Naskh Tilawah Adalah Tahrîf Terselubung

Keyakinan Kaum Muslimin Tentang Tahrîf Al Qur’an

Hal yang masyhur di antara umat Islam adalah bahwa Al Qur’an terjaga dari tahrîf, baik pengurangan apalagi penambahan… dan apa yang terangkum di antara dua sampul mush-haf adalah total Al Qur’an yang pernah diterima Nabi Muhammad saw.

Keyakinan ini telah ditegaskan para tokoh dan pembesar dari dua mazhab besar Ahlusunnah dan Syi’ah Imamiyah Ja’fariyah Itsâ ‘Asyariyah.

Ringkas kata, dalam pandangan para tokoh dan pembesar ulama Islam yang diterima kaum Muslimin adalah bahwa Al Qur’an terjaga dari tahrîf. Adapun adanya anggapan telah terjadinya tahrîf memang benar telah dilontarkan oleh segelintir ulama Ahli Hadis Syi’ah dan sekelompok ulama dan Ahli Kalam Ahlusunnah.

Anda mungkin terkejut mendengar bahwa ternyata di antara ulama Islam ada yang meyakini terjadinya tahrîf Al Qur’an, apalagi ketika dikatakan bahwa di antara ulama Ahlusunnah ada kelompok ulama yang meyakini telah terjadinya tahrîf. Andai yang melontarkan pernyataan itu seorang ulama Syi’ah pastilah sebagian dari saudara-saudara kita Ahlusunnah menuduhnya mengada-ngada kepalsuan demi membela diri dan memalingkan isu tahrîf Al Qur’an dalam dunia Syi’ah!!! Dan tuduhan seperti itu telah dilontarkan!!

Karenanya, dalam kesempataan ini saya akan menyebutkan pernyataan dan pengakuan seorang ulama dan pemikir Ahlusunnah kenamaan. Beliau adalah Syeikh Mushthafa Shâdiq ar Râfi’i. pernyataan dan pengakuan itu dapat Anda baca dalam buku beliau I’jâz Al Qur’an:

“Sekelompok Ahli Kalam (Teoloq Islam) yang tidak punya keahlian selain mengikuti dzan dan ta’wîl serta mengeluarkan cara-cara berdebat dari setiap hukum dan pendapat, mereka berpendapat bahwa boleh jadi telah gugur sesuatu (ayat) dari Al Qur’an, sebagai konsekuaensi dari cara pengumpulannya. Ini adalah dzan yang batil.”[1]

Inilah menegasn dan pengakuan Syeikh Mushthafa Shâdiq ar Râfi’i bahwa di antara ulama Ahlusunah ada sekelompok yang berpendapat adanya tahrîf Al Qur’an.

Meyakini Naskh Tilawah Meniscayakan Keyakinan Tahrîf

Seperti akan kita buktikan di bawah ini bahwa meyakini terjadinya naskh tilawah meniscayakan keyakinan adanya tahrîf Al Qur’an. Sebab riwayat-riwayat tentangnya menegaskan adanya pengguguran dan hilangnya banyak teks Al Qur’an yan sekarang tidak ada wujudnya dalam Al Qur’an (mush-haf) yang beredar di tengah-tengah kaum Muslimin. Sementara itu, ayat-ayat (yang konon telah dimansukhkan) itu beredar hingga waktu yang tidak sebentar setelah wafat Nabi saw., para sahabat membacanya dan tidak menganggapnya sebagai ayat yan dimansukhkan tilawa-nya.

Untuk lebih jelasnya, mari kita ikuti paparan data-data yang diterima dan diabadikan para ulama Ahlusunnah di bawah ini.

1) Ayat Rajam.

Khalifah Umar ibn al Khaththab telah meyakini kequr’anan ayat rajam. Laits ibn Sa’ad melaporkan, “Orang pertama yang mengumpulkan Al Qur’an adalah Abu Bakar dengan bantuan Zaid… dan Umar datang membawa ayat rajam tetapi Zaid tidak menulisnya, sebab ia datang sendiri (tanpa seorang saksi).”[2]

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra., “Ia berkata, ‘Umar berkata dari atas mimbar, “Sesungguhnya Allah telah mengutus Muhammad dengan kebenaran dan menurunkan kepadanya sebuah kitab. Salah satu ayat yang diturunkan adalah ayat rajam, lalu kami menyadari sepenuhnya. Itulah sebabnya Rasulullah saw. malakukan perajaman, dan setelah beliau wafat kami melakukan hal yang sama. Lalu aku khawatir jika berlalu beberapa masa orang-orang akan mengatakan: ‘Demi Allah, kami tidak menemukan ayat rajam dalam kitab Allah.’ Kemudian dia menjadi sesat dengan tindakannya meninggalkan hukum wajib, farîdah yang diturunkan oleh Allah… Rajam itu ada di Kitabullah, ia adalah haq/wajib diberlakukan atas seorang baik laki-laki maupun wanita yang berzina jika ia telah menikah apabila telah tegak bukti atasnya…. Kemudian kami pernah membaca sebuah ayat yang berbunyi:

لاَ تَرْغَبُوا عَنْ آبائِكُمْ فَإِنَهُ كُفْرٌ بكُمْ أنْ تَرْغَبُوا عَنْ آبائِكُمْ .

“Jangan kamu menisbatkan dirimu kepada selain ayah-ayah kandungmu, karena kafirlah apabila kamu menisbatkan kepada selain ayah-ayahmu.”[3]

Ibnu Jakfari berkata:

Coba Anda perhatikan data-data di atas, Umar tetap meyakini kequr’anan ayat rajam dengan bukti ia membawanya kepada Panitia Pengumpulan Al Qur’an yang dikepalai oleh Zaid ibn Tsâbit. Dan Zaid pun tidak menganggapnya sebagai ayat yang telah mansukh tilawah-nya, dengan bukti bahwa ia menolak untuk memasukkannya ke dalam Al Qur’an dikarenakan Umar tidak membawa dua saksi, andai Umar membawa dua saksi pastilah ayat itu dapat kita baca sekarang dalam Al Qur’an!

Lagi pula jika benar bahwa ayat Rajam itu telah dimansukhkan tilawah-nya, pastilah Umar mengetahuinya dan tidak akan “ngotot” dan memaksa untuk memasukkannya ke dalam Al Qur’an. Bukankah menurut kalian Umar itu sahabat yang sangat pandai dan dekat dengan Nabi saw.?! Bukankah menurut kalian Nabi sa. telah bersabda bahwa Allah akan memberjalankan al haq pada lisan Umar?!

2) Ayat Jihad Akhir Zman

Para ulam Islam telah meriwayatkan dari jalur Miswar bin Makhramah, bahwa Khalifah Umar bertanya kepada Abd. Rahman bin ‘Auf, “Tidakkah engkau mendapatkan dalam ayat yang diturunkn kepada kita Allah berfriman:

جاهِدُوا في اللهِ حَقَّ جهادِهِ ، كما جاهَدْتُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ.

Hendaknya kalian berjihad sebagaimana kalian telah berjihad pertama kali.”

Mengapa aku sekarang tidak menemukannya!

Abd.Rahman bin ‘Auf berkata, “Ia digururkan bersama ayat-ayat lain yang digugurkan.”[4]

Ibnu Jakfari berkata:

Apa maksud ucapan Ibnu ‘Auf bahwa ayat itu digugurkan? Siapa yang mengggugurkannya? Abu Bakar? Atau Utsman? Atau siapa? Dan apa ayat-ayat lain yang digugurkan itu?

3) Abu Musa al Asy’ari menegaskan banyak ayat yang hilang

Imam Muslim dalam Shahih-nya[5] meriwayatkan dengan sanad bersambung kepada Abu al Aswad Dzâlim ibn ‘Amr, ia berkata, “Abu Musa al Asy’ari mengutus seorang untuk mengumpulkan para ahli Al Qur’an kota Bashrah, tiga ratus ahli Al Qur’an datang menemuinya, semuanya telah menghafal Al Qur’an. Lalu Abu Musa berkata, ‘Kalian adalah paling baiknya penduduk kota Bashrah dan ahli Al Qur’an di antara mereka. Maka bacalah ia, jangan sampai panjang waktu berlalu atas kalian (tanpa membacanya), karena hati kalian akan mengeras, seperti mengerasnya hati kaum sebelum kalian. Kami dahulu membaca sebuah surah yang kami serupakan dengan surah Barâ’ah dalam panjang dan keras muatannya, tetapi aku dilupakan terhadapnya, hanya yang masih aku hafal adalah ayat:

لَوْ كانَ لإبْنِ آدَمَ وادِيانِ مِنْ مالٍ لأبْتَغَى ثالِثًا، ولا يَمْلأُ جَوْفَ ابْنِ آدمَ إلاَّ الترابُ.

“Andai anak Adam memiliki dua lembah harta pastilah ia menginginkan lembah ketiga, dan tidak memenuhi perut anak Adam kecuali tanah.”

Dan kami dahulu membaca sebuah surah yang kami serupakan dengan salah satu surah musabbihât, hanya saja aku lupa selain satu ayat yang masih aku hafal:

يَا أَيُّها الذينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُوْنَ ما لاَ تَفْعَلُُونَ فَتُكْبُ شهادَةً فِيْ أعْناقِكُمْ فَتُسْأَلُونَ عنها يومَ القيامَةِ.

Hai orang-orang yang beriman, mengapa kalian senantiasa mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak kalian lakukan. Hal itu akan ditulis di leher kalian sebagai saksi dan kalian akan dimintai pertanggung-jawaban kelak di hari kiamat.”

Dalam ad Durr al Mantsûr, As Suyuthi meriwayatkan dari Abu Ubaid dalam kitab Fadhâil-nya, Ibnu Dharîs dari Abu Musa al Asy’ari, ia berkata, “Telah turun surah yang keras isinya seperti surah Barâ’ah, kemudian ia dianggkat, dan yang masih aku hafal adalah ayat:

إِنَّ اللهَ سَيُؤَيِّدُ هذا الدينَ بِأَقْوامٍ لا خلاَقَ لَهُمْ.

“Sesungguhnya Allah akan membantu agama ini dengan kaum-kaum yang tidak bernilai.”[6]

Riwayat serupa juga dalam Majma’ az Zawâid, 5/302.

Ibnu Jkafari berkata:

Kemanakah hilangnya ayat-ayat di atas? Apakah ayat-ayat ttersebut di atas terolong ayat-ayaath hukum sehingga boleh dimansukhkan? Apa bukti kalau ia telah dimansukhkan? Apa sekedar kerena kita sekarang tidak menemukannya dalam Al Qur’an sudah cukup sebaai alasan untuk mengatakan bahwa ia dimansukhkan?

Dan kemanakah hilangnya surah yang panjang dan kerasnya seperti surah Barâ’ah? Apa keseluruhan ayat yang terangkum dalam surah itu dimansukhkan? Mengapa kita rela mempermaikan akal-akal sehat kita sendiri?

4) Aisyah menegaskan: Surah Al Ahzâb Banyak yang Hilang

Imam Ahmad ibn Hanbal meriwayatkan dengan sanad bersambung kepada Zirr, ia berkata bahwa Ubay bin Ka’ab pernah berkata kepadanya: “Berapa banyak kiranya engkau membaca surah Al-Ahzab dan berapa jumlah ayat yang engkau hitung?” Aku menjawab: “Tujuh puluh tiga ayat”. Lalu ia berkata: “Hanya itu?” Aku melihatnya hampir menyamai jumlah surah Al-Baqarah, dan aku pernah menemukan dalam surah itu ayat yang berbunyi:

الشَّيْخُ و الشيْخَةُ إِذَا زَنَيَا فَارْجَمُوهُمَا البَتَّةَ نَكالاً مِنَ اللهِ و اللهُ عليمٌ حَكِيْمٌ.

Orang yang beristri dan orang yang bersuami jika keduanya berzina, maka keduanya mutlak harus dirajam, sebagai balasan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan Mahabijaksana.[7]

Para ulama Ahlusunnah meriwayatkan dari Urwah -keponakan Aisyah- meriwayatkan dari Aisyah, ia berkata:

كانَتْ سورَةُ الأحزابِ تُقْرَاُ في زمَنِ النبيِّ (ص) مِئَتَيْ آيَة، فَلَمَّا كتَبَ عثْمانُ المصاحِفَ لَمْ نَقْدِرْ مِنْها إلاَّ ما هُوَ الآنَ.

“Dahulu surah Al Ahzâb itu dibaca di masa hidup Nabi sebanyak dua ratus ayat. Lalu setelah Utsman menulis mush-haf-mush-haf kita tidak bisa membacanya kecuali yang sekarang ada ini.”[8]

5) Ayat Radhâ’ Hilang

Imam Muslim dan para ahli hadis lain meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Aisyah –istri Nabi-:

كانَ فيما أُنْزِلَ مِنَ القُرآنِ {عشر رضعاتٍ معلُوماتٍ يُحَرِّمْنَ} ثُمَّ نُسِخْنَ بِ {خمْسِ معلُوماتٍ}، فَتُوُفِيَ رَسُوْلُ اللهِ )صلى الله عليه و سلمَ (و هُنَّ فيما يُقْرَأُ مِنَ القرآنِ.

“Adalah termasuk yang diturunkan dalam Al Qur’an adalah tentang hukum sepuluh kali menyusui adalah mengharamkan (menjadikan haram dinikahi) kemudian dihapus dengan hukum lima kali menyusui mengharamkan. Rasulullah saw. wafat sementara ayat-ayat itu masih dibaca sebagai Al Qur’an.”[9]

Abdurrazzaq ash Shan’ani meriwayatkan dalam kitab Mushnnaf-nya dengan sanad shahih bahwa Aisyah berkata:

لَقَدْ كان في كتابِ اللهِ عز و جلَّ عشرُ رضعاتٍ ثُمَ رُدَّ إلى خمسٍِ، و لكنْ مِنْ كتابِ اللهِ ما قُبِضَ مع النبي )صلى الله عليه و سلمَ(.

“Dalam Kitab Allah –Azza wa Jalla- benar-benar terdapat ayat tentang diharamkannya akibat sepuluh kali menyusu, kemudian dihapus dengan lima kali menyusu, akan tetapi di antara ayat Al Qur’an ada yang dicabut bersama kematian Nabi saw.” [10]

6) Ayat Sumur Ma’ûnah

Ayat sumur Ma’ûmah adalah ayat yang mengisahkan nasib dan kesudahan baik yang dialami sekelompok kaum Mukmin yang syahid ketika berjuang menyebarkan agama. Ayat itu memuat pesan dari mereka untuk teman-teman mereka dari kaum Mukminin bahwa Allah telah ridha terhadap mereka pun dibuatnya ridha oleh-Nya.

Ayat tersebut berbunyi:

أَنْ بَلِّغُوا قَوْمَنَا أَنْ قَدْ لَقِيْنا رَبَّنا فَرَضِيَ عَنَّا و أَرْضانَا.

“Sampaikaan kepada kaum kami (berita dari kami) bahwa kami telaah berjumpa dengan Tuhan kami, Dia telah ridha kepada kami, dan kami pun dibuatnya ridha.”

Kequr’anan ayat ini telah diriwayatkan para ahli hadis Islam kenamaan seperti Imam Bukhari, Imam Muslim, Ibnu Sa’ad, al Baihaqi, Imam Ahmad, ath Thabari dll.

Imam Bukhari dll meriwayatkan dari Anas bin Malik, ia berkata, “Nabi mengutus sekelompok sahabatnya dari suku bani Sulaim berjumlah 70 orang kepada warga suku bani ‘Amir. Sesampainya di sana, pamanku berkata kepada rekan-rekannya, ‘Biarkan aku menemui mereka terlebih dahulu, apabila mereka bersikap ramah kepadaku, aku akan sampaikan pesan Rasulullah. Apabila tidak, hendaknya kalian berada dekat denganku. Ia maju dan mereka pun bersikap ramah, lalu ia menyampaikan pesan Rasulullah, dan ketika ia sedang menyampaikan pesan itu,. tiba-tiba mereka memberi isyarat kepada seorang agar menikamnya, ia pun menikam hingga mengenainya dengan telak, pamanku menjerit Allahu Akbar. Demi Allah aku berjaya! Kemudian mereka serempak menyerbu semua utusan Nabi tersebut dan membunuh mereka semua, hanya satu yang selamat, ia melarikan diri ke gunung. Dan ada yang mengaatakan ada dua yang selamat. Atas kejadiaan itu, Jibril mengabarkan kepada Nabi bahwa sahabat-sahabat beliau itu telah bertemu dengan Tuhan mereka. Tuhan rela dengan mereka dan membuat mereka rela.

Maka kami membaca ayat tentang mereka:

أَنْ بَلِّغُوا قَوْمَنَا أَنْ قَدْ لَقِيْنا رَبَّنا فَرَضِيَ عَنَّا و أَرْضانَا.

“Sampaikaan kepada kaum kami (berita dari kami) bahwa kami telah berjumpa dengan Tuhan kami, Dia telah ridha kepada kami, dan kami pun dibuatnya ridha.”[11]

Bukhari juga meriwayatkan dari Qatadah bahwa Anas telah mengabarkan kepadanya bahwa para sahabat telah membaca ayat:

أَنْ بَلِّغُوا قَوْمَنَا أَنْ قَدْ لَقِيْنا رَبَّنا فَرَضِيَ عَنَّا و أَرْضانَا.

“Sampaikaan kepada kaum kami (berita dari kami) bahwa kami telaah berjumpa dengan Tuhan kami, Dia telah ridha kepada kami, dan kami pun dibuatnya ridha.”[12]

7) Satu Surah Panjan Al Qur’an Hilang Total

Imam Muslim dalam Shahih-nya[13] meriwayatkan dengan sanad bersambung kepada Abu al Aswad Dzâlim ibn ‘Amr, ia berkata, “Abu Musa al Asy’ari mengutus seorang untuk mengumpulkan para ahli Al Qur’an kota Bashrah, tiga ratus ahli Al Qur’an datang menemuinya, semuanya telah menghafal Al Qur’an. Lalu Abu Musa berkata, ‘Kalian adalah paling baiknya penduduk kota Bashrah dan ahli Al Qur’an di antara mereka. Maka bacalah ia, jangan sampai panjang waktu berlalu atas kalian (tanpa membacanya), karena hati kalian akan mengeras, seperti mengerasnya hati kaum sebelum kalian. Kami dahulu membaca sebuah surah yang kami serupakan dengan surah Barâ’ah dalam panjang dan keras muatannya, tetapi aku dilupakan terhadapnya, hanya yang masih aku hafal adalah ayat:

لَوْ كانَ لإبْنِ آدَمَ وادِيانِ مِنْ مالٍ لأبْتَغَى ثالِثًا، ولا يَمْلأُ جَوْفَ ابْنِ آدمَ إلاَّ الترابُ * يَا أيها الذينَ آمنُوا لِمَ تقولُوْنَ ما لاَ تَعْلَمُوْنَ فَتُكْتَبُ شَهادَةٌ فِيْ أَعْناقِكُمْ فَتُسْأَلُوْنَ عنها يومَ القيامَةِ.

“Andai anak Adam memiliki dua lembah harta pastilah ia menginginkan lembah ketiga, dan tidak memenuhi perut anak Adam kecuali tanah.* Hai orang-orang yang beriman, mengapa kalian senantiasa mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak kalian lakukan. Hal itu akan ditulis di leher kalian sebagai saksi dan kalian akan dimintai pertanggung-jawaban kelak di hari kiamat.”

Seluruh surah itu sekarang tidak ada lagi dalam Al Qur’an, bahkan dua ayat yang masih sempat dihapal Abu Musa pun tidak terdata dan tidak terekam dalam Al Qur’an sekarang.

Ayat Hamiyyah Hilang

Para ulama Ahlusunnah di antaranya an Nasa’i dan al Hakim –dan ia menshahihkannya- dari jalur Ibnu Abi Idris dari Ubay bin Ka’ab, ia membaca ayat:

إِذْ جَعَلَ الذيْنَ كَفَرُوا في قُلُوبهِمُ الْحميةَ ، حميّةَ الجاهِلِيَّةِ لَوْ حمَيْتُمْ كما حَمُوا لَفَسَدَ الْمَسْجِدُ الحرامُ. فَأَنْزَلَ سَكِيْنَتَهُ علَىَ رسُولِهِ.

“Di kala orang-orang kafir berkeras hati dalam fanatisme jahiliah, maka jika kamu berbuat seperti mereka, niscaya Masjid Al-Haram akan hancur. Kemudian Allah menurunkan ketenteraman atas rasul-Nya.”

Lalu sampailah berita pembacaan itu kepada Umar, Umar gusar terhadapnya. Kemudian Ubay dihdapkan kepada beberapa orang teman Umar, di antara mereka terdapan Zaid bn Tsabit.

Umar berkata, “Siapa di antara kalian yang bisa membaca surah al Fath?”

Lalu Ziad membacanya, seperti bacaan kita sekarang. Lalu Umar bersikap kesar kepada Ubay. Maka Ubay berkata, ‘Bolehkan aku berbicara?’

Umar berkata, ‘Silahkan!’

Ubay berkata, ‘Engkau telah mengetahui bahwa aku masuk menemui Nabi saw., dan beliau mengajarkan kepadaku bacaan Al Qur’an, sementara kalian berada di luar. Jika engkau kehendaki –hai Umar- aku membacakan Al Qur’an seperti yang Nabi ajarkan kepadaku, maka aku akan mengajar Al Qur’an, jika tidak maka aku akan berhenti mengajar satu huruf pun Al Qur’an selama aku masih hidup!

Lalu Umar berkata, ‘Ajarkan Al Qur’an kepada orang-orang.’ ”[14]

Ibnu Jakfari berkata:

Dari riwayat ini jelas sekali dimengerti bahwa Ubay in Ka’ab –Sayyidul Qurrâ’/penghulu para Ahli Al Qur’an- menegaskan bahwa apa yang ia bacakan itu benar-benar telah diajarkan langsung kepadanya oleh Rasulullah saw. Dan Umar berserta para sahabat lain pun tidak menolaknya. Ubay bersikeras tetap akan mengajarkan ayat tersebut! Dan itu artinya ayat tersebut masih ada hingga masa kekhalifahan Umar dan Ubay serta sahabat lainnya tidak adaa yang mengklaim bahwaa ia termasuk yang dimansukhkan tilawah-nya. Akan tetapi sekarang ia hilang. Kemanakah hilangnya ayat tersebut? Siapa bertanggung jawab atas hilangnya ayat tersebut?

9) Dua Surah Al Qur’an Hilang

Para ulama Ahlusunnah telah meriwayatkan dan meyakini adanya dua surah Al QUr’an yang mereka namai dengan mana surah al Khulu’ dan surah al Hifid.

Teks Surah al Khulu’:

بِِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم *أللَّهُمَِّ إِنَا نَسْتَعِيْنُكَ و نَسْتَغْفِرُكَ *و نُثْنِيْ عليكَ الخيرَ ، ولا نَكْفُرُكَ* و نَخْلَعُ و نَتْرُكَ مَنْ يَفْجُرُكَ.

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Sesungguhnya kami minta pertolongan-Mu, meminta ampunan-Mu, memuja-Mu dengan kebaikan, dan tidak mengingkari-Mu serta meninggalkan orang yang meninggalkan-Mu.

Teks Surah al Hifd:

بِِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ *أللَّهُمَِّ إيَّاكَ نَعْبُدُ * و لَكَ نُصَلِّيْ وَ نَسْجُدُ *وَ إليكَ نَسْعَى و نَحْفُدُ * نرجُو رَحْمتَكَ، و نَخْشَى عذَابَكَ الجَدَّ* إنَّ عذابَكَ بتالكُفارِ مُلْحَقٌ.

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Ya Allah, hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya untuk-Mu kami salat dan bersujud, dan kepada-Mu kami menuju, kami mengharap rahmat-Mu, dan takut akan siksa-Mu, sesungguhnya siksa-Mu akan menimpa kepada orang-orang kafir. [15]

10) Dua Pertiga Ayat Al Qur’an Hilang

Para ulama Ahlusunnah meriwayatkan sebuah hadis shahih dari Umar ibn al Khaththab, ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda:

القرْآنُ أَلْفُ أَلْفِ حَرْفٍ وَ سَبْعَةٌ و عِشْرُونَ ألفِ حَرْفٍ، فَمَنْ قَرَأَهُ مُحْتَسِبًا فَلَهُ بِكُلِّ حرفٍ زَوْجَةٌ مِنَ الْحُوْرِ العِينِْ.

“Al Qur’an itu adalah terdiri dari sejuta dua puluh tujuh ribu huruf, barang siapa membacanya dengan niat mengharap pahala maka baginya untuk setiap hurufnya seorang istri dari bidadari.” [16]

Maka karena jumlah huruf Al Qur’an hanya mencapai sepertiga dari jumlah di atas, maka dapat dimengerti bahwa Al Qur’an telah mengalami tahrîf dengan hilangnya 2/3 bagiannya!

Adapun anggapan bahwa 2/3 yang hilang itu adalah termasuk bagian ayat-ayat yang dimaksukhkan, adalah sulit diterima akal sehat siapapun, sebab apakah akal sehat kita menerima angapan bahwa Allah menurunkan 90 Juz Al Qur’an lalu yang 60 Juz dimansukhkan dan yan disisakan hanya 30 Juz saja?! Apakah Allah sedang main-main ketika menurunkan sebegitu banyak ayat lalu dalam waktu yang singkat dimansukhkan? Konon –dalam riwayatkan yang diterima Ahlusunnah- ada beberapa bagian Al Qur’an yang hanya berusia satu hari, setelahnya dimansukhkan Allah, bahkan sebelum sempat disosolisasikan secara merata di kalangan umat Islam dewasa itu? Mengapa? Tidak jelas alasahnnya?

Atau Anda berbendapat bahwa 60 Juz Al Qur’an seluruhnya tergolong ayat-ayah ahkâm (hukum) sehingga sah dimansukhkkan?

Atau hadis di atas adalah sebuah bukti nyata adanya tahrîf Al Qur’an di kalangan Ahlusnnuah?! Atau….? Atau…?

Ibnu Jakfari berkata:

Inilah sekelumit riwayat yang memuat ayat-ayat tertentu yang sekarang tidak tercantum dalam Al Qur’an. Para ulama Ahlusunnah menggolongkan ayat-ayat di atas sebagai ayat yang mansûkh tilâwah-nya. Akan tetapi keyakinan itu tidak ada bedanya dengan meyakini terjadinya tahrîf Al Qur’an dan pengguguran ayat-ayat Al Qur’an.

Penjelasan:

Penjelasannya adalah sebagai berikut:

Pemansukhan tilawah terhadap ayat-ayat di atas dan semisalnya yang tidak kami sebutkan dalam kesempatan ini terjadi dalam dua kemunkinan, dan tidak ada kemungkinan ketiga.

Pertama, terjadinya di masa hidup Nabi saw. dan beliau sendiri yang memansukhkannya.

Kedua, terjadi setelah wafat Nabi saw. dan dilakukan oleh selain Nabi saw. (para sahabat atau Tim Pengumpul Al Qur’an).

Jika ulama Ahlusunnah mengatakan bahwa pemansukhan itu dilakukan langsun oleh Nabi saw. maka mereka butuh kepada pembuktian terjadinya. Dan para ulama telah bersepakat bahwa pemansukhan tidak dapat terjadi dengan didasarkan kepada khabar wahid (hadis yang tidak mutawatir). Untuk lebih jelasnya baca dan kaji al Muwâfaqât; asy Syâtibi,3/106.

Bahkan Imam Syafi’i dan para pengikutnya memastikan bahwa Al Qur’an tidak boleh dimansukhkan oleh Sunnah walaupun ia mutawatir. Demikian juga dinukil dari Imam Ahmad dalam salah satu pendapatnya. Bahkan di antara ulama yang membolehkan terjadinya pemansukhan Al Qur’an oleh Sunnah menegaskan bahwa hal itu hanya secara teoritis saja, adapun dalam realitanya tidak pernah terjadi. (Lebih lanjut baca al Ihkâm Fî Ushûlil Ahkâm; al Âmidi,3/217).

Maka atas dasar ini, bagaimana mungkin diyakini bahwa Nabi saw. yang melakukan pemansukhan atas ayat-ayat di atas hanya bersandar kepada riwayat para parawi di itu?!

Selain itu, menisbatkan pemansukhan kepada Nabi saw. bertentangan dengan banyak riwayat yang menegaskan bahwa pengguran itu terjadi setelah wafat Nabi saw.!!

Jika dikatakan bahwa terjadinya pemansukhan itu dikalukan oleh orang-orang setelah wafatnya Nabi saw., maka inilah yang dikatakan tahrîf itu.

Dengan demikian apabila ulama Ahlusunnah tetap bersikeras meyakini terjadinya naskh tilawah, maka mereka dapat dituduh meyakini tahrîf , akan tetapi tidak secara terang-terangan.

Bahkan kini dapat dikatakan bahwa tahrîf yang diyakini oleh Ahlusunnah jauh lebih parah dari yang dapat dibayangkan, sebab mereka telah meyakini kequr’anan banyak tesk (ayat) yang pada kenyataanya bukan Al Qur’an. Dan itu artinya mereka menambah-nambah ke dalam Al Qur’an sesuatu yan jelas-jelas tidak terbukti kequr’anannya. Kemudian setelah meyakini bahwa ayat-ayat itu adalah bagian dari Al Qur’an mereka meyakininya telah dimansukhkan tilawahnya dengan tanpa bukti dan dasar yang cukup. Dan itu artinya mereka menggugurkan banyak ayat Al Qur’an.

Jadi dapat dikatakan bahwa mereka meyakini dua bentuk tahrîf, menambah dan mengurangi Al Qur’an!

Maka dengan demikian tidaklah salah apa yang dikatakan Imam al Khu’i ketika berkata:

وغير خفي أن القول بنسخ التلاوة بعينه القول بالتحريف والاسقاط

Tidak samar lagi bahwa pendapat adanya naskh tilâwah pada hekikatnya sama dengan pendapat adanya tahrîf dan pengguguran.

وعلى ذلك فيمكن أن يدعى أن القول بالتحريف هو مذهب أكثر علماء أهل السنة ، لانهم يقولون بجواز نسخ التلاوة . سواء أنسخ الحكم أم لم ينسخ

Maka atas dasar itu dapat diklaim bahwa pendapat adanya tahrîf adalah pendapat mayoritas ulama Ahlusunnah, sebab mereka berpendapat dibolehkannya naskh tilâwah, baik hukmya juga dimansukhkan atau tidak.

Wallahu A’lam Bish Shawâb.


[1] I’jâz Al Qur’an:42. Dar al Kitab al Arabi. Pendapat adanya tahrîf telah dinisbahkan ole hath Thabasri –seorang ulama dan mufassir Syi’ah- kepada kelompok Hasyawiyyah (Ahli Hadis) Ahlusunnah, akan tetapi seperti saya singung di atas, ketika seorang ulama Syi’ah yang mengatakannya, sepontan sebagian Ahlusunnah membantahnyaa dan menuduhnya sebagai kepalsuan belaka.

[2] Al Itqân,1/121.

[3] Shahih Bukhari, Kitabul Muhâribîn, Bab Rajmul Hublâ idza ahshanat (merajam orang yang hamil yang berzina jika ia telah menikah),8/208, Shahih Muslim,Kitabul Hudûd, Bab rajmu ats Tsayyib min az Zinâ (merajam janda apabila berzina), 5/116.

[4] Al Itqân,2/33, Musykil al Atsâr,2/418, Kanz al Ummâl,2/385 dan ad Durr al Mantsûr,1/106 dari riwayat Abu Ubaid Ibnu al Anbâridan Ibnu Dharîs.

[5] Shahih Muslim,3/100, Kitab az Zakâh, Bab Karâhiyatu al Hirshi ‘Ala ad Dunya. Dan dengan syarah An Nawawi pada,7/139-140 dan al Itqân,2/25 dengan hanya menyebut bagian akhir hadis saja.

[6] Ad Durr al Mantsûr,1/105.

[7] Musnad Ahmad bin Hanbal, juz 5, hal. 132 dan 183.

[8] Al Itqân,2/25.

[9] Shahih Muslim,4/167, Sunan ad Dârimi,2/157, Mushannaf,7/467 dan 470, Sunan at Turmudzi,3/456, as Sunan al Kubrâ,7/454 hadis no.1597, Musykil al Âtsâr; ath Thahhawi,3/6, Sunan an Nasa’i,6/100, al Muhalla; Ibnu Hazm,11/191, Muwaththa’ Imam Malik,2/117 dan Musnad Imam Syafi’i,1/220.

[10] Mushannaf,7/469 hadis no.13928.

[11] Shahih Bukhari,3/19-20 dan 2/117, Shahih Muslim,2/136, Thabaqât Ibn Sa’ad,2/53-54, as Sunan al Kubra,2/199, Musykil al Âtsâr,2/420, Târikh ath Thabari,2/550, Musnad Ahmad,3/289 dll. Baca juga al Itqân,2/34.

[12] Shahih Bukhari,3/ bab al ‘Âun wa al madad, hadis no 2899 dan juga pada bab Al ladzîna istajâbû Lillah war rasûl. Baca juga al Itqân,2/34

[13] Shahih Muslim,3/100, Kitab az Zakâh, Bab Karâhiyatu al Hirshi ‘Ala ad Dunya. Dan dengan syarah An Nawawi pada,7/139-140 dan al Itqân,2/25 dengan hanya menyebut bagian akhir hadis saja.

[14] Ad Durr al Mantsûr,7/535, Mustadrak; al Hakim hadis no.225 dan ia mengatakn hadis ini shahih berdsarkan syarat Bukhari&Muslim, tapi kedunya tidak meriwayatkannya. Adz Dzahabi pun menyetujui komentar al Hakim ini.

[15] Al-Itqan,1/l.67, Ath Thabarâni, al Baihaqi, Ibn Adh Dharis.

[16] Ad Durr al Mantsur,6/422 dari riwayat Ibnu Mardawaih dan Al Itqân,2/93, cet. Al Halabi-Mesir.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: