Para Imam Ahlulbait as. Di Mata Ulama Sunni

 

Tidak sedikit pihak yang menyebut-nyebut sikap positif dan hormat para tokoh dan ulama besar Ahlulsunnah terhadap para Imam suci Ahlulbait as…. Mungkin kenyataan itu ada benarnya…. Akan tetapi tidak sedikit pula sikap sinis, tidak hormat bahkan meragukan kejujuran, melecehkan dan menjatuhkan para imam suci Ahlulbait as. juga ditampakkan dengan terang-terangan oleh sebagian tokoh sentral Ahlusunnah.

Para pemerhati tentunya dapat saja berkesimpulan bahwa sebenarnya sikap hormat dan pengagungan itu tidak mewakili sikap resmi Ahlusunnah, ia hanya sikap oknum ulama Sunni yang mungkin bias jadi sudah kurang loyal dengan kesuniannya. Atau mungkin bisa sebaliknya.

Di bawah ini saya ajak pembaca menyimak sikap-sikap sinis, menghina dan meragukan yang terlontar dari para pembesar imam Ahlusunnah terhadap para Imam Suci Ahlulbair as, khususnya Imam Ja’far ash Shadiq as. (imam keenam Syi’ah Imamiyah Ja’fariyah Itsâ Asyariyah) agar dapat dimengerti bahwa tidak sedikit tokoh Ahlusunnah yang bersikap sinis terhadap beliau.

  • Imam Ja’far as. Di Mata Yahya ibn Sa’id al Qaththân (198 H)

Dalam pandangan Yahya ibn Sa’id al Qaththân, Imam Ja’far as. bukan apa-apa, ia tidak bernilai sedikit pun. Ketika menyebut data pribadi Imam Ja’far as. Ia tidak lebih baik dan berkualitas dibanding Mujalid. adz Dzahabi berkata, “…  Yahya ibn Sa’id berkata, “Julâlid lebih aku sukai darinya (Ja’far). Di hatiku ada sesuatu terhadapnya.”[1]

Sementara Mujâlid yang ia anggap lebih baik dari Imam Ja’far as. adalah seorang pembohong dalam pandangan Yahya sendiri!!

Ar Râzi berkata dalam kitab al Jarh wa at Ta’dîl,8/361 “Umar ibn Ali ash Shairafi berkata, ‘Aku mendengar Yahya ibn Sa’id al Qaththân berkata kepada Abdullah, kemanakah engkau hendak pergi? Ia menjawab, ‘Aku hendak pergi menemui Wahb ibn Jarir untuk menulis data sejarah (maksudnya dari riwayat Mujâlid),’ Maka Yahya berkata, ‘Jika demikian, kamu akan menulis banyak kepalsuau… .

Siapakah Yahya al Qaththân Itu?

Yahya adalah tokoh andalan Ahlusunah dalam menilai seorang perawi hadis. “Adz Dzahabi mensifatinya dengan, “al Imam al kabir (imam besar), Amirul Mukminin dalam hadis… Ia consen dalam disiplin ilmu ini dengan sepenuh arti, ia melancong untuk tujuan itu. Ia memimpin rekan-rekan sejawatnya, dan pimpinan para hafidz di tangannya. Ia berkmentar tentang penyakit hadis dan tentang para periwayat, rijâl. Para hafidz belajar darinya… Ali ibn al Madini berkata, ‘Ak tidak pernah melihat seorang yang lebih pandai tentang rijâl dari Yahya ib Sa’id.”[2] Imam Ahmad juga berkata memujanya, “Mataku tidak pernah memandang seorang yang lebih hebat dari Yahya al Qaththân.”

Dan di akhir artikel ini, Anda akan menyaksikan bagaimana para ulama Ahlusunnah mencacat sebuah hadis karena di dalam mata rantai perawinya terdapat nama Imam Ja’far as. yang telah dicacat oleh al Qaththân!!

  • Imam Ja’far as. Di Mata Ibnu Sa’ad (W.230)

Ibnu Hajar berkara, “Ibnu Sa’ad berkata, ‘Ia (Ja’far) banyak hadisnya, dan ia tidak layak dijadikan hujjah dan ia dgolongkan perawi dha’if…  .[3]

  • Imam Ja’far as. Di Mata Imam Malik

Imam Malik tidak sudi meriwayatkan dari Imam Ja’far as. sehingga bani Abbas berkuasa. Itupunn dengan catatan bahwa hadis yang ia riwayatkan dari Imam  Ja’far as. itu ia temjukan hadis/riwayat serupa dari perawi lain. Artinya jika hanya Imam Ja’far as. seorang yang meriwayatkan, Imam Malik (salah seorang pendiri mazhab Sunni) tidak mau meriwayatkannya. Dawudi berkata, “Malik tidak meriwayatkan dari Ja’far ibn Muhammad sehingga berdiri kekuasaan bani Abbas. Mush’ab ibn Abdillah berkata, ‘Malik tidak meriwayatkan dari Ja’far sehingga ia menggabungkan dengan orang lain.’”[4]

  • Imam Ja’far as. Di Mata Abu Bakar ibn Ayyâsy (W. 192H)

Said ibn Abi Maryam berkata, “Ketika Abu Bakar ibn Ayyâsy, ‘Mengapakah engkau tidak mau meriwayatkan dari Ja’far padahal engkau menumuinya, maka ia berkata, ‘Aku bertanya kepadanya apakah hadis yang engkau riwayatkan ini engkau dengar, maka ia (Ja’far) menjawab, ‘Tidak akan tetapi riwayat yang kami riwayatkan dari ayah-ayay kami.’”

  • Imam Ja’far as. Di Mata Bukhari

Ketika menyebut dta hidup Imam Ja’far as., adz Dzahabi berkata, “Bukhari tidak mau berhujjah dengannya. Yahya ibn Sa’id berkata, ‘“Julâlid lebih aku sukai darinya (Ja’far). Di hatiku ada sesuatu terhadapnya.” …. “

  • Imam Ja’far as. Di Mata Abdurrahman ibn Mahdi ( (W. 198H)

Abu Musa berkata, “Abdurrahman ibn Mahd tidak mau meriwayatkan hadis dari sufyan dari Ja’far.”

Padahal kebanyakan hadis Abdurrahman ini adalah dari riwayat Sufyan.

Para Ulama Ahli Hadis Sunni Memerangi Hadis Riwayat Imam Ja’far as.

Sebuah kenyataan yang tidak dapat dipungkiri dan realita pu membuktikannya bahwa para ulama Ahli Hadis Sunni telah memerangi hadis riwayat Imam Ja’far as. dan mengucilkannya dari dunia hadis umat Islam. Hal itu dilakukan dengan mencacat kualitas dan keilmuan Imam Ja’far as. dan terkadang dengan membunuh karakter para perawi jujur yang menjadi jembatan periwayatn hadis beliau, khususnya para imam dari keturuna beliau…  Mereka hanya sudi menerima hadis Imam Ja’far as. dari jalur orang-orang asing, adapun dari hadis Imam Ja’far as. dari jalur putra-putra beliau yang tidak diragukan kejujuran dan kataqwaan mereka seperti Imam Musa al Kadzim, Ali ibn Ja’far al Uraidhi maka mereka menolaknya…. Dengan satu alasan bahwa mereka patut dicurigai kejujuran dan keikhlisannya terhadap Sunnah Nabi saw.

Ibnu Hibban menegaskan sikap Ahlusunnah dengan kata-katanya sebagai berikut ini;

Ja’far ibn Muhammad ibn Ali ibn Husain ibn Ali ibn Abi Thalib ra. Gelar (kunyahnya) Abu Abdillah. Ia meriwayatkan dari ayahnya. Ia adalah salah satu pembesar Ahlulbait dalam fikih, ilmu dan keutamaan. Darinya Sufyan ats Tsauri, Malik, Syu’bah dll. meriwayatkan.

Hadis riwayatnya dapat dijadikan hujjah selama diriwayatkan dari selain putra-putranya. Sebab hadis riwayat putra-putranya darinya banyak yang munkar. Para imam kami yang melemahkannya dikarenakan apa yang mereka saksikan dari hadis Ja’far dari jalur putra-putranya. Dan aku telah perhatikan hadis-hadis riwayatnya melalui jalur orang-oraang terpercaya/tsiqât, seperti Ibnu Juraij, ats Tsauri, Malik, Syu’bah, Ibnu ‘Uyainah, Wahb ibn Khalid dkk. Maka aku menyaksikan hadis-hadisnya lurus, tidak adaa yang menyalahi hadis-hadis orang-orang kokoh/atsbât. Dan aku saksikan hadis-hadis Ja’far dari jalur putra-putranya banyak dari bukan dari hadisnya tidak juga hadis ayahnya dan tidak pula hadis kakeknya. Dan adalah mustahil ditempelkan kepadanya kejahatan yang dilakukan orang lain.”[5]

Inilah langakh licik sebagai orang dalam memberantas hadis Imam Ja’far as. pewaris ilmu Rasulullah saw.

Ibnu Taimyah Berterus Terang!

Ibnu Taimiyah berkata, “Pendek kata, para imam (tokoh ulama Ahlusunnah) tidak seorang pun dari mereka mengambil dari Ja’far sedikitpun dari kaidah-kaidah fikih. Akan tetapi mereka meriwayatkan darinya hadis-hadiis seperti juga mereka meriwayatkan dari lainnya. Dan hadis-hadis orang lain lebih banyak dari hadisnya. Bukhari telah meragukannya dalam sebagian hadisnya setalah mendengar dari Yahya ibn Sa’id al Qaththân sebuah pembicaraan. Ia (Bukhari) tidak meriwayatkan satu hadis pun darinya. Dan hafalannya tidak sehebat kualitas hafalan perawi lain yang diandalkan Bukhari.”[6]

Contoh Nyata Sikap Sinis!

Dalam kitab faidh al Qadîr, syarah al Jâmi’ ash Shaghîr, Al Munnawi ketika menerangkan hadis: “Didiklah putra-putra kalian atas tida dasar; Cinta kepada Nabi kalian, cinta kepada Ahlulbainya dan membaca Al Qur’an.” Ia berkata mencacat, ‘Penulis (as Suyuthi) tidak memberinya kode kualitas. Hadis ini dha’if, karena pada jalurnya terdapat perawi bernama Shaleh ibn Abu al Aswad, ia punya banyak hadis munkar. Dan Ja’far ibn Muhammad ash Shadiq. Dalam al Kâasyif dari al Qaththân, “Dalam hatiku terdapat sesuatu terhadapanya.”.[7]

Penutup:

Setelah memerhatikan kenyataan di atas, apa kiranya motivasi sebagian orang yang meminta dan terus meminta agar kaum Syi’ah (pengkiut setia Ahlulbait as.) berhujjjah di hadapan mereka dengan riwayat-riwayat Ahlulbait as. dari jalur Syi’ah tentang keutamaan Ahlulbait Nabi as.

Untuk apa semua itu, sementara Imam Besar Ahlulbait Suci mereka cacat dan mereka lecehkan kejujuran dan mereka lemahkan?!! Jika Imam Suci Ahlulbait as. saja mereka cacat, putra-putra para imam mereka cacat pula, lalu apa nasib para Syi’ahnya? Akankah mereka memujanya? Akankah mereka bersikap obyektif dalam menilai kualitas parawi Syi’ah?

Sampai kapan kebencian kepada keluarga suci Nabi as. ditampakkan oleh sebagian Ahli Hadis Sunni?

Sampai kapankah keengganan mengimani keagungan dan kejujuran Ahlulbait as. mereka lakukan?


[1] Al Kâsyif,1/186.

[2] Siyar A’lâm an Nubalâ’,9/183.

[3] Tahdzîb at Tahdzîb,3 ketika menyebut data Imam Ja’far as.

[4] Mîzân al I’tidâl ketika menyebut data Imam Ja’far as.

[5] Ats Tsiqât; Ibnu Hibbân,6/131-132.

[6] Minhaj as Sunnah,1/229.

[7] Faidh al Qadîr,1/226.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: