadikan semua sahabat itu adil dan tidak boleh disentuh dan dikritik bukan pendewaan? Dan bila keisalaman dan kekufuran seseorang diukur dengan sahabat? Apakah ini bukan pendewaan terhadap mereka? Apakah segala perubahan yang dilakukan oleh khalifah pertama, kedua, ketiga tidak mengubah hukum Allah? Dan apabila menerima perbuatan mereka dan menolak hukum Allah bukan pendewaan?

____________________________________________________________

19. Maqam Imam ‘Ali AS

Mereka menyatakan Syiah mempercayai Saidina Ali as separuh Tuhan, menganggap guruh dan petir itu suara Ali, mempercayai imam-imam 12 itu lebih baik dari para malaikat yang muqarrabun kepada Tuhan, menggunakan mushaf al-Quran lain dari mushaf Uhtman dan lain-lain.

Di dalam Usul al-Kafi oleh al-Kulaini dilaporkan bahwa Abu Basir seorang kepercayaan Imam Jaafar telah datang berjumpa dengan Imam Jaafar. Abu Basir bertanya kepada Imam Jaafar berhubungan dengan ilmu dan kelebihan Saidina Ali dan imam imam syiah… didalam buku tulisan Al Kulaini tersebut Imam Jaafar telah dikatakan menjawab sedemikian.. “Kita juga ada Mushaf Fatimah dan apakah yang orang ramai tahu tentang Mushaf Fatimah ? Ianya adalah sebuah Mushaf yang tiga kali lebih besar dari Al Quraan dan tidak ada satu ayat Al Quraan mereka didalam nya. (Usul al-Kafi oleh al-Kulaini ms 146)

Seterusnya Imam Jaafar bila ditanya lagi oleh Abu Basir berhubung dengan Mushaf Fatima , Abu Basir menyatakan Imam Jaafar menyebut : “ Apabila Allah menaikkan Rasul Nya dari dunia (wafat) … Fatimah menjadi terlalu sedih yang teramat sangat dan berduka cita yang hanya diketahui oleh Allah saja. Allah kemudian menurunkan malaikat untuk membujuknya semasa kesedihan tersebut dan malaikat tersebut telah berbicara dengan Fatimah. Fatimah menceritakan peristiwa tersebut kepada Ali dan Ali meminta Fatimah memberitahunya apabila malaikat tersebut datang. Setiap kali malaikat datang Ali telah mencatatkan segala yang disebut oleh malaikat tersebut… dan Inilah yang di panggil mushaf Fatimah. Usul al-Kafi oleh al-Kulaini ms 147)

Al Kulaini seterusnya di dalam kitab yang sama menyatakan bahawa Jabir Al Jufi berkata “aku telah mendengar Muhammad Al Baqir berkata “ Seseorang tidak akan mengatakan bahawa Al Quran telah diturunkan sekelompok kecuali dia itu pendusta. Tiada seorang pun yang mengumpul dan menghafal semuanya yang di turunkan Nya kecuali Abi bin Abi Talib dan para pengikut sesudahnya. “ muka surat 228

Komentar

Kesimpulan dari paparan di atas… bagaimana mungkin seorang ahli sunnah tidak menyatakan keheranannya diatas isu adanya orang-orang syiah yang berpahaman ujudnya satu kitab Al Quran yang selain nya dari mushaf Othman…. Apabila perkara sedemikian memang tertulis didalam salah sebuah kitab pokok rujukan Syiah iaitu Usul al-Kafi oleh al-Kulaini. Nota: Permasalahannya ialah pihak Ahlul Sunnah tidak dapat membedakan antara hadith yang sahih atau sebaliknya dalam kitab-kitab Syiah. Menurut Imam Ja’far al-Sadiq AS hadith yang bertentangan dengan al-Qur’an hendaklah ditolak samasekali. Imam Ja’far al-Sadiq AS meriwayatkan sebuah Hadith dari datuknya Rasulullah SAWA [bermaksud]: ” Setiap Hadith yang kamu terima dan bersesuaian dengan Kitab Allah tidak diragukan datangnya dari aku dan Hadith-hadith yang kamu terima yang bertentangan dengan Kitab Allah, sesungguhnya bukan datang dariku.” [Al-Kulaini, al-Kafi, Jilid I, Hadith 205-5.

Pengertian umum, Ahlul Sunnah ialah siapa yang mengikut Sunnah Nabi SAW kemudian ia dihimpun kepada empat madzhab fiqh yang diketuai oleh Imam Malik yang lahir pada tahun 95 Hijrah dan meninggal tahun 179 Hijrah, Abu Hanifah yang lahir tahun 80 Hijrah dan meninggal tahun 150 Hijrah, Syafie yang lahir tahun 150 Hijrah dan meninggal tahun 204 Hijrah, dan Ibnu Hanbal yang lahir tahun 164 Hijrah dan meninggal tahun 241 Hijrah.

_____________________________________________________________
_____________________________________________________________
_____________________________________________________________

20. PERTANYAAN SALAFi WAHABi

assalamualaikum,
Jawapan anda tentang kemusykilan ahlul sunnah wal jamaah berhubung syiah menimbulkan beberapa tanda tanya:

1. Perbuatan meletakkan batu Karbala ketika solat bukan sunnah Rasulullah.Sesuatu bidaah itu tempatnya di neraka.

2. Memuliakan alim ulama itu sesuatu yang baik tetapi mengagung-agungkan mereka sehingga ke peringkat ‘maksum’ memang keterlaluan seolah-olah mereka setaraf rasul. apatah lagi membina binaan dan bersolat di kubur mereka. janganlah berlebih-lebihan.

3. Sememangnya keluarga Rasulullah itu tinggi martabatnya terutama Saidina Ali,Hussain, Hassan dan Fatimah.Namun janganlah dipandang rendah dan hina para sahabat yang bermati-matian berjuang bersama Rasulullah S.a.w, seolah-olah mereka tidak mengasihi keluarga baginda sehinggakan dikutuk begitu sekali malah dikafiri.
Merekalah juga pendakwah yang membawa sinar keislaman ke seluruh pelosok dunia selepas kewafatan baginda.

4. Pengiktirafan tinggi kaum kepada ahlul bayts sepatutnya menginsafkan kita tentang kemuliaan perjuangan Rasulullah dan mengukur diri sejauh mana kita sebagai keturunan mulia meneladani baginda, bukan memandang rendah mereka yang bukan ahlul bayts, apatah lagi golongan ‘ajam. Ingatlah, Allah tidak memandang wajah-wajah, tetapi apa yang ada di sanubari kita(ketaqwaan)

Jawab:

a- Sujud di atas tanah bukan hal baru dan bid’ah. Hal itu terdapat dalam kitab standart anda, Shahih Bukhari bab Sujud di atas tanah. Kalau kita mau jujur, justru sujud di atas permadani itulah yang bid’ah, karena Rasul besrta sahabatnya tak pernah mencontohkannya.

b- Siapa yang mengagung-agungkan ulama hinga taraf maksum, jangan mengada-ada tanpa bukti. Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan.

c- Apakah Syiah mengkafirkan “semua” sahabat Rasul, atau “sebagian” kecil saja? Jangan suka mengada-ada tanpa ilmu. Ingat kebodohan ibarat bumerang yang akan mencelakakan buat pelemparnya sendiri.

d- Poin yang keempat ini bagus, tetapi itu kembali kepada pribadi-pribadi orang seperti anda yang katanya Sayid itu. Kesayidan bukan menjadi kebanggaan tanpa didukung dengan ketakwaan yang cukup.

21.PERTANYAAN SALAFi WAHABi :
MUT’AH ADALAH ZINA

Dalil Pertama:
ALLAH Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang terjemahannya):
“Dan orang yang menjaga (farji) kemaluan mereka, kecuali kepada isteri-isteri mereka atau budak-budak
yang mereka miliki, maka dalam hal ini sesungguhnya mereka tidak tercela. Maka barangsiapa yang mencari
selainnya (yakni selain dari isteri atau budak), maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.
(al-Mukminun: 5-7).

Dalil Kedua:
“Dan hendaklah orang-orang yang tidak/belum mampu menikah (tetap) menjaga kesucian (diri)nya (ta’affuf),
sampai ALLAH mencukupi mereka dengan karunia-Nya. (an_Nur: 33).

Dalil ketiga: (Lihat QS: An-Nisa: 25)

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Aalihi Wasallam:
a. Dari Ali bin Abu Thalib radhiallahu ‘anhu, berkata:
“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Aalihi Wasallam melarang kawin mut’ah dan makan daging Himar piaraan pada waktu perang Khaibar.” (HR. Bukhari & Muslim).

Ali radhiallahu ‘anhu yang termasuk Ahlul Bait dan termasuk imam bagi kelompok Syi’ah telah meriwayatkan
hadits yang menerangkan bahwa kawin mut’ah telah dilarang sejak perang Khaibar untuk selama-lamanya,
maka sangat tidak beralasan kalau kelompok Syi’ah justru mengingkari hadits yang telah diriwayatkan oleh
imam mereka, dengan tetap bersikukuh atas bolehnya kawin mut’ah, padahal dengan tegas imam mereka
meriwayatkan hadits atas pelarangan kawin kontrak tersebut.

b. Dari Ibnu Subrah al-Juhany berkata: Rasulullah ? bersabda: “Wahai manusia, sesungguhnya aku pernah
mengizinkan kepadamu kawin mut’ah dan sesungguhnya ALLAH telah mengharamkannya sampai Hari Kiamat.
Barangsiapa yang masih mempunyai mut’ah maka tinggalkanlah dan bila telah memberikan kontraknya
janganlah diminta kembali sedikitpun.” (HR. Muslim).
Dan masih banyak riwayat-riwayat shahih lainnya yang menjelaskan tentang pengharaman kawin mut’ah.

jawaban :jawaban :jawaban :jawaban :jawaban :
Ayat-ayat yang anda sebutkan itu berkaitan dengan Zina, bukan Mut’ah.
Jikalau Mut’ah sama dengan Zina maka berarti Rasulullah pernah memperbolehkan Mut’ah, itu terbukti dalam kitab-kitab standart Ahlusunah sendiri. Apa Rasululah benar pernah memperbolehkan Zina (Mut’ah)? Naudzubillah min Dzalik…Silahkan baca kembali riwayat-riwayat dari buku Ahlusunah yang terdapat dalam artikel di Islamsyiah.wordpress.com ini dengan judul “Nikah Mut’ah Sama dengan Zina?“…Silahkan cek kebenarannya dan jawablah dengan baik. Terimakasih.

22. PERTANYAAN SALAFi WAHABi
SYIAH DAN AL – QUR’AN

Al-Kasyiy mengetengahkan riwayat lain lagi mengenai hal itu. Riwayat tersebut dikatakan berasal dari Hamduwaih yang mendengar dari Ayyub bin Nuh, ia mendengar dari Muhammad bin Al-Fadhl, berasal dari Shafwan yang mendengarkan dari Abu Khalid Al-Qummath, berasal dari Hamran yang berkata kepada Abu Ja’far a.s.: “Alangkah sedikitnya jumlah kita, seandainya kita berkumpul (untuk makan bersama), kita tidak akan menghabiskan seekor kambing!” Abu Ja’far menyahut: “Maukah engkau kuberitahu tentang sesuatu yang lebih aneh dari itu? Hamran menjawab: “Ya, baiklah.” Abu Ja’far menerangkan: “Kaum Muhajirin dan Anshar telah pergi semua, kecuali tiga orang.” [Rijalul Kasyiy, hal. 13]

Itulah beberapa soal tentang kebohongan dan kebatilan yang ada pada kaum Syi’ah.

Mereka tidak mempunyai jawaban yang dapat diterima akal fikiran kecuali ingkar dan membuat penafsiran lain (ta’wil). Mereka hanya dapat mengatakan, bahwa para sahabat Nabi itu telah menambah-nambah firman Allah untuk memuji-muji diri mereka sendiri. Mereka juga mengatakan, bahwa para sahabat Nabi menghapus ayat-ayat yang mencela pemikiran mereka yang mengancam mereka dengan adzab neraka. Mengenai hal itu Al-Kaliniy menyajikan sebuah riwayat yang dikatakannya berasal dari Ahmad bin Muhammad bin Abi Nashr yang mengatakan sebagai berikut: “Abdul Hasan a.s menyerahkan sebuah mushhaf kepadaku sambil berkata”: “Lihatlah isinya.” Mushhaf itu kubuka lalu kubaca ayat pertama Surah Al-Bayyinah. Ternyata kulihat ada tujuh puluh nama orang-orang Qureisy lengkap dengan nama-nama orang tua mereka (dinyatakan sebagai golongan kafir).” [Al Kafiy fil Ushul, Kitab Fadhlul Qur’an, Bab Nawadir, hal. 631, Jilid II, cet. Teheran; hal 670, Jilid I, cet. India.]

Sebagaimana telah kami sebutkan pada bagian terdahulu bahwa menurut riwayat yang dibuat oleh kaum Syi’ah ‘Ali bin Abi Thalib menyerahkan kumpulan ayat-ayat Al-Qur’an kepada kaum Muhajirin dan Anshar. Ketika dibuka oleh Abu Bakar lembar pertama ditemukan ayat- ayat yang menjelek-jelekkan kaum Muhajirin dan Anshar. Karena itu ia lalu mengembalikan kumpulan ayat-ayat tersebut kepada ‘Ali seraya berkata: “Kami tidak membutuhkan hal ini.” [Unzur Awwalal Maqal Riwayat At Thibrisiy dalam Al Ihtijaj, hal. 86 dan 88.]

Seorang ulama Syi’ah bernama Malla Muhammad Taqiy Al-Kasyaniy dalam bukunya berbahasa Persia, “Hidayatuth Thalibin”, terdapat uraian yang terjemahannya sebagai berikut:

“‘Utsman memerintahkan salah seorang sahabatnya, Zaid bin Tsabit, musuh ‘Ali, supaya menghimpun ayat-ayat Al-Qur’an dengan membuang kebaikan-kebaikan Ahlul-Bait dan kejelekan-kejelekan musuh-musuh Ahlul Bait. Al-Qur’an yang sekarang ini ada di tangan kaum Muslimin Qur’an yang kita kenal itu, adalah Mushhaf ‘Utsman, yaitu Qur’an yang dihimpun atas perintah ‘Utsman.” [Hidayatuth Thalibin, hal. 368, cet. Iran, tahun 1282H.]

Seorang ulama besar Syi’ah yang mendapat gelar Syeikhul Islam dan Khatimatul-Mujtahidin, bernama Al-Malla Muhammad Baqir Al- Majlisiy menulis sebagai berikut:

“Orang-orang munafik telah merampas kekhalifahan ‘Ali, begitulah mereka berbuat terhadap seorang Khalifah. Sedang Khalifah kedua telah merobek-robek Kitabullah.” [Hayatul Qulub, Bab Hijjatul Wada’ nomor 49, hal. 681, Jilid II, dalam bahasa Persia, cet. India.]

Dalam bukunya yang lain lagi ia mengatakan, bahwa ‘Utsman menghapuskan tiga hal dari Al-Qur’an, yaitu keutamaan Amirul Mu’minin ‘Ali, keutamaan Ahlul-Bait dan kejelekan Qureisy termasuk tiga orang Khalifah. Misalnya ayat Al-Furqan:28 yang diubah hingga berbunyi: “Alangkah baiknya kalau aku dahulu (di dunia) tidak menjadikan Abu Bakar sebagai teman karib.” [Tadzkiratul A’immah, hal. 9]

Karena kaum Syi’ah hendak mengingkari kedudukan para sahabat Nabi yang mendapat pujian dari Allah swt. Dalam Al-Qur’anul-Karim, mereka tidak bisa lain harus mengingkari firman Allah, sebab Al- Qur’an mengandung keterangan-keterangan mengenai kegiatan dan perjuangan para sahabat Nabi, terutama Abu Bakar, ‘Umar dan ‘Utsman – radhiyallahu ‘anhum ajma’in. Menurut kenyataan, penghimpunan ayat- ayat Al-Qur’an dilakukan atas perintah Abu Bakar Ash-Shiddiq berdasarkan saran ‘Umar Ibnul-Khattab hingga mencapai penyelesaiannya yang terakhir pada zaman kekhalifahan ‘Utsman. Dengan demikian tiga orang Khalifah tersebut telah berhasil memperoleh keutamaan besar. Semoga Allah berkenan melimpahkan pahala dan karunia-Nya yang sebaik- baiknya kepada mereka bertiga. Ketika kaum Syi’ah melihat sendiri bahwa melalui tangan-tangan mereka itu Allah menjaga kemurnian dan kelestarian Al-Qur’an sebagai sumber terpokok ajaran Islam, kaum Syi’ah melancarkan sikap permusuhan dan kebencian kepada mereka. Atas dorongan kedengkian dan kebenciaannya itu kaum Syi’ah terperosok ke dalam sikap hendak menghancurkan Al-Qur’an itu, lalu dengan serta- merta melontarkan tuduhan yang bukan-bukan, seperti “revisi”, “diubah” dan lain sebagainya, padahal mereka sendiri yang merevisi dan mengubahnya.

Al-Maisam Al-Bahrani menuduhkan sepuluh kejelekan untuk menjatuhkan nama baik Khalifah ‘Utsman, yaitu tuduhan-tuduhan yang selama ini dimamahbiak oleh kaum Syi’ah terhadap prbadi Khalifah ketiga itu. Tuduhan yang ketujuh mengatakan, bahwa ‘Utsman memerintahkan kaum Muslimin hanya membaca Al-Qur’an yang dihimpun oleh Zaid bin Tsabit saja, sedangkan Mushhaf-Mushhaf yang lain dibakar habis, dan membatalkan ayat-ayat Al-Qur’an yang tidak diragukan turun dari Allah.” [Syarah Nahjul Balaghah, hal. 1, Jilid XI, cet. Iran.]

Dengan tindakan dan sikap seperti itu kaum Syi’ah bermaksud mendiskreditkan para sahabat Nabi terkemuka itu, yang oleh mereka dituduh merampas hak kepemimpinan ‘Ali dan anak keturunannya, baik sebagai Khalifah maupun sebagai Imam. Kaum Syi’ah juga mengatakan, para sahabat Nabi itu tidak mau melihat adanya nash-nash dalam Al- Qur’an yang mengungkapkan cacad dan kekurangan mereka. Dalam upaya membenarkan tuduhan itu kaum Syi’ah sengaja membuat dan menambah ayat- ayat yang sesuai dengan keinginan mereka. Seperti Al-Kaliniy, misalnya, dalam “Al-Kafiy” ia mengetengahkan sebuah riwayat yang dikatakannya berasal dari Abu Hamzah, bahwasannya Abu Ja’far pernah menegaskan sebagai berikut: “Jibril turun membawa ayat”:

“Sungguh, orang-orang yang ingkar dan berlaku zhalim terhadap keluarga Muhammad dan hak-haknya, mereka itu tidak akan memperoleh ampunan Allah dan mereka tidak akan diberi petunjuk jalan selain jalan ke neraka jahanam. Mereka kekal di dalamnya, dan yang demikian itu mudah bagi Allah.” [Al Kafiy, Kitab Al Hujjah, hal. 424, cet. Teheran; hal. 268, cet. India] (Yang digarisbawahi adalah tambahan mereka terhadap ayat An Nisaa’ 168-169)

Riwayat Syi’ah lainnya yang berasal dari Abu Hamzah juga mengatakan bahwa Abu Ja’far pernah berkata: “Jibril turun membawa ayat kepda Muhammad saw.”:

“… Orang-orang yang zhalim terhadap keluarga Muhammad dan hak-haknya mengubah ucapan (hingga berbeda dari apa yang dikatakan kepada mereka), lalu Kami turunkan kepada mereka yang berlaku zhalim terhadap keluarga Muhammad dan hak-haknya, bencana dari langit, karena kefasikan mereka.” [Al Kafiy, Kitab Al Hujjah, hal. 424, cet. Teheran; hal. 267, cet. India] (Yang digarisbawahi adalah tambahan mereka terhadap ayat Al-Baqarah:59).

Al-Qummiy mengatakan, bahwa ayat yang berbunyi:

“Sekiranya engkau melihat bagaimana keadaan orang-orang yang berlaku zhalim terhadap keluarga Muhammad dan hak-haknya pada saat malaikat mengulurkan tangan sambil sakratulmaut, yaitu pada saat malaikat mengulurkan tangan sambil berkata ‘keluarkanlah nyawamu’, pada saat itu kalian dibalas dengan adzab yang sangat menghinakan.”

Al-Qummiy mengatakan bahwa Abu ‘Abdullah telah berkata bahwa ayat itu tertuju kepada Mu’awiyah, orang-orang Bani Umayyah dan sekutu-sekutu serta pemimpin-pemimpin mereka. [Tafsir Al Qummy, hal. 211, Jilid I, cet. Najf-Irak.]

Mengenai akhir Surah Asy-Syu’ara, Al-Qummiy mengatakan: “Kemudian Allah menyebut keluarga Muhammad dan para pengikut mereka yang telah memperoleh hidayat, dengan firman-Nya”:

“Kecuali yang beriman dan berbuat kebaikan, banyak mengingat Allah dan hanya membela diri sesudah diperlakukan secara zhalim”. “Setelah itu Allah menyebut musuh-musuh keluarga Muhammad saw. dan orang-orang yang berlaku zhalim terhadap mereka, dengan firman-Nya”: “Mereka yang berlaku zhalim terhadap keluarga Muhammad dan hak-haknya akan mengetahui bagaimana kesudahannya (ke tempat mana akan kembali).”

Al-Qummiy menambahkan: “Begitulah yang diturunkan, demi Allah!” [Tafsir Al Qummy, hal. 125, Jilid II, cet. Najf-Irak.] (Pemalsuan terhadap ayat Asy-Syu’ara:227).

Sebagaimana diketahui, apa yang dikatakan oleh Syi’ah tentang “keluarga Muhammad dan hak-haknya” seperti yang terdapat dalam riwayat-riwayat tersebut diatas bukan lain hanyalah suatu kebohongan yang mereka ciptakan sendiri dengan mengatasnamakan Allah swt.

Di bawah ini kami kemukakan sebuah riwayat panjang yang disajikan oleh At-Thibrisiy di dalam “Al-Ihtijaj”. Riwayat tersebut menerangkan kepada kita soal apa yang mereka namakan “keluarga Nabi dan hak-haknya”. Menurut At-Thibrisiy, pada suatu hari ada seorang zindiq mengajukan berbagai pertanyaan kepada ‘Ali bin Abi Thalib, yang dijawab olehnya sebagai berikut:

“Allah menyebut nama beberapa orang Nabi dengan nama kiasan (kinayah) tidak bertujuan lain kecuali supaya difikirkan oleh orang-orang yang berusaha mengetahui hal-hal ghaib dengan pandangan batin (ahlul- istibshar). Mengenai nama-nama kiasan di dalam Al-Qur’an yang mengenai orang-orang munafik yang melakukan kejahatan besar, bukanlah berasal dari Allah Ta’ala, melainkan dari orang-orang yang mengubah dan mengganti ayat-ayat Al-Qur’an. Merekalah yang menjadikan Al- Qur’an terbagi-bagi (ada yang harus dipercaya dan ada yang boleh tidak dipercaya), yaitu orang-orang yang menukar agama dengan keduniaan.

Mengenai kisah mereka yang mengubah-ubah Al-Qur’an, Allah telah menjelaskan dengan firman-Nya:

“Mereka itu ialah orang-orang yang menulis kitab dengan tangan mereka sendiri, kemudian mengatakan: “Kitab ini dari Allah’ dengan tujuan supaya banyak orang membelinya dengan harga murah.” “Mereka yang lidahnya komat-kamit membaca Kitab …”

Lebih jauh ‘Ali menegaskan:

“Sepeninggal Rasul Allah mereka memasukkan kalimat-kalimat yang tidak semestinya, yaitu kalimat-kalimat yang dapat mereka pergunakan untuk menegakkan kebatilan mereka. Sama halnya dengan perbuatan orang-orang Yahudi dan Nasrani yang mengubah Taurat dan Injil serta mengubah-ubah kalimat secara tidak pada tempatnya, sepeninggal Nabi Musa dan Nabi ‘Isa. Mengenai hal ini Allah telah menjelaskan dalam firman-Nya: “Mereka hendak memandamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut mereka, akan tetapi Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya (agama-Nya).”

Itu berarti mereka telah menetapkan di dalam Al-Qur’an sesuatu yang tidak difirmankan Allah untuk menimbulkan keragu-raguan orang terhadap Khalifah (yakni ‘Ali sendiri). Karena itu Allah membuat hati mereka menjadi buta sehingga mereka membiarkan semua ayat-ayat yang menunjukkan perbuatan mereka merevisi dan mengubah ayat Al-Qur’an. Mereka berbuat kebohongan dan penipuan serta menyembunyikan hal-hal yang sebenarnya mereka ketahui. Oleh karena itu Allah berfirman tertuju kepada mereka:

“Mengapa kalian mencampuradukkan yang hak (kebenaran) dengan yang batil .”

Allah kemudian mengumpamakan mereka sebagai berikut:

“Yang berupa buih akan lenyap tak ada harganya, adapun yang bermanfaat bagi manusia ia akan tetap berada di bumi.”

Yang dimaksud dengan ‘buih’ dalam hal ini ialah omongan orang-orang kafir yang dimasukkan ke dalam Al-Qur’an. Semuanya itu pasti akan musnah, tak ada bekas kegunaannya sama sekali. Adapun yang bermanfaat bagi manusia di dalam Al-Qur’an itulah yang benar-benar diturunkan Allah, yaitu ayat-ayat suci Al-Qur’an yang tidak disentuh kebatilan apa pun juga dan dapat diterima dengan hati dan fikiran. Sedangkan yang dimaksud dengan ‘Bumi’ ialah tempat ilmu tersimpan. Prinsip ‘taqiyyah’ secara umum tidak memperbolehkan adanya pernyataan secara terang-terangan mengenai nama orang-orang yang melakukan pengubahan Al-qur’an itu. Juga tidak memperbolehkan penambahan ayat-ayat yang telah mereka tetapkan di dalam Al-Qur’an menurut kemauan mereka sendiri. Sebab pernyataan seperti itu akan memperkuat alasan bagi orang-orang yang hendak melumpuhkan agama, dan memperkuat hujah bagi para penganut agama yang telah diselewengkan, untuk menolak kami.

Mengenai pertanyaanmu tentang sikap mereka yang pura-pura tidak mengerti firman Allah: “Jika kalian khawatir tidak akan dapat berlaku adil terhadap anak- anak yatim, maka nikahilah wanita yang baik bagi kalian.”

Menikahi wanita tidak ada kaitannya dengan persoalan anak-anak yatim, lagi pula tidak semua wanita (janda) itu mempunyai anak yatim. Masalah tersebut termasuk yang telah kami sebutkan, yaitu orang-orang munafik itu telah menghapuskan ayat-ayat Al-Qur’an antara firman mengenai anak-anak yatim dan firman mengenai menikahi wanita, yang banyaknya lebih dari sepertiga Al-Qur’an.

Jawaban : Jawaban :Jawaban : Jawaban :Jawaban : Jawaban :Jawaban : Jawaban :

Sejak kapan Mushaf diidetikkan dengan al-Quran? Apakah Mushaf selalu berarti al-Quran?
Bukankah dalam sejarah terbukti bahwa bukan hanya Ali bin Abi Thamlib dan Fathimah saja yang memiliki Mushaf, Umar, Abu Bakar, Aisyah, Ibnu Abbas dsb semuanya memiliki mushaf…lantas apakah masing-masing mushaf mereka yang berbeda satu sama lain berarti al-Quran mereka berbeda-beda?
Apakah dalam kitab-kitab standart Ahlusunah tidak ada riwayat satupun yang menjelaskan bahwa al-Quran sudah berobah yang berarti bahwa al-Quran yang sekarang ini sudah tidak orosinil lagi? Silahkan coba lihat lagi artikel kami tentang “Al-Quran Sunni-Syiah Satu; Tiada Perobahan dalam Al-Quran“. Lihatlah, dalam kitab-kitab Ahlusunah ternyata ada beberapa riwayat yang menjelaskan hal itu…baca lagi dengan teliti dan cek dengan kepala dingin.

Selain itu, saya tidak yakin apa yang anda copy-pastekan itu ditulis oleh orang-orang yang meneliti langsung dari kitab aslinya orang Syiah.

Ibnu Jabrin salah satu contoh dari sekian banyak ulama Wahaby Saudi -maaf, Wahabi bukan Ahlusunah- yang justru menghalalkan darah Syiah…bahkan dalam sejarah, mereka bukan hanya menghalalkan darah Syiah, orang Sunni biasa pun dihalalkan darahnya…mau bukti? http://www.ibn-jabreen.com/fatwa/frame_02.htm

23. PERTANYAAN SALAFi WAHABi

salah satu hal yang harus kita pikirkan adalah mengenai mushaf Fatimah. mengapa Al Quran yang kita kenal selama ini adalah mushaf utsmani, bukan mushaf Muhammad. sebenarnya nabinya orang islam itu Muhammad atau utsman. kalau ada mushaf utsmani kenapa tidak boleh ada mushaf Fatimah ?

jawaban : jawaban : jawaban :
Seringnya kesalahan beberapa oknum yang menuduh Syiah memiliki Quran sendiri adalah dengan berdalil bahwa Syiah meyakini adanya Mushaf Fathimah dan Mushaf Ali. Padahal ini justru sebagai bukti kebodohan mereka. Sejak kapan Mushaf disamaartikan dengan al-Quran al-Karim, sehingga Mushaf Ali atau Mushaf Fathimah sama dengan al-Quran? Padahal dalam sejarah yang ada terbukti bahwa Mushaf Ali berbeda dengan Mushaf Fathimah. Lantas apakah itu membuktikan Syiah meyakini dua atau bahkan tiga al-Quran? Ini lelucon yang lebih lucu lagi…

Jadi Mushaf tidak musti berarti al-Quran sehingga harus diidentikkan dengan al-Quran.
Dalam kasus Mushaf Ustman dinyatakan -dalam kitab-kitab Ahlusunnah- bahwa Usmanlah yang menyuruh untuk mengumpulkan lembaran-lembaran itu sehingga terkenal dengan namanya. Padahal pelakunya (pelaksananya) buklanlah dirinya sendiri….Sekarang yang jadi pertanyaan, kita tahu bahwa al-Quran turun tidak berdasarkan urutan sebagaimana al-Quran sekarang ini. Lantas sahabat Usman tahu dari mana bahwa ayat pertama yang turun (Iqra’) berada di hampir akhir al-Quran sedang ayat yang paling akhrir turun (ayat ikmaluddin) terletak pada surat Al-Maidah: 3? Berdasarkan apa sahabat Usman meletakkan susunan ayat dan surat pada mushafnya? Apakah atas dasar pikirannya sendiri ataukah karena ajaran seseorang, sedang kita tahu bahwa ada sahabat yang lebih alim darinya tentang al-Quran seperti Ali dan Ibnu Abbas? Jika atas dasar pikirannya sendiri, maka apa hukumnya mengada-ngada semacam itu? Jika atas ajaran seseorang maka siapa orang itu dan apa ada ACC dari Rasul berkaitan dengan keilmuannya? Jika tidak ada ACC maka hukumnya sama, mengada-ada dalam penyusunan al-Quran. Kalau mendapat ACC dari Rasul (yang sebagai Duta Resmi Ilahi) maka baru itu memiliki legalitas penyusunan versi Allah, penurun al-Quran. Lantas apakah al-Quran yang kita baca sekarang ini mendapat legalitas Ilahi ataukah pengatasnamaan Mushaf Usmani hanya sekedar pengatasnamaan saja? YAng jelas, al-Quran sekarang ini ada adalah resmi diakui/legal versi Ilahi…itu adalah kesepakatan Sunni-Syiah.

24.PERTANYAAN SALAFi WAHABi
Di dalam kitab Al-Kaafi (yang kedudukannya di sisi mereka seperti Shahih Al-Bukhari di sisi kaum muslimin), karya Abu Ja’far Muhammad bin Ya’qub Al-Kulaini (2/634), dari Abu Abdullah (Ja’far Ash-Shadiq), ia berkata : “Sesungguhnya Al Qur’an yang dibawa Jibril kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam (ada) 17.000 ayat.”

Di dalam Juz 1, hal 239-240, dari Abu Abdillah ia berkata: “…Sesungguhnya di sisi kami ada mushaf Fathimah ‘alaihas salam, mereka tidak tahu apa mushaf Fathimah itu. Abu Bashir berkata: ‘Apa mushaf Fathimah itu?’ Ia (Abu Abdillah) berkata: ‘Mushaf 3 kali lipat dari apa yang terdapat di dalam mushaf kalian. Demi Allah, tidak ada padanya satu huruf pun dari Al Qur’an kalian…’.”
(Dinukil dari kitab Asy-Syi’ah Wal Qur’an, hal. 31-32, karya Ihsan Ilahi Dzahir).

Bahkan salah seorang “ahli hadits” mereka yang bernama Husain bin Muhammad At-Taqi An-Nuri Ath-Thabrisi telah mengumpulkan sekian banyak riwayat dari para imam mereka yang ma’shum (menurut mereka), di dalam kitabnya Fashlul Khithab Fii Itsbati Tahrifi Kitabi Rabbil Arbab, yang menjelaskan bahwa Al Qur’an yang ada ini telah mengalami perubahan dan penyimpangan.

Sekarang wahai Rafidhah, tunjukkan kepada kami Mushaf Fathimah itu !

jawaban : jawaban : jawaban : jawaban :
Silahkan baca lagi artikel kami tentang al-Quran.
Sejak kapan Mushaf selalu diidentikkan dengan al-Quran? Apakah Mushaf PASTI berarti Quran? KEnapa para sahabat memiliki mushaf sedang mushaf mereka berbeda-beda, apakah berarti Quran mereka berbeda-beda? Apakah ketika dibilang Nabi Musa dan Ibrahin memiliki mushaf juga berarti Quran? Argumen yang lucu…

Sekarang giliran kami bertanya, lantas apa kata anda dengan hilangnya beberapa ayat/surat al-Quran yang karena dimakan rayap, dimana riwayat itu ada di kitab yang paling sahih setelah al-Quran? Beranikah anda mengingkari riwayat itu yang berarti anda juga akan mengingkari kesahihan kitab yang sudah terlanjur dikonsensuskan sebagai kitab sahih? Kalau gak berani, ya berarti anda pun menganggap Quran sudah banyak perobahan bukan? Lantas mau dikemanakan ayat; Sesungguhnya Kami (Allah) yang menurunkan al-Quran dan Kami pula yang menjaganya? Koq ayat tadi bertentangan dengan riwayat yang tercantum dalam kitab sahih anda ya?

Anda pasti belum melihat langsung kitab muhaddis Nuri tersebut khan? Dalam kitab itu, ia selain menukil riwayat-riwayat Syiah, di setengah akhir kitabnya juga menukil hadis dan riwayat dari kitab-kitab yang terlanjur dinyatakan sahih oleh Ahlusunnah…dan dalam mukadimahnya juga mengatakan bahwa ia hanya menukil riwayat saja, untuk bukti riilnya, gak ada…Quran Sunni-Syiah tetap satu

25.PERTANYAAN SALAFi WAHABi :
numpang nanya mas,

secara rasional, proses belajar sebuah ideologi mestinya dimulai dari rujukan/ referensi utama ideologi tersebut. kalau rujukan utama idelogi shia itu apa ya? (setelah kitab suci tentunya)

ada yang bilang namanya Alkaafy. tapi sekian banyak penyalur buku agama tidak meyediakan kitab tersebut. emang bisa didapat dimana ya?

kan sangat lucu kalau ngikutin sebuah ideologi tanpa tahu landasan dasarnya. tetapi lebih lucu lagi kalau yang nyembunyikan referensi utamanya justru strategi dakwah ideologi tersebut.

trus satu lagi mas,
kata orang para imam shia itu suci (maksum) ya? kalau gitu pasti para imam itu kasih petunjuk kepada pengikutnya hadis-hadis nabi yang shahih (atau apa pun istilahnya) dan petunjuknya pasti benar, mereka maksum kan? jadi kitab hadis apa yang direkomendasikan oleh para imam itu bagi para pengikutnya?

pasti kitab tersebut juga lepas dari kesalahan. karena imam kan maksum. dan pasti mereka kasih petunjuk yang jelas (tidak bias. tidak ngambang) bagi umatnya.

orang shia juga bilang, pandangan orang shia terhadap marji’nya berbeda dengan pandangan sunnah terhadap shahih bukhary. ok. yang perlu dijelaskan : bagian-bagian mana dari marji’ shia yang dikritik itu?

apa saja? kenapa dikritik?

salahkah?

siapa yang bertanggung jawab terhadap kesalahan tersebut? apakah salah penulis, sanad/perawi, atau salah sumbernya?

sebenarnya hal-hal itu yang perlu dijelaskan ketimbang terlalu sibuk berkomentar “shia kritis”. lebih baik nunjukin bukti kekritisannya.

tungu bentar, kalau mau kritis, lalu bisakah mengkritik pendapat para imam yang maksum tersebut? kalau kitabnya sudah direkomendasikan oleh imam, lalu lembaga atau pangkat apa dari seseorang yang mampu mengkritik pendapar imam?

jawaban : jawaban : jawaban :
Menurut Syiah, tidak ada kitab yang dijamin kesahihannya melainkan al-Quran. Alkafi adalah salah satu kitab standart, tapi tidak bergelar sahih. Kenapa?
1- Penulisnya tidak maksum.
2- Dia hanya mengumpulkan hadis yang sahih menurut ijtihadnya dalam menentukan kesahihan hadis (ilmu hadis).
Jadi di sinilah perbedaan antara Sunni-Syiah.

Di sunni pintu ijtihad telah ditutup rapat-rapat, termasuk dalam penentuan hadis. Menurut mereka, pasca Imam Bukhari dan Muslim tidak ada yang layak berijtihad dalam menentukan hadis sahih melainkan dua orang tadi. Akhirnya, hadis yang mereka riwayatkan dinyatakan pasti sahih dan tidak layak untuk ditinjau kembali oleh siapapun. Oleh karenanya, al-hakim an-naisaburi yang mengumpulkan hadis sesuai dengan standart kesahihan Bukhari dan Muslim pun tetap tidak diterima, karena ijtihad penentuan hadis sahih telah ditutup dengan meninggalnya Bukhari dan Muslim. Seakan bukhari dan Muslim adalah maksum (suci dari salah dan dosa) dalam periwayatan hadis. Sekarang pertanyaan yang bisa ditujukan kepada saudara Sunni adalah; siapakah penentu kesahihan Bukhari dan Muslim, Imam Bukhari dan Musim sendiri ataukah orang yang datang setelahnya? Kenapa hanya Bukhari dan Muslim saja yang pasti sahih? Adakah dalil naqli dan naqli yang membuktikan bahwa kitab bukhari dan Muslim adalah kitab yang sahih sehinga tidak bisa digangu gugat? Kenapa kitab seperti Musnad Ahmad bin Hambal tidak masuk kategori Sohih, apakah Imam Ahmad termasuk orang yang sembrono dalam mengumpulkan hadis sehingga kitabnya tidak layak disebut sahih?

Sedang di Syiah pintu ijtihad masih dibuka lebar-lebar. Tentu bagi yang memiliki kelayakan berijtihad, gak sembarang orang. Bukan hanya dalam masalah fikih, teology dan yang lainya, termasuk dalam menentukan kesahihan hadis. Atas dasar itu, Syiah tidak pernah menyatakan bahwa kitab seperti al-Kafi adalah pasti sahih. Ya, al-Kafi adalah kitab Sahih menurut penulisnya, karena ia berijtihad dalam penentuan hadis yang ia kumpulkan. Tetapi belum tentu sahih untuk mujtahid lain yang memiliki neraca penentuan sahih yang berbeda dengan Kulaini.

Jadi letak perbedaan Sunni-Syiah dalam masalah ini adalah berkisar masalah ijtihad, masih terbuka ataukah sudah tertutup.

Kalau anda ingin dapati buku standart2 Syiah, bisa anda beli dengan bebas di setiap ekspo buku di Mesir, Beirut dan Iran, juga bisa pesan di perwakilan toko buku Beirut di Indonesia. Kalau gak ada yang pesan ya gak bakal dijual, karena pembelinya minim. Khan mereka mau dagang, jadi menyesuaikan permintaan pasar. Kalau anda tidak punya uang untuk membeli buku2 standart (bukan buku sahih, tahu kha bedanya?) Syiah maka datang saja ke pusat2 Syiah di Indonesia niscaya anda akan dikasih unjuk, tapi bukan untuk dibawa pulang, karena seringnya gak kembali. Jadi bohong besar kalau Syiah menyembunyikan referensinya. Jika anda ingin mencari kebenaran maka harus ada usaha nyata, bukan hanya menunggu.

Kita meyakini imam Maksum kembali kepada kitab tersahih di dunia ini, yang tidak ada tandingannya, Al-Quran al-Karim. Lihat ayat 33:33 dimana Ahlul Bayt dinyatakan disucikan Allah sesuci-sucinya. Dalam kitab standart Suni sendiri (terkhusus kitab tafsir) tidak jarang dinyatakan bahwa Ahlul Bayt adalah Ali, Fatimah, Hasan dan Husein. Ketika mereka maksum maka mereka mustahil melakukan salah. Dan ketika orang yang mustahil salah mengatakan bahwa fulan-fulan dari keturunanku yang berjumlah sekian orang adalah maksum juga maka kembali ke premis pertama, ungkapan mereka mustahuil salah. Ketika mustahil salah berarti pasti benar khan? Ketika ungkapan mereka mustahil salah dan pasti benar maka kritis terhadap mereka tidak lagi bermanfaat. Karena kritis itu ada tempatnya khusus, bukan mutlak. Semua kaum muslimin yang mukmin sepakat untuk tidak dapat mengkritisi Allah, para Nabi dan Rasulnya bukan? Kanapa kritisi dibatasi? Karena kritis kepada Allah dalam mengkritisi kebijakan-Nya adalah pekerjaan sia-sia yang bahkan akan membahayakan. Para Nabi/Rasul juga tidak dapat dikritisi karena mereka adalah manusia pilihan, duta Ilahi yang suci dari salah dan dosa. Sedang Syiah menmabhkan, selain para Nabi/Rasul, para Imam adalah maksum, sesuai dengan firman Allah dan hadis Nabi (yang juga dapat kita tarik dari hadis2 di kitab Sunni). Oleh karenanya, kritis dan mengkritisi manusia suci adalah sia-sia, karena pasti kita salah dalam mengkritisi. Kepastian itu dilihat dari jaminan kemaksuman yang kita kritisi.

Sampai di sini pahamkah anda?

26.PERTANYAAN SALAFi WAHABI
Kulaini dalam bukunya Alkafi di dalam bab “Para Imam Syi’ah tahu kapan ia mati dan mereka hanya akan mati atas kehendak sendiri”, meriwayatkan dari Abi Bashir, dari Ja’far bin Muhammad al-Baqir, bahwa ia berkata: “Seseorang Imam yang tidak tahu sesuatu yang ghaib dari dirinya dan tidak tahu kemana sesuatu akan terjadi, maka dia bukanlah merupakan bukti kebenaran Allah untuk makhluk-Nya.” (Alkafi fil Ushul, 1:285, cetakan Teheran).

Itu adalah yang dikatakan oleh Bintang Ulama Syi’ah Alkulaini dalam kitabnya “Alkafi”, kitab yang pernah diberi ijazah oleh imam mereka yang gaib dan direstui dengan ucapan “Sungguh cukup kitab ini untuk Syiah kami”, dan karena Syahadah Imam itulah kitab tersebut dinamakan “ALKAFI”.

Laen lagi Khomeini yang celaka menyebutkan – dalam salah satu tulisannya bahwa para imam lebih afdhal (mulia) dari para nabi dan rasul, ia berkata (semoga Allah menghinakannya) : “Sesungguhnya imam-imam kita mempunyai suatu kedudukan yang tidak bisa dicapai oleh malaikat yang didekatkan, dan tidak pula oleh nabi yang diutus”

Berarti para imam mereka lebih mulia dari Rasulullah SAW sendiri, apakah perkataan seperti ini adalah perkataan seorang muslim yang memeluk agama Islam ?

En The Almighty Alllah membantah mereka :

(Ingatlah), hari diwaktu Allah mengumpulkan para rasul, lalu Allah bertanya (kepada mereka): “Apa jawaban kaummu terhadap (seruan)mu.” Para rasul menjawab: “Tidak ada pengetahuan kami (tentang itu); sesungguhnya Engkau-lah yang mengetahui perkara yang ghaib.” (QS. 5:109)

“(dia adalah Tuhan) yang mengetahui yang ghaib, Maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. (Al Jin : 26)

“Katakanlah: aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Katakanlah: “Apakah sama orang yang buta dengan yang melihat?” Maka Apakah kamu tidak memikirkan(nya)?” (Al An’am : 50)

Want some candy ?

jawaban : jawaban ; Jawaban :
Ini sebagai bukti bahwa anda tidak memahami konsep imamah versi Syiah.
Imam adalah wakil Rasululah SAWW. Dan Rasul adalah pemimpin para Nabi/Rasul (sayyidul ambiya’ wal mursalin). Untuk lebih mudahnya saya bikin analogy aja, biar lebih mudah dicerna. Rasulullah ibarat presiden yang membawahi semua nabi/rasul yang kita ibaratkan menteri2. Wakil presiden (imam) walaupun dia hanya seorang wakil, namun karena wakil presiden (Rasulullah) maka jabatannya lebih tinggi dari para menteri (nabi/rasul). Dari sini anda sudah paham atau belom?

Karena pemberian jabatan nabi/rasul dan imam adalah hak mutlak Allah maka semua harus sesuai dengan ketentuan Allah. Hubungan kebijakan mereka pun harus bersifat verrtikal dengan Allah. Mustahil kebijakan mereka bertentangan dengan kebijakan Allah. Dan dikarenakan mereka adalah para kekasih Ilahi maka sebagian rahasia Ilahi pun dibocorkan Allah kepada mereka saja, termasuk masalah kematian yang anda singung. Jadi kapan mereka mati pun mereka sudah tahu, karena kabar dari Allah. Karena kehendak mereka sesuai dengan kehendak Ilahi maka kematian yang mereka kehendaki adalah tidak lepas dari kehendak Ilahi. Sampai di sini paham?

27.PERTANYAAN SALAFi WAHABi
Imam adalah wakil Rasululah SAWW. Dan Rasul adalah pemimpin para Nabi/Rasul (sayyidul ambiya’ wal mursalin). Untuk lebih mudahnya saya bikin analogy aja, biar lebih mudah dicerna. Rasulullah ibarat presiden yang membawahi semua nabi/rasul yang kita ibaratkan menteri2. Wakil presiden (imam) walaupun dia hanya seorang wakil, namun karena wakil presiden (Rasulullah) maka jabatannya lebih tinggi dari para menteri (nabi/rasul). Dari sini anda sudah paham atau belom?

****
cuma mo nanya aja,….. semua rasul/nabi yang kita kenal ada tertulis namanya didalam Al Quran, ….. nah nama para Imam yang katanya lebih tinggi dari rasul/nabi2 itu ada tertulis dimana??……. heeeeelp dong.
thanks

jawaban : jawaban : jawaban : jawaban :

Untuk mempersingkat akan, kita jawab singkat saja:
1- Apakah yang tercantum dalam Al-Quran berarti pasti lebih mulia? Apakah nama Iblis yang tercantum dalam Al-Quran jauh lebih utama dari nama nabi Tsis (putera Adam as) yang tidak dicantumkan dalam Al-Quran? Silahkan anda jawab sendiri!

2- Siapa bilang Ahlul Bayt Nabi tidak ada di Al-Quran? Coba anda baca hadis-hadis yang menjelaskan ttg Asbabun-Nuzul ayat 33:33 kepada siapa? Surat ‘Ad-Dahr’ atau sebutan lainnya ‘Al-Insan’ atau sebutan lainnya adalah ‘Hal ata’ itu turun kepada siapa….dan banyak ayat lain yang semua itu tercantum dalam kitab-kitab standar anda. Tahu dan baca gak kitab-kitab standar sendiri? Kalau gak tahu kita bisa tunjukkan!?

Buat yang tahu tafsir Al-Quran tidak akan mengatakan dan menuntut bahwa Al-Quran harus ‘secara jelas’ (jelas versi awam berarti detail) menjelaskan ttg banyak hal, karena al-Quran bukan kitab Inseklopedia, tetapi kitab hidayah. Anda sampai nangis darahpun tidak akan dapat tahu ttg tata cara shalat dalam al-Quran. PAdahal banyak hadis menjelaskan bahwa ia adalah ibadah yang terpenting dimana jika diterima maka semua amal akan diterima, juga sebaliknya.

Silahkan direnungkan!?
===============================================================================================================================================================

Posted on September 11, 2007 by secondprince

Telaah Perbedaan Sunni dan Syiah.

Tulisan ini adalah tanggapan sederhana atas tulisan di situs ini yang berjudul Apa perbedaan antara Ahlussunnah Waljamaah dengan Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah ?. Untuk memenuhi permintaan saudara Gura dalam tulisan saya yang lalu. Tulisan yang bercetak miring adalah tulisan di situs tersebut. Sebelumnya perlu diingatkan bahwa apa yang penulis(saya) sampaikan adalah bersumber dari apa yang penulis baca dari sumber-sumber Syiah sendiri.

Banyak orang yang menyangka bahwa perbedaan antara Ahlussunnah Waljamaah dengan Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah) dianggap sekedar dalam masalah khilafiyah Furu’iyah, seperti perbedaan antara NU dengan Muhammadiyah, antara Madzhab Safi’i dengan Madzhab Maliki.Karenanya dengan adanya ribut-ribut masalah Sunni dengan Syiah, mereka berpendapat agar perbedaan pendapat tersebut tidak perlu dibesar-besarkan. Selanjutnya mereka berharap, apabila antara NU dengan Muhammadiyah sekarang bisa diadakan pendekatan-pendekatan demi Ukhuwah Islamiyah, lalu mengapa antara Syiah dan Sunni tidak dilakukan ?.

Penulis(saya) menjawab benar perbedaan Sunni dan Syiah memang tidak sebatas Furu’iyah tetapi juga berkaitan dengan masalah Ushulli. Tetapi tetap saja Syiah adalah Islam(lihat tulisan ini). Kita akan lihat nanti. Tidak ada masalah dengan pendekatan Sunni dan Syiah karena tidak semuanya berbeda, terdapat cukup banyak persamaan antara Sunni dan Syiah.

Apa yang mereka harapkan tersebut, tidak lain dikarenakan minimnya pengetahuan mereka mengenai aqidah Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah). Sehingga apa yang mereka sampaikan hanya terbatas pada apa yang mereka ketahui. Semua itu dikarenakan kurangnya informasi pada mereka, akan hakikat ajaran Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah). Disamping kebiasaan berkomentar, sebelum memahami persoalan yang sebenarnya

Jawaban saya, kata-kata ini juga bisa ditujukan pada penulis itu sendiri, minimnya pengetahuan dia tentang Syiah kecuali yang di dapat dari Syaikh-syaikhnya. Kemudian berbicara seperti orang yang sok tahu segalanya. Dan berkomentar sebelum memahami persoalan sebenarnya.

Sedangkan apa yang mereka kuasai, hanya bersumber dari tokoh-tokoh Syiah yang sering berkata bahwa perbedaan Sunni dengan Syiah seperti perbedaan antara Madzhab Maliki dengan Madzahab Syafi’i. Padahal perbedaan antara Madzhab Maliki dengan Madzhab Syafi’i, hanya dalam masalah Furu’iyah saja. Sedang perbedaan antara Ahlussunnah Waljamaah dengan Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah), maka perbedaan-perbedaannya disamping dalam Furuu’ juga dalam Ushuul.

Bukankah baik kalau mengenal sesuatu dari sumbernya sendiri yaitu Ulama Syiah. Kalau si penulis itu menganggap Ulama Syiah Cuma berpura-pura lalu kenapa dia tidak menganggap Syaikh-Syaikh mereka itu yang sengaja mendistorsi tentang Syiah. Subjektivitas sangat berperan, anda tentu tidak akan mendengar hal yang baik tentang Syiah dari Ulama yang membenci dan mengkafirkan Syiah. Pengetahuan yang berimbang diperlukan jika ingin bersikap objektif. Sekali lagi perbedaan itu benar tidak sebatas Furu’iyah.

Rukun Iman mereka berbeda dengan rukun Iman kita, rukun Islamnya juga berbeda, begitu pula kitab-kitab hadistnya juga berbeda, bahkan sesuai pengakuan sebagian besar ulama-ulama Syiah, bahwa Al-Qur’an mereka juga berbeda dengan Al-Qur’an kita(Ahlussunnah).
Apabila ada dari ulama mereka yang pura-pura (taqiyah) mengatakan bahwa Al-Qur’annya sama, maka dalam menafsirkan ayat-ayatnya sangat berbeda dan berlainan.

Kata-kata yang begitu kurang tepat, yang benar adalah Syiah meyakini Rukun Iman dan Rukun Islam yang dimiliki Sunni tetapi mereka merumuskannya dengan cara yang berbeda dan memang terdapat perbedaan tertentu pada Syiah yang tidak diyakini Sunni.
Kitab Hadis Syiah benar berbeda dengan Kitab Hadis Sunni karena Syiah menerima hadis dari Ahlul Bait as(hal ini ada dasarnya bahkan dalam kitab hadis Sunni lihat hadis Tsaqalain) sedangkan Sunni sebagian besar hadisnya dari Sahabat Nabi ra.
sesuai pengakuan sebagian besar ulama-ulama Syiah, bahwa Al-Qur’an mereka juga berbeda dengan Al-Qur’an kita. Ini adalah kebohongan, yang benar Ulama-Ulama Syiah menyatakan bahwa Al Quran mereka sama dengan Al Quran Sunni. Yang mengatakan bahwa Al Quran Syiah berbeda dengan Al Quran Sunni adalah kaum Syiah Akhbariyah yang bahkan ditentang oleh Ulama-Ulama Syiah. Kaum Akhbariyah ini yang dicap oleh penulis itu sebagai Ulama Syiah. Sudah keliru generalisasi pula. Penafsiran Al Quran yang berlainan bukan masalah, dalam Sunni sendiri perbedaan tersebut banyak terjadi.

Sehingga tepatlah apabila ulama-ulama Ahlussunnah Waljamaah mengatakan : Bahwa Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah) adalah satu agama tersendiri.

Yang berkata seperti ini adalah Ulama-ulama Salafi, karena terdapat Ulama Ahlussunah yang mengatakan Syiah itu Islam seperti Syaikh Saltut, Syaikh Muhammad Al Ghazali, Syaikh Yusuf Qardhawi, dan lain-lain. Sebenarnya yang populer di kalangan Sunni adalah Syiah itu Islam tetapi golongan pembid’ah. Cuma Salafi yang dengan ekstremnya menyebut Syiah agama tersendiri.

Melihat pentingnya persoalan tersebut, maka di bawah ini kami nukilkan sebagian dari perbedaan antara aqidah Ahlussunnah Waljamaah dengan aqidah Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah).

Saya akan menanggapi satu persatu pernyataan penulis ini

1. Ahlussunnah : Rukun Islam kita ada 5 (lima)
a) Syahadatain
b) As-Sholah
c) As-Shoum
d) Az-Zakah
e) Al-Haj
Syiah : Rukun Islam Syiah juga ada 5 (lima) tapi berbeda:
a) As-Sholah
b) As-Shoum
c) Az-Zakah
d) Al-Haj
e) Al wilayah

Jawaban: Saya tidak tahu apa sumber penukilan penulis ini, yang jelas Syiah juga meyakini Islam dimulai dengan Syahadat. Jadi sebenarnya Syiah meyakini semua rukun Islam Sunni hanya saja mereka menambahkan Al Wilayah. Yang ini yang tidak diakui Sunni, tentu perbedaan ini ada dasarnya.

2. Ahlussunnah : Rukun Iman ada 6 (enam) :
a) Iman kepada Allah
b) Iman kepada Malaikat-malaikat Nya
c) Iman kepada Kitab-kitab Nya
d) Iman kepada Rasul Nya
e) Iman kepada Yaumil Akhir / hari kiamat
f) Iman kepada Qadar, baik-buruknya dari Allah.
Syiah : Rukun Iman Syiah ada 5 (lima)*
a) At-Tauhid
b) An Nubuwwah
c) Al Imamah
d) Al Adlu
e) Al Ma’ad

Syiah jelas meyakini atau mengimani semua yang disebutkan dalam rukun iman Sunni, hanya saja mereka ,merumuskannya dengan cara berbeda seperti yang penulis itu sampaikan. Rukun iman Syiah selain Imamah mengandung semua rukun iman Sunni. Perbedaannya Syiah meyakini Imamah dan Sunni tidak, sekali lagi perbedaan ini ada dasarnya.

3. Ahlussunnah : Dua kalimat syahadat
Syiah : Tiga kalimat syahadat, disamping Asyhadu an Laailaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah, masih ditambah dengan menyebut dua belas imam-imam mereka

Ini tidak benar karena syahadat dalam Sunni dan Syiah adalah sama Asyhadu an Laailaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah. Tidak mungkinnya pernyataan penulis itu adalah bagaimana dengan mereka orang Islam pada zaman Rasulullah SAW, zaman Imam Ali, zaman Imam Hasan dan zaman Imam Husain. Bukankah jelas pada saat itu belum terdapat 12 imam.

4. Ahlussunnah : Percaya kepada imam-imam tidak termasuk rukun iman. Adapun jumlah imam-imam Ahlussunnah tidak terbatas. Selalu timbul imam-imam, sampai hari kiamat.
Karenanya membatasi imam-imam hanya dua belas (12) atau jumlah tertentu, tidak dibenarkan.

Syiah : Percaya kepada dua belas imam-imam mereka, termasuk rukun iman. Karenanya orang-orang yang tidak beriman kepada dua belas imam-imam mereka (seperti orang-orang Sunni), maka menurut ajaran Syiah dianggap kafir dan akan masuk neraka

Imam Sunni tidak terbatas karena setiap ulama bisa saja disebut Imam oleh orang Sunni. Bagi Syiah tidak seperti itu, 12 imam mereka ada dasarnya sendiri dalam sumber mereka, dan terdapat juga dalam Sumber Sunni tentang 12 khalifah dan Imam dari Quraisy. Intinya Syiah dan Sunni berbeda pandangan tentang apa yang disebut Imam. Karenanya membatasi imam-imam hanya dua belas (12) atau jumlah tertentu, tidak dibenarkan. Pernyataan ini hanya sekedar persepsi, tidak dibenarkan berdasarkan apa, jelas sekali penulis ini tidak memahami pengertian Imam dalam Syiah.

Karenanya orang-orang yang tidak beriman kepada dua belas imam-imam mereka (seperti orang-orang Sunni), maka menurut ajaran Syiah dianggap kafir dan akan masuk neraka. Saya tidak tahu apa dasar penulis itu, yang saya tahu Ulama Syiah selalu menyebut Sunni sebagai Islam dan saudara mereka. Anda dapat melihat dalam Al Fushul Al Muhimmah Fi Ta’lif Al Ummah oleh Ulama Syiah Syaikh Syarafuddin Al Musawi(terjemahannya Isu-isu Penting Ikhtilaf Sunnah dan Syiah hal 33 yang membuat bab khusus yang berjudul Keterangan Para Imam Ahlul Bait Tentang Sahnya Keislaman Ahlussunnah) Atau anda dapat merujuk Al ’Adl Al Ilahy karya Murtadha Muthahhari( terjemahannya Keadilan Ilahi hal 271-275).

5. Ahlussunnah : Khulafaurrosyidin yang diakui (sah) adalah :
a) Abu Bakar
b) Umar
c) Utsman
d) Ali Radhiallahu anhum
Syiah : Ketiga Khalifah (Abu Bakar, Umar, Utsman) tidak diakui oleh Syiah. Karena dianggap telah merampas kekhalifahan Ali bin Abi Thalib (padahal Imam Ali sendiri membai’at dan mengakui kekhalifahan mereka).

Pembahasan masalah ini adalah cukup pelik, oleh karenanya saya akan memaparkan garis besarnya saja. Benar sekali khulafaurrosyidin yang diakui Sunni adalah seperti yang penulis itu sebutkan. Syiah tidak mengakui 3 khalifah pertama karena berdasarkan dalil-dalil di sisi mereka Imam Ali ditunjuk sebagai khalifah pengganti Rasulullah SAW. Pernyataan (padahal Imam Ali sendiri membai’at dan mengakui kekhalifahan mereka), disini lagi-lagi terjadi perbedaan. Sunni berdasarkan sumber mereka menganggap Imam Ali berbaiat dengan sukarela. Tetapi Syiah berdasarkan sumber mereka menganggap Imam Ali berbaiat dengan terpaksa. Hal yang patut diperhitungkan adalah Syiah juga memakai sumber Sunni untuk membuktikan anggapan ini, diantaranya hadis dan sirah yang menyatakan keterlambatan baiat Imam Ali kepada khalifah Abu Bakar yaitu setelah 6 bulan. Sekali lagi perbedaan ini memiliki dasar masing-masing di kedua belah pihak baik Sunni dan Syiah, jika ingin bersikap objektif tentu harus membahasnya secara berimbang dan tidak berat sebelah. Perbedaan masalah khalifah ini juga tidak perlu dikaitkan dengan Islam atau tidak, bukankah masalah khalifah ini jelas tidak termasuk dalam rukun iman dan rukun islam Sunni yang disebutkan oleh penulis itu. Oleh karenanya jika Syiah berbeda dalam hal ini maka itu tidak menunjukkan Syiah keluar dari Islam.

Sebelum mengakhiri bagian pertama ini, ada yang perlu diperjelas. Syiah meyakini rukun iman dan rukun islam Sunni hanya saja Syiah berbeda merumuskannya. Oleh karenanya dalam pandangan Sunni, Syiah itu Islam. Syiah meyakini Imamah yang merupakan masalah Ushulli dalam rukun Iman Syiah. Sunni tidak meyakini hal ini. Dalam pandangan Syiah, Sunni tetap sah keislamannya berdasarkan keterangan dari para Imam Ahlul Bait . Anda dapat merujuk ke sumber yang saya sebutkan. Bersambung , Salam damai

==========================================================================================================================================================

Abdullah Bin Saba’ Pendiri Syiah, Benarkah?

Mereka semua itu sebenarnya telah mengambil cerita Abdullah ibn Saba’ dari satu sumber yaitu; Sayf ibn Umar at-Tamimi dalam bukunya “al-Futuh al-kabir wa al-riddah dan al-Jamal wal-masir Aishah wa Ali”. Dari cerita Sayf inilah beberapa orang penulis telah mengambil cerita Abdullah ibn Saba’ tersebut. Padahal pribadi Sayf adalah seorang penulis yang tidak dipercaya oleh kebanyakan penulis-penulis kitab rijal seperti Yahya ibn Mu’in, Abu Dawud, al-Nasai, Ibn Abi Hatim, Ibn al-Sukn, Ibn Hibban, al-Daraqutni, al-Hakim, al-Firuzabadi, Ibn Hajar, al-Suyuti, dan al-Safi al-Din. Istilah Saba’iyyah diberikan maksudnya yang baru oleh Sayf ibn Umar pada pertengahan kedua tahun Hijrah yang menggunakannya untuk ditujukan kepada golongan sesat yang kononnya diasaskan oleh tokoh khayalan Abdullah ibn Saba’.

Abdullah Bin Saba’ Pendiri Syiah, Benarkah?

Tuduhan bahwa madzhab syiah adalah ajaran dari si Yahudi yang bernama Abdullah bin Saba’ telah lama diketengahkan kepada masyarakat muslim dan semacam sudah merasuk di tengah masyarakat bahwa syiah adalah ajaran Yahudi Abdullah ibn Saba’ yang berpura-pura memeluk Islam tetapi bertujuan untuk menghancurkan pegangan aqidah umat Islam.

Abdullah bin Saba’ dikatakan sebagai pendiri madzhab Saba’iyyah yang mengemukakan teori bahwa Ali adalah wasi Muhammad SAWW. Abdullah ibn Saba’ juga dikenali dengan nama Ibn al-Sawda’ atau ibn ‘Amat al-Sawda’- anak wanita kulit hitam. Pada hakikatnya cerita Abdullah ibn Saba’ adalah satu dongengan (fiktif) semata.

Allamah Murtadha Askari telah membuktikan bahwa cerita Abdullah ibn Saba’ yang terdapat dalam beberapa kitab Ahlusunah bersumber dari Al-Tabari (w.310H/922M), Ibn Asakir (w571H/1175M), Ibn Abi Bakr (w741H/1340M) dan al-Dhahabi (w747H/1346M). Mereka semua itu sebenarnya telah mengambil cerita Abdullah ibn Saba’ dari satu sumber yaitu; Sayf ibn Umar at-Tamimi dalam bukunya “al-Futuh al-kabir wa al-riddah dan al-Jamal wal-masir Aishah wa Ali”. [Murtadha Askari, Abdullah ibn Saba’ wa digar afsanehaye tarikhi, Tehran, 1360 H].

Sayf adalah seorang penulis yang tidak dipercaya oleh kebanyakan penulis-penulis kitab rijal seperti Yahya ibn Mu’in (w233/847H), Abu Dawud (w275H/888M), al-Nasai (w303H/915M), Ibn Abi Hatim (w327H/938M), Ibn al-Sukn (w353H/964M), Ibn Hibban (w354H/965M), al-Daraqutni (w385H/995M), al-Hakim (w405H/1014M), al-Firuzabadi (w817H/1414M), Ibn Hajar (w852H/1448M), al-Suyuti (w911H/1505M, dan al-Safi al-Din (w923H/1517M).

Abdullah ibn Saba’, kononnya seorang Yahudi yang memeluk Islam pada zaman Uthman, dikatakan seorang pengikut Ali yang setia. Dia mengembara dari satu tempat ke satu tempat lain untuk menghasut orang banyak supaya bangun dan memberontak menentang khalifah Uthman bin Affan. Sayf menyatakan bahwa Abdullah bin Saba’ adalah sebagai pengasas ajaran Sabaiyyah dan pengasas madzhab ghuluww (sesat). Menurut Allamah Askari, pribadi Abdullah ibn Saba’ ini adalah hasil rekaan Sayf yang juga telah berhasil mencipta beberapa pribadi, tempat, dan kota lain hasil khayalannya. Dari cerita Sayf inilah beberapa orang penulis telah mengambil cerita Abdullah ibn Saba’ tersebut. Beberapa orang yang erpengaruh dengan kisah bohong Sayf seperti: Said ibn Abdullah ibn Abi Khalaf al-Ashari al-Qummi (w301H/913M) dalam bukunya al-Maqalat al-Firaq, al-Hasan ibn Musa al-Nawbakhti (w310H/922M) dalam bukunya Firaq al-Shiah, dan Ali ibn Ismail al-As’ari (w324H/935M) dalam bukunya Maqalat al-Islamiyyin.

Allamah al-Askari mengupas hakekat cerita Abdullah ibn Saba’ dari riwayat syiah dari Rijal oleh al-Kashshi. Al-Kashshi telah meriwayatkan dari sumber Sa’d ibn Abdullah al-Ashari al-Qummi yang menyebut bahawa Abdullah ibn Saba’ mempercayai kesucian Ali sehingga menganggapnya sebagai seorang nabi. Hal itu karena mengikut dua riwayat ini, Ali AS memerintahkannya menyingkirkan fahaman tersebut, dan disebabkan keengganannya itu Abdullah ibn Saba telah dihukum bakar hidup-hidup. Walau bagaimanapun menurut Sa’d ibn Abdullah, Ali telah menghalau Ibn Saba’ ke Madain dan di sana dia menetap sehingga Ali AS menemui kesyahidannya. Pada ketika itu Abdullah ibn Saba’ mengatakan: Ali AS tidak wafat, sebaliknya, ia akan kembali semula ke dunia.

Al-Kashshi, selepas meriwayatkan lima riwayat yang berkaitan dengan Abdullah ibn Saba’ menyatakan bahwa tokoh ini didakwa oleh golongan Sunni sebagai orang yang pertama yang mengumumkan tentang Imamah (kepemimpinan) Ali AS. Allamah Askari menyatakan bahwa hukuman bakar hidup-hidup adalah satu perkara bid’ah yang bertentangan dengan hukum Islam, tiada beda antara madzhab Syi’ah ataupun Sunnah.

Kisah tersebut tidak akan pernah kita jumpai dalam kitab-kitab karya tokoh-tokoh sejarah yang masyhur seperti Ibn al-Khayyat, al-Yakubi, al-Tabari, al-Masudi, Ibn Al-Athir, ibn Kathir atau Ibn Khaldun. Peranan yang dimainkan oleh Abdullah ibn Saba’ sebelum peristiwa pembunuhan Uthman atau pada zaman pemerintahan Imam Ali AS tidak pernah disebut oleh para penulis yang terdahulu seperti Ibn Sa’d (w230H/844M0, al-Baladhuri (w279H/892M) atau al-Yaqubi. Hanya al-Baladhuri yang hanya sekali saja menyebut namanya dalam buku Ansab al-Ashraf ketika meriwayatkan peristiwa pada zaman Imam Ali AS. Al-Baladuri berkata: ” Hujr ibn Adi al-Kindi, Amr ibn al-Hamiq al-Khuzai, Hibah ibn Juwayn al-Bajli al-Arani, dan Abdullah ibn Wahab al-Hamdani – ibn Saba’ datang kepada Imam Ali AS dan bertanya kepada Ali AS tentang Abu Bakar dan Umar…”. Ibn Qutaybah (w276H/889M) dalam bukunya al-Imamah wal-Siyasah dan al-Thaqafi (w284H/897M) dalam al-Gharat telah menyatakan peristiwa tersebut. Ibn Qutaybah memberikan identitas orang ini sebagai Abdullah ibn Saba’. Sa’d ibn Abdullah al-Ashari dalam bukunya al-Maqalat wal-Firaq menyebutkan namanya sebagai Abdullah ibn Saba’ pengasas ajaran Saba’iyyah – sebagai Abdullah ibn Wahb al-Rasibi. Ibn Malukah (w474H/1082M) dalam bukunya Al-Ikmal dan al-Dhahabi (w748H/1347M) dalam bukunya al-Mushtabah ketika menerangkan perkataan ‘Sabaiyyah ‘, menyebut Abdullah ibn Wahb al-Saba’i, sebagai pemimpin Khawarij. Ibn Hajar (w852H/1448M) dalam Tansir al-Mutanabbih menerangkan bahawa Saba’iyyah sebagai ‘ satu kumpulan Khawarij yang diketuai oleh Abdullah ibn Wahb al-Saba’i’. Al-Maqrizi (w848H/1444M) dalam bukunya al-Khitat menamakan tokoh khayalan Abdullah ibn Saba’ ini sebagai ‘Abdullah ibn Wahb ibn Saba’, juga dikenali sebagai Ibn al-Sawda’ al-Saba’i.’

Allamah Askari mengemukakan rasa keheranannya disaat tidak seorang pun dari para penulis tokoh Abdullah ibn Saba’ ini menyertakan nasabnya, satu perkara yang agak ganjil bagi seorang Arab yang pada zamannya memainkan peranan yang penting. Penulis sejarah Arab tidak pernah gagal menyebutkan nasab bagi kabilah-kabilah Arab yang terkemuka pada zaman awal Islam. Tetapi dalam kisah Abdullah ibn Saba’, yang dikatakan berasal dari San’a Yaman, tidak dinyatakan kabilahnya. Allamah Askari yakin bahawa Ibn Saba’ dan golongan Sabai’yyah adalah satu cerita khayalan dari Sayf ibn Umar yang ternyata turut menulis cerita-cerita khayalan lain dalam bukunya. Walau bagaimanapun, nama Abdullah ibn Wahb ibn Rasib ibn Malik ibn Midan ibn Malik ibn Nasr al-Azd ibn Ghawth ibn Nubatah in Malik ibn Zayd ibn Kahlan ibn Saba’, seorang Rasibi, Azdi dan Saba’i adalah pemimpin Khawarij yang terbunuh dalam Peperangan Nahrawan ketika menentang Imam Ali AS.

Nampaknya kisah tokoh Khawarij ini telah diambil oleh penulis kisah khayalan itu (Sayf bin Umar at-Tamimi) untuk melukiskan pribadi khayalan yang menjadi orang pertama menyebarkan Imamah Ali AS. Nama pribadi ini tiba-tiba muncul untuk memimpin pemberontakan terhadap khalifah Uthman, menjadi dalang mencetuskan Perang Jamal, menyebarkan kesucian Ali AS, kemudian dibakar hidup-hidup oleh Ali AS atau dihalau oleh Ali AS dan tinggal dalam buangan, selepas wafat Imam Ali AS. Abdullah bin Saba’ dinyatakan sebagai penyebar ajaran kesucian Ali AS, dan Ali tidak mati melainkan akan hidup kembali. Ia digambarkan sebagai pribadi yang paling vokal dan lantang di hadapan musuh-musuh Ali AS.

Menurut Allamah Askari, perkataan Saba’iyyah adalah berasal-usul sebagai satu istilah umum untuk kabilah dari bahagian selatan Semenanjung Tanah Arab iaitu Bani Qahtan dari Yaman. Kemudian disebabkan banyak daripada pengikut-pengikut Imam Ali bin Abi Talib AS berasal dari Yaman seperti Ammar ibn Yasir, Malik al-Ashtar, Kumayl ibn Ziyad, Hujr ibn Adi, Adi ibn Hatim, Qays ibn Sa’d ibn Ubadah, Khuzaymah ibn Thabit, Sahl ibn Hunayf, Uthman ibn Hunayf, Amr ibn Hamiq, Sulayman ibn Surad, Abdullah Badil, maka istilah tersebut ditujukan kepada para penyokong Ali AS ini. Justru Ziyad ibn Abihi pada suatu ketika mendakwa Hujr dan teman-temannya sebagai ‘Saba’iyyah.’ Dengan bertukarnya maksud istilah, maka istilah itu juga turut ditujukan kepada Mukhtar dan penyokong-penyokongnya yang juga terdiri dari kelompok-kelompok yang berasal dari Yaman. Selepas runtuhnya Bani Umayyah, istilah Saba’iyyah telah disebut dalam ucapan Abu al-Abbas Al-Saffah, khalifah pertama Bani Abbasiyyah, ditujukan kepada golongan Syi’ah yang mempersoalkan hak Bani Abbas sebagai khalifah.

Walau bagaimanapun Ziyad maupun Al-Saffah tidak mengaitkan Saba’iyyah sebagai golongan yang sesat. Malahan Ziyad gagal mendakwa bahwa Hujr bin Adi dan teman-temannya sebagai golongan sesat. Istilah Saba’iyyah diberikan maksudnya yang baru oleh Sayf ibn Umar pada pertengahan kedua tahun Hijrah yang menggunakannya untuk ditujukan kepada golongan sesat yang kononnya diasaskan oleh tokoh khayalan Abdullah ibn Saba’.

=============================================================================================================================================================

Hakekat Taqiyah versi Syiah

Beberapa pihak melancarkan kritik terhadap pihak Syi’ah dengan mengatakan bahawa melakukan taqiyah dalam agama adalah bertentangan dengan nilai keberanian. Pemikiran yang paling sederhana sekalipun akan menunjukkan bahawa tuduhan itu salah, sebab taqiyah harus dipraktikkan dalam keadaan orang tersebut menghadapi sesuatu bahaya yang tidak dapat ditolak dan dilawankan. Perlawanan terhadap bahaya semacam itu dan kegagalan untuk mempraktikkan taqiyah dalam keadaan seperti itu menunjukkan tindakan yang semberono dan membabi-buta, dan bukan keberanian.

Hakekat Taqiyah versi Syiah

Salah satu aspek dalam Syi’ah yang paling di salahfahamkan adalah, praktik taqiyah atau menyembunyikan sesuatu dengan berpura-pura. Di sini kami mengabaikan makna yang lebih luas dari taqiyah:”menghindari atau menjauhkan diri dari setiap jenis bahaya”. Kami lebih cenderung mendiskusikan jenis taqiyah dalam arti seorang menyembunyikan agamanya atau beberapa praktik tertentu dari agamanya dalam keadaan-keadaan yang mungkin atau pasti akan menimbulkan bahaya sebagai akibat tindakan-tindakan dari orang-orang yang menentang agamanya atau praktik-praktik keagamaan tertentu.

Di antara pengikut-pengikut berbagai mazhab dalam Islam maka kaum Syi’ah terkenal akan praktik taqiyah mereka. Dalam keadaan bahaya, mereka menyembunyikan agama mereka dan merahasiakan praktik-praktik dan upacara-upacara keagamaan yang khas terhadap lawan-lawan mereka.

Sumber-sumber yang menjadi dasar kaum Syi’ah dalam persoalan ini, termasuk ayat-ayat al-Qur’an seperti di bawah:

“Jangan sampai orang-orang yang beriman menjadikan orang-orang kafir sebagai teman-teman mereka selain orang-orang yang beriman. Barang siapa yang melakukan hal itu maka tidak ada pertolongan dari Allah kecuali untuk menjaga diri terhadap mereka (orang-orang kafir) dengan sebaik-baiknya. Allah memperingatkan kalian (agar selalu ingat) kepadaNya. Dan kepada Allahlah kalian kembali.”[al-Qur’an(3): 28]. (Ungkapan menjaga diri terhadap mereka (orang-orang kafir) dengan sebaik-baiknya diterjemahkan dari tattaqu minhum tuqatan, kata tattaqu dan tuqatan mempunyai akar kata yang sama dengan taqiyah.)

Sebagaimana jelas dari ayat al-Qur’an tersebut, Allah SWT sangat melarang wilayah (yang dalam hal ini bererti persahabatan yang sedikit banyak mempengaruhi hidup seseorang) dengan orang-orang kafir yang memerintahkan agar berhati-hati dan mempunyai rasa khuwatir dalam keadaan semacam itu.

Di tempat lain Ia berfirman:

“Barangsiapa mengingkari Allah sesudah mengimaniNya (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali dia yang terpaksa untuk melakukan itu sedang hatinya masih tenteram dalam keimanan; akan tetapi barang siapa yang membuka dadanya untuk kekafiran, maka laknat Allah menimpa mereka, dan bagi mereka azab yang dahsyat.” [al-Qur’an (16): 106]

Sebagaimana disebutkan dalam kedua sumber, Sunni dan Syi’ah, ayat ini diturunkan mengenai Ammar ibn Yasir. Setelah Nabi SAWW berhijrah, kaum kafir Mekah memenjarakan beberapa orang Islam Mekah, menyiksa dan memaksa mereka untuk meninggalkan Islam dan kembali pada agama mereka semula, yakni menyembah berhala. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah Ammar, berserta ayah dan ibunya. Orang tua Ammar menolak untuk mengingkari Islam dan meninggal kerana siksaan. Tetapi Ammar – untuk menghidari siksaan dan kematian – pura-pura meninggalkan Islam dan menerima penyembahan berhala, dan kerana itu ia terhindar dari bahaya. Setelah dibebaskan, dengan diam-diam ia meninggalkan Mekah pergi ke Madinah. Di Madinah ia mengadap Nabi Muhammad SAWW, dan dalam keadaan menyesal dan sedih dengan apa yang telah dilakukannya ia bertanya kepada Nabi apakah dengan berbuat demikian ia telah keluar dari wilayah kesucian agama. Nabi menjawab bahawa kewajipannya ialah apa yang telah ia lakukan. Kemudian ayat tersebut diwahyukan.

Kedua ayat yang dikutip di atas diturunkan mengenai kes-kes tertentu, akan tetapi pengertiannya begitu rupa, sehingga mencakup seluruh situasi yang menyebabkan pengungkapan kepercayaan dan amal keagamaan yang mungkin dapat membahayakan diri. Selain ayat-ayat ini, terdapat banyak hadith dari Ahlu l-Bait Nabi yang memerintahkan taqiyah jika terdapat kekhawatiran akan bahaya.

Beberapa pihak melancarkan kritik terhadap pihak Syi’ah dengan mengatakan bahawa melakukan taqiyah dalam agama adalah bertentangan dengan nilai keberanian. Pemikiran yang paling sederhana sekalipun akan menunjukkan bahawa tuduhan itu salah, sebab taqiyah harus dipraktikkan dalam keadaan orang tersebut menghadapi sesuatu bahaya yang tidak dapat ditolak dan dilawankan. Perlawanan terhadap bahaya semacam itu dan kegagalan untuk mempraktikkan taqiyah dalam keadaan seperti itu menunjukkan tindakan yang semberono dan membabi-buta, dan bukan keberanian. Sifat-sifat keberanian dapat diamal hanya paling sedikit ada kemungkinan untuk berhasil. Akan tetapi menghadapi suatu bahaya yang pasti atau mungkin terjadi, yang di dalamnya tidak terdapat kemungkinan untuk menang, seperti minum air yang mungkin ada racunnya, atau melemparkan diri ke muka sebuah meriam yang ditembakkan, atau berbaring di atas rel di depan keretapi yang sedang berjalan dengan cepatnya – semuanya perbuatan yang semacam itu – tidak lain daripada kegilaan yang bertentangan dengan logika dan fikiran yang waras.

Dari hal itu, dapat disimpulkan bahawa taqiyah harus dipraktikkan hanya apabila terdapat suatu bahaya yang pasti yang tidak dapat dihindari dan tidak ada harapan menang dalam menghadapinya.

Batas bahaya yang tepat yang memungkinkan dilakukan taqiyah telah diperdebatkan di antara para mujtahid Syi’ah. Dalam pandangan kami, menjalankan taqiyah dapat dibenarkan apabila terdapat bahaya yang pasti, yang mengancam hidup seseorang atau keluarganya, atau kemungkinan hilangnya kehormatan dan kesucian isteri seseorang atau anggota-anggota keluarga wanita lainnya, atau bahaya hilangnya harga benda yang sedemikian banyaknya sehingga mengakibatkan kemiskinan yang total dan tidak memungkinkan seseorang untuk seterusnya memberikan nafkah kepada keluarganya dan dirinya sendiri. Pendek kata, sifat berhati-hati dan menghindari dari bahaya yang pasti atau mungkin datang dan tidak dapat dicegah, merupakan hukum logika yang biasa dan diterima oleh semua orang dan dipraktikkan oleh orang-orang dalam seluruh tahap kesempurnaan mereka yang berbeda-beda.

(Oleh Al-Marhum Allamah Thabathaba’i – Ansariyan Publication,Qum, 1989,Shi’a, hlm. 223; PU Grafiti, 1989, Indonesia,Islam Syi’ah, hlm. 259)

================================================================================================================================================================

Keyakinan Bada’; Penisbatan Bodoh atas Allah?

Pendapat Bada’ ini sebenarnya juga diyakini oleh Ahlussunnah Waljama’ah seperti juga Syi’ah. Namun mengapa Syi’ah yang menjadi sasaran cemoohan dan bukan Ahlussunnah yang berpendapat bahwa Allah SWT merubah hukum-hukum dan menukar ajal dan rizki?

Keyakinan Bada’ (Perobahan Takdir); Meniscayakan Allah bodoh?

Al-Bada’ ialah suatu keinginan untuk melakukan sesuatu tetapi kemudian keinginan tersebut berubah kepada sesuatu yang tidak diinginkan sebelumnya, dikarenakan suatu hal lain.

Adapun pendapat Syi’ah mengenai Bada’ dan usaha mengaitkannya kepada Allah Ta’ala telah dicemooh oleh Ahlussunnah, karena menurut ahlusunnah konsekuensi akan hal itu adalah menisbatkan kejahilan dan kebodohan kepada Allah SWT. Tuduhan itu suatu penafsiran yang batil dan Syi’ah tidak pernah mengatakan demikian, barangsiapa yang menuduh mereka berbuat demikian, maka ia telah melakukan suatu kebohongan, sebagai bukti inilah pendapat-pendapat mereka baik dahulu maupun sekarang :

Berkata Syaikh Muhammad Ridla Al-Muzhaffar dalam kitabnya “Aqaid Al-Imamiyah” : “Bada’ dengan pengertian seperti itu adalah mustahil bagi Allah Ta’ala, karena ia termasuk dari kejahilan dan kekurangan yang mustahil bagi Allah Ta’ala dan bukan juga dari pendapat Imamiyah”.

Berkata Imam Ash-Shadiq (AS) : ” Barang siapa mengatakan bahwa Allah telah berkehendak melakukan sesuatu lalu menyesalinya maka menurut Kami ia telah kafir terhadap Allah yang Maha Agung”. Dan beliau (AS) berkata lagi : “Barangsiapa mengatakan bahwa Allah telah berkehendak melakukan sesuatu yang tidak diketahui sebelumnya maka Aku berlepas diri darinya”.

Kalau begitu Bada’ yang dikatakan Syi’ah tidak melebihi batas-batas Al-Quran yang menyebutkan firman Allah : ” Allah menghapus apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan disisi-Nya-lah terdapat Ummul Kitab (Lauh Mahfuzh) “. [Q.S. Ar-Ra’d 39]

Pendapat Bada’ ini sebenarnya juga diyakini oleh Ahlussunnah Waljama’ah seperti juga Syi’ah. Namun mengapa Syi’ah yang menjadi sasaran cemoohan dan bukan Ahlussunnah yang berpendapat bahwa Allah SWT merubah hukum-hukum dan menukar ajal dan rizki seperti dalam beberapa riwayat berikut ini.

Ibnu Munzir, Ibnu Abi Hatim dn Al-Baihaqy telah menyebutnya dalam As-Syu’ab dari Qais bin Ubbad, katanya : “Allah mempunyai instruksi pada setiap malam kesepuluh dari bulan-bulan suci, sementara pada 10 Rajab Allah menghapus apa yang Dia kehendaki dan menetapkannya.

Bukhori meriwayatkan dalam Shohih-nya, suatu kisah yang ajaib dan aneh yangmenceriterakan peristiwa mi’raj-nya Rasul SAWW dan pertemuan beliau dengan Tuhannya, di antaranya Rasulullah SAWW bersabda : “Lalu diwajibkan padaku 50 kali shalat dan aku terima, ketika aku bertemu dengan Musa, ia bertanya : ‘Apa yang kamu perbuat ?’, aku jawab : ‘Telah diwajibkan kepadaku 50 kali shalat’. Musa berkata : ‘Aku lebih tahu tantang urusan manusia dari pada kamu, aku telah menghadapi bani Israil dengan susah payah dan sesungguhnya ummatmu tidak akan sanggup menunaikannya, kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan’. Maka aku kembali meminta keringanan dan dijadikannya 40 kali. Musa masih mendesakku untuk kembali, maka dijadikannya 30 kali, aku kembali lagi dan dijadikannya 20 kali, aku kembali lagi dan dijadikannya 10 kali, lalu aku mendatangi Musa dan beliau berkata hal yang sama, lalu Allah menjadikannya 5 kali. Kemudian aku mendatangi Musa lagi, Musa bertanya : ‘Apa yang telah engkau perbuat?’, aku katakan : ‘Allah telah menjadikannya 5 kali’, maka Musa mendesakku lagi, maka aku berkata aku telah mengucapkan salam dan aku diberitahu bahwa aku telah menjalankan tugasku, kemudian Allah berfirman : ‘Aku telah memberi keringanan kepada hamba-hamba-Ku dan Aku akan membalas setiap kebaikan dengan sepuluh kali ganda “.

Dalam riwayat lain yang dinukil oleh Bukhori dikatakan bahwa setelah NabiMuhammad Saww menghadap Tuhannya beberapa kali dan setelah mendapat kewajiban 5 kali shalat, Musa AS meminta supaya Muhammad SAWW kembali lagi menemui Tuhannya untuk mendapat keringanan karena ummatnya tidak akan sanggup melakukan 5 kali shalat, akan tetapi Muhammad SAWW menjawab : “Aku malu kepada Tuhanku”.

Ref.

1. Shohih Bukhori, bab “Mi’raj”.

2. Shohih Muslim, bab “Isra’ Rasulullah dan kewajiban shalat”. Apakah ini bukan Bada’ ?

Sungguh ajaib pengertian Bada’ yang diriwayatkan oleh Ahlussunnah Wal-Jama’ah ini, namun sungguhpun demikian mereka mencemuh Syi’ah yaitu para pengikut Imam Ahlul Bait (AS) yang mempercayai Bada’ seperti yang dimaksud dalam [Q.S. Ar-Ra’d 39].

Dalam kisah ini mereka mempercayai bahwa Allah SWT. Telah mewajibkan kepada Nabi Muhammad SAWW sebanyak 50 kali shalat sehari semalam, kemudian setelah kembali kepada-Nya berulah dirubah menjadi 40 kali, kamudian setelah kembali untuk kali kedua dijadikan 30 kali, kemudian untuk kali ketiga dijadikan 20 kali, kemudian untuk kali keempat dijadikan 10 kali, dan ahirnya menjadi 5 kali.

Jelas sekali terlihat bahwa riwayat tentang Mi’raj ini menyebabkan orang mengaitkan kebodohan kepada Allah ‘Azza Wa Jalla, dan memperkecil kepribadian manusia paling agung yang pernah dikenal sejarah manusia, yaitu Nabi Muhammad SAWW, ketika si perawi mengatakan bahwa Musa AS berkata kepada Muhammad SAWW : “Aku lebih tahu tentang urusan manusia dari padamu “.

Dan riwayat ini juga memberikan keutamaan dan keistimewaan kepada Musa AS yang kalau tidak karenanya, Allah tidak memberi keringanan kepada ummat Muhammad SAWW.

Saya heran bagaimana Musa AS mengetahui bahwa ummat Muhammad SAWW tidak sanggup menunaikan sholat sekalipun hanya 5 kali sehari semalam sehingga menyuruh Rasulullah SAWW untuk meminta keringanan lagi, sementara Allah sendiri tidak mengetahuinya sehingga di awalnya memaksakan bagi hamba-Nya untuk melakukan sesuatu di luar kemampuan mereka dengan mewajibkan kepada mereka shalat 50 kali.

Jika Ahlussunnah Waljama’ah mencemuh Syi’ah karena mempercayai Al-Bada’ (bahwasanya Allah hendak melakukan sesuatu lalu merubahnya sesuai keinginan-Nya), mengapa mereka tidak mencemuh diri mereka sendiri yang berpendapat dan meyakini (seperti yang terdapat dalam Bukhori dan Muslim) bahwa Allah SWT hendak melakukan sesuatu namun merubah dan menukar hukum-Nya sebanyak lima kali dalam satu kewajiban dan dalam satu malam, yaitu malam Mi’raj.

Barangkali ada orang yang merasa keberatan kalau dikatakan bahwa perkataan Bada’ itu juga terdapat dalam Ahlussunnah seperti dalam kisah di atas, sekalipun memberi arti perobahan dan penukaran dalam perkara hukum. Karena sering kali jika kisah Mi’raj ini dikemukakan untuk membuktikan bahwa pendapat Bada’ juga ada pada Ahlussunnah, maka sebagian dari mereka merasa keberatan menerimanya. Karenanya ada baiknya saya bawakan riwayat lain dari Shohih Bukhori yang menyebutkan perkataan Bada’ secara persis.

Bukhori meriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAWW bersabda : “Sesungguhnya terdapat tiga orang dari Bani Israil yang mana mereka itu terdiri dari; seorang belang, seorang buta dan seorang lagi botak, maka Allah berkehendak merubahnya (Bada’) dengan menguji mereka, maka Allah mengutus seorang malaikat kepadanya dan berkata kepada si belang : “Apakah gerangan yang paling engkau sukai ?” ia menjawab : “warna dan kulit yang lebih baik karena semua orang merasa jijik terhadapku”. Lalu malaikat itu mengusapnya dan pergi, maka berubahlah warna dan kulitnya menjadi baik, kemudian bertanya padanya : “Harta apakah yang paling engkau senangi ?”, ia menjawab : “Unta”, maka diberinya seekor unta yang sedang hamil 10 bulan. Lalu mendatangi si botak dan menanyakan : “Apakah gerangan yang paling engkau sukai ?”, ia menjawab : “Rambut indah yang dapat menutupi botakku karena semua orang mengejekku”, maka malaikat itu mengusapnya dan menghilangkan botaknya dengan rambut yang indah, kemudian bertanya kepadanya : “Harta apakah yang paling engkau senangi ?”, ia menjawab : “Sapi”, maka diberinya seekor sapi yang sedang hamil. Kemudian mendatangi si buta dan bertanya : “Apakah gerangan yang paling engkau sukai ?”, ia menjawab : “Aku ingin supaya Allah mengembalikan pengelihatanku”, maka ia mengusapnya dan Allah kembalikan padanya pengelihatannya, ia bertanya lagi : “Harta apakah yang paling engkau senangi ?”, ia menjawab : “Kambing”, maka diberikan kepadanya seekor kambing yang subur. Kemudian malaikat itu kembali menemui mereka setelah masing-masing mempunyai ternak unta, sapi dan kambing yang banyak, lalu ia mendatangi si belang, si botak dan si buta untuk meminta kembali apa yang telah menjadi miliknya, tetapi si botak dan si belang menolak memberikan padanya maka Allah kembalikan mereka seperti keadaan asalnya, sementara si buta memberinya maka Allah kekalkan penglihatannya “.

Ref. :

Shohih Bukhori, juz 2, hal. 259.

saudaraku……..
Saya juga berharap agar umat Islam membuang rasa fanatik buta yang telah didoktrinkan selama ini, serta meninggalkan perasaan emosi, supaya “akal” dapat mengambil tempatnya dalam setiap penelitian sekalipun terhadap musuh-musuh mereka, dan hendaknya mereka belajar dari Al-Quran mengenai cara-cara pembahasan, diskusi dan perdebatan dengan metode yang baik. Sebagaimana firman Allah dalam [Q.S. Al-Ankabut 46] : “Janganlah kalian berdebat dengan kaum ahlil kitab kecuali dengan cara yang paling baik”.

Kurang lebih bada’ seperti halnya naskh dalam syari’at Islam. Bukankah kalian saksikan bagaimana Allah swt merubah arah qiblah dari Masjidil Aqso ke Ka’bah? Hal itu bukan berarti kebodohan Allah terhadap sebagaian maslahat sehingga Dia menyesal akan hukum-Nya yang pertama yaitu shalat ke arah Masjidil Aqsa, melainkan sejak semula Dia menetapkan Ka’bah sebagai qiblah setelah Masjidil Aqsa, akan tetapi Dia tidak mengumumkannya karena beberapa maslahat seperti ujian untuk orang-orang beriman.

Bada’ dalam Pandangan Syiah

Dalam ideologi Syiah, bada’ menempati posisi yang urgen sehingga hampir semua buku teologi atau filsafat islam terdahulu memuat pembahasan ini secara terperinci atau global. Para ulama mencoba untuk meneruskan jejak al-Quran dan Sunnah dalam sosialisasi persoalan tersebut. Allamah Tehrani meriwayatkan sekitar dua puluh lima karangan khusus tentang bada’ yang ditulis oleh ulama Syiah terdahulu[1].

Namun demikian, esensi bada’ dalam perspektif Syiah masih tersembunyi bagi tokoh-tokoh ahlussunnah seperti Balkhi, Imam Asy’ari, Fakhrurrazi dan yang lain. Lebih tragis lagi bahwa keyakinan terhadap bada’ menjadi salah satu dalih bagi orang-orang fanatik yang membenci Syiah untuk menghujamnya secara tuntas.

Di saat Syiah meyakini bahwa kepercayaan terhadap bada’ merupakan salah satu asas ideologi islam yang menentang keyakinan Yahudi dan Nasrani berkaitan dengan tindakan Allah, begitu pula Qadariah yang menuhankan takdir sehingga Allah tidak lagi mampu untuk mengubah apa yang telah Dia taqdirkan dan mengganti apa yang sudah Dia tetapkan. Di saat yang sama pula tokoh-tokoh ahlussunnah menganggapnya sebagai penghancur agama.

Tentunya bagi pemula akan merasa kebingungan melihat realitas ini, bagaimana mungkin satu persoalan menjadi bukti keesan Tuhan dan kesempurnaan-Nya dalam penciptaan, dan di saat yang sama merupakan pengingkaran terhadap Ilmu Tuhan.

Perselisihan ini disebabkan oleh fanatisme mazhab yang membuat keruh permasalahan dan mencegah seseorang untuk sampai kepada kebenaran. Andaikan setiap kelompok siap mendengarkan penjelasan dari kelompok lain tanpa diiringi hawa nafsu dan fanatisme niscaya mereka akan mengetahui bahwa perselisihan yang terjadi berkenaan dengan bada’ tidak lain adalah perbedaan kata, bukan perbedaan yang sesungguhnya. Sebagaimana sebagian orang menyebut televisi dengan layar kaca, begitupula dengan hakekat bada’, Syiah mempercayainya dengan nama bada’ dan ahlussunnah meyakininya dengan nama yang berbeda; mahw wa itsbat (penghapusan dan penetapan).

Syekh Mufid (338-418 H) menjelaskan kenapa Syiah menggunakan istilah bada’? Penggunaan kata bada’ disebabkan oleh riwayat tentang perantara antara hamba dan Allah swt, dan seandainya tidak ada riwayat yang sahih tentang hal itu niscaya penggunaan kata bada’ untuk Allah swt tidaklah benar, sebagaimana jika tidak ada dalil tektual yang menggunakan kata marah, rela, cinta untuk Allah swt niscaya saya tidak akan menggunakan kata-kata itu untuk-Nya. Akan tetapi oleh karena dalil tektual menggunakan kata tersebut dalam arti yang tidak bertentangan dengan akal maka saya pun menggunakannya[2]. Jelas bahwa dalam hal ini kami tidak berbeda dengan muslimin yang lain, perbedaan kita hanya terletak pada penggunaan kata saja, dan inilah maksud daripada bada’ dalam perspektif Syiah imamiah. Oleh karena itu semua perselisihan yang terjadi di sini tidak lebih dari sebuah nama, bukan pada arti dan maksud.

Arti dan Argumentasi Bada’

Arti leterlek bada’ adalah kejelasan setelah ketersembunyian. Hal ini sering terjadi pada diri manusia ketika hendak mengambil keputusan tertentu, terkadang dia menggagalkan programnya karena kejelasan beberapa hal. Begitupula sebaliknya, (merubah tekadnya untuk pergi dikarenakan berita terbaru akan cuaca buruk), perubahan itu terjadi pada diri manusia karena keterbatasan ilmu manusia dalam memperhitungan untung dan ruginya tindakan yang akan dia laksanakan. Al-Quran juga pernah menggunakan kata ini dalam arti bahasanya, namun sama sekali tidak pernah menisbatkannya kepada Allah yang Maha Mengetahui dan Maha Kuasa. Dia berfirman: “wa badaa lahum sayyiaatu maa kasabuu…” (al-Zumar 48) yang artinya: “dan telah jelas bagi mereka balasan daripada dosa-dosa yang telah mereka lakukan…”.

Perubahan ini hanya mungkin terjadi pada setiap keberadaan yang terbatas. Maha suci Allah dari perubahan seperti ini. Karena Dia adalah Keberadaan Yang tidak terbatas, memiliki kekuasaan dan pengetahuan yang tidak ada batasannya, bagaimana mungkin Yang Maha Kuasa dan Maha Mengetahui merubah keputusannya dikarenakan kebodohan dia terhadap maslahat tertentu? Menurut saya seorang muslim yang mengenal Quran dan Sunnah tidak akan pernah mengizinkan dirinya atau orang lain untuk menisbatkan arti bada’ semacam ini kepada Allah swt. Kalaupun sebagian ulama seperti Balkhi, Rozi dan lainnya menisbatkan pendapat ini kepada Syiah, ketahuilah hal itu mungkin akibat dari ketidaktahuan mereka tentang akidah Syiah yang sesungguhnya. Karena mereka tidak merujuk pada referensi otentik yang ditulis oleh Ulama syiah terdahulu ataupun riwayat dari para Penghulu Syiah; Ahlul Bait as.

Sungguh Syiah jauh dari tuduhan itu, bahkan Syiah mempercayai bahwa penisbatan arti bada’ di atas kepada Allah adalah kekafiran. Bagaimana mungkin bisa dibenarkan tuduhan itu di saat sejak semula Syiah beriman pada ilmu dan kekuasaan Allah swt yang tidak terbatas sesuai dengan Quran, sunnah Nabi saww dan para Imam as, serta akal sehat. Sebagai contoh; logiskah mereka menuduh Syiah demikian di saat Imam Ja’far Shadiq as menafsirkan ayat yang berbunyi: “yamhul loohu maa yasyaa’u wa yutsbitu wa ‘indahu ummul kitabi”, yang artinya: Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkanya, dan di sisinya Ummul Kitab (al-Ra’du 39) dengan berikut ini: “maka seluruh apa yang Allah kehendaki, Dia mengetahuinya sebelum Dia laksanakan, tidak ada sesuatu apapun yang tampak bagiNya kecuali sudah Dia ketahui sebelumnya, sungguh tidak tampak bagi-Nya sesuatu yang tidak Dia ketuahui”.[3]

Lebih dari itu bahwa para penghulu Syiah (ahlul bait) as bersabda kepada kita sesungguhnya: “maa ‘ubidal loohu bi syai-in mitslil badaa’I” yang artinya: Allah tidak pernah disembah dengan sesuatu seperti bada’, dan “maa ‘uzdimal loohu ‘azza wa jalla bi mitslil bada’I” yang artinya: Allah tidak pernah diagungkan dengan sesuatu seperti bada’. Hal ini menunjukkan bagaimana pentingnya keyakinan terhadap bada’ yang terhitung sebagai penyembahan dan pengagungan terbesar, sehingga diriwayatkan pula bahwa: “law ya’lamun naasu maa fiil qowli bil bada’I minal ajri maa fataruu ‘anil kalami fiihi” yang artinya: “Andaikan semua orang mengetahui pahala di balik pembincangan tentang bada’ niscaya mereka tidak akan pernah bosan membicarakannya”.[4]

Mengingat keyakinan Syiah tersebut, setiap orang akan dengan mudah mengerti bahwa bada’ yang diyakini oleh Syiah bukan berarti leterlek kejelasan sesuatu setelah ketersembunyiannya, dan tuduhan sebagian ulama seperti Balkhi dan Rozi bahwa Syiah memperbolehkan kejelasan sesuatu bagi Allah swt setelah kebodohan-Nya akan hal itu, adalah tidak benar. Mungkin karena mereka tidak mengetahui pendapat Syiah yang sesungguhnya, atau tidak mau tahu ataupun tahu tapi tidak mau memberitahu.

Bada’ dalam terminologi Syiah memiliki dua arti: pertama adalah arti leterlek yang hanya mungkin disandarkan kepada keberadaan yang terbatas. Adapun arti kedua merupakan sebuah terminologi yang berbeda dengan arti leterlek di atas dan sesuai dengan keyakinan mayoritas muslim termasuk ahlussunnah, mereka menyebutnya dengan mahw wa itsbat (penghapusan dan penetapan) dan Syiah menyebutnya dengan bada’.

Bada’ dalam terminologi Syiah dan yang boleh atau harus disandarkan kepada Allah swt adalah pengubahan takdir karena amal shaleh atau tindakan jahat. Allah swt mampu untuk merubah akibat buruk yang telah Dia takdirkan atau tentukan untuk seseorang dikarenakan amal shaleh yang dia lakukan sehingga dia masuk surga. Begitupula sebaliknya Allah swt mampu merubah akibat baik yang Dia tentukan bagi seseorang dikarenakan perbuatan jahat yang dia lakukan sehingga dia terjerumus ke neraka. Di dalam Al-Quran disebutkan: “Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkannya, dan ummul kitab berada di sisinya” ), maka dari itu Dia mendahulukan apapun yang dikehendaki-Nya dan mengakhirkan apapun yang dikehendaki-Nya pula. Dia juga berfirman: “innal looha laa yughoyyiru maa bi qoumin hatta yughoyyiruu maa bi anfusihim”; yang artinya: sesungguhnya Allah tidak merubah apa yang ada pada sebuah kaum sehingga mereka sendiri merubah apa yang ada pada diri mereka (al-Ra’d 11).

Kedua ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa takdir Allah tidak mendominasi kekuasaannya seperti yang diyakini oleh Yahudi, melainkan kehendak dan kemampuan-Nya mendominasi takdir itu. Dia mampu merubah takdir yang Dia tentukan; “kullu yaumin huwa fii sya’nin”; yang artinya: setiap hari Dia berada pada posisi dan tindakan (al-Rahman 29). Kedua ayat itu menjelaskan pula bahwa takdir bukan berarti keterpaksaan manusia dan menghapuskan hak pilihnya (ikhtiyar), melainkan dia bisa berdo’a, berharap dan beramal shaleh sehingga Allah merubah akibat buruknya menjadi akibat yang baik dan mengeluarkannya dari golongan orang-orang yang celaka serta memasukkannya ke surga bersama orang-orang yang bahagia.

Betapa banyak ayat dan riwayat yang mencerminkan realitas bada’, Allah berfirman: “dzalika bi annal looha lam yaku mughoyyiron ni’matan an’amaha ‘ala qoumin hattaa yughoyyiruu maa bi anfusihim” (al-Anfaal 53), yang artinya: “Hal itu dikarenakan Allah swt tidak akan merubah nikmat yang telah Dia berikan kepada satu kaum sehingga mereka sendiri merubah apa yang ada pada diri mereka”. Itu berarti jika mereka mengambil tindakan-tindakan perubahan tertentu maka Allah swt akan merubah takdir pertamanya dan merubah nikmat yang telah Dia tentukan dan takdirkan sebelumnya.

Di tempat lain Dia berfirman: “wa man yattaqil laha yaj’al lahu makhrojan wa yarzuqhu min haytsu laa yahtasibu” (al-Thalaq 2-3), yang artinya: “Dan barang siapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya dan memberinya rizqi dari tempat yang tidak dia perhitungkan”. Itu berarti orang yang berada dalam kesulitan dan kemiskinan bisa merubah nasib dan takdirnya dengan cara bertaqwa kepada Allah, dan karena ketaqwaannya maka Allah akan mencarikan jalan keluar baginya dari segala kesulitan dunia dan akhirat serta memberinya rizki dari tempat yang tidak dia sangka.

Allah juga berfirman: “la’in syakartum la aziidannakum wa la’in kafartum inna ‘adzaabii lasyadiid” (Ibrahim 7), yang artinya: “Jika kalian berterima kasih sungguh aku akan tambahkan rizqi kepada kalian dan jika kalian kafir ketahulilah sesungguhnya siksaku sangatlah dahsyat”. Ayat ini dengan jelas mencerminkan realitas bada’ dengan terminologi di atas. Di satu sisi tindakan syukur dan terima kasih dapat menambah rizqi yang telah ditakdirkan untuknya, di sisi lain pengingkaran terhadap nikmat Tuhan dapat mengurangi rizqi yang telah ditakdirkan, karena apa artinya kekayaan yang berakhir pada siksa yang dahsyat?!

Itulah sebagian contoh dari ayat-ayat yang mencerminkan realitas bada’, di samping itu ada banyak sekali riwayat yang mendukungnya. Ibn Mas’ud ra berkata dalam do’anya: …jika Kamu (Allah) mencatatku di dalam Ummul Kitab di sisimu sebagai orang yang sengsara maka hapuslah nama kesengsaraan dariku dan tetapkan diriku sebagai orang yang berbahagia di sisi-Mu, dan jika Kamu mencatat diriku di dalam Ummul Kitab sebagai orang yang miskin dan kesulitan maka hapuslah kesulitan itu dariku dan mudahkanlah rizkiku serta tetapkanlah diriku sebagai orang yang bahagia di sisi-Mu dan sukses dalam kebaikan, maka sesungguhnya Kamu telah berfirman di dalam Quran: “yamhul loohu maa yasyaa’u wa yutsbitu wa ‘indahu ummul kitabi” yang artinya: “Allah menghapuskan apapun yang dikehendakiNya dan menetapkannya, dan ummul kitab di sisi-Nya”.[5]

Abu Hurairah meriwayatkan dari Nabi saww bersabda: “laa yaruddul qodlo’a illad du’aa’u wa laa yaziidu fiil ‘umri illal birru” yang artinya: “tidak ada yang dapat menolak ketentuan Allah kecuali do’a, dan tidak ada yang dapat menambah umur kecuali perbuatan baik”.[6] Hadis ini juga diriwayatkan oleh Hakim dalam mustadrak-nya jld 1 hal 493 dengan sanad yang berbeda. Imam Ali Ridlo as bersabda: “yakuunur rojulu yashilu rahimahu fayakuunu qod baqiya min ‘umrihi tsalaatsu siniina fayushoyyirohaal loohu tsalaatsiina sanatan wa yaf’alul loohu maa yasyaa’u” yang artinya: “ada seorang lelaki bersilaturahmi (menyambung hubungan famili), sedangkan tersisa dari umurnya tiga tahun, maka Allah merubah tiga tahun menjadi tiga puluh tahun dan Dia melakukan apapun yang Dia kehendaki”.[7]

Kurang lebih bada’ seperti halnya naskh dalam syari’at Islam. Bukankah kalian saksikan bagaimana Allah swt merubah arah qiblah dari Masjidil Aqso ke Ka’bah? Hal itu bukan berarti kebodohan Allah terhadap sebagaian maslahat sehingga Dia menyesal akan hukum-Nya yang pertama yaitu shalat ke arah Masjidil Aqsa, melainkan sejak semula Dia menetapkan Ka’bah sebagai qiblah setelah Masjidil Aqsa, akan tetapi Dia tidak mengumumkannya karena beberapa maslahat seperti ujian untuk orang-orang beriman.

Begitupula halnya bada’ dalam penciptaan, Allah swt dapat merubah ketentuan dan takdir-Nya yang pertama, memanjangkan umur seseorang karena menyambung hubungan familinya, dan mengurangi umur seseorang karena memutus hubungan familinya, manambah dan mengurangi rezeqi, menghidupkan dan mematikan, menyakitkan dan menyehatkan dan lain sebagainya.

Ahlusunnah menyebut kepercayaan ini dengan mahw wa itsbat yakni penghapusan dan penetapan, kentdatipun demikian tidak semestinya mereka tabu atau takut dengan penggunaan kata bada’ untuk keyakinan tersebut, karena kata ini juga pernah digunakan Rasulullah saww dan para sahabatnya. Sahih Bukhari, kitab pertama dan paling benar setelah Quran –menurut Ahlusunnah- menukil riwayat di mana Rasulullah saww bersabda:

“inna tsalaatsatan fii banii isroo’ila abrosho wa ‘a’maa wa aqro’a badaal loohu ‘azza wa jalla an yabtaliyahum faba’atsa ilaihim malakan fa atal abroso wa……”

yang artinya: “Ada tiga orang dari Bani Israel yang terserang penyakit kusta, buta dan botak, ketika itu terjadilah bada’ bagi Allah swt untuk menguji mereka, maka Dia mengutus malaikat kepada mereka, lalu malaikat itu mendatangi yang sakit kusta dan menanyakan apa yang dia inginkan? Dia menjawab warna dan keindahan kulit, karena dengan wajah ini saya dibenci masyarakat, maka malaikat itu mengusap tubuhnya sehingga warna dan kulitnya menjadi indah. Begitupula dengan dua orang yang lain”.[8]

Sama seperti penggunaan kata marah, rela, cinta, benci, wajah, tangan dan lain sebagainya untuk Allah swt, sepintas kata-kata ini memiliki arti yang identik dengan keterbatasan seperti emosi beserta tahapan-tahapannya dan juga materialistis, sehingga tidak mengizinkan kita untuk menyandangkan kata-kata ini kepada Allah swt. Namun apabila kita selidiki lebih dalam, pada hakekatnya keterbatasan itu tidaklah identik dengan arti kata-kata di atas yang sesungguhnya. Terlebih lagi bahwa penggunaan kata dalam setiap bahasa terkadang pada artinya yang hakiki dan terkadang pula secara kiasan dan majaz, bahkan tidak sedikit bahwa penggunaan kata secara majaz dan kiasan lebih mampu untuk menyampaikan sesuatu dan lebih tepat. Disamping itu pula, adalah satu hal yang wajar perbedaan antara arti leterlek sebuah kata dengan arti terminologis kata tersebut. Oleh karena itu kebencian sebagian Ulama Ahlussunnah terhadap penggunaan kata bada’ untuk Allah swt tidak pada tempatnya, kendatipun kita juga tidak pernah melarang mereka untuk menggunakan kata mahw wa itsbat dalam maksud yang sama.

Dampak Mempercayai Bada’

Keyakinan terhadap bada’ berdampak positif pada kehidupan manusia baik secara ideologis maupun secara psikologis. Adapun yang pertama adalah bahwa muncul dan tetapnya alam semesta berada di bawah naungan kuasa dan kehendak Allah swt, hanya Dia yang mampu dan hanya kehendak-Nya yang dapat merubah atau menetapkan alam semesta, “kullu yaumin huwa fii sya’nin” yang artinya: “Setiap hari Dia pada posisi dan tindakan”. Otomatis kepercayaan Yahudi adalah dusta, di saat mereka menganggap tangan dan kekuasan Allah swt terbelenggu, “wa qoolatil yahuudu yadul loohi maghluulatun ghullat aydiihim wa lu’inuu bimaa qooluu bal yadaahu mabsuuthotaani yunfiqu kanfa yasyaa’u” yang artinya: “Yahudi berkata tangan (kekuasaan) Allah terbelenggu –tidak demikian melainkan- tangan merekalah yang terbelenggu, dan terlaknatlah mereka atas apa telah mereka katakan, bahkan kedua tangan (kekuasaan) Allah swt terbentang, Dia memberi sebagaimana yang Dia kehendaki”(al-Ma’idah 64)

Adapun secara psikologis, keyakinan terhadap bada’ menarik perhatian lebih dari seseorang kepada Allah swt, keyakinan ini membuat seseorang merasakan bahwa segala urusan dunia dan akhirat ada di tangan Allah swt, keyakinan ini membangkitkan harapan pada seseorang untuk dapat merubah takdir buruknya menjadi baik melalui amal shaleh dan tunduk serta do’a kepada Allah swt. Dengannya manusia tidak akan pernah putus asa dari rahmat Allah swt, dia selalu berusaha untuk taat terhadap semua perintahnya dan menjauhkan diri dari segala bentuk kemaksiatan.

Sedangkan orang yang mengingkari bada’ dan berkeyakinan bahwa takdir Allah swt untuk dirinya pasti terjadi dan tidak ada satupun yang mampu menghalanginya, maka tidak ada lagi harapan untuk berdo’a dan berusaha, seberapa lamapun dia berdo’a dan beramal shaleh tetap takdir buruk neraka menantinya. Sebaliknya seberapa pun seseorang berbuat jahat kalau takdirnya yang semula baik maka dia akan masuk surga. Kalau memang takdir Allah swt dia menjadi orang kaya maka semalas apapun dia tetap menjadi kaya, sebaliknya jika takdir seseorang adalah miskin maka semua usahanya untuk menjadi orang berduit tidak akan membuahkan hasil. Tangisan dan do’a, sedekah dan tawasul serta segala bentuk tindakan manusia sama sekali tidak mempengaruhi takdirnya, dengan demikian konsekwensinya adalah seluruh ayat dan riwayat yang mencerminkan relaitas bada’ adalah batil atau omong kosong belaka. Usaha sebuah kaum untuk merubah nasibnya tidak akan berhasil, syukur kepada Allah swt tidak akan menambah rezeqi. Kafir terhadap nikmatnya juga tidak menyebabkan siksa yang dahsyat, do’a tidak akan merubah qodlo’ dan qadar, silaturahmi tidak akan menambah umur, memutus hubungan famili tidak akan mengurangi usia dan seterusnya. Ringkasnya Quran dan sunnah tidak lagi suci dan benar, serta kehidupan manusia menjadi sangat terancam kehancuran.

Kesimpulan

1. Bada’ merupakan salah satu asas agama islam, yang membedakannya dengan Yahudi dan Nasrani serta menjauhkannya dari penyelewengan Qodariah.

2. Bada’ adalah perubahan takdir karena amal shaleh atau tindakan jahat. Bada’ menjelaskan bahwa takdir tidak mendominasi kuasa Allah melainkan Allah kuasa untuk merubah takdir yang Dia tentukan.

3. Bada’ adalah kesepakatan muslimin; hanya saja Ahlusunnah menyebutnya dengan mahw wa itsbat.

4. Penggunaan kata bada’ disebabkan oleh riwayat dari Nabi saww dan para Imam as yang menggunakan kata tersebut.

5. Keyakinan terhadap bada’ memberi harapan kepada seseorang untuk menjadi baik, sedangkan pengingkaran terhadap bada’ membuat seseorang putus asa dan mengancam kehidupan sosial manusia.

=================================================================================================================================================================

Nikah Mut’ah Sama dengan Zina?

Ia (Jabir) mengatakan: “Melalui diriku hadis tersebut didapat, kita telah melakukan mut’ah bersama Rasulullah (saww) juga bersama Abu bakar, akan tetapi setelah berkuasanya Umar, ia (Umar) pun mengumumkannya pada masyarakat dengan ucapan: “Sesungguhnya Al-Qur’an tetap posisinya sebagai Al-Qur’an sedang Rasulullah (saww) tetap sebagai Rasul, ada dua jenis mut’ah yang ada pada zaman Rasul; haji mut’ah (haji tamattu’ .red) dan nikah mut’ah”. Kalaupun nikah mut’ah haram lantas kenapa kita juga tidak mengharamkan mut’ah haji yang sampai detik ini masih dilakukan oleh semua kaum muslimin dunia padahal ia termasuk yang diharamkan oleh khalifah kedua?

Nikah Mut’ah Sama dengan Zina?

Sudah menjadi kesepakatan segenap kaum muslimin bahwa nikah mut’ah pernah ada pada zaman Rasul sebagaimana yang tercantum dalam kitab-kitab standar Sunni maupun Syiah. Disebutkan bahwa Rasul (saww) pernah membolehkan pernikahan jenis tersebut, akan tetapi lantas terjadi perbedaan pendapat diantara para pengikut Islam adakah Rasul sampai akhir hayat beliau tetap membolehkan pernikahan itu ataukah tidak? Sebagian dari mereka mengatakan bahwa sebelum pulangnya Rasul (saww) ke rahmatullah beliau telah melarang pernikahan tersebut atau dengan istilah yang sering dipakai hukum dibolehkannya nikah mut’ah telah mansukh (terhapus). Sebagian lagi mengatakan bahwa sampai akhir hayat beliaupun beliau tidak pernah melarangnya, akan tetapi seorang yang bernama Umar bin Khatab lah yang kemudian melarangnya sewaktu ia menjabat kekhalifahan.

Dari dua pendapat diatas dalam tulisan ini akan di bahas manakah dari pendapat tersebut yang lebih dekat pada kenyataan? Apakah nikah mut’ah telah dimansukh oleh Rasul atau tidak? Kalaulah tidak lantas apakah wewenang dan dasar yang dipakai oleh Umar untuk mengharamkannya? Adakah ia melakukan berdasarkan konsep ijtihad? Sedang Imam Ali (as) –sebagai khalifah keempat ahlissunnah- tidak pernah mengharamkannya? Bolehkah dalam Islam melakukan ijtihad walau bertentangan dengan ayat atau riwayat yang sebagai sumber utama syariat Islam? Kalaulah kita terima bahwa nikah jenis itu haram karena ijtihad Umar kenapa mut’ah haji (haji tamattu’) yang juga diharamkan oleh Umar tetap dianggap halal oleh seluruh kaum muslimin? Bukankah kalau kita menerima ijtihad Umar tentang pelarangan nikah mut’ah berarti juga harus menerima pelarangannya atas mut’ah haji? Lantas apakah alasan ahlissunnah menerima pelarangan nikah mut’ah sedang mut’ah haji tetap mereka halalkan? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang bisa kita munculkan dari permasalahan-permasalahan mut’ah yang sering dipakai sebagai bahan untuk melumatkan mazhab Syi’ah karena hanya Syi’ahlah (imamiah itsna asyariah) yang sampai sekarang ini masih tetap menganggapnya halal.

Yang perlu diingat oleh pembaca yang budiman adalah bahwa kita disini dalam rangka mencari kebenaran akan konsep hukum mut’ah dan lepas dari permasalahan praktis dari hal tersebut, oleh karenanya dalam membahas haruslah didasari oleh argumen dari teks agama ataupun akal dan bukan bersandar pada emosional maupun fanatisme golongan.

Argumentasi dari Kitab-kitab Standar Ahlissunnah akan Pembolehan Nikah Mut’ah

Sebagaimana yang telah singgung diatas bahwa nikah mut’ah pernah disyariatkan oleh Allah (swt) sebagaimana yang telah disepakati oleh seluruh ulama’ kaum muslimin, hal ini sesuai dengan ayat yang berbunyi:

“dan (diharamkan atas kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki, (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapanNya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari istri-istri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina, maka (istri-istri) yang telah kamu nikmati (campuri) diantara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya sebagai (dengan sempurna) sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”(Qs; An-Nisaa’:24)

Jelas sekali bahwa ayat tersebut berkenaan denga nikah mut’ah sebagaimana yang telah dikemukakan oleh para perawi hadis dari sahabat-sahabat Rasul seperti: Ibnu Abbas, Ubay bin Ka’ab, Abdullah bin Mas’ud, Habib bin Abi Tsabit, Said bin Jubair, Jabir bin Abullah al-Anshari (ra) dst.

Pendapat beberapa ulama’ tafsir dan hadis ahlussunnah

Adapun dari para penulis hadis dan penafsir dari ahlussunnah kita sebutkan saja secara ringkas:

1. Imam Ahmad bin Hambal dalam “Musnad Ahmad” jilid:4 hal:436.

2. Abu Ja’far Thabari dalam “Tafsir at-Thabari” jilid:5 hal:9.

3. Abu Bakar Jasshas dalam “Ahkamul-Qur’an” jilid:2 hal:178.

4. Abu bakar Baihaqi dalam “as-Sunan-al-Qubra” jilid:7 hal:205.

5. Mahmud bin Umar Zamakhsari dalam “Tafsir al-Kassyaf” jil:1 hal:360.

6. Fakhruddin ar-Razi dalam “Mafatih al-Ghaib” jil:3 hal:267.

7. dst.

Pendapat beberapa Sahabat (Salaf Saleh) dan Tabi’in

Beberapa ungkapan para sahabat Rasul dan para tabi’in (yang hidup setelah zaman para sahabat) sebagai contoh pribadi-pribadi yang mengingkari akan pelarangan (pengharaman) mut’ah:

Imam Ali bin Abi Thalib, sebagaimana diungkapakan oleh Thabari dalam kitab tafsirnya (lihat: jil:5 hal:9) dimana Imam Ali bersabda: “jika mut’ah tidak dilarang oleh Umar niscaya tidak akan ada yang berzina kecuali orang yang benar-benar celaka saja”.

Riwayat ini sebagai bukti bahwa yang mengharamkan mut’ah adalah Umar bin Khatab, lantas setelah banyaknya kasus perzinaan dan pemerkosaan sekarang ini –berdasarkan riwayat diatas- siapakah yang termasuk bertanggungjawab atas semua peristiwa itu?

Abdullah bin Umar bin Khatab (putera khalifah kedua), sebagaimana yang dinukil oleh Imam Ahmad bin Hambal dalam kitab musnadnya (lihat: jil:2 hal:95) dimana Abdullah berkata ketika ditanya tentang nikah mut’ah: “Demi Allah, sewaktu kita dizaman Rasul tidak kita dapati orang berzina ataupun serong”. Kemudian berkata, aku pernah mendengar Rasul bersabda: “sebelum datangnya hari kiamat akan muncul masihud-dajjal dan pembohong besar sebanyak tiga puluh orang atau lebih”. Lantas siapakah yang layak disebut pembohong dalam riwayat diatas tadi? Adakah orang yang memutar balikkan syariat Rasul layak untuk dibilang pembohong?

Abdullah bin Masud, sebagaimana yang dinukil oleh al-Bukhari dalam kitab shahihnya (lihat: jil:7 hal:4 kitab nikah bab:8 hadis ke:3), dimana Abdullah berkata: “sewaktu kita berperang bersama Rasulullah sedang kita tidak membawa apa-apa, lantas kita bertanya kepada beliau: bolehkah kita lakukan pengebirian? Lantas beliau melarang kita untuk melakukannya kemudian beliau memberi izin kita untuk menikahi wanita dengan mahar baju untuk jangka waktu tertentu. Saat itu beliau membacakan kepada kami ayat yang berbunyi: “wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian mengharamkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kalian dan janganlah kalian melampaui batas…”(Qs Al-Ma’idah:87)

Cobalah renungkan makna ayat dan riwayat diatas lantas hubungkanlah antara penghalalan ataupun pengharaman nikah mut’ah! Manakah dari dua hukum tersebut yang sesuai dengan syariat Allah yang dibawa oleh Rasul?

Imran bin Hashin, sebagaimana yang dinukil oleh al-Bukhari dalam kitab shahihnya (lihat: jil:6 hal:27 kitab tafsir; dalam menafsirkan ayat: faman tamatta’a bil-umrati ilal-hajji (Qs Al-Baqarah)), dimana Imran berkata: “Diturunkan ayat mut’ah dalam kitabullah (Al-Qur’an) kemudian kita melakukannya di zaman Rasul, sedang tidak ada ayat lagi yang turun dan mengharamkannya, juga Rasul tidak pernah melarangnya sampai beliau wafat”. Riwayat seperti diatas juga dinukil oleh Imam Ahmad bin Hambal dalam kitan musnadnya.

Dua riwayat ini menjelaskan bahwa tidak ada ayat yang menghapus (nasikh) penghalalan mut’ah dan juga sebagai bukti mahwa mut’ah sampai akhir hayat Rasul beliau tidak mengharamkannya.

Ibn Abi Nadhrah, sebagaimana yang dinukil oleh al-Muslim dalam kitab shahihnya (lihat: jil:4 hal:130 bab:nikah mut’ah hadis ke:8), dimana Ibn abi nadhrah berkata: “Dahulu Ibn abbas memerintahkan (baca:menghalalkan) nikah mut’ah sedang Ibn zubair melarangnya kemudia peristiwa tersebut sampai pada telinga Jabir bin Abdullah al-Anshori (ra) lantas dia berkata: “Akulah orang yang mendapatkan hadis tersebut, dahulu kita melakukan mut’ah bersama Rasulullah akan tetapi setelah Umar berkuasa lantas ia mengumumkan bahwa; “Dahulu Allah menghalalkan buat Rasul-Nya sesuai dengan apa yang dikehendakinya, maka umat pun menyempurnakan haji dan umrah mereka, juga melakukan pernikahan dengan wanita-wanita tersebut, jika terdapat seseorang menikahi seorang wanita untuk jangka wanita tertentu niscaya akan kurajam ia dengan batu”.

Riwayat diatas juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hambal dalam musnadnya (lihat: jil:1 hal:52). Dikatakan bahwa Abi Nadhrah berkata: “Aku berkata kepada Jabir bin Abdullah Anshari (ra), sesungguhnya Ibn zubair melarang nikah mut’ah sedangkan Ibn Abbas membolehkannya”. Kemudian ia (Jabir) mengatakan: “Melalui diriku hadis tersebut didapat, kita telah melakukan mut’ah bersama Rasulullah (saww) juga bersama Abu bakar, akan tetapi setelah berkuasanya Umar, ia (Umar) pun mengumumkannya pada masyarakat dengan ucapan: “Sesungguhnya Al-Qur’an tetap posisinya sebagai Al-Qur’an sedang Rasulullah (saww) tetap sebagai Rasul, ada dua jenis mut’ah yang ada pada zaman Rasul; haji mut’ah dan nikah mut’ah”.

Dua riwayat diatas dengan jelas sekali menyebutkan bahwa pertama orang yang mengharamkan nikah mut’ah adalah Umar bukan Rasul ataupun turun ayat yang berfungsi sebagai penghapus hukum mut’ah sebagaimana yang dikatakan sebagian orang yang tidak mengetahui tentang isi kandungan yang terdapat dalam buku-buku standar mereka sendiri.

Sebagai tambahan kami nukilkan pendapat Fakhrur Razi dalam tafsir al-Kabir, ketika menafsirkan ayat 24 surat an-Nisa. Ar-Razi mengutip ucapan Umar (“ Dua jenis mut’ah yang berlaku di masa rasulullah, yang kini ku larang dan pelakunya akan kuhukum, adalah mutah haji dan mut’ah wanita” ) dalam menetapkan pengharaman nikah mut’ah. Begitu juga tokoh besar dari kamu Asy,ariyah, Imam al-Qausyaji dalam kitab Syarh At-Tajrid, dalam pengharamannya mut’ah adalah ucapan Umar (ucapan Umar: Tiga perkara yang pernah berlaku di zaman Rasulullah, kini kularang, kuharamkan dan kuhukum pelakuknya adalah mut’ah wanita dan mutah haji serta seruan (azan): hayya ‘ala khayr al-‘amal (marilah mengerjakan sebaik-baik amal)). Qusyaji membela tindakan Umar ini, menyatakan bahwa semata-mata takwil atau ijtihad Umar.

Abdullah ibn Abbas, sebagaimana yang dinukil oleh al-Jasshas dalam Ahkamul-Qu’an (jil:2 hal:179), Ibn Rusyd dalam bidayatul mujtahid (jil:2 hal:58), Ibn Atsir dalam an-Nihayah (jil:2 hal:249), al-Qurtubi dalam tafsirnya (jil:5 hal:130), suyuti dalam tafsirnya (jil:2 hal:140) dikatakan bahwa Ibn Abbas berkata: “semoga Allah merahmati Umar, bukanlah mut’ah kecuali merupakan rahmat dari Allah bagi umat Muhammad (saww) jikalau ia (Umar) tidak melarang mut’ah tersebut niscaya tiada orang yang menghendaki berbuat zina kecuali ia bisa terobati”

Riwayat yang dikemukakan oleh Ibn Khalqan dalam kitab Wafayaatul-A’yaan jil:6 hal:149-150, durrul mantsur jil:2 hal:140, kanzul ummal jil:8 hal:293, tarikh tabari jil:5 hal:32, tarikh Ibn khalkan jil:2 hal:359, tajul-arus jil:10 hal:200. Dan masih banyak lagi riwayat dalam kitab-kitab lainnya, .

Untuk mempersingkat tulisan singkat ini kita cukupkan hanya dengan menyebutkan riwayat-riwayat diatas. Untuk melengkapinya akan kita sebutkan beberapa permasalahan yang sering dilontarkan oleh orang-orang yang tidak paham akan maksud dari hikmah Ilahi tentang penghalalan nikah mut’ah dan kita berusaha untuk menjawabnya secara ringkas.

Soal: Salah satu fungsi pernikahan adalah untuk membina keluarga dan menghasilkan keturunan dan itu hanya bisa terwujud dalam nikah da’im (baca:nikah biasa), sedang nikah mut’ah tujuannya hanya sekedar sebagai pelampiasan nafsu belaka.

Jawab: Jelas sekali bahwa pertanyaan diatas menunjukkan akan adanya percampuran paham antara hukum obyek dengan fungsi/hikmah pernikahan. Yang ia sampaikan tadi adalah berkisar tentang hikmah pernikahan bukan hukum pernikahan. Karena kita tahu bahwa Islam mengatakan bahwa sah saja orang menikah walaupun dengan tidak memiliki tujuan untuk hal yang telah disebutkan diatas, sebagaimana orang lelaki yang sengaja mengawini wanita yang mandul atau wanita tua sehingga tidak terlintas sama sekali dibenaknya untuk mendapat anak dari wanita tersebut ataupun lelaki yang mengawini seorang wanita dengan nikah daim akan tetapi hanya untuk beberapa saat saja-taruhlah dua bulan saja- setelah itu ia talak wanita tersebut. Dua contoh pernikahan tersebut jelas tidak seorang ulama pun yang mengatakan bahwa itu batil hukumnya sebagaimana yang disampaikan oleh penulis tafsir “Al-Manaar” dimana ia mengatakan: “pelarangan para ulama’ terdahulu maupun yang sekarang akan nikah mut’ah mengharuskan juga pelarangan akan nikah dengan niat mentalak (istrinya setelah beberapa saat) walaupun para ahli fiqih sepakat bahwa akad nikah dikatakan sah walaupun ada niatan suami untuk menikahinya hanya untuk saat tertentu saja sedang niat tersebut tidak diungkapkannya saat akat nikah, sedang penyembunyian niat tersebut merupakan salah satu jenis penipuan sehingga hal itu lebih layak untuk dihukumi batil jika syarat niat tadi diungkapkan sewaktu akad dilangsungkan” (Tafsir al-Manaar jil:5 hal:17).

Dari sini kita akan heran melihat orang yang menganggap bahwa mut’ah hanya berfungsi sebagai sarana pelampiasan nafsu belaka dan bukankah dalam nikah da’im pun bisa saja orang berniat untuk pelampiasan nafsu saja, niatan itu semua kembali kepada pribadi masing-masing bukan dari jenis pernikahannya.

Soal: Nikah mut’ah menjadikan wanita tidak dapat menjaga kehormatan dirinya karena ia bisa berganti-ganti pasangan kapanpun ia mau, padahal Islam sangat menekankan penjagaan kehormatan terkhusus bagi para wanita.

Jawab: Justru dalam nikah mut’ah sama seperti nikah da’im dimana bukan hanya wanita yang ditekankan untuk menjaga kehormatannya tapi bagi silelaki pun diharuskan untuk menjaga hal tersebut, karena legalitas pernikahan tersebut sudah ditetapkan dalam syariat maka dengan cara inilah mereka menjaga kehormatan mereka dan tidak menjerumuskan diri mereka keperzinaan. Dalam Islam ada tiga alternatif dalam menangani gejolak nafsu birahi:Nikah da’im, Nikah mut’ah dengan ada beberapa syarat yang harus dipenuhi dan meredam nafsu dengan puasa misalnya.

Sekarang jika seseorang tidak mampu melaksanakan nikah da’im dengan berbagai alasan seperti karena masalah ekonomi, studi ataupun yang lainnya, dan untuk meredam nafsu dengan puasa misalnya iapun tidak mampu atau gejolaknya muncul diwaktu malam yang tidak memungkinkan untuk puasa, maka alternatif terakhir dengan nikah mut’ah tadi. Inilah yang diajarkan Islam kepada pengikutnya karena kita tahu bahwa Islam adalah agama terakhir, syariatnya pun adalah syariat terakhir yang dibawa oleh Nabi terakhir maka ia harus selalu up to date dan universal yang mencakup segala aspek kehidupan manusia yang mampu menjawab apapun kemungkinan yang bakal terjadi, dan ia merupakan agama yang bijaksana dimana salah satu ciri hal yang bijak adalah disaat ia melarang sesuatu maka ia harus memberi jalan keluarnya. Lantas jika seseorang tidak dapat melakukan nikah da’im ataupun meredam nafsunya lantas apa yang harus ia lakukan, sementara Islam melarang penyimpangan seksual jenis apapun? Atau jika ada seorang pemuda ingin mengenal seorang wanita lebih dekat untuk nanti menjadikannya seorang istri dalam masa pendekatan itu –karena boleh jadi gagal karena tidak ada kecocokan- hubungan apakah yang harus ia lakukan sehingga ia dapat berbicara dengan wanita tersebut berdua-duaan sedang Islam melarang berpacaran tanpa ada ikatan pernikahan?

Dan banyak lagi contoh lain yang Islam sebagai agama terakhir dan sebagai agama yang bijak dituntut untuk mampu menjawab tantangan tersebut, jika mut’ah diharamkan lantas kira-kira jalan keluar manakah yang akan diberikan oleh si pengharam mut’ah tadi? Oleh karenanya jangan heran jika Imam Ali (as) mengeluarkan statemen seperti diatas ( Imam Ali: “jika mut’ah tidak dilarang oleh Umar niscaya tidak akan ada yang berzina kecuali orang yang benar-benar celaka saja”).

Kesalahan besar yang selama ini banyak terdapat pada benak kaum muslimin adalah mereka sering mengidentikkan nikah mut’ah dengan hubungan seksual padahal tidak mesti semacam itu –sebagaimana nikah da’im dengan anak dibawah usia yang diperbolehkan oleh para ahli fiqih semuanya- bisa saja siwanita mensyarati untuk tidak melakukan hal tersebut dalam akad nya sehingga mut’ah hanya sebagai sarana untuk menghilangkan dosa -semasa berkenalan untuk nantinya menikah daim- dengan adanya ikatan pernikahan diantara mereka.

Soal: Adanya beberapa sumber dari ahlussunnah yang menunjukkan adanya pelarangan mut’ah walaupun dari sisi waktu dan tempat pelarangannya berbeda-beda sehingga menjadi argumen bahwa ayat mut’ah (an-Nisaa:23) sudah terhapus dengan riwayat-riwayat itu, seperti:

1. Dibolehkannya mut’ah lantas dilarang pada seusai perang Khaibar.
2. Dibolehkannya nikah mut’ah lantas dilarang pada saat Fathul-Makkah.
3. Hanya dibolehkan pada saat peristiwa Awthas saja.
4. Diperbolehkan pada saat umrah qadha’ saja.

Jawab: Kita bisa katakan bahwa:

1- Ungkapan-ungkapan yang berbeda-beda itu menunjukkan tidak adanya kesepakatan akan pelarangannya karena perbedaan riwayat menunjukkan bahwa riwayat itu tunggal sifatnya (khabar wahid) dan riwayat jenis itu tidak bisa dijadikan sandaran sebagai penghapus hukum yang ada dalam Al-Qur’an, oleh karenanya Imran bin Hashin mengatakan tidak ada riwayat ataupun ayat yang menghapus hukum mut’ah (lihat kembali riwayat Imran diatas).

2- Khalifah kedua sebagai pengharam mut’ah pun tidak menyandaran ijtihadnya –kalaulah itu bisa disebut ijtihad- kepada ayat ataupun riwayat karena memang tidak ada riwayat yang menghapus hukum mut’ah tersebut sehingga dari sinilah menyebabkan banyak sahabat yang menentang keputusan Umar dalam pengharaman mut’ah. Kalau ada ayat atau riwayat yang mengharamkan nikah Mut’ah, kenapa Umar menyandarkan pelarangannya pada diri sendiri? Bukankah dengan menyandarkan pada ayat dan riwayat dari Rasul maka pendapatnya akan lebih kuat?

Soal: Diperbolehkannya melakukan nikah mut’ah adalah sebagaimana diperbolehkannya memakan daging babi yaitu pada saat-saat tertentu saja (dharurat) karena mut’ah sama hukumnya seperti zina yaitu haram, maka sebagaimana haramnya babi dalam saat-saat tertentu halal maka pada saat-saat tertentupun mut’ah halal juga hukumnya.

Jawab: Jelas penyamaan antara diperbolehkannya makan daging babi disaat dharurat berbeda dengan mut’ah, salah satu perbedaannya adalah:

Hukum dharurat hanya pada hal-hal yang mengakibatkan kelangsungan hidup (jiwa) terancam oleh karenanya diperbolehkan makan daging babi sebatas untuk menyambung hidup saja sehingga dilarang untuk makan secara berlebihan, adapun mut’ah apakah ia sama seperti daging babi sehingga jika seseorang tidak mut’ah lantas ia terancam kelangsungan hidupnya?

Kalaupun –walaupun alasan ini tidak dapat diterima- mut’ah bisa disamakan sama seperti daging babi yaitu terkenai hukum dharurat, lantas kenapa banyak sahabat yang melakukan mut’ah saat itu padahal gairah seksual tidak mesti muncul bersamaan sebagaimana rasa lapar?

Kalau dikatakan hukum dharurat itu ada, seharusnya hukum setelah hilang nya dharurat, kembali ke hukum awal nya (haram), akan tetapi yang kita dapati bahwa rasulullah tidak mengharamkan sampai akhir hayatnya. Sehingga tidak benar penghalalan hukum mutah itu dikarenakan dharurat.

Penutup

Dari sini jelaslah bahwa nikah mut’ah diperbolehkan oleh syariat Islam –yang bersumber dari ayat dan hadis shohih- dimana sepakat kaum muslimin bahwa sumber syariat hanyalah Allah semata sebagaimana ayat yang berbunyi: “keputusan menetapkan suatu hukum hanyalah hak Allah”(Qs Yusuf:67). Sedang Rasul diutus untuk menjelaskannya oleh karenanya apa yang diungkapkan oleh beliau merupakan apa yang sudah disetujui oleh Allah. Rasul bersabda:“dan tiadalah yang diucapkannya (Muhammad) itu menurut kemauan hawa nafsunya, ucapan itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan”(Qs An-Najm:3-4). Oleh karenanya:“apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah”(Qs Al-Hasyr:7).

Adapun ucapan para sahabat jika sesuai dengan firman Allah atau ungkapan Rasul maka bisa juga dikategorikan sebagai teks agama, akan tetapi jika tidak maka hal itu telah keluar dari apa yang telah tercantum dari ayat-ayat diatas tadi karena mereka manusia biasa seperti kita yang juga bisa salah sehingga tidak bisa dijadikan rujukan dalam menangani masalah syariat secara independen (mustaqil) tanpa tolok ukur kebenaran yang lain. Karena jika tidak, apa mungkin akan kita jadikan tolok ukur sedang kita dapati banyak pendapat mereka yang saling paradoksal sebagaimana yang kita saksikan tadi, bukankah dalam situasi perbedaan pendapat semacam itu kita diperintahkan untuk kembali kepada Allah dan Rasul-Nya;“kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir”(Qs An-Nisaa’:59)

Bukanlah Allah dan Rasulnya tetap menghalalkan nikah mut’ah? Sewaktu sumber syariat adalah Al-Qur’an dan Hadis shohih lantas apakah diperbolehkan orang berijtihad –yang lantas hasilnya-hasilnya dianggap sebagai syariat- akan tetapi bertentangan dengan kehendak Allah dan Rasul yang sebagai sumber syariat?, bukankah dalam Al-Qur’an telah ditetapkan bahwa; “dan tidak patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka, dan barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya dia telah sesat, sesat yang nyata”(Qs al-Ahzab:36)

Apakah pemberian ketetapan lain yang tidak sesuai dengan ketetapan Allah dan Rasul tersebut tidak dikategorikan sebagai bid’ah -yang berarti mengada-adakan hukum syariat- dimana dalam riwayat disebutkan bahwa semua jenis bid’ah adalah sesat – “kullu bid’atin dholalah” -sehingga tidak ada lagi lubang untuk membagi bid’ah kepada bid’ah yang baik dan yang buruk? Lantas apakah konsekwensi bagi orang ahli bid’ah yang berarti ahli kesesatan yang dalam riwayat tentang bid’ah juga telah disebutkan “wakullu dhalalatin finnaar”? Kemudian apakah kita akan terus mengikuti ahli bid’ah dengan mengharamkan nikah mut’ah? Kalaupun nikah mut’ah haram lantas kenapa kita juga tidak mengharamkan mut’ah haji yang sampai detik ini masih dilakukan oleh semua kaum muslimin dunia padahal ia termasuk yang diharamkan oleh khalifah kedua? Dan masih banyak pertanyaan lain yang harus dijawab oleh saudara-saudara ahlussunnah yang berkisar tentang mut’ah. Renungkanlah dan bacalah saudara-saudaraku.

================================================================================================================================================

Syiah adalah Rafidhah?

Pada masa kekuasaan kerajaan Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah para pecinta Ahlul-Bait sangat ditekan. Tekanan atas Syiah yang dilancarkan oleh kedua dinasti tadi menggunakan berbagai cara, termasuk propaganda julukan Rafidhah. Tujuan propaganda tersebut adalah untuk mengisolir para Syiah dari saudara-saudaranya sesama muslim. Namun tidak sepenuhnya propaganda itu terlaksana dengan baik. Terbukti ada beberapa pribadi Syiah –yang diberi gelar Rafidhah– yang terdapat dalam kitab-kitab standar Ahlussunnah. Dr. al-Qoffari dalam kitab tersebut menyatakan: “Ibn Taimiyyah menukil (membenarkan) hadis-hadis Marfu’ah yang menyinggung tentang kata-kata Rafidhah di dalamnya. Padahal, sebutan Rafidhah hingga abad kedua Hijriyah masih belum dikenal”.

Syiah adalah Rafidhah?

Jika pecinta keluarga Muhammad saww disebut Rafidhah Maka, saksikanlah wahai Tsaqolan (jin dan manusia) bahwa diriku adalah Rafidhi. (Diwan imam Syafi’i ra Hal:55)

Prolog:

…dan Rafidhah, lagi-lagi sebuah julukan yang masih juga diidentikan dengan Syiah Imamiah. Istilah ini baru dikenal semenjak abad kedua Hijriyah. Itupun dipakai untuk para penentang kekuasaan tertentu yang berkuasa pada zaman itu. Para penguasa kala itu ingin menjadikan para penentangnya memiliki kesan buruk di hadapan publik, oleh karenanya melalui beragam propaganda mereka mencari julukan negatif bagi mereka yang tidak sejalan dengan pikirannya. Julukan rafidhah adalah salah satu predikat negatif yang diberikan oleh penguasa kala itu untuk para penentangnya. Mungkin pada masa itu, Rafidhah memiliki kemiripan dengan julukan ekstrimis atau teroris pada zaman sekarang ini. Julukan-julukan miring semacam itu sengaja dibikin oleh yang kuat terhadap yang lemah, yang mayoritas untuk yang minoritas, yang zalim untuk yang teraniaya (mazlum)…dsb.

Beberapa pihak yang tidak bertanggungjawab ingin memberikan julukan miring tersebut untuk rival pemikirannya. Akhirnya, julukan Rafidhah diperluas pemakaiannya terhadap aliran pemikiran yang dianggap lemah, minoritas, teraniaya… untuk dijadikan sarana pengelabuhan kesadaran publik. Yang lebih fatal dari itu, sang pemakai istilah tersebut justru menyandarkan pemakaian julukan tersebut dengan landasan hadis-hadis dza’if yang dinisbatkan kepada Rasulullah saww. Lantas, siapakah gerangan yang dapat menjadi obyek empuk untuk gelar tersebut? Ya…! Siapa lagi kalau bukan Syiah Imamiah Itsna Asyariyah, atau yang lebih dikenal dengan sebutan mazhab al-Ja’fariyah, adalah sasaran empuk untuk mendapat predikat negatif itu.

Kenapa mesti Syiah al-Ja’fariyah? Salah satu penyebabnya adalah karena hanya Syiah Ja’fariyah satu-satunya mazhab yang mengajarkan kepada pengikutnya untuk tidak berpangku-tangan atas setiap perbuatan zalim yang dilakukan oleh individu manapun, termasuk para penguasa. Itu terbukti, baik jika dilihat dari teks ajaran mazhabnya, maupun pemaraktekkannya dalam kehidupan mereka. Dalam sejarah didapatkan bagaimana usaha mereka untuk menegakkan keadilan yang dipelopori oleh para imam suci mereka. Para Syiah Ahlul Bait selalui berusaha mengkritisi sepak terjang para penguasa yang selalu cenderung bertentangan dengan ajaran Rasulullah saww, sementara di sisi lain mereka (imam-imam suci) juga menamakan dirinya sebagai khalifah (pengganti) Rasul. Hal inilah yang tidak disukai oleh para penguasa zalim –Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah– kala itu. Oleh karenanya, tekanan demi tekanan mereka lakukan untuk membendung tersebarnya ajaran Syiah. Mereka tak segan-segan melakukan pembantaian masal demi tercapainya tujuan mereka, dan kelangsungan dinasti mereka. Dari situlah terjawab sudah pertanyaan, kenapa Syiah selalu teraniaya dan minoritas? Namun, karena kehendak Ilahi, walau tekanan demi tekanan dari pihak musuh-musuh Islam beserta kaki-tangannya dengan gencar terus menghadangnya, mazhab ini tetap eksis di tengah-tengah umat.

Terminologi Rafidhah:

Dalam terminologi istilah Rafidhah, kata itu berasal dari kata ra-fa-dha yang berarti menolak dan meninggalkan sesuatu. Istilah ini sering diidentikkan dengan kaum Syiah Imamiah yang menolak akan kepemimpinan tiga khalifah pra-kekhalifahan Ali bin Abi Thalib as, dan hanya mengakui kepemimpinan Ali as pasca wafat Rasulullah saww.[1] Abul-Hasan al-Asy’ary dalam kitab “Maqolat al-Islamiyin” menyatakan, julukan ini pertama kali dilontarkan oleh Zaid bin Ali bin Husein bin Ali bin Abi Thalib atas para Syiah di kota Kufah. Masih menurut al-Asy’ary, pada mulanya, para Syiah di Kufah memberikan baiatnya kepada Zaid, namun mereka tidak konsekwen terhadap baiatnya. Mereka tidak mau mengindahkan perintah Zaid untuk tetap menghormati dan memuliakan Abu Bakar dan Umar.

Oleh karena itu, Zaid menjuluki mereka dengan sebutan Rafidhah.[2] Akan tetapi, pendapat ini memiliki banyak celah untuk dibatalkan, mengingat bahwa banyak pakar sejarah yang menyebutkan secara detail sejarah hidup terkhusus kesyahidan Zaid bin Ali, namun tidak satupun dari mereka yang menyebutkan akan hal pengungkapan Zaid di atas tadi. Selain dari itu, para ahli sejarah hanya menyebutkan bahwa para penghuni kota Kufah tidak mengindahkan kebangkitan Zaid bin Ali, dan membiarkannya bergerak sendiri tanpa bantuan penduduk Kufah.[3] Hal itu sama persis sebagaimana yang terjadi pada kakek Zaid, Husein bin Ali as, cucu Rasulullaha saww. Husein bin Ali pada tragedi Karbala, tak dapat dukungan dari penduduk kota Kufah. Dengan demikian, penisbatan istilah itu yang bermula dari Zaid bin Ali sama sekali tidak berasas pada bukti sejarah yang kuat.

Di sisi lain, telah terbukti bahwa istilah Rafidhah digunakan untuk pribadi-pribadi yang meragukan legalitas kekuasaan suatu rezim dan pemerintahan tertentu. Jadi, istilah ini lebih bermuatan politis ketimbang teologis. Nasr bin Muzahim (Wafat tahun 212 H) dalam salah satu karyanya yang berjudul Waqoatu Shiffin menyatakan bahwa Muawiyah dalam suratnya yang ditujukan kepada Amr bin ‘Ash –yang saat itu tinggal di Palestina– menyebutkan: “Perkara tentang Ali, Thalhah dan Zubair telah kamu ketahui, namun (ketahuilah bahwa) Marwan bin Hakam telah bergabung dengan para Rafidhah (penentang) dari penduduk kota Bashrah, dan Jarir bin Abdullah telah melawan kita…”[4] Dari sini ada beberapa poin yang dapat diambil pelajaran; Pertama, awal kemunculan istilah rafidhah sangat bermuatan politis, bahkan sama sekali tidak ada kaitannya dengan ihwal teologis. Muawiyah menyebut Marwan bin Hakam beserta para pendukungnya sebagai Rafidhah, karena ia telah bergabung dengan para penduduk kota Bashrah yang kala itu mayoritas tidak mengakui legalitas pemerintahan Ali as yang berpusat di kota Kufah. Kedua, istilah itu telah ada sebelum kelahiran Zaid bin Ali, bukan sebagaimana yang telah diceritakan oleh Abul Hasan al-Asy’ary di atas.

Pribadi-pribadi yang Dinyatakan Rafidhi pada Kitab-kitab Ahlussunnah

Julukan Rafidhah mempunyai konotasi miring. Orang akan enggan untuk dijuluki dengan sebutan itu. Pihak ketiga pun akan menghindar di saat bertemu orang yang dianggap memiliki gelar tadi. Itulah salah satu dampak negatif propaganda yang dilancarkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab. Pada masa kekuasaan kerajaan Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah para pecinta Ahlul-Bait sangat ditekan. Tekanan atas Syiah yang dilancarkan oleh kedua dinasti tadi menggunakan berbagai cara, termasuk propaganda julukan Rafidhah. Tujuan propaganda tersebut adalah untuk mengisolir para Syiah dari saudara-saudaranya sesama muslim. Namun tidak sepenuhnya propaganda itu terlaksana dengan baik. Terbukti ada beberapa pribadi Syiah –yang diberi gelar Rafidhah– yang terdapat dalam kitab-kitab standar Ahlussunnah. Walau mereka terbukti Syiah namun tetap saja hadis yang mereka bawakan tercantum dalam enam kitab induk Ahlussunnah. Sebagai contoh:

1- Kendati Ibn Hajar menyatakan bahwa Ismail bin Musa al-fazazi sebagai pribadi yang dianggap Syiah, namun Abi Dawud[5] juga Ibn Majah[6] dalam kitab Sunan mereka tetap menukil hadis-hadis yang ia bawakan.

2- Meskipun Ibn Hajar menyatakan bahwa Bakir bin Abdullah at-Tha’i sebagai pribadi yang dianggap Syiah, namun Muslim dalam kitab Shohih-nya[7] dan Ibn Majah dalam Sunan-nya[8] menukil hadis-hadis yang ia riwayatkan.

3- Begitu juga dengan Talid bin Sulaiman al-Muharibi yang dinyatakan Syiah (Rafidhah) oleh Abu Dawud, dimana ia berkata: “Ia adalah Rafidhi yang keji dan jelek, dan yang memusuhi Abu Bakar serta Umar”[9] Namun, at-Turmuzi dalam kitab Sunan-nya[10] tetap menukil hadis darinya.

4- Ibn Hajar menyatakan bahwa Jabir bin Yazid al-Ju’fi adalah pengikut Syiah (Rafidhah)[11], namun Abu Dawud[12], Ibn Majah[13] dan at-Turmuzi[14] dalam kitab Sunan mereka tetap menukil hadis-hadis darinya.

5- Dan masih banyak lagi pribadi-pribadi yang dinyatakan Syiah (Rafidhah), namun hadis-hadisnya tetap tercantum dalam kitab-kitab standart Ahlussunnah. Seperti; Jumai’ bin Umair, Haris bin Abdullah al-Hamdani, Hamran bin A’yun, Dinar bin Umar al-Asadi…dsb.[15]

Hadis-hadis tentang Rafidhah:

Setelah kita mengetahui bahwa istilah Rafidhah dipakai untuk para rival politik sebuah kekuasaan tertentu. Istilah itu mempunyai konotasi negatif bagi khalayak umum, berkat adanya propaganda para penguasa zalim pada abad-abad permulaan awal kemunculan Islam. Namun, lama-kelamaan istilah itu dipakai oleh para musuh Syiah untuk mengganyang Syiah, bahkan tak jarang mereka pun (para musuh Syiah) menyandarkannya pada hadis-hadis yang bermasalah dari sisi sanad hadis, yang berakhir pada peraguan dari sisi kesahihannya. Sebagai contoh, ada empat hadis yang bersumber dari Ibn Abi ‘Ashim tentang pencelaan terhadap Syiah.[16] Doktor Nashir bin Abdullah bin Ali al-Qoffary dalam kitab Ushul Mazhab Syi’ah menyatakan bahwa Nashiruddin al-Bani[17] sendiri mengemukakan bahwa hadis-hadis yang dibawakan oleh Ibn Abi ‘Ashim tadi jika dilihat dari sanad hadisnya amat lemah. Dr. al-Qoffari dalam kitab tersebut menyatakan: “Ibn Taimiyyah menukil (membenarkan) hadis-hadis Marfu’ah[18] yang menyinggung tentang kata-kata Rafidhah di dalamnya. Padahal, sebutan Rafidhah hingga abad kedua Hijriyah masih belum dikenal”.[19]

Salah satu riwayat yang dibawakan oleh Ibn Abi ‘Ashim dalam kitab as-Sunnah adalah hadis: “Aku beri kabar gembira engkau wahai Ali, engkau beserta para sahabatmu adalah (calon) penghuni Surga. Namun, ada sekelompok orang yang mengaku sebagai pecinta-mu padahal mereka adalah penentang (penolak) Islam. Mereka disebut ar-Rafidhah. Jika engkau bertemu dengan kelompok tersebut maka perangilah mereka, karena mereka telah musyrik. Aku (Ali) berkata: Wahai Rasulullah, apakah gerangan ciri-ciri mereka? Beliau menjawab: “Mereka tidak menghadiri (shalat) Jum’at dan jama’ah, dan mencela para pendahulu (salaf)” [20] oleh as-Syaukani, hadis ini dikategorikan sebagai hadis Maudhu’ (buatan).[21]

Contoh lain dari hadis tentang Rafidhah adalah hadis yang dinukil oleh at-Tabrani bahwa Rasul bersabda: “Wahai Ali, akan datang pada umat-ku suatu kelompok yang mengaku sebagai pecinta Ahlul-Bait, bagi mereka …., mereka disebut Rafidhah. Bunuhlah mereka, karena mereka telah kafir”. Akan tetapi, dikarenakan sanad hadis ini diriwayatkan oleh orang-orang seperti Hajjaj bin Tamim yang sama sekali tidak dapat dipercaya, maka hadis ini masuk kategori hadis Dza’if (lemah).[22]

Dalam kitab ad-Dala’il disebutkan bahwa Al-Baihaqi setelah menukil hadis Marfu’ yang bersumber dari Ibn Abbas tentang celaan terhadap Rafidhah, menyatakan: “Banyak sekali hadis-hadis serupa tentang hal yang sama dari sumber-sumber yang berbeda, namun kesemua sanad-nya tergolong lemah”[23]

Dan masih banyak lagi beberapa ulama hadis dari Ahlussunnah yang menyatakan kelemahan hadis-hadis berkaitan dengan Rafidhah yang kebohongan itu disandarkan kepada Rasulullah. Bisa dilihat kembali karya-karya ulama Ahlussunnah seperti karya kepunyaan al-‘Aqili yang berjudul ad-Dhu’afa’, Ibn Jauzi dalam al-‘Ilal al-Mutanahiyyah ataupun al-Maudhu’aat.

Dari sini jelaslah, bahwa istilah Rafidhah adalah istilah murni politis dan tidak ada kaitannya dengan pembahasan teologis, termasuk masalah kekhilafahan pasca Rasul. Namun istilah itu dinisbatkan untuk para pecinta Ahlul-Bait (Syiah) oleh para pembenci Syiah. Mereka dalam kasus pemaksaan gelar Rafidhah untuk kelompok Syiah, tidak segan-segan menggunakan kebohongan atas nama Rasulullah saww. Bukankah kebohongan atas diri Rasul merupakan bagian dari menyakiti Rasul? Dan menyakiti Rasul termasuk dosa besar, yang pantas dilaknat oleh Allah?[24] Bukankah kebohongan atas Rasul juga berakibat kebohongan atas segenap kaum muslimin? Mengingat kaum muslimin sampai akhir zaman akan selalu mengikuti hadis-hadis Rasulullah. Bukankah pembohong layak untuk dilaknat?[25] Membenarkan, memegang erat dan mengajarkan hadis palsu –atas dasar pengetahuannya– adalah termasuk sesat dan menyesatkan. Oleh karenanya, hendaknya kita berusaha untuk menghindarinya seoptimal mungkin agar tidak termasuk orang yang sesat dan menyesatkan.

Hai orang-orang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan)…dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-oranmg yang zalim. (al-Hujuraat :11) [islamalternatif]

Catatan Kaki:

[1] Al-Asy’ary, Abul-Hasan, Maqolat al-Islamiyin, Jil:1 Hal:88-89

[2] Ibid, Hal:138

[3] Amin, Muhsin, A’yan as-Syi’ah, Jil:1 Hal:21

[4] Al-Manqory, Nasr bin Muzahim, Waqoatu Shiffin, Hal:29

[5] Sunan Abi Dawud, Jil:4 Hal:165 Hadis ke-4486

[6] Sunan Ibn Majah, Jil:1 Hal:13 Hadis ke-31

[7] Shohih Muslim, Jil:1 Hal:529, Kitab Sholat Musafirin wa Qoshruha

[8] Sunan Ibn Majah, Jil: 1 Hal:170, Kitab at-Thoharoh

[9] Tahdzib al-Kamal, Jil:4 Hal:322

[10] Sunan at-Tirmizi, Jil:5 Hal:616, Kitab al-Manaqib hadis ke-3680

[11] Tahdzib al-Kamal, Jil:4 Hal:468 No:879

[12] Sunan Abu Dawud, Jil:1 Hal: 272, Kitab as-Sholat Hadis ke-1036

[13] Sunan Ibnu Majah, Jil:1 Hal:381 Hadis ke-1208

[14] Sunan at-Turmuzi, Jil:2 Hal:200, Bab: “Maa Jaa’a fi al-Imam yanhadhu fi ar-Rak’atain naasiyan”

[15] Untuk lebih detailnya, lihat kitab “al-Muraaja’aat” karya Syarafuddin al-Musawi.

[16] Lihat: Ibn Abi ‘Ashim, as-Sunnah, Jil:2 Hal:475

[17] Seorang ahli hadis terkemuka dari kalangan salafi (wahabi).

[18] Hadis marfu’ adalah hadis yang tidak jelas sanadnya.

[19] Ushul Mazhab as-Syiah, bagian Sejarah Syiah (Tarikh as-Syiah)

[20] Ibid: Jil: 2 Hal: 475

[21] Al-Ahadist al-Maudhu’ah, Hal:380

[22] Taqrib at-Tazhib, Jil:1 Hal:152

[23] ad-Dala’il, Jil:6 Hal:548

[24] Lihat Q S al-Ahzab :57

[25] Lihat Q S ali-Imran :61

Advertisements
Comments
10 Responses to “1.MEMBONGKAR KESESATAN SYI’AH ????? SEMUA POiNT TUDUHAN KESESATAN SYi’AH TERNYATA 100% MAMPU KAMi PATAHKAN !!!!!!! 2.PERBEDAAN ANTARA AHLUSSUNNAH SUNNi DAN SYiAH”
  1. kazim says:

    semoga anda diredhai Allah di dunia dan akhirat atas usaha besar anda ini. cuma kejahilan manusia yang tidak mahu menggunakan akal yang sihat saja menjadi masalahnya. teruskan perjuangan anda…

    • husaynjan says:

      tulisan ini saya hanya copy dan paste..saya mohon kepada anda dan syiah2 AhlulBait AS melakukan apa yg saya lakukan..tidak salah kita mengkopy paste..untuk share ilmu sesama pengikut ahlulbait AS

      • indriyani says:

        “Tanda orang-orang munafik itu ada tiga keadaan. Pertama, apabila berkata-kata ia berdusta. Kedua, apabila berjanji ia mengingkari. Ketiga, apabila diberikan amanah ia mengkhianatinya” (HR. Bukhari dan Muslim)

  2. Islam says:

    Kalo begitu, hadits bukhari juga gak shahih donk, trs kenapa msh dipake???

    • MEdiana says:

      iniuntuk menunjukkan ketololan orang yang mempercayainya,banyak hadis itu yang bertentangan dengan Quran, seperti nabi musa telanjang, banyak pornografinya, di sunni anda dibilang kafir tidak percaya hadis ini shoheh…kesian deh..

  3. indriyani says:

    semoga kalian berdua( yg bertanya & yg menjawab) diampuni Allah swt dosa dosanya, blm ada jaminan bahwa apa yg kalian bicarakan betul semua

  4. no namw says:

    lihat youtube bagaimana ulama syiah dengan mudah ditewaskan oleh ulama sunnah ketika berdebat. saudara juga memanipulasikan hadis2 utk kpntingn pjuangan saudara..

  5. abu habib says:

    Ketahuilah, bahwa hadist – hadist yg anda cantumkan tentang nikah mut’ah adalah kebanyakan hadist mauquf dan hadist maqtu, yaitu yg disandarkan kepada para shahabat dan thabi’in, mereka selepas meninnggal nya Nabi Shallallohu ‘alaihi wasalam masih ada yg melakukannya dikarenakan ketidak tahuan mereka.. kemudian hal ini di ketahui oleh Umar bin khotob radiallohuan lalu beliaupun mengingatkan akan sabda Nabi Shallallohu ‘alaihi wasalam ketika fathu makkah bahwa ” sesungguhnya Allah telah mengharamkan nikah mut’ah sampai hari kiamat” jadi bukan Umar yg mengharamkan mut’ah akan tetapi Nabi shallallohu ‘alaihi wasalam sendiri, dan itu adalah hadist marfu yg disandarkan pada Nabi dan sudah tentu lebih kuat dari hadist mauquf dan maqtu.

  6. masbam says:

    Hati2 dengan syiah .. taqiyah adalah wajib bagi mereka untuk menarik simpati umat lain (terutama ummat Islam), banyak ritual syiah yang gak masuk akal dan tidak sesuai ajaran Rasulullah SAW

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: