Hanya Imam Ali ibn Abi Thalib as. Yang Bergelar Ash Shiddîq!

HANYA IMAM ALI as. YANG BERGELAR ASH-SHIDDIQ

Tanggapan atas -haulasyiah-: “Kedudukan Hadist: Ali adalah Ash Shiddiq terbaik”

Di antara hadis-hadis shahih keutamaan Ali ibn Abi Thalib as. yang membuat kaum Nawâshib geram dan sakit hati kemudian menjulurkan lisan beracunnya untuk mencari-cari sasaran bidik agar dijadikan pelampiasan pencacatan adalah hadis di bawah ini.

 

Sekelompok ulama, di antaranya Ibnu an Najjâr, Abu Nu’aim, Al Bukhari, Ibnu ‘Asâkir, Ad Dailami dkk. telah meriwayatkan dari beberapa jalur dari sahabat Ibnu Abbas ra. dan Abu Lailâ ra., bahwa Rasulullah saw. bersabda:

الصديقون ثلاثة : حبيب النجار مؤمن آل يس الذي قال : (يا قوم اتبعوا المرسلين)، و حزقيل مؤمن آل فرعون الذي قال : (أتقتلون رجلا أن يقول ربي الله)، و علي بن أبي طالب و هو أفضلهم

“Para ash Shiddîqûn (orang yang bergelar ash Shiddiq) ada tiga; Habib An Najjâr, yaitu seorang Mukmin dari keluarga Yasin, yang pernah berkata, ‘Wahai kaumku, ikutilah para rasul!’ dan Hizqil, seorang Mukmin dari keluarga Fir’aun, yang pernah berkata, ‘Apakah kalian akan membunuh seorang yang mengatakan Rabbku adalah Allah?!’ dan Ali bin Abi Thalib dan ialah yang termulia.”

Para Perawi Hadis Ini:

Hadis ini telah diriwayatkan oleh banyak ulama Ahlusunnah dalam kitab-kitab berharga mereka, di antaranya adalah:

  1. Imam Ahmad ibn Hanbal dalam kitab al Manâqib-nya: 264 hadis no.196 dan 323 hadis no.241.
  2. Al Hafidz al Kinji dalam Kifâyah ath Thâlib pada bab 24 hal.123 dengan sanad yang sama dengan sanad Imam Ahmad. Kemudian ia berkata, “Ini adalah sanad yang diandalkan dijadikan hujjah oleh ad Dâruquthni.”
  3. Husâmuddîn al Hindi dalam Muntakhab Kanz al Ummâl,6/31.
  4. Ibnu al Maghâzili  dalam Manâqibnya:246-147 hadis no.293 dan 294.
  5. As Suyuthi dalam al Jâmi’ ash Shaghîr,2/451, dan ia katakan bahwa hadis ini diriwayatkan Abu Nu’aim dalam kitab al Ma’rifah, Ibnu ‘Asâkir dari Ibnu Abi Lailâ, serta ia beri tanda:Hasan. Artinya hadis itu ia nilai sebagai hadis hasan (sebuah kualitas di atas hadis dha’if, apalagi palsu/maudhû’!.
  6. Al Munnawi dalam Faidhul Qadîr (Syarah al Jâmi’ ash Shaghîr), 4/238 dan ia tambahkan: “Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Mardawaih dan ad Dailami”. Dan ia tidak keberatan dengan keterangan As Suyuthi di atas  bahwa hadis ini hasan.
  7. Syeikh Ali ibn Ahmad ibn Muhammad Al Azizi asy Sayfi’i dalam as Sirâj al Munîr (Syarah al Jâmi’ ash Shaghîr), 2/403. Bahkan beliau menguatkan hadis tersebut dengan mengatakan, “Dan Ali. Dia adalah Shiddîq A’dzam (teragung)nya umat ini. Karenanya beliau (Ali) berkata: “Aku adalah ash Shiddîq al Akbar, tiada seorang pun yang mengatakannya selainku.”
  8. As Suyuthi dalam Ad Durr al Mantsûr, pada tafsir ayat 28-29 surah Yâsîn,5/492 dari riwayat Imam Bukhari dalam kitab Târîkhnya dari Ibnu Abbas dan dari riwayat Abu Daud, Abu Nu’aim, Ibnu ‘Asâkir dan ad Dailami dari Abu Lailâ.
  9. Muhibbuddîn ath Thabari dalam Dzakhâir al ‘Uqba:59.
  10. Al Qandûzi al Hanafi dalam Yanâbi’ al Mawaddah:126 dan 202 dari jalur al Khawârizmi dan Ibnu al Maghâzili.
  11. Ibnu Hajar al Haitami dalam ash Shawâiqnya:125 pada bab 9 pasal 2 tentang hadis-hadis keutamaan Imam Ali as. hadis no. 30.

Inilah sepuluh nama ulama yang telah meriwayatkan dan menyebutkan hadis di atas dalam kitab-kitab mereka. Selain mereka masih banyak nama lainnya sengaja tidak saya sebutkan di sini.

Tanbîh:

Ketika haulasyiah menyebut habwa hadis ini telah disebutkan as Suyuthi dan al Munnâwi ia berusa mengelabui pembaca awam dengan mengatakan:

Disebutkan Asy Suyuthi dalam Al Jami’ush Shaghir dari riwayat Abu Nu’aim dalam Al Ma’rifah dan Ibnu Asakir dari Ibnu Abi Laila, Al Munawi selaku pensyarah kitab tersebut hanya berkata, “Diriwayatkan Ibnu Mardawaih dan Ad Dailami.”

Ia tidak menjelaskan bahwa Jalaluddîn as Suyuthi dan al Munnawi sama sekali tidak menvonis palsu hadis tersebut! Andai hadis ini palsu sudah seharusnya al Munnawi –selaku pensyarah- menjelaskannya, sebab meriwayatkan hadis palsu/maudhû’ dengan tanpa menjelaskan kemaudhû’annya adalah sebuah dosa dan penipuan terhadapa agama dan haram hukumnya! Disamping pasti akan dituduh haulasyiah sebagai ANAK KETURUNAN ABDULLAH BIN SABA’!

Sanad Hadis Ini

Dalam riwayat Imam Ahmad,. Hadis itu dengan sanad sebagai berikut:

Muhammad menyampaikan hadis kepada kami, ia berkata, Hasan ibn Abdurahman al Anshâri menyampaikan hadis kepada kami, ia berkata, ‘Amr ibn Jumaî’menyampaikan hadis kepada kami dari Ibnu Abi Lailâ dari saudaranya; Isa ibn Abdurahman ibn Abi Lailâ dari ayahnya, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda:…..

Dengan sanad yang sama seperti di atas, Ibnu al Maghâzili meriwayatkannya. Demikian juga dengan al Kinji.

Selain melalui sanad di atas hadis tersebut juga diriwayatkan para ulama melalui sanad-sanad lain..

Sekilas Tentang Kualitas Para Parawi

Ibnu Hajar Menshahihkan Hadis tersebut !

Sebelum kita meneliti para perawi yang dicacat oleh Syeikh al Albâni –seperti dinukil haulasyiah– perlu saya sampaikan di sini bahwa hadis ini telah dishahihkan oleh Ibnu Hajar al Haitami (yang telah dibanggakan pengelolah blog haulasyiah kehebatan dan kedalaman ilmunya serta kepakarannya dalam ilmu hadis pada artikel yang ia tulis tentang hadis “Ahlulbait bagaikan Pintu pengampunan” yang telah kami bantah sebelumnya). Ibnu Hajar menyebutkan hadis itu dalam ash Shawâiq-nya:125 pada bab 9 pasal 2 tentang hadis-hadis keutamaan Imam Ali as. hadis no. 30. Dan pada awal pasal itu ia menuliskan demikian: “… Dan aku ringkas dengan hanya menyebut empat puluh hadis (keutamaan Ali) karena ia (40 hadis ini) adalah mutiara terindah keutamaannya.”

Jadi andai hadis ini lemah apalagi palsu/maudhû’ pastilah ia tidak mensifatinya dengan mutiara terindah keutamaan Ali as.!

Jadi semestinya sudah seharusnya haulasyiah menerima penegasan “Pakar Ilmu Hadis” andalannya bahwa hadis itu adalah termasuk di antara mutiara terindah keutamaan Ali as.!

Siapkah dia menerima dan tunduk kepada al haq yang pahit ini?

Saya yakin pengelolah haulasyiah tidak kehabisan akal dan kehilangan cara… ia pasti pandai melompat dari satu rak kitab ke rak kitab lainnya… kalau kali ini Ibnu Hajar menshahihkan hadis tersebut, maka ia harus bergegas lompat mencari “Pakar Hadis” lain yang menvonis palsu hadis itu… karena memang pemusnahan hadis-hadis keutmaan Ahlulbait as. lah yang menjadi tujuan inti dari semua “penelitian” yang ia lakukan!

Karena “Pengelolah haulasyiah” menjadikan Syeikh al Albâni sebagai “gaet”-nya dalam pengembaraan ilmu-ilmu agama… maka ia menuntunnya melewati tumpukan sampah kedengkian kepada Ahlulbait, sebab siapa yang menjadikan burung pemakan bangkai sebagai penunjuk jalannya janganlah heran apabila ia diajak lewat di atas tumpukan bangkai!

Al Albâni menuntunnya kepada Ibnu Taimiyah dan adz Dzahabi yang kesinisan sikap keduanya terhadap hadis-hadis keutamaan Ali dan Ahlulbait telah menjadi buah bibir para ulama… berapa banyak hadis shahih yang ia tolak dengan tanpa dasar, hanya karena ia memuat keutamaan Ali as.

Luapan-luapan kedengkian kaum Munafikin yang berluncuran dari mulut-mulut najis mereka adalah ciri yang dengannya kita dapat mengenali orang-orang munafik dari kaum Mukminin.

Allah SWT berfirman: dalam surah Muhammad ayat 30:

وَ لَوْ نَشاءُ لَأَرَيْناكَهُمْ فَلَعَرَفْتَهُمْ بِسيماهُمْ وَ لَتَعْرِفَنَّهُمْ في‏ لَحْنِ الْقَوْلِ وَ اللَّهُ يَعْلَمُ أَعْمالَكُمْ .

“Dan kalau Kami menghendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka (orang-orang munafikin) kepadamu sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya. Dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka dan Allah mengetahui perbuatan-perbuatan kamu.”

Tentang ayat  ini Abu Sa’id al Khudir –seorang sahabat Nabi saw.- berkata menerangkan: “Dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka” dengan kedengkian mereka kepada Ali ibn Abi Thalib.

Jadi kedengkian kaum munafik tak mampu tertahan dalam dinding dada-dada mereka… ia akan berlompatan dari mulut-mulut mereka dalam bentuk kata-kata sinis dan merendahkan Ali as. dan sikap ketidak terimaan terhadap berbagai keutamaan dan keistimewaan yang Allah anugerahkan kepadanya.

Jadi hati-hatilah dari kata-kata berbisa mereka… janganlah Anda tertipu dengan manisnya kata-kata karena di dalamnya telah dicampuri racum mematikan… sebab kaum munafik adalah musuh nomer wahid kaum Mukminin.

Allah berfirman:

وَ إِذا رَأَيْتَهُمْ تُعْجِبُكَ أَجْسامُهُمْ وَ إِنْ يَقُولُوا تَسْمَعْ لِقَوْلِهِمْ كَأَنَّهُمْ خُشُبٌ مُسَنَّدَةٌ يَحْسَبُونَ كُلَّ صَيْحَةٍ عَلَيْهِمْ هُمُ الْعَدُوُّ فَاحْذَرْهُمْ قاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ .

“Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya), maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran). (QS. Al Munafiqûn ayat 4)

Setelah ini mari kita kembali kepada perawi yang menjadi bulan-bulan hujatan kaum Nawâshib, seperti Ibnu Taimiyah, al Albani dkk.

Pada bantahan kedua Ibnu Taimyah atas Allamah al Hilli (rahmatullah ‘Alaihi/Semoga rahmat Allah atasnya) ia menolak hadis tersebut dengan mengatakan: “Sesungguhnya hadis ini adalah palsu atas nama Rasulullah saw.” [1]

Sebagai langkah awal menvonis palsu hadis di atas, ia “ngotot” mencatat ‘Amr ibn Juma’i (yang benar adalah Juma’i bukan Jami’ seperti dieja oleh haulasyiah) dengan menyebutkan komentar sebagian ulama yang mencacatnya dengan pencatatan yang muhbam… . dan adalah sudah menjadi maklum bahwa sering kali seorang perawi menjadi bulan-bulanan para pencacat hanya kerena mereka sering meriwayatkan hadis-hadis keutamaan Ali dan Ahlubait as. mereka akan menuduhunya sebagai Khabîts (jahat), Kadzdzâb (pembohong), Yarwi al Maudhû’ât (meriwayatkan hadis-hadis palsu) wal manâkîr (hadis-hadis munkar), matrûk (ditinggalkan) dll. Sementara itu setelah diteliti maka hadis-hadis yang divonis munkar atau maudhû’ itu mereka vonis demikian karena ia memuat keutamaan Ali dan Ahlulbait! Tidak lain! Mereka mencacat seorang perawi kerena meriwayatkan hadis tertentu keutamaan Ali dan Ahlulbait as. kemudian setelahnya mereka menvonis palsu atau lemah hadis tertentu itu karena ia diriwayatkan oleh si perawi itu! Aneh bukan?!

Dan andai boleh menggugurkan/mencacat hadis dengan cara seperti itu yang hanya mengandalkan pencacatan mubham, tendensius dan hanya dari sebagian ulama hadis saja dengan mengabaikan komentar ulama lainnya, maka rusaklah tatanan ilmu hadis dan dunia perhadisan umat Islam!

Cukup Bagi Syi’ah Penshahihan Sebagian Ulama Ahlusunnah!

Ada satu hal yang perlu dimengerti oleh teman-teman Wahhabi, bahwa ketika Syi’ah Ahlulbait berhujjah dengan sebuah hadis dari riwayat ulama Ahlusunnah cukuplah bagi mereka penshahihan yang dilakukan oleh sebagian saja dari mereka. Sebab menanti seluruh ulama menshahihkannya adalah hal mustahil dan tidak pernah dilakukan oleh ulama Ahlusunnah sendiri ketika mereka berhujjah di antara mereka sendiri!

Selain itu, ada satu hal penting lain, bahwa ketika Syi’ah berhujjah dengan hadis riwayat Ahlusunnah tidak semestinya dibantah dengan mempertentangkannya dengan hadis lain dari riwayat Ahhlusunnah sendiri! Sebab pada dasarnya riwayat Ahlusunnah tidak akan dapat mengikat Syi’ah, tidak sebaliknya… riwayat-riwayat Ahlusunnah akan mengikat ulama Ahlusunnah sendiri!

Di sini, Ibnu Tamiyah dan koleganya dalam menolak hadis di atas mempertentangkannya dengan hadis riwayat Ahlusunnah bahwa ada orang lain tang ternyata digelari Nabi saw. dengan ash Shiddîq… jadi tidak benar kalau hanya Ali yang bergelar ash Shiddîq!

Sebagaimana tidak jarang pengingkaran atas sebuah hadis dari sisi maknanya karena ia bertentangan dengan doktrin mazhabnya… Lalu ia menuding riwayat itu matannya munkar! Dan kemudian si perawinya dibunuh karakternya dengan tuduhan sebagai munkarul hadîts! Dan kemudian dibuang ke dalam “tong sampah sejarah”!!

Semua itu sangat jelas bagi Anda jika mau meneliti sepak terjang sebagian ulama hadis Ahlusunnah, khususnya yang berbau Nashîbi seperti Ibnu Taimiyah, adz Dzahabi, Al Jauzajani, Ibnu Hazm dkk.

Beberapa Contoh Kasus!

Untuk menyingkat pembicaraan kita dalam masalah ini, saya akan coba bawakan contoh kasus yang akan membuktikan hal itu.

Ketika Ibnu Luhai’ah memberanikan diri meriwayatkan hadis yang memuat ucapan Imam Ali as.:

علَّمني ألفَ باب يُفْتَحُ من كل باب ألفُ باب

“Nabi saw. mengajariku seribu pintu ilmu dan dari setiap pintunya terbuka seribu pintu ilmu lainnya.” (HR. Ibnu Adi; Al Kamil,3/389).

Ibnu al Jauzi menyebutkan riwayat di atas dalam kitab al I‘lal al Mutanâhiyah kemudian menvonisnya dengan mengatakan, “Ini adalah hadis munkar. Mungkin penyebabnya adalah Ibnu Luhai’ah. Ia sangat kental kesyi’ahannya. Para ulama hadis telah memperbincangkannya dan mereka mengecapnya dha’if.”

Sementara jika Anda bertanya, mengapa Ibnu Luhai’ah dilemahkan dan hadisnya divonis munkar? Maka Anda tidak menemukan jawabannya kecuali karena ia sering meriwayatkan hadis-hadis keutamaan Ali dan Ahlulbait Nabi as. yang karenanya seorang perawi dicap Syi’ah ekstrim!!

Adz Dzahabi membuka kedok semua ketika ia mengatakan:

بهذا و شبهِهِ  استحق ابن لهيعة الترك.

“Dengan hadis ini dan semisalnya, Ibnu Luhai’ah berhak dicampakkan.” [2]

Mengapa adz Dzahabi menvonisnya demikian? Padahal di tempat lain… di bukunya yang lain ia mensifati Ibnu Luhai’ah dengan: Imam Allamah (sangat pandai), Muhaddis negeri Mesir… beliau tergolong lautan ilmu… ketika beliau wafat, Laits berkata, ‘Tidak ada lagi oorang yang hebat sepertinya… tidak diragukan bahwa Ibnu Luhai’ah dan Laits adalah tokoh alimnya negeri Mesir, seperti halnya Imam Malik tokoh alimnya kota Madinah, Awza’i tokoh alimnya negeri Syam, Ma’mar tokoh alimnya negeri Yaman, Syu’bah dan Tsawri tokoh alimnya negeri Iraq dan Ibrahim ibn Thahman tokoh alimnya negeri Khurasan… “ para ulama di antaranya adalah adz Dzahabi juga memujinya dengan menukil berbagai pujian atas Ibnu Luhai’ah. Adz Dzahhabi menukil Ahmad sebagai berkata, “Siapakah yang seperti Ibnu Luhai’ah di negeri Mesir dalam banyaknya hadis, itqânihi, kekohokan dan dhabthihi, ketepatan periwayatannya?!.” Serta banyak pujian lain dari para tokoh ahli hadis. Ibnu Adi juga memuji ketepatan dan kebagusan hadisnya, tentunya ketika ia (Ibnu Adi) tidak sedang berhadapan dengfan hadis Ibnu Luhai’ah tentang keutamaan Ali as.!

Dari sini dapat Anda saksikan persekongkolan jahat kaum Nawâshib dalam membegal setiap hadis keutamaan Ali dan Ahlulbait dan membunuh kerakter setiap perawinya!

Sebagian dari kaum Nawâshib telah bersikap sebagai “Preman-preman agama” yang kerjanya hanya mengintimidasi setiap perawi yang berani menyebar-luaskan hadis keutamaan Ahlulbait Nabi as. maka hati-hatilah kalian dari makar jahat mereka dan beristi’âdzahlah/mohonlah perlindungan kepada Allah dari kejahatan Waswâsil Khannâs baik dari kalangan jin maupun manusia yang selalu meniupkan bisikan setan!

Dan setelah itu semua, masihkan Anda mengandalkan vonis-vonis miring tidak bertanggung jawab dari mereka?!

Ketsiqahan Seorang Perawi Tidak Dianggap Jika Ia Meriwayatkan Hadis Tentang Keutamaan Imam Ali as.

Kejahatan intelektual dan agama yang dilakukan para pendengki Ali dan Ahlulbait as. dalam sikap brutal mereka dengan menolak hadis-hadis shahih yang telah diriwayatkan para perawi jujur dan terpercaya tsiqah seperti yang telah kami singgung di atas dapat Anda temukan dengan mudah dalam tulisan-tulisan sebagian mereka! Menolak hadis keutamaan Ali dan Ahlulbait as. telah menjadi agenda utama mereka… mencari-cari sasaran tembak pada setiap jalur riwayat untuk mereka cacat adalah modus yang selalu mereka jalankan…. mereka harus menuding satu atau lebih perawi untuk mereka cacat agar tugas dan cita-cita mereka tercapai!

Namun jika semua upaya ke arah itu tidak menghasilkan, maka dengan tanpa dasar pun mereka tetap akan menolak dan menvonis palsu atau lemah hadis keutamaan Imam Ali as.

Ratusan contoh dapat dengan mudah ditemukan dalam kasus ini. Akan tetapi di sini saya hanya menyebut satu contoh saja.

Al Hakim meriwayatkan sebuah hadis riwayat Abu al Azhar dengan sanad bersambung kepada Ibnu Abbas ra. ia berkata, “Nabi saw. memandang Ali lalu beliau bersabda, ‘Hai Ali engkau adalah Sayyidun/pemipin di dunia dan engkau adalah Sayyidun/pemipin di akhirat. Pecintamu adalah pecintaku. Dan pecintaku adalah pecinta Allah. Musuhmu adalah musuhku. Dan musuhku adalah musuh Allah. Dan celakalah orang yang membencimu sepeninggalku nanti.’”

Al Hakim berkata, “Hadis ini shahih berdasarkan syarat Syaikhain (Bukhari & Muslim). Abu al Azhar berdasarkan kesepakatan ulama Ahli Hadis adalah tsiqah (jujur terpercaya). Dan apabila seorang tsiqah menyendiri dalam meriwayatkan sebuah hadis maka berdasarkan kaidah ulama Ahli Hadis adalah shahih.” Setelahnya ia membuktikan bagaiamana ketsiqahan Abu al Azhar…. [3]

Demikian al Hakim berkomentar … lalu  sekarang perhatikan komentar angkuh dan penuh kedengkian dari seorang adz Dzahabi yang dibanggakan kaum Nawâshib, termasuk pengelolah blog haulasyiah.

Adz Dzahabi berkata dalam Talkhîsh al Mustadrak-nya, “Hadis ini walaupun seluruh parawinya tsiqah (jujur terpercaya) ia adalah hadis yang munkar! Tidak jauh dari status palsu!…”

Jadi dengan demikian bubaarlah semua kaidah penshahihan hadis yang telah dibangun para ulama… karena kaum Nawâshib telah merancang sebuah kaidah bahwa setiap hadis keutamaan Ahlulbait as., khusunya Imam Ali as. adalah harus dilemahkan bahklan dimaudhu’kan walaupun seluruh perawinya tsiqah bahkan makshum sekalipun!

Dari sini perlu Anda waspadai setiap pencacatan yang dialamatkan kepada para perawi, khususnya yang meriwayatkan hadis-hadis keutamaan Ali dan Ahlulbait as.!

Hadis Tersebut Didukung Oleh Banyak Hadis Lain

Di antara yang mendukung hadis yang sedang kita bahas ini adalah banyak hadis yang memuat makna serupa yang menegaskan bahwa Imam Ali as. adalah Shiddîq umat ini, bahkan beliau adalah ash Shiddîq al Akbar (ash Shiddîq teragung). Di antaranya adalah:

(1)   Hadis riwayat Imam an Nasa’i dan al Hakim dari Ali as. ia berkata, “Aku adalah hamba Allah, saudara rasul-Nya dan ash Shiddîq al Akbar (ash Shiddîq teragung). Tidak mengatakannya selainku melainkan ia pembohong… “ [4]

(2)   Hadis riwayat ath Thabarani dari Salman dan Abu Dzarr ra. dan riwayat al Baihaqi dan Ibnu Adi dari Hudzaifah bahwa Nabi saw. bersabda tentang Ali, “Sesungguhnya dia ini adalah orang pertama yang beriman kepadaku. Dia yang pertama akan berjabat tangan denganku pada hari kiamat. Dia ini adalah ash Shiddîq al Akbar (ash Shiddîq teragung). Dia ini adalah al Fârûq umat ini, ia akan membedakan antara yang haq dan yang batil. Dia ini adalah pemimpin umat agama ini. Sedangkan harta adalah panutan kaum zalim.” [5] Hadis serupa dengan tambahan di awalnya telah diriwayatkan oleh Ibnu Hajar dalam al Ishâbah-nya ketika menyebut sejarah Abu Lailâ al Ghiffâri.

Catatan Terakhir:

Ketika mensyarahi hadis ash Shiddiqûna Tsalatsatun, Al Azizi mempertegas dengan mengatakan, “Dan Ali. Dia adalah Shiddîq A’dzam (teragung)nya umat ini. Karenanya beliau (Ali) berkata: “Aku adalah ash Shiddîq al Akbar, tiada seorang pun yang mengatakannya selainku.” [6]

Jadi masihkan Anda meragukan keshahihan hadis ini?!

________________________

[1] Minhaj as Sunnah,3/61.

[2] Al I‘lal al Mutanâhiyah; Ibnu al Jauzi,1/221 hadis nomer.347 dan Talkhîsh al I‘lal al Mutanâhiyah; adz Dzahabi:75-76 hadis hadis nomer.169.

[3] Al Mustadrak,3/128.

[4] An Nasa’i dalam Khashâishnya:20 hadis no.6 dan al Hakim dalam al Mustadrak,3/112. Adapun penolakan adz Dzahabi dengan mengatakan, “Ia adalah hadis batil adalah tidak berdasar… pencacatan Ibnu Madini atas Abbâd tidak layak dihiraukan, terlebih dengan memperhatikan pentsiqahan al Hakim. Dan meminjam kaidah yang dibangun haulasyiah: “Sang perawi lebih mengenal para perawi dalam sanadnya”, maka tentunya pentsiqahan al Hakim lebih layak didengar!

[5] Kanz al ‘Ummâl,6/405.

[6] as Sirâj al Munîr (Syarah al Jâmi’ ash Shaghîr), 2/403.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: