Bukti Palsu Khilafah Abu Bakar (1)

Dalil-dalil Tekstual Penunjukan Atas Abu Bakar

Setelah ini, mari kita telaah hadis-hadis/riwayat yang diandalkan oleh Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb sebagai dalil kokoh atas kekhalifahan Abu Bakar dan senjata tangguh dalam mematahkan argumentasi kaum Syi’ah.

 

 

Syeikh berkata:

والأحاديث في صحة خلافة الصدّيق وإجماع الصحابة وجمهور الأمة على الحق أكثر من أن تُحصر ، ومن نسب جمهور أصحابه صلى الله عليه وسلم إلى الفسق والظلم ، وجعل إجتماعهم على الباطل فقد إزدرى بالنبي صلى الله عليه وسلم وإزدراؤه كفر ، ما أضيع صنيع قوم يعتقدون في جمهور النبي صلى الله عليه وسلم الفسق والعصيان والطغيان ، مع أن بديهة العقل تدل على أن الله تعالى لا يختار لصحبة صفيّه ونصرة دينه إلا الأصفياء من خلقه ، والنقل المتواتر يؤيد ذلك – فلو كان في هؤلاء القوم خير لما تكلموا في صحب النبي صلى الله عليه وسلم وأنصار دينه إلا بخير ، لكن الله أشقاهم فخذلهم بالتكلم في أنصار الدين كل ميسر لما خلق له .

“Dan hadis-hadis tentang keabsahan Khilafah ash Shiddîq dan Ijmâ’ para sahabat dan jumhur umat lebih banyak untuk dapat dibatasi. Dan barang siapa menisbatkan kepada mayoritas para sahabat kefasikan dan kezaliman, dan menjadikan kesepakatan mereka atas kebatilan maka telah menghina Nabi saw. dan menghina Nabi adalah kafir. Alangkah sia-sianya perbuatan kaum yang meyakini kefasikan, kemaksiatan dan penentangan pada jumhur/para sahabat Nabi saw., sementara dalil akal menunjukkan bahwa Allah tidak akan memilih untuk bersahabat dengan hamba pilihan-Nya kecuali orang-orang pilihan dari hamba-hamba-Nya. Dan penukilan yang mutawatir mendukung hal itu. Anda ada sedikit kebaikan pada mereka (Syi’ah) pastilah mereka tidak berbicara tentang sahabt-sahabat Nabi saw. dan para pembela agama-Nya kecuali dengan kebaikan. Akan tetapi Allah menyengsarakan dan menghinakan mereka dengan pembicaraan tentang para pembela agama-Nya. Dan setiap individu dimudahlan untuk berbuat sesuai dengan apa yang ia diciptakan untuknya!”

 

Ibnu Jakfari berkata:

Memalingkan pembicaraan dan diskusi dari tema Khilafah kepada pembicaraan tentang sahabat dan tuduhan mengecam dan menghinakan mereka adalah cara licik dan picik. Ia adalah lari dari inti utama permasalahan yang seharusnya dibicarakan secara ilmiah jauh dari provakasi murahan dan mempermainkan emosi dan parasaan semu kaum awam seputar kemuliaan Nabi saw. dan sahabatnya!

Jika demikian adanya, maka tidakkah seharusnya Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb juga mempertimbangkan dan sekaligus mempermasalahkan sikap sebagian sahabat Nabi mulia, utamanya Imam Ali dan keluarganya, Abbas –paman Nabi saw.- dan seluruh anggota keluarganya, seluruh anggota keluarga besar bani Hasyim dan para pengikut setia Imam Ali as., seperti Salman al Farisi, Abu Dzarr, Bilal, Zubair ibn Awwâm, Miqdad dkk. dalam penentangan mereka atas pembaiatan Abu Bakar?!

Al Ya’qûbi dan sekelompok ulama lain melaporkan, “Dan sekelompok dari kaum Muhajirin dan kaum Anshar telah menolak memberikan baiat mereka kepada Abu Bakar, mereka berpihak kepada Ali ibn Abi Thalib, di antara mereka adalah Abbas ibn Abdil Muththalib, Fadhl ibn Abbas, Zubair ibn Awwam, Khalid ibn Sa’id, Miqdad ibn Amr, Salman al Farisi, Abu Darr al Ghiffari, Ammar ibn Yasir, al Barâ’ ibn Âzib dan Ubay ibn Ka’ab… “[1]

Apakah dalam pandangan Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb para sahabat mulia Nabi saw. tersebut telah menghinakan Nabi saw. karena tidak sudi berbagung dengan kelompok Saqifah dan memberikan baiat setia kepada Abu Bakar?!

Apakah Fatimah –putri kesayangan Nabi saw., dan belahan jiwa beliau- yang tidak sudi memberikan baiat setia kepada Abu Bakar itu akan ia hukum sebagai mati Jahiliiah dan kafir karena tidak mengakui Khalifah Abu Bakar?! Bukankah mati tanpa mengenal Imam zamannya itu mati jahiliyah?! Seperti diterangkan dalam banyak hadis.

Apakah para sahabat mulia Nabi saw. yang menentang kekhalifahan Abu Bakar itu semua dalam pandangan Syeikh Aibnu Abdil Wahhâb hidup dalam keadaan jahiliah segera setelah wafat Rasulullah saw., sebab mati seorang itu sesuai dengan hidupnya, mati jahiliah membuktikan bahwa ia hidup jahiliah pula! Dan kelak di hari pembalasan akan dibangkitkan juga dalam keadaan jahiliah, “Seperti kalian hidup, seperti itu pula kalian akan mati, dan seperti kalian mati, seperti itu pula kalian akan dibangkitkan.” Demikian dalam hadis. Mungkinkah orang yang hidup dalam keaadaan jahiliah dan mati dengan model jahilah, ia akan dibangkitkan dalam keadaan fitrah Iislam dan keimanan sejati?!

 

o Hadis Ancaman Mati Jahiliyah atas Yang tidak mengakui Imam/ Khalifah

Banyak sekali hadis yang menegaskan hal tersebut, di antaranya adalah sebagai berikut:

مَنْ مَاتَ وَلَمْ يَعْرِفْ ِامَامَ زَماَنِهِ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيّةً

“Barang siapa mati sedang ia tidak mengenal imam zamannya maka ia mati dalam keadaan jahiliyyah.”[2]

Muslim dalam Shahih-nya pada Kitabul Imârah, bab al Amr bi Luzûmi al Jamâ’ah, dari Ibnu Umar, “Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda:

مَنْ خَلَعَ يَدًا مِنْ طَاعَةٍ لَقِيَ اللهَ يومَ القِيامَةِ لاَ حُجَّةَ لَهُ, وَ مَن ماتَ وَلَيْسَ فِيْ عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَات مِيْتَةً جاهِلِيَّةً.

“Barang siapa melepas tangan dari keta’atan ia berjumpa dengan Allah pada hari kiamat tanpa memiliki bukti, dan barang siapa mati sedang di lehernya tidak ada ikatan bai’at maka ia mati jahiliyah.”

Dan seperti riwayat Muslim juga pada bab yang sama, dan Bukhari dalam bab kedua pada Kitabul Fitan:

مَنْ كَرِهَ مِنْ أَمِيْرِهِ شَيْئًا فَلْيَصْبِرْ عَلَيْهِ , فَإِنَّهُ مَنْ خَرَجَ مِنْ السُّلْطَانِ شِبْرًا مَاتَ مِيْتَةً جَاهلِيِةَ.

“Barang siapa tidak menyukai sesuatu dari Amirnya hendaknya ia bersabar atasnya, kerena barang siapa keluar (memberontak) dari penguasa barang sejengkal ia mati jahiliyah.”

Dan seperti riwayat dari Mu’awiyah dan Ibnu Umar:

من مات بِغَيْرِ إمامٍ مَاتَ مِيْتَةً جَاهلِيِةَ.ً

“Barang siapa mati tanpa imam ia mati jahiliyah.”[3]

Riwayat Muslim juga:

من مات و ليس في عنُقِهِ بيعةٌ مَاتَ مِيْتَةً جَاهلِيِةً.

“Barang siapa mati sedang di atas lehernya tidak ada ikatan baiat maka ia mati jahliah.”[4]

من فَارَقَ الجماعَةَ شِبْرًا، فَمَاتَ، فَمِيْتَةٌ جَاهلِيِةًَّ

“Barang siapa meninggalkan jamâ’ah barang sejengkan saja lalu ia mati maka ia mati jahiliah.”[5]

من خرَج مِن الطاعَةِ وفَارَقَ الجماعَةَ فَمَات مَاتَ مِيْتَةً جَاهلِيِةً.

“Barang siapa keluar dari keta’atan dan memisah diri dari jama’âh lalu ia mati maka ia mati jahiliah.”[6]

Tidak ada jalan melainkan mengakui keshahihan hadis-hadis di atas dan menerima kandungannya, dan tidaklah sempurna islam seorang kecuali dengan pasrah mengimaninya. Tidak seorang pun di antara ulama Islam yang terlintas di dalam benaknya untuk meragukan keshahihannya atau meragukan kandungannya serta menolak konsekuensi darinya. Redaksi hadis-hadis tersebut sangat jelas bahwa nasib buruk akan menjadi bagian bagi siapa pun yang mati tanpa mengakui Imam/Khalifah! Dan bahwa kematian jahiliah adalah status yang akan disematkan ke atasnya!

Maka dengan demikian, mengapakah Ali as. membiarkan istri tercintanya tidak mengakui kekhalifahan Abu Bakar, bahkan menentangnya dengan keras dan tidak mau berbicara dengannya dan dengan Umar hingga wafat menjemput beliau?!

Di sini hanya ada tiga opsi dalam menyikapi sikap penentangan putri tercinta Rasulullah saw. atas Khilafah Abu Bakar:

Pertama, Fatimah jahil akan sebuah masalah mendasar dalam agama ayahnya, sedangkan ia adalah pribadi yang paling pantas mengatahuinya, sementara itu sahabat mu’allaf, jelata dan muda usia dari umat ayahnya, seperti Mu’awiyah telah mengetahuinya dengan baik! Sehingga karena kehajilannya itu, Fatimah, –wal iyâdzu billah– mati menentang Sunnah dan prinsip agama ayahnya!

Kedua, bahwa hadis-hadis tersebut di atas adalah palsu walaupun ia telah diriwayatkan oleh para muhaddis dari kedua puak besar umat Islam yaitu Ahlusunnah dan Syi’ah!

Ketiga, Fatimah as. tidak memandang Abu Bakar sebagai Khalifah yang sah, sehingga bukanlah sebuah kewajiban agama untuk mengakuinya!

Demikian juga opsi ini berlaku untuk sikap Imam Ali as. yang menentang pembaiatan atas Abu Bakar selama enam bulan!

Apakah ada seorang Muslim yang sadar akan agamanya memilih opsi pertama dan mengatakan bahwa Fatimah as. –putri tercinta dan belahan jiwa ayahnya; Rasulullah saw.- dan Imam Ali as., pintu kota ilmu Rasulullah saw. bodoh akan hal tersebut! Tidak mengetahuinya! Lalu siapa yang harus dipersalahkan dalam kejahilan itu? Rasulullah saw. yang teledor dalam menyajarkannya? Atau Ali dan Fatimah yang tidak peduli terhadap ajaran Rasulullah saw…. tidak bersemangat dalam mempelajarinya!!

Sedangkan opsi kedua jelas tidak ada seorang santri Muslim yang jahil sekalipun meragukan keshahihannya, setelah hadis-hadis tersebut memenuhi syarat-syarat keshahihan dan kesepakatan para imam dan pakar hadis untuk mengakuinya dan menerima kandungannya.

Maka di hadapan kita hanya tersisa satu opsi yaitu opsi ketiga! Kekhalifahan yang ditentang oleh putri tercinta Rasulullah dan tidak diakuinya hingga wafat menjemputnya dan ia berjumpa dengan ayahnya di sisi Allah SWT …. Kekhilafahan yang Imam Ali as. membolehkan dirinya untuk menentangnya dan tidak memberikan baiat setia kepadanya walau barang sehari saja apalagi menentangnya selama enam bulan, dan membiarkan istri tercintanya menentangnya hingga wafat, sementara beliau menyadari bahwa siapa yang mati tanpa mengenal imam zamannya dan tidak ada ikatan baiat di atas lehernya maka ia mati jahiliah…. Kekhilafahan seperti itu sudah sepantasnya tidak wajib kita akui legalitasnya!!

Apakah Anda akan membodohi kaum awam dengan mangatakan bahwa Fatimah as. telah memberi restu atas kekhalifahan Abu Bakar?

Lalu apa yang akan Anda perbuat terhadap ratusan riwayat hadis dan laporan sejarah yang menegaskan penentangan Fatimah as. atas Abu Bakar, utamanya yang diriwayatkan Bukahri dan Muslim?[7] Apakah Anda akan menutup-nutupinya? Atau Anda hendak mengatakan bahwa riwayat itu sisipan kaum Syi’ah?!

Sudah sa’atnya para ulama berfikir cerdas, lapang dada, luas wasasannya, obyektif sikapnya, mulia akhlaknya dan tidak terus-menerus mempermaikan akal pikiran kaum awam serta menari-nari di atas puing-puing kejahilan mereka!

Setelah ketarangan ini, saya akan langsung mengajak Anda menyimak hadis-hadis yang disajikan Ibnu Abdil Wahhâb.

(Bersambung)


[1]Tarikh al Ya’qubi,2/114. Baca juga al Mukhtashar Fi Akhbâr al Basyar,1/156 dan Tatimmah al Mukhtashar,1/187.

[2] Hadis di atas dan hadis-hadis mengandung makna serupa dapat Anda jumpai dalam banyak kitab-kitab mu’tabarah para ulama Ahlusunnah, di antaranya:

1. Shahih Bukhari, bab al Fitan,5/13.

2. Shahih Muslim,6/21-22 hadis1849.

3. Musnad Ahmad,2/83, 3/446 dan 4/96.

4. Shahih Ibn Hibbân,6/49 hadis 4554.

5. Al Mu’jam Al Kabir; Ath Thabarâni,10/350 hadis 10687.

6. Al Mustadrak; Al Hakim,1/77.

7. Hilyatul Awliyâ’; Abu Nu’aim,3/224.

8. Jâmi’ Al Ushûl; Ibn Al Atsîr Al Jazari,4/7.

9. Musnad Ath Thayâlisi:259.

10. Al Kuna wa Al Alqâb,2/3.

11. Sunan Al Baihaqi,8/156 dan 157.

12. Al Mabshûth; As Sarakhsi,1/113.

13. Syarah Nahj Al Balaghah; Ibn Abi Al Hadid,9/155.

14. Syarah Muslim; An Nawawi,12/44.

15. Talkhîs Al Mustadrak; Adz Dzahabi,1/77 dan177.

16. Tafsir Ibn Katsir,1/517.

17. Syarh Al Maqâshid,2/275.

18. Majma’ az Zawâid,5/218,219,223 dan312.

19. Kanz Al Ummâl,3/200.

20. Taisîr Al Wushûl,2/39

21. dll.

[3] Abu Daud ath Thayalisi dalam Musnad-nya:259 dari Ibnu Umar dan Majma’ az Zawâid,5/ 218 dari Mu’awiyah.

[4] Muslim Kitabul Imârah,4/126 hadis ke 58.

[5] Ibid. hadis ke 55.

[6] Ibid. hadis 53.

[7] Baca berbagai kitab hadis, di antaranya Shahih Bukhari pada Kitabul Maghâzi, bab Ghazwah Khaibar,3/38 dan Shahih Muslim, Kitabul Jihâd wa Sair,2/72.

Comments
One Response to “Bukti Palsu Khilafah Abu Bakar (1)”
  1. Koto says:

    Salam saudaraku, terima kasih atas pandangannya.
    Ali and abu Bakar berselisih masalah khalifah. Jadi siapa sebenarnya khalifah ?. Ali menuntuk, karena dia merasa itu adalah hak beliau yang telah dirampas oleh Abu bakar. Ada dua hal dalam perkara ini :
    1. Jika, tuntutan Ali benar, jadi semua yang membela Abu Bakar adalah kafir (berdasarkan hujah anda), karena mereka mati tanpa imam yang benar.
    2. Jika Abu Bakar benar, jadi Fathimah adalah kafir. Ini tidak mungkin, dalam banyak hadist dan ayat Al Qur’an, banyak kelebihan dan sanjungan terhadap Ali dan Fathimah (lihat sendiri). Dan dalam perdebatan antara mereka, Abu bakar mengakui kebenaran Ali dan Fathimah.

    Kesimpulan:
    1.KEBENARAN ada pada Ali dan Fathimah.
    2.Kita HARUS MENEGAKKAN kebenaran walaupun Abu bakar dll adalah sahabat Rasulullah SAW, tetapi kita TIDAK BOLEH menghina dan mencaci.
    3. Semuanya hanya Allah Yang Tahu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: