Bukti Palsu Khilafah Abu Bakar (9)

Persembahan Buat Kaum Salafiyah Wahhabiyah dan Blog Haulasyiah!

Kisah Abu Bakar Menjadi Imam Shalat Di Hari-hari Akhir Hidup Nabi saw. adalah Kisah Kepalsuan

Tak henti-hentinya saudara-saudara kami Ahlusunnah, dan khususnya yang Nawâshib di antara mereka, di antaranya adalah Pendiri Sekte Wahhabiyah dan kaum Wahabi …. Tak henti-hentinya mereka berdalil dengan kasus ditunjuknya Abu Bakar menjadi imam shalat di hari-hari akhir kehidupan Nabi saw. bahwa sebenarnya penunjukan itu oleh Nabi saw. adalah sebuah isyarat atau bahkan dianggap sebagai penunjukan samar/khafiy atas kekhalifahan Abu Bakar…

Akan tetapi, semua itu tidak berdasar… di sampan peristiwa penujukan itu adalah palsu!

Ibnu Abdil Wahhab berkata:

وما صح من أمره صلى الله عليه وسلم أبا بكر في مرض موته بإمامة الناس وهذا التقديم من أقوى إمارات حقيقة خلافة الصديق وبه إستدل أجلاء الصحابة كعمر وأبي عبيدة وعلي رضي الله عنهم أجمعين.

“Dan apa yang telah shahih bahwa Nabi saw. di waktu sakit kematiannya memerintah Abu Bakar untuk  memimpin shalat. Dan pengajuan itu adalah isyarat terkuat akan hakikat Khilafahnya ash Shiddîq (Abu Bakar). Dan dengannya para pembesar sahabatseperti Umar, Abu Ubaid dan Ali ra. berdalil.”

Dalam blog haulasyiah, seorang pendekar Wahabiyah juga membanggakan dalil di atas dan mendendangkan nyanyian lama tanpa meneliti dan memerhatikan kepalsuannya… seakan mereka bersepakat untuk bergantung di atas lumut demi menyelamatkan doqma klasik mazhabnya…

Ust. Muhammad Umar As-Sewed berkata:

“Dalil-dalil yang menunjukkan akan adanya isyarat secara tidak langsung (bukan wasiat) dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam yang mengisyaratkan bahwa Abu Bakarlah yang lebih pantas menjadi khalifah sangat banyak. Isyarat-isyarat tersebut adalah sebagai berikut:

Abu Bakar radhiallahu ‘anhu dipilih sebagai imam Shalat pengganti Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam

Hadits-hadits yang menunjukkan diperintahkannya Abu Bakar untuk memimpin shalat menggantikan Rasulullah, shalallahu ‘alaihi wasallam sangat masyhur. Salah satu di antaranya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abi Musa radhiallahu ‘anhu berikut:

مَرِضَ رَسُولُ اللَّهِ فَاشْتَدَّ مَرَضُهُ فَقَال مُرُوا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ فَقَالَتْ عَائِشَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أَبَا بَكْرٍ رَجُلٌ رَقِيقٌ مَتَى يَقُمْ مَقَامَكَ لاَ يَسْتَطِعْ أَنْ يُصَلِّيَ بِالنَّاسِ فَقَالَ مُرِي أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ فَإِنَّكُنَّ صَوَاحِبُ يُوسُفَ قَالَ فَصَلَّى بِهِمْ أَبُو بَكْرٍ حَيَاةَ رَسُولِ اللَّهِ. ]متفق عليه)

Ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam sakit parah beliau berkata: “Suruhlah Abu Bakar untuk mengimami manusia”. Maka berkatalah Aisyah: “Ya Rasulullah sesungguhnya Abu Bakar adalah seorang laki-laki yang amat perasa (mudah menangis). Bagaimana dia akan menggantikan kedudukanmu, dia tidak akan mampu untuk memimpin manusia”. Rasulullah berkata lagi: “Perintahkanlah Abu Bakar untuk mengimami manusia! Sesungguhnya kalian itu seperti saudara-saudaranya nabi Yusuf.”[1] Abu Musa berkata: maka Abu Bakar pun mengimami shalat dalam keadaan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam masih hidup. (HR. Bukhari Muslim)”

Kemudina selanjutnya ia menyebutkan beberapa dalil yang telah kami bantah habis dalam edisi-edisi yang telah lewat.

http://haulasyiah.wordpress.com/2007/08/06/isyarat-rasulullah-abu-bakar-sebagai-khalifah-bantahan-syubuhat-syiah-ke-5/

 

Ibnu Jakfari berkata:

Setelah penelitian panjang terhadap riwayat-riwayat yang dijadikan dalil oleh Syeikh Ibnu Abdil Wahhabdan kaum nawâshib Wahhâbiyah, dan pembuktian bahwa dalil-dalil tersebut tidak mampu bertahan di hadapan kritik dan pembuktian akan kepalsuannya, maka di sini tidak tersisa dari dalil yang diandalkan Syeikh kecuali berhujjah dengan shalat Abu Bakar di hari-hari akhir hidup Nabi saw. … Dan adapun klaimnya bahwa para pembesar sahabat, di antaranya Imam Ali as. telah berhujjah dengannya untuk membuktikan keabsahan Khilafah Abu Bakar adalah sebuah kepalsuan lain yang tidak akan mampu ia buktikan di hadapan kajian ilmiah… ia hanya sebuah kepalsuan yang diatas namakan Imam Ali as. oleh para pemalsu yang sektarian demia membela doktrin mazhabnya. Sebab jika benar, lalu mengapa Imam Ali as. enggan memberikan baiat untuk Abu Bakar bahkan menentangnya selamma enam bulan, seperti diriwayatkan dalam berbagai riwayat shahih, di antaranya oleh Imam Bukhari?!

Semua itu tidak berdasar, dan hanya kepalsuan belaka!!

Adapan mengaitkan-ngaitkan antara menjadi imam shalat (yang disitilahkan dengan imamah shughrâ) dengan kekhalifahan (yang disitilahkan dengan imamah kubrâ) adalah kesimpulan yang mengada-ngada, dan hanya dilontarkan oleh kaum jahil yang tidak mengerti permasalahan Khilafah/Imamah Kubra dalam teoloqi Islam, khususnya teoloqi Ahlusunnah wal Jama’ah! Sebab:

Pertama: Para ulama Sunni sendiri telah mengakui tidak adanya relevansi antara menjadi imam dalam shalat dan menjabat sebagai Khalifah, sebab ia adalah dua masalah yang sangat berbeda dalam segala seginya termasuk dalam syarat-syarat yang dibutuhkan oleh masing-masing. Ibnu Hazm telah mengakui kenyataan ini, ia berkomentar, “Adapun orang yang mengklaim bahwa Abu Bakar diajukan menjadi Khalifah karena diqiyas karena ia diajukan sebagai imam dalam shalat maka ia adalah batil/salah secara pasti, bâthilun biyaqînin. Sebab tidak setiap yang berhak menjkadi imam dalam shalat ia berhak menjadi Khalifah. Yang berhak menjadi imam dalam shalat adaalah yang paling bagus qira’atnya, walaupun ia seorang ajami (non Arab) ataupun orang Arab, sementara tidak berhak menjabat sebagai Khalifah kecuali seorang dari suku Quraisy. Bagaimana akan diqiayaskan antara keduanya, semantara qiyas itu seluruhnya batil.”[2]

Selain Ibnu Hazm, Syeikh Abu Zuhrah –seorang tohok ulama Azhar- juga menolak prinsip relasi tersebut, ia berkata, “Sebagian dari mereka berkata, ‘Nabi saw. telah merelakan ia menjadi imam dalam urusan akhirat kita (shalat), lalu apakah kita tidak meralakannya menjadi imam dalam urusan dunia kita?!’. Akan tetapi ia memaksa adalah relasi yang tidak berdasar, sebab politik (mengurus) urusan dunia berbeda dengan urusan ibadah. Maka dengan demikian isyarat itu tidaklah jelas mengandung penunjukan. Selain itu, dalam rapat di Saqifah yang di dalamnya terjadi persaingan tidak sehat antara kaum Muhajirin dan Anshar dalam memperebutkan jabatan Khilafah tidak seorang pun berdalil dengan dalil tersebut. Yang jelas mereka tidak meyakini adanya relasi antara imamah shalat dan jabatan kepemimpinan umat Islam (Khalifah/Imamah Kubrâ).”[3]

Kedua: Dalam fikih Ahlusunnah tidak memberi perhatian dalaam kualitas seorang imam dalam shalat, sebab seorang yang fajir sekalipun boleh dan sah menjadi imam shalat sementara makmunya orang-orang shaleh, waliyullah. Para ulama Ahlusunnah berdalil dengan sabda Nabi saw. yang mereka akui keshahihannya, “Shalatlah di belakang seorang yang barr/baik mapun yang fajir/jahat/derjana.” Sebagaimana mereka juga berdalil dengan bermakmumnya para pembesar sahabat di belakang Walîd ibn ‘Uqbah ketika memimpin shalat dalammkeadaan mabok berat di masa ketika ia menjadi gubernur wilayah Kufah di  masa kepemimpinan Khalifah Utsman ibn Affan.

Andai menjadi imam dalam shalat adalah bukti legalitas kekhalifahan seorang pastilah Salim maula Abu Hudzaifah, Amar ibn ‘Âsh dan Abdurrahman ibn ‘Auf lebih berhak menjadi Khalifah sebab mereka pernah memimpin shalat dan di antara yang menajdi makmun adalah Abu Bakar![4] Sementara itu dalam riwayat-riwayat Ahlusunnah Abu Bakar kemudian mundur setelah kedatangan Nabi saw. ke dalam masjid dan menggantikannya menjadi imam shalat![5]

Abu Bakar Tidak Menjadi Imam Dalam Shalat Tersebut!

Seluruh riwayat yang mengisahkan peristiwa tersebut menegaskan bahwa beberapa saat setelah Abu Bakar memimpin shalat, Nabi saw. segera keluar bergegas menuju masjid dengan dipanggul Imam Ali as. dan al Fadhl putra Abbas ra. atau Abas sendiri dalam keadaan sakit parah sehingga kedua kaki suci beliau tidak menginjak ke tanah, kemudian beliau yang memimpin shalat dan menyingkirkan Abu Bakar dari posisinya sebagai imam shalat!

Jadi jika benar Nabi saw. yang memerintah Abu Bakar untuk menjadi imam shalat, mengapakah kemudian beliau memaksa diri bangkit menuju masjid dan menyingkirkan Abu bakar dari posisinya?! Bukankah kebangkitan Nabi saw. menuju masjid dalam keadaan seperti itu ingin menepis anggapan bahwa beliaulah yang memerintahkan Abu Bakar untuk menjadi imam dalam shalat!

 

Sibthu Ibn Jauzi telah menulis sebuah buku untuk membuktikan bahwa Abu Bakar tidak menjadi imam dalam shalat pada kasus  tersebut. Dalam buku tersebut ia menyusun tiga bab, pertama pembuktian bahwa Nabi saw. keluar menuju masjid dan menyingkirkan Abu Bakar, kedua pembuktian adanya ijma dari Abu Hanifa, Malik, Syafi’i dan Ahmad tentang hal tersebut, ketiga, pembuktian kelemahan riwayat yang mengatakan bahwa Abu bakar lah yang menjadi imam dalam shalat tersebut. Dan ia mensifati yang mengatakannya sebagai gedil dan mengikuti hawa nafsu.

Ibnu Hajar al Asqallani –penutup para huffâdz- juga menegaskan bahwa Abu Bakar tidak menjadi imam dalam shalat itu. Ia berkata, “Telah banyak sekali riwayat dari Aisyah dengan tegas menunjukkan bahwa yang menjadi imam dalam shalat tersebut adalah Nabi saw.”[6]

Jadi andai mereka berdalil dengan shalatnya Abu Bakar sebagai bukti keabsahan Khilafahnya, niscaya orang lain dapat berdalil dengan disingkirkannya Abu Bakar dari posisinya sebagai imam shalat adalah isyarat kuat bahwa ia sama sekali tidak memiliki kelayakan untuk menjadi imam shalat apalagi menjadi Khalifah!

Keempat: Bukti-bukti otentik mengatakan bahwa Abu Bakar saat itu termasuk yang diperintah Nabi saw. untuk bergabung dengan tentara di bawah komandan Usamah ibn Zaid. Jadi tidak mungkin Nabi saw. yang memerintah Abu Bakar untuk menjadi imam shalat ketika itu![7]

Kelima: Andai dalil yang mereka banggakan itu shahih dan sempurna sanad dan matan dalam pandangan Ahlusunnah, maka itu masih belum cukup, -seperti sering saya tegaskan- sebab ia hanya diriwayatkan oleh ulama Ahlusunnah sendiri, ulama Syi’ah tidak pernah meriwayatkannya dan tidak pula pernah menshahihkannya… Sementara kebutuhan mereka dalam membela keabsahan Khilafah Abu Bakar adalah dalam menghadapi hujatan ulama Syi’ah, lalu bagaimana dalam mempertahankan dan/atau membuktikannya, mereka (Ahlusunnah) berhujjah dengan dalil sepihak? Bukankah yang demikian itu menyalai etika berdialoq?

 

Al Khulashah

Jadi apa yang sedang mereka banggakan adalah gugur dengan sendirinya. Dan dengan gugurnya dalil-dalil yang mereka banggakan dan mereka andalkan dalam menegakkan keabsahan khilafah Abu Bakar maka runtuhlah pilar mazhab mereka yang mereka tegakkan di atasnya!! Walhandu Lihhahi….

 


[1] Terjemahan hadis di atas oleh ustadz Wahabi bernama Muh. Umar as Sewed adalah salah, sebab kata shawâhib dengan wazan (bentuk kata) fawâ’il menunjukkan perempuan… jadi tidak benar jika diterjemahkan dengan: saudara-saudaranya nabi Yusuf. Akan tetapi yang dimaksud dengannya adalah wanita-wanita yang mengganderungi Nabi Yusuf as. Tapi tak mengapalah kesalahan itu, dan saya tidak akan mengatakan bahwa ia diakibatkan karena sang ustadz pujaan kaum Wahabi itu baru belajar bahasa Arab…. Sebab bisa jadi beliau adalah pakar dalam bahasa Arab, namun kali ini tergelincir… Semoga tidak keseleo atau patah tulang dalam ketergelincirannya kali ini!! Amîn.

[2] Al Fishal Fi al Milal wa an Nihal,4/109.

[3] Tarikh al Madzâhib al Islamiyah:23.

[4]Lebih lanjut baca Shahih Bukhari, Kitabul Ahkâm, Bab Istiqshâul Mawâli wa Isti’mâlihim,9/88, Shahih Muslim, Bab al Mashu ‘ala al Imamah1/230, Musnad Imam Ahmad,4/248, 250 dan 251, Sunan Abu Daud,1/37, Sunan Ibnu Mâjah,1/392, Sunan an Nasa’i, 1/77, Bab Kaifa al Mashu ‘Ala al Imamâh, Sirah Ibn Hisyâm,4/272, Sirah Ibn Katsir,3/513 pada bab peperangan Dzatus Salâsil.

[5] Shahih Bukhari, Bab man Dakhala Liyaummu an Nâsa Fa jâa al Imam fa Yataakhkhara al awal,1/174

[6] Fathu al Bâri,2/123.

[7] Fathu al Bâri,8/124, ath Thabaqât al Kubrâ; Ibnu Sa’ad,4/66, Tarikh al Ya’qûbi,2/77, Tarikh al Khamîs,2/154 dll.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: