Kehormatan Nabi Mulia Muhammad saw., Antara Pandangan Syi’ah Imamiyah dan Ahlusunnah wal Jama’ah

Pendahuluan

Mungkin tulisan ini lebih tepat jika diterbitkan sebelum diluncurkannya seri edisi Potret Nabi Muhammad saw. dalam Hadis Bukhari, mengingat ia cocok sebagai pengantar… namun karena satu dan lain hal, kami baru menerbitkannya sekarang. Akan tetapi kami yakin itu tidak akan banyak mempengaruhi.

Perbandingan Pandangan Syi’ah dan Sunni Tentang Maqam, Nabi Muhammad saw.

Kami Syi’ah, pengikut setia Ahlulbait Nabi as. berkeyakinan bahwa Nabi Muhammad saw. adalah penutup para nabi dan paling mulai, afdhalnya para rasul. Beliau adalah makhluk termulia. Dan telah tetap dalam riwayat-riwayat ulama kami bahwa Nabi saw. dan Ahlulbait suci beliau diciptakan dari cahaya, Nûr ilahi sebelum Allah menciptakan ciptaan-Nya. Beliau ma’shûm (terpelihara dari kesalahan dan dosa) sejak sebelum diutus sebagai Nabi hingga akhir hayat beliau, baik dari dosa-dosa kecil, shaghîar, apalagi dosa-dosa besar, kabâir dan dari semua hal yang mencoreng kemulian maqam agung beliau.


Kami berkeyaninan bahwa kehormatan beliau di saat hidup sama dengan kehormatan beliau setelah beliau wafat. Beliau mendengar ucapan salam kita dan membalasnya. Kami berkeyakinan dianjurkannya berziarah ke kubur/pusara suci beliau dan bertawassul dengan beliau, mencari keberkahan dari bekas-bekas dan peninggalan beliau, mendirikan shalat di sisi pusara beliau.
Adapaun saudara-saudara kami kaum Ahlusunnah, mereka juga telah meriwayatkan dalam hadis-hadis mereka bahwa Allah menciptakan Nabi saw. dari Nûr sebelum menciptakan ciptaan-Nya. Beliau telah menjadi nabi sementara Nabi Adam as. masih berupa antara air dan tanah. Akan tetapi sebagian ulama mereka menolak semua kenyataan itu! Sebagaimana kitab-kitab terpercaya mereka meriwayatkan bahwa Nabi saw. bukanlah nabi termulia. Sebagian nabi dari kalangan bani Israil lebih afdhal dari beliau. Seperti diriwayatkan dalam Shahih Bukhari!

Ahlusunnah juga berpendapat bahwa Nabi itu ma’shum dari dosa dan kesalahan dalam hal tablîgh/penyampaian wahyu saja, tidak dalam sisi-sisi lain kehidupan beliau! Namun demikian anehnya mereka juga banyak meriwayatkan berbagai kekurangan Nabi Muhammad saw…. sebagimana juga mereka meriwayatkan banyak kesalahan Nabi dalam tablîgh.

Adapun Ibnu Taimyah dan kaum Wahhâbi yang mengikutinya, mereka benar-benar telah menghinakan maqam agung Nabi saw.! mereka mengharamkan berziarah ke makam suci beliau, mendirikan shalat di sisinya. Mereka juga mengaharamkan bertawassul dengan Nabi saw. bahkan sekedar menyeru Nabi dengan kata: Ya Rasulallah/wahai Rasulullkah adalah sebuah kemusyrikan dengan anggapan beliau telah mati, tidak dapat memberikan manfa’at atau menolak madharrat!!

Sampai-sampai ketidak sopanan mereka mencapai puncaknya ketika mereka berkata, Muhammad itu hanya seorang pesuruh Tuhan, seperti tukang pos, dia telah sampaikan pasannya dan sekarang selesailah semua tugasnya!

Ibnu Jakfari berkata:

Dari semua paparan ringkas di atas, kami berhak bertanya kepada saudara-saudara kami penganut Ahlusunnah:

1.      Dalam pandangan kalian apa sebenarnya yang menyebabkan  keyakinan Syi’ah tentang pengenalan maqam dan kema’shuman Nabi Muhammad saw. dalam seluruh ucapan, tindakan dalam seluruh kehidupan beliau itu lebih dalam dan menjaga kehormatan beliau. Apakah semua itu dikarenakan keteguhan mereka dalam berpegang teguh dengan Al Qur’an dan nash-nash Sunnah yang telah menetapkan keagungan itu, atau justru karena mereka terpengaruh oleh pikiran sesat Abdullah ibn Saba’?

2.      Seperti sama-sama dimaklumi, bahwa kaum Yahudi sama sekali tidak menaruh penghormatan kepada maqam kenabian… mereka tidak mebghormati para nabi mereka as. bahkan para nabi as. itu mereka gambarkan dengan penggambaran buruk yang melecehkan dan menjatuhkan kemulian mereka. Sementara dalam dunia akidah Sunni kita menemukan kurangnya penghormatan kepada maqam kenabian dan tidak jarang para nabi, khususnya Nabi mulia Muhammad saw. juga menjadi obyek pelecehan riwayat-riwayat Ahlusunnah. Lalu apakah kalian pernah berfikir dan atau menaruh kecurigaan akan kejujuran sumber riwayat-riwayat seperti itu? Jangan-jangan ada tangan-tangan Yahudi yang bermain di balik layer menyebarkan riwayat-riwayat palsu itu?

3.      Apakah kebiasaan sebagian dari ulama Ahlusunnah menuduh kami (Syi’ah) mengkultus dan bersikap  berlebihan/ghuluw terhadap Nabi saw. dan para imam suci Ahlulbait as. itu sebenarnya diilhami oleh pandangan mereka yang cenderung menghinakan dan melecehkan Nabi saw. akibat riwayat-riwayat yang membanjiri kitab-kitab hadis standar dan kemudian mempengaruhi pikiran mereka?

4.      Apakah kalian setuju dengan tawaran kami bahwa untuk menyelesaikan permasalahan ini (“kami mengkultus dan kalian menghinakana Nabi saw.”) kita harus bertahkim kepada nash-nash Al Qur’an suci dan sunnah shahihah, kemudian kita teliti kandungannya dan menelusuri apakah ada-ada faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi pandangan-pandangan tersebut?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: