Tokoh-tokoh Ulama Ahlusunnah Yang Meyakini Terjadinya Tahrîf (3)

Di antara tokoh sentral Ahlusunnah wal Jama’ah yang meyakini telah terjadinya perubahan/Tahrîf pada Al Qur’an adalah Mujâhid ibn Jabr.

Dalam keyakinannya yang tidak ia rahasikan, Al Qur’an yang sekarang ada ini tidak lagi utuh, telah banyak bagian yang hilang, di samping yang tersisa sekarang ini juga mengalami banyak perubahan.

Data-data di bawah ini akan membuktikan keyakinan tokoh besar Ahlusunnah generasi Tâbi’în tentang Tahrîf Al Qur’an.

1) Al Qur’an yang sekaraang banyak yang hilang!

Al Hâfidz Ibnu Abdil Barr al Andalusi berkata, “Abu Nu’aim al Fadhl ibn Dakîn berkata, ‘Saif menyampaikan hadis kepada kami dari Mujahid, ia berkata:

كانت سورةُ الأحْزابِ مِثْلَ سورة البقرة أو أطول، و لقَدْ ذهبَ يوم مُسَيْلَمَة قُرآنٌ كثيرٌ، و لَمْ يذهب منه حلالٌ ولا حرامٌ.

“Dahulu surah al Ahzâb seperti surah al Baqarah atau lebih panjang. Dan benar-benar telah hilang banyak bagian Al Qur’an di hari (pertempurang melawan) Musailamah, dan tidak hilang darinya halal atau haram.” (Baca: at Tamhîd Fî Syarhi al Muwththa’,4/275, keterangan hadis nomer21).

Adakah kesamaran pada pernyataan Mujahid di atas? Bukankah ia menegaskan bahwa Al Qur’an telah banyak bangiannya yang hilang! Bukan dimansukhkan tilawahnya, seperti yang dikhayalkan sebagian orang! Akan tetapi ia hilang akibat para penghafalnya gugur syahid dalam pertempuraan menumpas kaum murtaddîn yang dipimpin Musalaimah yang digelari al kadzdzâb/si pembohong!

Atau Anda hendak meragukan kashahihan atsar/data komentar Mujahid di atas, dengan mengatakan bahwa saya mencari-cari riwayat lemah atau bahkan palsu untuk mengada-ngada?!

Sengaja saya cantumkan sanad penukilan pernyataan Mujahdi di atas agar dapat diteliti para ulama dan sarjana Ahlusunnah. Perhatikan nam-nama dalam sanad penukilan atsar di atas:

A) Abu Nu’aim Fadh ibn Dakîn.

Ia seorang yang tsiqah. Dalam kitab Tahrîr Taqrîb at Tahdzîb,3/157 biografi nomer 5401 disebutkan, “Al Fadhl ibn Dakîn al Kûfi Abu Nua’im: tsiqah/jujur terpercaya, tsabtu/kokoh dalam periwayatan. Ia mendengar/meriwayatkan dari Saif ibn Sulaiman.

Dalam sanad di atas jelas ia mendengar dari Saif.

B) Saif ibn Sulaiman.

Saif adalah seorang perawi tsiqah/jujur terpercaya, tsabtu/kokoh dalam periwayatan.

Adz Dzahabi berkata dalam kitab Siyar A’lam an Nubalâ’-nya, 6/338 biografi nomer 140, “Saif ibn Sulaiman al Makki, salah seorang yang tsiqât (jujur terpercaya) dari mawâli bani Makhzûm. Ia meriwayatkan dari Mujahid, ‘Amr ibn Dînâr, ‘Athâ’, Qais ibn Sa’ad dari Yahya al Qaththan, Abu ‘Âshim, Ibnu Numair, Zaid ibn al Hubâb dan Abu Nui’am serta ulama lainnya meriwayatkan.”

Selain adz Dzahabi, para ulama lainnya juga memujinya seperti ar Râzi dalam al Jarh wa at Taa’dîl-nya,4/274 biografi nomer 1185.

Di sini Saif mendengar langsung dari Mujahid.

Jadi adakah keraguan akan keshahihan penukilan pernyataan itu dari Mujahid?!

2) Teks Al Qur’an yeng beredar sekarang salah!

Ayat 81 surah Âlu ‘Imrân seperti yang tertera dalam Al Qur’an sekarang ini adalah salah. Dalam keyakinan Mujahid –seorang tokoh ulama tabi’în– hal itu akibat kesalahan panitia yang ditugasi untuk menulis naskah induk Al Qur’an.

Adam meriwayatkan, ia berkata, Warqâ’ menyampaikan berita kepada kami dari Abu Najîh dari Mujahid, ia berkata, “Allah berfirman:

وَ إِذْ أَخَذَ اللَّهُ ميثاقَ النَّبِيِّينَ لَما آتَيْتُكُمْ مِنْ كِتابٍ وَ حِكْمَةٍ … .

“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, ….”

Ini adalah kesalahan dari para menulis naskah Al Qur’an. Dalam bacaan Ibnu Mas’ud demikian:

وَ إِذْ أَخَذَ اللَّهُ ميثاقَ الذِينَ أُوتُوا الكِِتابَ لَما آتَيْتُكُمْ مِنْ كِتابٍ وَ حِكْمَةٍ… .

Dalam tafsir ad Durr al Mantsûr-nya, As Suyuthi mengawali laporannya tentang tafsir ayat tersebut dengan menyebutkan riwayat Abdu ibn Humaid, al Faryâbi, Ibnu Jarir dan Ibnu al Mundzir dari Mujahid, ia berkata, “Ayat:

وَ إِذْ أَخَذَ اللَّهُ ميثاقَ النَّبِيِّينَ لَما آتَيْتُكُمْ مِنْ كِتابٍ وَ حِكْمَةٍ … .

“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, ….”

Ini adalah kesalahan dari para menulis naskah Al Qur’an.”[1]

Ibnu Jarir ath Thabari juga mengabadikan pernyatan Mujahid dengan dua sanad/jalur:

Sanad pertama, semua parawinya tsiqât:

حدثني محمد بن عمرو، قال: ثنا أبو عاصم عن عيسى عن ابن أبي نجيح عن مجاهد.

حدثني الْمثنى قال: ثنا أبو حذيفة قال: ثنا شبل عن ابن أبي أبي نجيح عن مجاهد.

Kualitas Sanad Riwayat Pernyatan Mujahid

Semua nama perawi dalam jalur-jalur periwayatan pernyataan Mujahid adalah parawi jujur terpercaya.

A) Adam ibn Abi Iyâs adalah tsiqah, ‘Âbid (rajin beribadah) dan terbukti pernah meriwayatkan dari Warqâ’. (Baca: Tahrîr Taqrîb, biografi nomer 7403).

B) Warqâ’ ibn Umar al Yasykuri adalah tsiqah, dan telah terbukti pernah meriwayatkan dari Abu Najîh (Baca: Tahrîr Taqrîb, biografi nomer 7403).

C) Abu Hudzaifah dalam sanad Ibnu Jarir adalah bernama Musa ibn Mas’ud adalah shadûq hasanul hadîts/ ia jujur, dan baik hadis riwayatnya, sebuah kata pujian bagi seorang perawi. (Baca: Tahrîr Taqrîb, biografi nomer 7010).

DR. Mushthafa Abu Zaid –pada cacatan kaki,2/281 mengomentari sanad di atas demikian: “Sanad ini hingga Mujahid adalah shahih“.

Al hasil, dapat dipastikan di sini bahwa Mujahid benar-benar telah mengeluarkan pernyataan tersebut di atas. Dan demikianlah keyakinannya tentang Al Qur’an!!

Jadi apakah saya mengada-ngada ketika saya mengatakan bahwa ternyata di antara ulama besar Ahlusunnah ada yang meyakini Tahrîf Al Qur’an?!

3) Ayat 48 Surah al Qashash adalah palsu!

As Suyuthi meriwayatkan[2] dari Abdu ibn Humaid yang meriwayatkan dari Abdul Karîm Abu Umayyah, ia berkata, “Aku mendengar Ikrimah membaca:

هذان سِحْرَانِ

Lalu aku ceritakannya kepada Mujahid, maka ia berkata:

كذب العبدُ! قرَأْتُها على إبن عباس : {هذان ساحِرَانِ}،فلم يُعِبْ علَيَّ.

“Berbohaonglah budak sahaya itu. Aku membacanya demikian dihadapan Ibnu dan ia tidak mencacatku: هذان ساحِرَانِ

Di sini seperti Anda saksikan, bagaimana Mujahid dengan tegas mengatakan bahwa teks ayat tersebut dalam Al Qur’an yang sekarang beredar adalah salah… apa yang dibaca yang diyakini kequr’annya oleh umat Islam selama ini adalah salah, bukan redaksi wahyu yang orisinil… itu artinya Imam Mujahid meyakini telah terjadinya perubahan pada Al Qur’an yang dipakai umat Islam selama ini!! Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Mujahid adalah tokoh ulama Ahlusunnah terkemuka generasi Tabi’în yang meyakini tahrîf Al Qur’an.

Pernyataan Mujahid di atas tegas-tegas menyalahkan bacaan yang diyakini umat Islam sekarang. Ia telah menambah-nambah satu huruf dan merubah harakat ayaat tersebut di atas. Dan yang lebih mengerikan ia mengatakan bahwa bacaan yang sekarang dianut umat Islam adalah kidzb/kepalsuan belaka!

4) Meragukan Kequr’anan Dua Surah al Mu’awwidzatain!

Selain itu, Mujahid meragukan kequr’anan dua surah terakhir Al Qur’an; al Mu’awwidzatain. Ia enggan membacanya tanpa menggandengkannya dengan surah lain. Demikian diriwayatkan Abdurrazzâq dalam Mushannaf-nya,6/146 hadis nomer 30207.

Tidak syak lagi bahwa pengingkaran Mujahid ini adalah pengaruh dari sikap pengingkaran Ibnu Mas’ud!

Sekarang Anda perlu mengenal siapa sejatinya Mujahid itu? Apakah ia sembarang ulama yang tidak layak diperhitungkan dan dipertimbangkan sikap dan pernyataannya?

Apakah saya menyebut penyimpangan kayakinan dari seorang ulama kelas “teri” yang kemudian saya besar-besarkan? Atau saya sedang menyebutkan pernyataan seorang ulama besar dan tokoh kenamaan Ahlusunnah?

Ataukan Anda hendak mengatakan bahwa pernyataan Mujahid dan penyimpangannya tidak boleh dinisbahkan kepada Ahlusunnah sebagai Mazhab secara keseluruhan?!

Lalu mengapakah jika ada seorang ulama Syi’ah menyimpang dengan meyakini terjadinya Tahrîf, kalian –wahai sarjana-sarjana Wahhabi bayaran dan kalian yang teracuni virus wahhabisme” membebankan keselahan dan penyimpangan itu kepada Syi’ah selaku Mazhab?! Kalian memaksa seluruh Syi’ah harus memikul beban itu?!

Siapakah Mujahid Itu?

Mujahid, nama lengkapnya Mujahdi ibn Jabr Abu al Hajjâj al Makhzûmi al Makki. Ia seorang muqri’ (Maha Guru dalam qirâah), mufassir (Pakar Tafsir). Beliau lahir tahun 21 H di masa kekhalifahan Umar ibn al Khaththab, dan wafat tahun 104 H dalam usia 83 tahun.

Beliau adalah murid Ibnu Abbas yang paling terpercaya, awstaq. Karenanya Imam Syafi’i dan Imam Bukhari dan lainnya mengandalkannya dalam tafsir. Dalam Shahih-nya, Imam Bukhari banyak menukil tafsir darinya. Dan ini adalah bukti kuat akan kestiqahan dan keadilannya. Beliau telah menyelesaikan pembacaan Al Qur’an dengan berguru kepada Ibnu Abbas sebanyak tiga puluh kali, hal itu dimaksud untuk mencari kepastian kebenaran dan ketepatan bacaan setiap kata dan kalimatnya.

Ringkas kata, seperti dibuktikan panjang lebar oleh Dr. Muhammd Husain adz Dzahabi dalam kitab at Tafsir wa al Mufassirûn, bahwa Mujahid tidak diragukan lagi adalah seorang imam besar dan pakar tafsir Al Qur’an terkemuka tabi’în. Tidak seorang pun dari ulama Islam yang meragukan kehebatan, keluasan dan keunggulannya dalam tafsir dan ilmu-ilmu Al Qur’an. Imam adz Dzahabi, setelah menyebutkan berbagai pujian ulama terhadap Mujahid, ia mengakhiri dengan mengatakan, “Umat telah sepakat akan keimamahan Mujahid dan berhujjah dengannya. Para penulis enam kitab hadis telah meriwayatkan darinya.”[3]

Jika meyaakini tahrîf Al Qur’an adalah harus divonis kafir maka siapkah kalian wahai –Ahlusunnah- memberlakukan hukuman tersebut atas Imam Besar kalian?!

Dan dengan meminjam logika sakit kaum Wahhabi –yang sekarang sedang gentayangan menebar “virus fitnah mematikan” di tanah air tencinta, khususnya di PONPES-PONPES Ahlusunnah- :Barang siapa mengingkari satu huruf dari Al Qur’an atau meyakini tahrîf maka, ia kafir! Dan barang siapa tidak mengafirkannya maka ia juga menjadi kafir! Maka berapa banyak ulama yang harus dihukumi kafir oleh ‘Kaidah Islamiyah ala Arab Baduwi Wahhabi’ itu?! Masihkan kita mau mengikuti ‘kaidah gila’ hasil wahyu setan Arab itu?!

Saya dan Anda mungkin juga sudah dijatuhi vonis kafir oleh mereka?


[1] Ad Durr al Mantsûr, 83-84.

[2] Ad Durr al Mantsûr,5/248.

[3] At Tafsir wa al Mufassirûn,1/104-107.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: