Gila!! Para Sahabat Menuduh Nabi saw. Mencuri Selimut Bekas!

Tidak ringan gangguan yang dihadapi Nabi saw. dari para sahabat beliau…. Beliau tidak hanya dituduh berlaku tidak adil dalam pembagian ghanîmah/pampasan perang, seperti yang disebutkan dalam beberapa riwayat yang dishahihkan para muhaddis Sunni. Kini gangguan itu jauh lebih berat dan keji… Sebagian sahabat menuduh Nabi saw. telah berkhianat dengan mencuri selembar selimut bekas berwarna merah yang menjadi ghanîmah, sehingga Allah “terpaksa” menurunkan ayat membela nabi-Nya dari tuduhan murahan sebagai sahabat itu.

Allah berfirman:

وَ ما كانَ لِنَبِيٍّ أَنْ يَغُلَّ وَ مَنْ يَغْلُلْ يَأْتِ بِما غَلَّ يَوْمَ الْقِيامَةِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ ما كَسَبَتْ وَ هُمْ لا يُظْلَمُونَ..

“Tidak mungkin seorang nabi berkhianat dalam urusan harta rampasan perang. Barang siapa yang berkhianat dalam urusan rampasan perang itu, maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu; kemudian tiap- tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan dengan (pembalasan) setimpal, sedang mereka tidak dianiaya.”(QS. Âli ‘Imrân;161)

Ibnu Jakfari berkata:

Para mufassir dan muhaddis Sunni menjelaskan bahwa ayat di atas turun berkenaan dengan tuduhan sebagian sahabat ketika mereka kehilangan selembar selimut bekas dalam tumpukan ghanîmah bahwa yang mengambil dan menyembunyikannya adalah Nabi Muhammad saw.!

Ibnu Jarir ath Thabari –imam ahli tafsir Salaf- menerangkan ayat di atas sebagai berikut: Para ahli qira’ah berselisih dalam membaca ayat ini, sekelompok ahli qira’ah negeri Hijâz dan Irak membacanya:يَغُلَّ dengan arti: mengkhianati para sahabatnya pada harta pampasan perang yang sebenarnya diperuntukkan mereka dari harta musuh-musuh mereka. Sebagian ahli qira’ah yang membaca ayat tersebut demikian berhujjah bahwa ayat ini turun atas Rasulullah saw. tentang selimut merah yang hilang dari harta pampasan perang Badr, lalu sebagian sahabat yang bersama Nabi saw. berkata, Mungkin Rasulullah yang mengambilnya. Mereka meriwayatkan banyak riwayat dalam masalah ini.”

Kemudian beliau mulai menyebutkan beberapa riwayat tentang tuduhan keji itu dari banyak jalur dari Ibnu Abbas ra. di antaranya: “Ada sebuah selimut berwarna merah yang hilang dari pampasan perang Badr, lalu sebagian sahabat Nabi saw. berkata, ‘Nabi yang mengambilnya.’ Lalu ramailah mereka memperbincangkannya maka Allah menurunkan ayat:

وَ ما كانَ لِنَبِيٍّ أَنْ يَغُلَّ وَ مَنْ يَغْلُلْ يَأْتِ بِما غَلَّ يَوْمَ الْقِيامَةِ ….

“Tidak mungkin seorang nabi berkhianat dalam urusan harta rampasan perang. Barang siapa yang berkhianat dalam urusan rampasan perang itu, maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu… “

Hadis-hadis tentangnya juga telah diriwayatkan oleh banyak ulama dan ahli hadis seperti Abu Daud, at Turmudzi. Al Mubârakfûri ketika menerangkan hadis riwayat at Turmudzi dengan nomer4096 mengatakan: “Maka sebagian orang berkata, ‘….’ Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari jalur Abu ‘Amr ibn al Alâ’ dari Mujahid dari Ibnu Abbas, ia berkata, ‘Kaum munafik menuduh Rasulullah saw. mencuri sesuatu, maka Allah menurunkan ayat:” Tidak mungkin seorang nabi berkhianat dalam urusan harta rampasan perang.. “ Kemudian Al Mubârakfûri menerangkan ayat itu demikian “Tidak mungkin seorang nabi berkhianat dalam urusan harta rampasan perang” maksudnya: Tidak sepantasnya seorang Nabi untuk berkhianat dalam pampasan perang, sebab kenabian itu bertolak belakang dengan pengkhianatan.”[1]

Ibnu Jakfari berkata:

Dalam seluruh riwayat ath Thabari dan at Turmudzi kita mendapati bahwa yang menuduh Nabi saw. adalah orang-orang yang bersama beliau.. para sahabat beliau… hanya dalam riwayat Ibnu Mardawaih –seperti disebutkan al Mubârakfûri dikatakan bahwa yang menduduh beliau adalah kaum munafik! Maka dengan menggabungkan antara riwayat-riwayat di atas menjadi jelaslah bahwa yang menuduh beliau adalah sahabat yang munufik bukan sahabat Nabi saw. yang tulus dalam keimanannya dan patuh lagi ta’at!

Data Yang Mengancam Doqma Sunni!

Dalam akidah yang dipaksakan ulama Sunni kepada kaum awam maupun kepada para santri yang ingin mentas dari lembah keawaman menjadi setengah awam setengah alim bahwa para sahabat itu semuanya adalah udûl bahkan mereka mendoktrinkan bahwa tidak keikut-sertaan kaum munafikin dalam peperangan Badr….[2] Dan para peserta Ghazwah Badr semuanya telah dijamin surga dan Allah SWT telah membebaskan mereka untuk berbuat sekehendak mereka sebab apapun yang mereka akan lakukan pasti diampuni!

Tetapi data-data valid di atas sungguh mengancam akidah yang didoktrinkan seperti itu!

Bukankah menjadi nyata keberadaan dan keikut sertaan kaum munafikin dalam perang Badr?!

Lalu apakah mereka menuduh Nabi saw. dengan tuduhan keji itu juga mendapatkan semua piagam penghormatan dari Allah itu?!

Sungguh Tuduhan Keji Luar Biasa!

Apa yang mereka tuduhkan terhadap Nabi agung saw. itu sungguh luar baisa kekejiannya. Bagaimana mereka itu menuduh Nabi saw. telah mencuri dan berkhianat. Sebab kata ghulûl (bentuk mashdar/kata dasar) artinya adalah mencuri/menganbil dengan diam-diam dan berkhianat, hanya saja dalam penggunaannya ia diidentikkan dengan pengkhianatan dalam harta pampasan parang/ghanîmah. Demikian diterangkan Syeikh al Khâzin dalam tafsirnya; Lubâb at Ta’wîl,Ibnu Atsîr dalam al Nihâyah Fi Gharîb al Hadîts,[3] buku khusus tentang kamus hadis.

 

 


[1] Tuhfah al Ahwadzi,8/359.

[2] Seperti dipastikan oleh seorang Misionaris wahabi bernama  ad Darwîsy dalam kitabnya Ruhamâ’ Bainahum.

[3] Lubâb at Ta’wîl , 1/441 dan al Nihâyah Fi Gharîb al Hadîts,3/380 pada kata Ghalala.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: