Ternyata Mencaci Maki Sahabat Nabi -Menurut Sunni- Tidak Apa-apa Hukumnya

Pendahuluan:[1]

Dunia hadis Sunni sedang menghadapi ujian berat dalam banyak sisi dan lini untuk mempertahankan kenetralan dan kevalidannya! Mampukah ia keluar darinya dengan sukses mengusung etika kejujuran, kenetralan, obyektifitas dan berpihak kepada al haq? Itulah pertanyaan yang hendak kita cari tau jawabannya dalam artikel ini.

Di antara ujian yang akan menghadang kenetralannya dalam menyaring sumber data adalah sikap dunia hadis Sunni terhadap para perawi hadis.

Kesucian Sahabat Nabi saw. adalah Garis Merah!

Termasuk masalah yang menyita perhatian dan meminta sikap tegas para ahli hadis Sunni adalah sikap hormat para perawi terhadap para sahabat Nabi saw. tanpa terkecuali! Siapapun yang terbukti bersikap buruk dalam menilai sahabat maka para ulama hadis Sunni tidak akan segan-segan menvonisnya sebagai Zindîq[2], Dajjâl, Ahli Bid’ah, Zâighun ‘Anil Haqqi (menyimpang dari kebenaran) dan kecaman-kecaman lainnya yang tidak kalah seramnya.

Banyak parawi hadis yang gugur bergelimpangan menjadi korban format penilian tersebut…. Mereka dicacat, dikecam divonis sebagai pembohong/kadzzâb dan kemudian yang pasti mereka digugurkan kelayakannya sebagai sumber hadis karena terbukti pernah berkata-kata atau pernah bersikap buruk terhadap seorang atau beberapa orang oknum sahabat Nabi saw.

Abu Zur’ah –seorang tokoh terkemuka Ahlusunnah, guru agung Imam Muslim- membangun kaidah baku yang dijadikan tolok ukur penilaian, ia barkata,

“Jika engkau menyaksikan seorang mencela-cela seorang dari sahabat Rasulullah saw. maka ketahuilah bahwa ia adalah seorang zindîq, sebab sesungguhnya Rasulullah saw. itu haq, Al Qur’an itu haq, apa yang dibawa Nabi itu haq, dan yang menyampaikan itu semua kepada kita adalah para sahabat. Maka siapa yang mencacat mereka sesungguhnya ia sedang berusaha membatalkan Al Qur’an dan Sunnah, karenanya mencacat mereka lebih tepat dan menvonis mereka sebagai zindîq, sesat, berdusta dan kerusakan adalah lebih lurus dan lebih berhak.”[3]

Dan atas dasar kaidah di atas para ulama hadis Sunni membangun penilaian terhadap para perawi. Al Khathib al Baghdadi menukil Yahya ibn Ma’în sebagai mengatakan ketika ia menerangkan kualitas seorang parawi bernama Talîd, “Talîd adalah kadzdzâb/ pembohong besar, ia mencaci maki Utsman. Dan setiap yang mencaci maki Utsman atau Thalhah atau seorang dari sahabat Rasulullah saw. maka ia adalah dajjâl, tidak layak ditulis hadisnya. Atasnya laknat Allah, para malaikat dan seluruh manusia.”[4]

Ibnu Hibban berkata, “Talîd adalah seorang rafidhi pencaci maki sahabat dan ia meriwayatkan hadis-hadis yang aneh tentang keutamaan Ahlulbait.”[5]

Imam Ahmad ibn Hanbal meninggalkan periwayatkan hadis dari Ubaidullah ibn Musa al Absi hanya gara-gara ia menceloteh Mu’awiyah ibn Abu Sufyan. Tidak cukup itu ia mengutus seorang kepercayaannya untuk mendatangi Yahya ibn Main agar segera meninggalkan meriwayatkan hadis darinya. Ia berpesan kedanya agar menyampaikan kepada Yahya bahwa:

.

أخوك أبو عبد الله أحمد بن حنبل يقرأ عليك السلام ويقول لك: هو ذا تكثر الحديث عن عبيد الله وأنا وأنت سمعناه يتناول معاوية بن أبي سفيان وقد تركت الحديث عنه.

“Saudaramu Abu Abdillah menyampaikan salam dan berkata kepadamu, “inilah engkau berbanyak-banyak meriwayatkan hadis dari Ubaidullah, sementara aku dan engkau sama-sama mendengarnya mencaci Mu’awiyah ibn Abu Sufyan. Aku telah meninggalkan meriwayatkan hadis darinya.”[6]

.

Para ahli hadis Sunni akan segera mengecam seorang perawi dikarenakan ia dituduh mencacat seseorang sahabat dengan kecaman sebagai Rafidhi! Pembohong! Dll.

Akan tetapi apakah mereka setia menjalankan kaidah yang telah mereka bangun sendiri?

Apakah mereka membangun kaidah tersebut dengan i’tikat baik untuk menyaring hadis dari sisipan kaum munafikin?

Apakah mereka akan konsisten menjalankan kaidah tersebut dengan sepenuh hati atas siapa saja yang mencaci dan mencacat apalagi melaknat seorang sahabat Nabi saw.?

Apakah benar kaidah itu mereka bangun untuk membentengi keangungan sahabat Nabi saw, -seluruh sahabat Nabi saw. tanpa memilih dan memilah- dari sikap sinis dan mulut busuk sebagian parawi hadis?

Atau kaidah itu hanya akan diterapkan ke atas para parawi yang menghujat, mencacat dan membenci serta mengutuk sahabat-sahabat tertentu saja, tidak untuk sahabat tertentu lainnya?

Di sini letak ujian berat yang sedang dihadapi kaidah Sunni tersebut!

Namun sepertinya penelusuran acak –apalagi dengan telaten- akan memberi peluang para pemerhati untuk mencurigai ketulusan dan kenetralan kaidah tersebut! Kerena ternyata, kaidah itu hanya diberlakukan ketika menghadapi para parawi yang mencacat atau bahkan sekedar mengkritik oknum-oknum tertentu sahabat Nabi saw., seperti Mu’awiyah, ‘Amr ibn al Âsh, Walîd ibn ‘Uqbah, Thalhah, Utsman, Umar Abu Bakar dkk. Adapaun ketika berhadapan dengan para parawi yang mencaci maki, melaknati dan membenci Imam Ali as., Imam Hasan dan Husain as. serta pribadi-pribadi mulia keluarga Nabi saw. sepertinya kaidah itu lumpuh tanpa daya dan kekuatan! Bahkan tidak jarang, gelar-gelar kehormatan dan pujian menyertai sebutan para perawi pembenci Ali as.!!

Entah mengapa?

Apakah karena para sahabat lainnya itu memiliki kehormatan agung di sisi Allah SWT yang tidak dimiliki oleh Imam Ali dan Ahlulbait Nabi as.?

Atau karena para ulama itu telah mendapat bocoran informasi langit bahwa keridhaan Allah terlatak pada kebencian, kesinisan sikap dan caci-maki serta laknatan atas Ali dan Ahlulbait as.?

Atau memang pada dasarnya mencaci maki dan mencacat sahabat Nabi itu sah-sah saja hukumnya! Semua huru-hara fatwa dalam masalah ini hanya bersifat politis belaka!

Atau karena alasan lain yang masih dirahasiakan hingga hari ini? Wallahu A’lam!

Para ulama Sunni sendiri mengakui adanya sikap nakal dan subyektif serta mengertapan standar ganda dalam pemberlakuan “kaidah filterisasi” perawi hadis tersebut! Ibnu Hajar pernah bertanya-tanya kebingungan menyaksikan sikap tidak sehat itu dari para “Pembela Sunah” Sunni.

Ibnu Hajar berkata, “Dahulu aku merasa isykal (melihat adanya keganjilan sikap para ulama Rijal) dalam menstiqahkan seorang perawi Nashibi [7] (pembenci Ali) dan menghinakan terhadap perawi Syi’ah[8] (pecinta Ali), terlebih telah datang sabda Nabi saw. tentang Ali bahwa “Tidak mencintainya melainkan seorang Mukmin dan tidak membencinya melainkan seorang munafik.”….. “

Dari pernyataan Ibnu Hajar di atas dapat diketahui bahwa demikianlah sikap kebanyakan ulama hadis Sunni dalam mentsiqahkan atau mencacat para parawi…. Mereka mentsiqahkan kaum Nawâshib (pembenci Ali as.) … kaum yang mencaci-maki Ali as. ….. Kaum yang melaknati Ali as. ….

Lalu dinamakan kaidah yang mereka bakukan itu?

Agar pembaca tidak terlalu lama menanti sajian data-data yang membuktikan keharmonisan sikap ulama Sunni terhadap para pembenci Ali dan Ahlulbait as. … sikap kagum dan menyanjung serta terpesona oleh kejujuran, kataqwaan, kezuhudan dan kashalehan para pembenci Ali as., saya langusng sajikan data-data di bawah ini:

Catatan:

Seperti telah disinggung bahwa data-data yang akan saya sajikan ini saya ambil secara acak tanpa bermaksud menelusuri secara detail dan menyeluruh, karena untuk itu diperlukan kerja karas dan waktu panjang.

1. Ishaq ibn Suwaid ibn Hubairah al Adwi.

Dalam Hadyu as Sâri-nya, Ibnu Hajar menegaskan bahwa “Yahya ibn Ma’in, an Nasa’i dan al Ijli mentsiqahkannya, dan ia mengecam Ali ibn Abi Thalib.”[9]

Jadi sepertinya mencaci maki sahabat Nabi saw. tidak mengugurkan keadilan atau mencacat agama seorang!

2. Khalid ibn Salamah ibn al Âsh ibn Hisyam al Makhzumi yang dikenal dengan panggilan al Fa’fa’

Dalam kitab Tahdzîb at Tahdzîb disebutkan bahwa: Ahmad, Ibnu Ma’in dan Ibnu al Madîni mentsiqahkannya. Ibnu Hibbân memasukkannya dalam daftar perawi tsiqah. Muhammad ibn Hamîd menukil Jarir berkata, “Al Fa’fa’ adalah tokoh sekte Murji’ah. Dan ia mebenci Ali.”

Selain itu kajahatan perawi yang satu ini adalah bahwa ia juga menggubah bait-bait syair untuk bani Marwan yang memuat ejekan atas Nabi Muhammad saw.[10]

Kendati demikian ia mampu meraih kepercayaan para ulama hadis Sunni dan ia diandalkan oleh: Muslim dalam Shahihnya, Abu Daud dalam Sunannya, Ibnu Majah dalam Sunannya, at Turmudzi dalam Sunannya, an Nasa’i dalam Sunnanya.

Ibnu Jakfari berkata:

Selamat atas umat yang menjadikan manusia durjana seperti al Fa’fa’ sebagai panutan dan tempat kepercayaannya!

Saya yakin dan bahkan haqqul yakin, andai ada seorang perawi yang menggubah bait-bait syair menghujat Abu Bakar atau Umar pastilah para ulama yang pecemburu terhadap kesucian agama itu akan bangkit memuntahkan amunisi laknatan dan kecamannya dan pasti tak segan-segan menvonisnya sebagai si Zindiq yang harus segera dipenggal kepalanya! Akan tetapi anehnya ketika yang dijuhat dan dihina serta dilecehkan itu adalah Rasul Allah mereka terdiam dan bahkan memberinya gelar kehormatan sebagai perawi Tsiqah yang harus kita percaya hadis riwayatnya! Innâ Lillâhi wa Innâ Ilaihi Râji’ûn.

3. Hushain ibn Numair al Wasithi

Para ulama hadis Sunni, di antaranya adalah Abu Zur’ah mentsiqahkannya, padahal, seperti dilaporkan Abu Khaitsmah, ia terang-terangan menghina Ali.

Bukhari mengandalkannya dalam banyak bab, di antaranya dalam Bab Ahâditsul Anbiya’ (hadis para nabi) dan dalam Bab ath Thibb (pengobatan)… para penulis kitab Sunan –selain Ibnu Majah mengandalkan riwayatnya juga.[11]

4. Khalid ibn Abdillah al Qasri

Dalam kitab Tadzîb at Tadzîb disebutkan, Yahya al Himmani berkata, ‘Dikatakan kepada Sayyâr, apakah engkau meriwayatkan dari Khalid? Maka ia menjawab, ‘Ia lebih mulia dari berbohong.’

Ibnu Hibbân memasukkannya dalam daftar perawi terpercaya/tsiqat. Dalam kitab al Mîzân dikatakan bahwa ia adalah Shadûq.[12]

Padahal tidak samar lagi bahwa Khalid itu seorang Amir Dinasti Umayyah yang sangat kejam dan sangat membenci Imam Ali as. … Ia banyak melakukan kejahatan yang mengerikan. Berikut ini saya sebutkan keselumit kejahatannya:

  • Khalid itu mengutamakan Abdul Malik ibn Marwan (Khalifah dimasti Umayyah yang dikenal sangat kejam dan haus darah itu) atas Nabi Ibrahim as. (seorang nabi Ulul Azmi yang sangat agung dan mulia  di sisi Allah SWT)… Dia deklarasikan pengutamaan itu di atas mimbar kota suci Mekkah.
  • Dan dalam kesempatan lain ketika ia menjabat sebagai Amir wilayah Iraq, ia terang-terangan di atas mimbar melaknati Ali ibn Abi Thalib as…. ia berpidato: Ya Allah taknatlah Ali ibn Abi Thalib ibn Abdil Muththalib ib Hasyim, menantu Rasulullah dan ayah Hasan dan Husain… setelahnya ia menghadap kepada para jamaah yang hadir seraya berkata, “Apakah aku menyebutnya samar-samar?”
  • Dilaporkan juga bahwa ia merobohkan masjid dan kemudian membangun di atasnya sebuah gereja untuk ibu kandungnya dan juga membangun di atasnya sinagok-sinagok.
  • Ia memberi jabatan kaum majusi untuk menghinakan kaum Muslimin.
  • Dan juga menikahkan wanita-wanita Muslimat dengan kaum kafir Ahli Kitab….
  • Ia mengatakan andai sang Khalifah tidak ridha kepada kami melainkan dengan menghancurkan bangunan Ka’bah pasti itu akan kami lakukan.
  • Dan ada laporan yang sangat menyayat hati setiap Muslim yang mendengarnya (kecuali jika ia penggemar berat kemunafikan bani Umayyah dan antek-anteknya. Ibnu Khallikan melaporkan bahwa ada seorang wanita Muslimah datang melapor kepada Khalid bahwa ia telah diperkosa oleh seorang pagawainya yang beragama Majusi, maka dengan tanpa keimanan dan rasa malu ia mengabaikan laporannya dan sekaligus mencemoohnya dengan mengatakan: Bagaimana rasa penisnya yang belum dikhitan itu?”

Ibnu Jakfari berkata:

Akankah anjing hina sepertinya dikatakan sebagai parawi tsiqah/jujur terpercaya? Lebih mulia dari berbohong? Adakah seorang Muslim yang peduli akan keselamatan agamanya rela menjadikannya sebagai perantara penukilan agama suci Allah?

Apakah ini yang dibanggakan sebagian musuh-musuh Syi’ah bahwa kitab-kitab hadis Sunni, khususnya Shihâh Sittah dapat diandalkan kevalidannya? Sampai kapan kitab-kitab hadis umat Islam dicemari oleh hadis-hadis kaum fasiq, munafik dan kafir seperti Klahid si durja terkutuk itu?

5. Ziyâd ibn Jubair ats Tsaqafi al Bashri

Parawi yang satu ini telah memikat hati banyak ulama hadis Sunni sehingga mereka berlomba-lomba memujinya. Imam Ahmad, Yahya ibn Ma’in, Abu Zur’ah, an Nasa’i, al Ijli, dan Ibnu Hibbân telah sepakat mentsiqahkannya. Dan para penulis Shihâh; kitab hadis standar Sunni juga berhujjah dengannya.[13]

Mereka semua sepakat mengandalkannya padahal Ziyâd ini telah mencaci maki Hasan dan Husain as… Ibnu Abi Syaibah melaporkan dari Abdurrahman ibn Abi Nu’aim bahwa Ziyâd telah mencaci maki Hasan dan Husain….”[14]

Ibnu Jakfari berkata:

Apa uzur para ulama Sunni itu di hadapan Allah dan rasul-Nya ketika mereka berhujjah dengan si fasiq yang munafik itu?

Apakah kebencian dan caci maki itu haram jika dialamatkan kepada Mu’awiyah dan Utsman dan halal hukumnya jika dialamatkan kepada kedua cucu tercinta Nabi kita; dua penghulu pemuda ahli surga?

Saya benar-benar tidak mengerti apa yang sedang terjadi pada umat ini? Jika Ali, Hasa, Husain as. dicacat seakan kebajikan sedang diperagakan dan pemeraganya berhak mendapat sanjungan! Seakan sebuah kawajiban Allah sedang ditegakkkan di atas muka bumi!

Namun apabila nama Mu’awiyah, Yazid, ‘Amr ibn Ash, Abu Hurairah, Utsman, Mughirah ibn Syu’bah, Abu Bakar dan Umar disentuh mereka bangkitkan dunia … mereka luncurkan tradisi tercanggih kutukan dan laknatan, seakan kehormatan Allah sedang diinjak-injak! Innâ Lillâhi wa Innâ Ilaihi Râji’ûn, semoga kita dilindungi Allah dari kesesatan.

6. Abdullah ibn Zaid ibn ‘Amr al Jarmi al Bashri

Al Ijli menegaskaan bahwa ia tak henti-hentinya mencacat Ali ibn Abi Thalib dan tidak sudi meriwayatkan satu hadis pun dari Ali, namun demikian al Ijli tetap saja menilainya sebagai tsiqah, ia berkata, “Ia seorang tabi’în yang tisqah, dan mencacat Ali ibn Abi Thalib dan tidak sudi meriwayatkan satu hadis pun dari Ali .” dan bukan kali ini al Ijli menegaskan bahwa seorang perawi itu membenci Imam Ali as., namun ia tetap menegaskan ketsiqahannya!

Bukhari mengatakan bahwa ia: Rajulun Shâleh/seorang yang shaleh.[15] Seperti juga dinukil dalam at Tahdzîb. Demikian juga adalah mengherankan ketika Ibnu Sirin berkata, ‘Dia adalah benar-benar saudaraku.

Perawi yang fasiq ini telah mampu memukau para ulama hadis Sunni, tak terkecuali Imam Ahli hadis tak teetandingi; Bukhari dan Muslim, serta para penulis kitab-kitab Sunan lainnya, seperti Abu Daud, Ibnu Majah, at Turmudzi, dan an Nasa’i.[16]

7. Abdullah ibn Syaqîq al ‘Uqaili al Bashri

Perawi yang satu ini tidak pernah merahasiakan kebenciannya kepada Imam Ali as. sehingga setiap yang menyebut data pribadinya mengakui dalamnya kebencian tersebut. Namun anehnya, para ulama Sunni yang menegaskan kemunafikan perawi yang satu ini, mereka juga menegaskan ketsiqahannya bahkan lebih dari itu, mereka menganggapnya sebagai seorang Waliyullah yang doanya selalu dikabulkan Allah!

Perhatikan data-data di bawah ini:

Ibnu Khirâsy berkata, “Ia seorang Utsmaniy (Nashibi) yang membenci Ali.”[17]

Dalam kitab at Tahdzîb disebutkan bahwa Ibnu Sa’ad menggolongkannya sebagai thabaqah (genesari) pertama tabi’în penduduk kota Bashrah, dan ia berkata: “Ia seorang utsmaniy, ia tsiqah/jujur dalam periwayatan hadis.”[18]

Ahmad al Ijli berkata, “Ia tsiqah. Ia mencerca Ali.”

Dan yang lebih menyedihkan lagi adalah apa yang dikatakan oleh  al Jariri, “Abdullah ibn Syaqîq adalah seorang yang doanya selalu dikabulkan, terkadang ada awan yang lewat maka ia berkata, ‘Ya Allah jangan biarkan ia berlalu melewati tempat ini dan itu’ maka turunlah hujan.’” Demikian dikisahkan oleh Ibnu Khaistamah.[19]

Ibnu Jakfari berkata:

Orang Mukmin mana yang akan membenarkan dongeng murahan seperti itu?! Tidak diragukan lagi bahwa Ibnu Syaqîq adalah seorang munafik tulen. Dan kebenciannya kepada Imam Ali as. adalah bukti nyata akan hal itu. Andai benar apa yang didongengkan di atas pastilah itu tergolong istidrâj/diberikan sebagai cobaan, seperti yang diberikan Allah kepada dajjal.

Setelah terbukti kemunafikan Ibnu Syaqîq adalah sangat mengherankan ketika kita menyaksikan para ulama’ hadis Sunni berlomba-lomba mendapatkan hak paten periwayatan hadis darinya. Muslim dalam kitab Shahihnya telah mengandalkannya sebagai periwayat hadis. Demikian juga dengan Abu Daud, Ibnu Majah, at Turmudzi dan an Nasa’i.

Dimanakah kita dapat temukan kecemburuan para ulama hadis Sunni ini terhadap kemuliaan para sahabat agung Nabi Muhammad saw.? Mengapa mereka begitu membanggakan perawi yang terang-teranngan membenci Ali as.?

Mengepa mereka menyematkan status kehormatan atasnya? Bukankah –seperti yang ditegaskan Abu Zur’ah: “Jika engkau menyaksikan seorang mencela-cela seorang dari sahabat Rasulullah saw. maka ketahuilah bahwa ia adalah seorang zindîq.” Dan juga yang ditegaskan Yahya ibn Ma’in: “…Dan setiap yang mencaci maki Utsman atau Thalhah atau seorang dari sahabat Rasulullah saw. maka ia adalah dajjâl, tidak layak ditulis hadisnya. Atasnya laknat Allah, para malaikat dan seluruh manusia.”

Saya benar-benar tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi dalam dunia hadis Sunni?! Mungkin Anda mengetahuinya?!

8. Limâzah ibn Zabâr al Azdi al Jahdami Abu Labîd al Bashri.

Dalam kitab Tahdzîb at Tahdzîb dipaparkan pujian dan pentsiqahan para ulama Sunni terhadapnya, sementara pada waktu yang sama mereka menegaskan bahwa perawi yang satu ini adalah sangat membenci Imam Ali as. dan tidak pernah menyembunyikan rasa dengki dan dendamnya kepada saudara Rasulullah yang jiwanya adalah belahan jiwa Rasulullah saw.

Ia hadir dalam peperangan Jamal di pihak musuh Imam Ali as. dan ia seorang nashibi yang tak henti-hentinya mencaci maki Ali dan memuji Yazid.

Dalam kitab Tahdzîb at Tahdzîb di atas disebutkan:

Ibnu Main berkata, “Ia seorang yang gemar mencaci maki. Ia mencaci maki Ali.”[20]

Mathar ibn Humrân berkisah, “Kami di sisi Abu Labîd, lalu ada yang berkata kepadanya, ‘Apakah engkau mencintai Ali?’ Maka ia menjawab, “Bagaimana aku mencintai Ali sedangkan ia telah membunuh enam ribu dari anggota kaumku dalam satu hari.’”

Dari Hawbi ibn Jarîr dari ayahnya, ia berkata, “Labîd adalah orang yang gemar mencaci maki. Maka aku tanyakan kepada ayahku, siapa yang ia caci maki? Maka ayahku menjawab, ‘Ia mencaci maki Ali ibn Abi Thalib.

Kendati demikian tidak sedikit ulama Sunni yang membanggakannya dan menganggapnya Shalihul hadîts/ia bagus hadisnya. Abu Daud, Ibnu Mâjah dan at Turmudzi mengandalkan riwayatnya dalam kitab-kitab Sunan mereka.

9. Harîz ibn Utsman al Himshi

Kenashibian Harîz tidak samar bagi semua peneliti yang akrab dengan kajian sejarah para perawi hadis. Ia sangat membenci Imam Ali as. dan tak henti-hentinya melaknati beliau di berbagai kesempatan, khususnya dalam wirid seusai shalat!! Tidak cukup itu, ia juga tidak segan-segan memalsu hadis yang menyelek-jelekkan Imam Ali as.

Data-data di bawah ini cukup sebagai bukti:

Ditanyakan kepada Yahya ibn Shaleh, “Mengapa Anda tidak menulis hadis dari Harîz? Ia menjawab, ‘Bagaimana aku sudi menulis hadis dari seorang yang selama tujuh tahun aku salat bersamanya, ia tidak keluar dari masjid sebelum melaknat Ali tujuh puluh kali.’“[21]

Ibnu Hibban juga melaporkan, “Ia selalu melaknat Ali ibn Abi Thalib ra. tujuh puluh kali di pagi hari dan tujuh puluh kali di sore hari”. Ketika ia ditegur, ia mengatakan, “Dialah yang memenggal kepala-kepala leluhurku.”[22]

Dan tentang keberaniannya memalsu hadis, ikuti laporan Ismail ibn Iyasy berikut ini, ia berkata, “Aku mendengar Harîz ibn Utsman berkata, ’Hadis yang banyak diriwayatkan orang dari Nabi bahwasannya beliau bersabda kepada Ali, “Engkau di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa”, itu benar tetapi pendengarnya salah dengar. Aku bertanya, “Lalu  redaksi yang benar bagaimana? Ia berkata, “Engkau di sisiku seperti kedudukan Qarun di sisi Musa”. Aku bertanya lagi, “Dari siapa kamu meriwayatkannya?” ia berkata, “Aku mendengar Walîd ibn Abd. Malik mengatakannya dari atas mimbar”.[23]

Al Azdi juga melaporkan kepada kita “Harîz meriwayatkan bahwa ketika Nabi saw. hendak menaiki baghel-nya[24] datanglah Ali lalu  melepaskan pelananya agar beliau jatuh.”

Al Jauhari juga melaporkan kepada kita dengan sanadnya bersambung kepada Mahfûdz, Ia berkata, “Aku bertanya kepada Yahya ibn Shaleh Al Wahadzi, ‘Kamu telah meriwayatkan dari para guru sekelas Harîz, lalu  mengapakah kamu tidak meriwayatkan  dari Harîz?’ Ia berkata, ‘Aku pernah datang kepadanya lalu ia menyajikan buku catatannya, lalu  aku temukan di dalamnya, Si fulan telah menyampaikan hadis kepadaku dari fulan… bahwa Nabi saw. menjelang wafat beliau berwasiat agar tangan Ali ibn Abi Thalib di potong.”. Maka aku kembalikan buku itu dan aku tidak menghalalkan diriku meriwayatkan darinya!!.[25]

Semua itu tidak rahasia lagi… Akan tetapi yang benar-benar mengeharkan adalah ternyata tidak sedikit tokoh-tokoh besar hadis Ahlusunnah menegaskan ketsiqahannya. Imam Ahmad ibn Hanbal mengatakan, “Ia tsiqah, Ia tsiqah, ia tsiqah!”[26]

Di sini, seperti Anda saksikan, Imam Ahmad (seorang tokoh terkemuka empat Mazhab Sunni) tidak cukup sekali dalam mengapresiasi kejujuran dan keadilan Harîz. Ia mengulanginya tiga kali. Menyematkan gelar tsiqah kepaada seorang perawi adalah puncak pengandalan. Dan lebih dari kata tsiqah, apabila kata itu diulang dua apalagi tiga kali.

Itu artinya Harîz benar-benar menempati tempat istimewa dalam jiwa Imam besar Ahhlusunnah. Selain Ahmad, Yahya ibn Ma’in dan para imam hadis Sunni juga mentsiqahkannya. Demikian ditegaskan Ibnu Hajar dalam Hadyu as Sâri-nya.

Abu Hatim menegaskan bahwa tidak ditemukan di kota Syam seorang parawi yang lebih kokoh darinya.

Ibnu Adi berkata, ‘Ia tergolong perawi kota Syam yang tsiqat/jujur terpercaya.”

Ahmad ibn Abi Yahya berkata, “Ia (Harîz) seorang yang shahih hadisnya, hanya saja ia mencaci maki Ali.”

Al Ijli berkata, “Ia (Harîz) seorang penduduk kota Syam yang tsiqah. Dan ia mencerca dan mencaci maki Ali. Ia menghafal hadisnya.”

Dalam kesempatan lain ia berkata, “Ia kokoh riwayatnya dan ia sangat membenci Ali.”

Ibnu Ammâr berkata, “Para ulama menuduhnya mencaci maki Ali, namun mereka tetap saja meriwayatkan dahis darinya, berhujjah dengannya dan tidak meninggalkannya.”

Dan masih banyak komentar lain sengaja saya tinggalkan….

Karenannya adalah mengherankan sikap ulama Sunni yang masih tetap saja mengandalkannya dalam periwayatan hadis.

Saya tidak mengerti apakah sikap keras para muhaddis Ahlusunnah dalam berpegang teguh dengan hadis riwayatnya itu didasari oleh kebanggaan mereka kepada hadis riwayat kaum munafik pembenci Imam Ali as.? Atau didasari oleh kayakinan mereka akan kejujuran tutur kata kaum munafik pembenci Imam Ali as.?

Atau karena sebab lainnya. Wallahu A’lam, hanya Allah yang Maha mengetahui hakikat sebenarnya.

Yang pasti, sikap tidak sehat seperti itu dapat membuat para pecinta Ahlulbait as. berhak curiga akan ketulusan ulama hadis Sunni dalam klaim kecintaan mereka kepada Imam Ali as. dan Ahlulbait Nabi as.!! Karenanya sudah seharusnya para ulama Sunni kontemporer mengoreksi dan mengintropeksi Manhaj Hadis Sunni demi menemukan kesuciannya!

Penutup:

Untuk sementara saya cukupkan menyebut sembilan contoh  penyalur hadis yang telah dipercaya habis-habisan oleh muhaddis Sunni. Semoga dalam kesempatan lain saya dapat menyajikan data-data lain tentang parawi-parawi munafik seperti mereka. Wallahu Waliyyut taufîq

 


[1] Penulis berharap judul di atas tidak akan disalah-pahami oleh musuh-musuh Ahlulbait as. sebagai sebuah stitmen pembenaran atas sikap mencaci maki sahabat mulia Nabi saw.

[2] Istilah Zindîq (orang yang lepas dari ikatan agama dan norma-norma langit) sudah disalah-gunakan demi kepentingan-kepntingan tertentu. Misalnya, Khalifah al Mahdi –dari dinasti Abbasiyah- menyebut siapapun yang tidak mengakui kekhalifahannya sebagai Zindîq. (Tarikh Ibnu Katsir,10/153) Demikian juga kata itu dialamatkan kepada seseorang yang mengkritik sebagian hadis sahabat atau menolaknya karena dalam hematnya tidak shahih. (Târîkh Badgdâd,14/7).

[3] Ash Shawâiq al Muhriqah;Ibnu Hajar al Haitami, Penutup:211.

[4] Târîkh Baghdâd,7/145 ketika menyebut data Taid, no.3582.

[5] Al Majrûhîn,1/204.

[6] Tarikh Baghdad,14/427.

[7] Ibnu Hajar mendefenisikan kenashibian sebagai: kebencian kepada Ali dan mengutamakan sahabat lain atasnya. (Hadyu as Sâri Muqaddimah Fathi al Bâri,2/213)

[8] Ibnu Hajar sendiri telah mendefenisikan kesyi’ahan sebagai berikut: Kesyi’ahan adalah kecintaan kepada Ali dan mengutamakannya atas para sahabat. Maka barang siapa yang mengutamakan Ali atas Abu Bakar dan Umar berarti ia ekstrim dalam kesyi’ahannya, dan ia disebut juga dengan Rafidhi. Jika tidak (mengutamakannya di atas Abu Bakar dan Umar) maka ia hanya seorang Syi’ah.” (Hadyu as Sâri Muqaddimah Fathi al Bâri,2/213)

[9] 2/143.

[10] Tahdzîb at Tahdzîb, 3/83 dan Mizân al I’tidâl,2/412.

[11] Ibid.152

[12] Istilah Shadûq (jujur) adalah gelar yang diberikan kepada seorang perawi sebagai bukti apresiasi pujian, seperti juga kata tsiqah, hanya saja ia dibawah tinggat apresiasi kata tsiqah dalam hirarki redaksi penta’dilan.

[13] Tahdzîb at Tahdzîb,3/308.

[14] Mushannaf; Ibnu Abi Syaibah,12/96 hadis no.12225.

[15] At Târiîkh al Kabîr; Bukhari,5/92.

[16] Lebih lanjut baca Mizân al I’tidâl,4/103.

[17] Tahdzîb al Kamâl,15/91 data no.3333.

[18] Ath Thabaqât al Kubrâ,7/126.

[19] Tarîkh Damasqus,26/161.

[20] Pernyataan ini juga dapat Anda temukan dalam Ma’rifah ar Rijâl,1/145.

[21] Tahdzîb al Tahdzîb,2/209 ketika membicarakan biodata Harîz, Tarikh Damaskus,12/349.

[22] Al MajRûhuun,1/268.

[23] Tahdzîb al Tahdzîb,2/209 ketika membicarakan biodata Harîz, Tahdzîb al Kamâl,5/577, Tarikh Baghdad.8,268 dan Tarikh Damaskus,12/349.

[24] Baghel adalah peranakan antara kuda dan keledai.

[25] Syarh Nahj al Balâghah; Ibnu Abi Al Hadid al Mu’tazili,4/70.

[26] Tahdzîb al Kamâl,5/175.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: