Ahmad bin Hambal Menilai Tsiqat Orang Yang Mencela Imam Ali… mayoritas ulama Ahlusunnah mempunyai konsep yang cukup aneh dan sangat batil dalam masalah kedudukan sahabat Nabi, memang benar di mulut mereka dengan lantang terucap kata “zindiq” dan “kafir” untuk orang yang mencaci sahabat nabi, (dengan cara ini mereka ingin menjatuhkan nama Syiah dalam pandangan orang awam) tapi konsep ini hanya mereka peruntukkan bagi orang2 yang mencaci Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Tapi bila Imam Ali, Hasan, dan Husain.as yang kedudukannya jauh lebih mulia daripada tiga tokoh diatas dicaci maki hingga dibunuh ulama Ahlusunnah sepertinya langsung “ijmak” mendiamkannya dan pura-pura tidak tau

mayoritas ulama Ahlusunnah mempunyai konsep yang cukup aneh dan sangat batil dalam masalah kedudukan sahabat Nabi, memang benar di mulut mereka dengan lantang terucap kata “zindiq” dan “kafir” untuk orang yang mencaci sahabat nabi, (dengan cara ini mereka ingin menjatuhkan nama Syiah dalam pandangan orang awam) tapi konsep ini hanya mereka peruntukkan bagi orang2 yang mencaci Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Tapi bila Imam Ali, Hasan, dan Husain.as yang kedudukannya jauh lebih mulia daripada tiga tokoh diatas dicaci maki hingga dibunuh ulama Ahlusunnah sepertinya langsung “ijmak” mendiamkannya dan pura-pura tidak tau.

Sebuah konsep yang bikin orang berakal geleng-geleng kepala. Tapi itulah kenyataan pahit yang kita dapati pada diri ulama dan umat Islam yang mungkin telah tertanam gen muawiyah dalam diri mereka.

Antagonisme Penilaian Ahmad bin Hanbal Terhadap Mereka Yang Mencela Dan Membenci Sahabat

Sebagian ulama berpendapat bahwa mencela sahabat Nabi dapat membawa pelakunya kepada kezindiqan atau kekafiran. Diriwayatkan berbagai perkataan ulama tentang hal ini diantaranya Malik bin Anas, Ahmad bin Hanbal, Abu Zur’ah dan yang lainnya [semoga rahmat Allah dilimpahkan pada mereka]. Sayang sekali pandangan ini kami pandang berlebihan dan memiliki konsekuensi yang sangat berat karena telah diriwayatkan pula bahwa diantara mereka yang mencela sahabat itu ada beberapa orang yang dijadikan rujukan atau diambil hadisnya. Alangkah lucunya kalau dikatakan seorang yang zindiq atau kafir dijadikan rujukan dalam hadis. Di bawah ini kami akan menampilkan sikap antagonis Ahmad bin Hanbal yang terkait dengan masalah ini. Diriwayatkan oleh Al Khallal bahwa Ahmad bin Hanbal memandang orang yang mencela sahabat sebagai bukan orang islam

أخبرنا عبدالله بن أحمد بن حنبل قال سألت أبي عن رجل شتم رجلا من أصحاب النبي  صلى الله عليه وسلم  فقال ما أراه على الإسلام

 

Telah mengabarkan kepada kami Abdullah bin Ahmad bin Hanbal yang berkata aku bertanya kepada ayahku tentang orang yang mencela seseorang dari sahabat Nabi shallahu ‘alaihi wassalam. Beliau menjawab “menurutku ia bukan orang islam” [As Sunnah Al Khalal no 782]

Jika dikatakan orang yang mencela sahabat Nabi sebagai bukan orang islam, maka konsekuensinya sangat berat dan saya rasa tidak akan ada ulama yang mau menerima konsekuensi tersebut. Telah diriwayatkan dengan sanad yang shahih bahwa Mughirah bin Syu’bah mencela Ali bin Abi Thalib RA. Bahkan riwayat tersebut terdapat dalam kitab Musnad Ahmad, jadi kami berasumsi kalau Ahmad bin Hanbal mengetahui bahwa Mughirah telah mencela Imam Ali. Apakah Ahmad bin Hanbal akan mengatakan kalau Mughirah bin Syu’bah bukan seorang muslim?. Faktanya tidak, Ahmad bin Hanbal memandang Mughirah sebagai sahabat Nabi yang diambil hadisnya, ia sendiri menulis hadis Mughirah bin Syu’bah di dalam kitab Musnadnya.

Telah diriwayatkan pula dengan sanad yang shahih bahwa seorang tabiin masyhur yang dikenal sebagai imam tsiqat yaitu Urwah bin Zubair mencela seorang sahabat Nabi yaitu Hassan bin Tsabit RA. Apakah Ahmad bin Hanbal akan mengatakan kalau Urwah bin Zubair bukan seorang muslim?. Faktanya, Ahmad bin Hanbal malah memuji Urwah bin Zubair dan menjadikan hadisnya sebagai rujukan.

Antagonisme yang sangat nyata dapat dilihat pada penilaian Ahmad bin Hanbal terhadap beberapa perawi hadis yang nashibi seperti Hariiz bin Utsman dan Abdullah bin Syaqiq. Dalam biografi Abdullah bin Syaqiq disebutkan kalau Ahmad berkata

وقال أحمد بن حنبل ثقة وكان يحمل على علي

Ahmad bin Hanbal berkata “tsiqat dan ia mencela Ali” [At Tahdzib juz 5 no 445]

وقال أحمد بن أبي يحيى عن أحمد حريز صحيح الحديث إلا أنه يحمل على علي

Ahmad bin Abi Yahya berkata dari Ahmad yang berkata “Hariiz shahih hadisnya hanya saja ia mencela Ali” [At Tahdzib juz 2 no 436]

وسمعت أبا داود يقول : سالت أحمد بن حنبل عن حريز فقال : ثقة ثقة ثقة

 

Aku mendengar Abu Dawud berkata aku bertanya kepada Ahmad bin hanbal tentang Hariiz. Ia menjawab “tsiqat tsiqat tsiqat” [Su’alat Al Ajurri 2/234 no 1700]

Ahmad bin Hanbal mengakui kalau Harriiz bin Utsman dan Abdullah bin Syaqiq mencela Ali bin Abi Thalib RA tetapi hal ini tidak mencegahnya untuk mengatakan tsiqat, bahkan Hariiz ia puji dengan ta’dil yang sangat tinggi “tsiqat tsiqat tsiqat”. Padahal Ahmad bin Hanbal beranggapan siapa saja yang mencela sahabat Nabi maka ia bukan orang islam. Sikap antagonis seperti ini adalah konsekuensi dari pandangan Ahmad sendiri yang mengkafirkan “orang yang mencela sahabat Nabi”. Oleh karena itu tidak diragukan lagi sikap sebagian ulama yang memandang kafir mereka yang mencela sahabat Nabi adalah sikap yang berlebihan dan keliru. Walaupun begitu bukan berarti kami memandang baik perkara mencela sahabat Nabi karena Mencela seorang muslim tidaklah dibenarkan dalam syari’at islam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: