Keyakinan Para Tokoh Syi’ah Imamiyyah Akan Keterjagaan Al Qur’an Dari Tahrîf.

 

Telah banyak fitnah dan kepalsuan disebarkan yang mengatas-namakan para pemuka dan tokoh ulama Syi’ah bahwa mereka meyakini dan menyatakan secara tegas terjadinya tahrîf Al Qur’an. Nama-nama pemuka seperti Syeikh Mufid, Faidh al Kâsyâni dll. dimasukkan dalam daftar mereka yang meyakininya…. Sementara pernyataan dan penegasan mereka akan keterjagaan Al Qur’an dari tuduhan tahrîf sangat jelas tanpa ada sedikti pun kesamaran. Akan tetapi para penabur fitnah itu enggan kecuali memutar balikkan pernyataan-pernyataan mereka. Dam kemudian menuduh bahwa demikian sebenarnya akidah Syi’ah tentang Al Qur’an. Ia telah meharraf!

Di bawah ini, saya mengajak Anda membaca langsung pernyataan para tokoh penting dan pemuka ulama Syi’ah, sejak masa Syeikh Shadûq hingga maza kini, dengan harapan dapat dimengerti dengan baik bagaimana akidah Syi’ah tentang kesucian Al Qur’an yang selama ini tak henti-hentinya dihujat dengan mengandalkan fitnah murahan dan membodohi kaum awam.

Di bawah ketarangan para ulama Syi’ah, antara lain:

1. Syaikh Muhammad bin Ali bin Husain bin Babawaih Al-QummiAl-Qummi dikenal dengan ash Shadûq dan Rais al-Muhadditsîn (w. 381 H).:

إعتقادُنا في القرآن أنَّه كلامُ اللهِ و وحيُه و تنزيلُه و قولُهُ و كتابُهُ، و أنه لا يأتيهِ الباطِلُ من بين يديه ولا من خلفه، تنزيلٌ من حكيمٍ عليمٍ ؛ و أنه القصص الحقُّ، و أنه لقولٌ فصلٌ و ما هو بالهزلِ، و أنه تبارك و تعالى محدثُه و منزله و وربُّه و حافظهو المتكلم به.

إعتقادُنا أَنَّ القرآن الذي أنزلَهُ الله على نبينا (صلى الله عليه و آله و سلم) هُو ما بين الدفَّتين، و هو ما بِأَيدي الناس، ليس بِأَكثر من ذلك. و مبلغ سوره عند الناس مائة و أربع عشر سورةو عندنا أنَّ الضحى و ألم نشرح سورة واحدة، و لايلاف و ألم تر كيف سورة واحدة. و من نَسَبَ إلينا أنَّا نقول أنه أكثر من ذلك فهو كاذبٌ….

“Keyakinan kami tentang Al Qur’an bahwa ia adalah Kalam Allah, wahyu,firman dan kitab suci-Nya. Dan ia tidak sediktipun didatangi oleh kebatilan baik dari depan maupun belakang. Ia adalah diturunkan dari Dzat Yang Maha Bijak dan Maha Mengetahui. Ia (Al QUr’an) adalah kisah-kisah yang haq, ia adalah ucapan pelerai, bukan sendau gurau. Dan sesungguhnya Allah Yang Maha Berkah dan Maha Tinggi yang menfirmankan, menurunkan, memelihara dan berbicara dengannya.

Keyakinan kami bahwa Al Qur’an yang diturunkan Allah kepada nabi-Ny; Muhammad saw. adalah apa yang termuat di antara dua sampul (mush-haf), yaitu yang sekarang beredar di kalangan manusia. Tidak lebih dari itu. Jumlah surahnya adalah 114 surah. Dan menurut kami surah Wa adh Dhuhâ dan Alam Nasyrah dihitung satu surah dan surah Li ilâfi dan Alam Tara Kaifa dihitung satu surah. Dan barang siapa menisbahkan kepada kami bahwa kami meyakini bahwa Al Qur’an lebih dari itu maka ia adalah pembohong!

(al I’tiqâdât:93, dicetak dipinggir kitab al Bâb al Hâdi ‘Asyar)

2. Syeikh Mufid (w.413 H):

وَ قَدْ قال جماعَةٌ مِنْ أهل الإمامة: إنَّه لم ينقص من كلمة، ولا آية ، ولا سورة، و لكن حُذِفَ ما كان مثبَتًا في مصحف أمير المؤمنين (عليه السلام) من تَأويليه، و تفسير معانيه على حقيقة تنزيله، و ذلك كان ثابتًا مُنَزَّلاً و إنْ لِمْ يكن من جملةِ كلام الله تعالى الذي هو القرآن المعجِز. و عندي أنَّ هذا أشبهُ من مقال من ادَّعى نُقْصان كلِمٍ من نفسِ القرآن على الحقيقة دون التأويل، إليه أميلٌ، و الله أسأل توفيقه للصواب.

“Telah berkata sekelompok Ahli imamah (Syi’ah): bahwa Al Qur’an tidak berkurang walaupun hanya satu kata, atau satu ayat atau satu surah, akan tetapi (yang) dihapus (adalah) apa-apa yang tetap dalam mush-haf Amirul Mukminin (Ali) as. berupa ta’wîl dan tafsir makna-maknanya sesuai dengan hakikat tanzîlnya. Yang demikian (ta’wîl dan tafsir) adalah tetap, terbukti telah diturunkan (Allah) walaupun ini bukan dari bagian firman Allah sebagai Al Qur’an yang mu’jiz (mu’jizat). Dan menurut saya pendapat ini lebih tepat dari pada pendapat orang yang menganggap adanya pengurangan beberapa firman dari Al Qur’an itu sendiri bukan ta’wîl nya. Dan saya cenderung kepada pendapat ini. Hanya kepada Allah lah saya memohon tawfiq untuk kebenaran.” (Awâil al Maqâlât fî al Madzâhib al Mukhtârât: 55-56).

 

 

 

3. Asy Syarif Al Murtadha (w.436 H):

Dalam bukunya berjudul Al-Masaail Al-Tharablusiyyaat, Al-Murtadha mengatakan, seperti dikutip penulis buku Majma’ Al-Bayân dikatakan:

…أنَّ العلمَ بصحة نقلِ القرآن كالعلم بالبلدتن و الحوادث الكبار و الوقائع العظام و الكتب المشهورة و أشعار العرب المسطورة، فإنََّ العناية اشتدَّت و الدواعي توفَّرت على نقلِهِ و حراسته، و بلغت إلى حدٍّ لِمْ يبلغْه فيما ذكرنا. لأنَّ معجزة النبوة و مأخذ العلوم الشرعية و الأحكام الدينية و علماء المسلمين قد بلغوا في حفظه و حمايته الغاية حتى عرفوا كل شيئ اختلف فيه من إعرابه و قراءته و حروفه و آياته، فكيف يجوز أن يكون مغيرا أو منقوصا مع العناية الصادقة و الضبط الشديد أن القرآن كان على عهد رسولِ اللهِ (ص) مجموعًا مُؤلَّفًا على ما هو عليه الآن… و أنَّ جماعةً من الصحابة مثل عبد الله بن مسعود و أبي بن كعب و غيرهمت قد ختموا القرآن على النبي (ص) عدّة ختمات ، و كل ذلك يدل بأدنى تأمل على أنه كان مجموعًا مرتَّبًا غير مبتورٍ ولا مبثوثٍ…

و أن من خالف من الإمامية الحشوية لا يُعْتَدُّ بخلافهم، فإن الخلاف مضافٌ إلى قومٍ من أصحابِ الحديث نقلوا أخبارًا ضعيفَةً ظنوا صحتها لا يُرجع بمثلها عن المعلوم المقطوع على صحتِهِ.

“Bahwa kadar kepastian akan penukilan Al Qur’an adalah seperti kepastian ilmu bumi dan kejadian-kejadian besar dalam sejarah. Begitu basar perhatian yang telah dicurahkan demi kelestarian dan keutuhannya. Seluruh faktor telah berkumpul menjadi sempurna dan menyatu mendukung terjaganya Al-Quran dari segala macam penyelewengan dengan pengawasan yang ketat. Sehingga tidak ada sesuatu pun yang dijaga dengan rapi, seperti Al-Quran. Sebab Al-Quran adalah mukjizat kenabian Muhammad saw., sumber segala ilmu dan hukum utama syariat agama (Islam). Para ulama muslimin sendiri telah bersungguh-sungguh dalam menjaga dan melestarikannya sehingga mencapai puncaknya, sampai-sampai mereka mengetahui segala sesuatu yang diperselisihkan di dalamnya untuk diteliti tentang i’rab, nada, cara membacanya, jumlah huruf-huruf dan ayat-ayatnyanya.

Lalu bagaimana mungkin buku yang telah dijaga sedemikian rupa dapat diubah-ubah atau dikurangi dengan mudah. Al-Quran sejak zaman Nabi saw. telah tersusun rapi dalam bentuk yang sempurna, sebagaimana yang ada sekarang….

Dan sesungguhnya sekelompok sahabat telah mengkhatamkan Al Qur’an berulang-ulang di hadapan beliau. Semua itu adalah bukti –dengah sedikit merenung- bahwa Al Qur’an sejak ,masa Nabi telah terkumpul dan tersusun rapi, tidak terpotong-potong dan tercecer….

Dan sesiapa di antara Syi’ah Imamiyah dan Al Hasyawiyah/di sekelompok dari Ahlus-Sunnah yang menolak kenyataan itu tidak perlu diperhatikan. Sebab perselisihan dalam masalah ini selain hanya disandarkan kepada sekelmpok dari Ahli Hadis yang menukil khabar-khabar (riwayat) yang lemah yang mereka sangka shahih,ia juga tidak dapat dirujuk dalam masalah-masalah keyakinan dengan meninggalkan yang diketahui secara pasti kebenarannya.” (Majma’ al Bayân,1/15).

Setelah penegasan di atas masihkah kita tertipu dengan fitnah murahan kaum Wahhabi dan penabur fitnah di dunia Islam!

Ikuti terus ketarangan para tokoh dan pemuka Syi’ah lainnya dalam bagian selanjutnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: