Al Kulaini, al Kâfi Dan Tahrîf Al Qur’an

Di antara isu yang menggelinding bersama dengan maraknya tuduhan tahrîf Al Qur’an atas Syi’ah  adalah tuduhan bahwa Tsiqatul Islam al Kulain (rahmatullah ‘alaih) meyakini adanya Tahrîf pada Al Qur’an.

Para penulis Wahhâbi, seperti Ihsân Ilâhi Dzahîr, Ahmad Mâlullah, Abdurrahman az Zar’i dll. dan segaian kawan-kawan Ahlusunnah yan terinfeksi “virus Wahabisme” begitu bersemangat menyuarakan tuduhan itu.

Asal muasal tuduhan itu diambil dari segelintir ulama Syi’ah dari kelompok al Akhbâriyyûn.[1]

Syeikh Ni’matullah al Jazâiri (salah seorang tokoh kelompok al Akhbâriyyûn) dan juga Syeikh Nuri ath Thabarsi (salah seorang tokoh kelompok al Akhbâriyyûn dan pengagum berat al Jazâiri) mengklaim bahwa al Kulaini adalah di antara ulama Syi’ah yang meyakini adanya Tahrîf !

Munculnya klaim adanya Tahrîf di kalangan kelompok al Akhbâriyyûn ini diprakarsai oleh Syeikh Ni’matullah al Jazâiri (1050-1112 H) kemudian direspon oleh Syeikh Nuri (1254-1320 H) dalam kitab Fashlu al Khithâb.

Tahrîr Mahalli an Nizâ’

Demi terarahnya pembahasan dan diskusi tentang masalah apapun yang hendak dibicarakan, adalah sebuah kewajiban bagi setiap pengkaji untuk menetapkan tema yang handak dibahas, agar pembahasan tidak melenceng dan keluar dari jalur dan tema sesungguhnya. Itulah yang disebut oleh para ulama dengan tahrîr mahalli an nizâ /memastikan tema apa yang sedang dipersengkatakan.

Dalam masalah kita ini, kita harus menetapkan terlebih dahulu apa yang kita maksud dengan tahrîf? Agar menjadi jelas apa yang sedang kita maksud dengan kata tersebut, sebab bisa jadi ia memiliki beberapa asumsi makna.

Dalam hal ini, secara ringkas, ingin saya katakan bahwa kata tahrîf dapat difahami dalam dua makna:

1- Tahrîf Ma’nawi.

2- Tahrîf Lafdzi.

Yang dimaksud dengan tahrîf ma’nawi ialah penafsiran dan pemaknaan yang keliru terhadap ayat-ayat Al Qur’an yang menyimpang dari makna sebenarnya.

Tentu, tahrîf dalam pengertian ini benar-benar telah dialami oleh Al Qur’an! Betapa banyak penafsiran yang menyimpang dari makna sebenarnya yang dimaukan Allah SWT. Dzat Pemfirmannya.

Jadi tahrîf dengan makna ini tidaklah termasuk yang diperselisihkan, sehingga untuk sementara ini tidak perlu diperpanjang pembicaraan tentanggnya.

Adapun yang dimaksud dengan tahrîf lafdzi ialah perubahan yang dialamai oleh Al Qur’an, dalam bentuk terjadinya penambahan, atau pengurangan atau perubahan pada satu atau dua kata dalam sebuah ayat Al Qur’an atau perubahan pada penempatan letak surah-surahnya.

Tahrîf lafdzi yang diperselisihkan ialah terkait dengan terjadinya pengurangan sebagian ayat, perubahan i’râb kata atau perubahan para kata atau teks ayat, bukan pada adanya penambahan, sebab telah disepakati oleh semua pihak bahwa Al Qur’an terjaga dari penambahan.

Maka dengan demikian kita telah mengetahui apa yan dimaksud dengan tahrîf! Dan ketika ada seorang ulama atau satu golongan dituduh meyakini tahrîf maka yang dimaksud adalah tahrîf dengan makna ini bukan makna yang lainnya.

Klaim bahwa al Kulaini meyakini tahrîf juga harus dimaknai dengan makna ini. Akan tetapi sebelumnya perlu diperhatikan bahwa, selain klaim ini bertentangan dengan:

A)   Kenyataan bahwa keyakinan tidak terjadinya Tahrîf adalah pendapat para pembesar Syi’ah yang mewakili pendapat resmi Mazhab (sebagaimana ditegaskan para tokoh Syi’ah, seperti Syeikh Shadûq, Syeikh Mufîd, Sayyid al Murtadha, Syeikh ath Thâifah ath Thûsi dll) sejak  masa silam dan keyakinan adanya Tahrîf adalah keyakinan kaum syudzdzâdz, hal mana meyakinkan kita bahwa andai benar Tsiqatul Islam al Kulaini meyakini adanya tahrîf Al Qur’an pastilah pendapat beliau dipertimbangkan dan tidak mungkin para tokoh itu menegaskan bahwa pendapat resmi Mazhab adalah tidak adanya tahrîf dan “barang siapa menisbahkan kepada kami (Syi’ah) bahwa kami meyakini Al Qur’an semestinya lebih dari ini maka ia bohong” dan lain sebagainya.

B)    Penegasan adanya ijmâ’ dari tokoh-tokoh Thâifah (Mazhab), seperti yang ditegaskan oleh Syeikh Ja’far Kâsyif al Ghithâ’, hal nama menguatkan dugaan bahwa al Kulaini termasuk yang menolak keyakinan adanya Tahrîf , sebab, andai tidak, pastilah mereka tidak mengklaim adanya ijmâ’ tersebut, sedangkan mereka mengakui keagungan dan ketokohan al Kulaini dalam mazhab.

Selain itu, kita perlu memperhatikan dasar-dasar klaim tersebut, dari siapa pun keluarnya klaim itu.

Untuk membuktikan kevalidan klaim bahwa para tokoh Syi’ah (di antaranya adalah al Kulaini) meyakini tahrîf Al Qur’an, diperlukan empat mukaddimah pasti, jika tidak terpenuhi maka ia adalah sekedar klaim yang tidak dapat diterima.

Pertama, Bahwa penulis kitab itu telah menyatakan dengan tegas dan menetapkan atas dirinya untuk tidak akan memasukkan sebuah hadis dalam kitabnya kecuali hadis shahih.

Kedua, Hadis yang disinyalir menunjukkan Tahrîf itu harus tegas maknanya sekira tidak dapat dita’wil atau dimaknai lain berdasar bukti-bukti aqliah dan naqliah selain makna Tahrîf .

Ketiga, Tidak adanya mu’âridh (nash yang menentangnya) yang dapat dijadikan pemaling makna dan atau status hadis.

Keempat, Bahwa penulis itu meyakini hujjiyah khabar wâhid (hadis selain mutawâtir).

Apabila keempat mukaddimah di atas terpenuhi maka kita berhak menisbahkan pendapat adanya Tahrîf kepada si penulis buku tersebut, jika belum terpenuhi maka kita belum berhak menisbahkannya.

Setelah itu, mari kita lakukan penelitian atas klaim bahwa al Kulaini termasuk yang meyakini Tahrîf  Al Qur’an, apa bukti yang mereka ajukan? Dan apakah bukti-bukti itu telah memenuhi keempat unsur di atas?

Dari apa yang disebutkan, baik oleh Syeikh Ni’matullah al Jazâiri, al Faidh al Kâsyâni, Syeikh Nuri, dan yang kemudian dinukil oleh sebaian penulis Wahhabi ketika mereka membicarakan masalah ini, di antara mereka adalah Ihsân Ilâhi Dzahîr dalam kitab Asy Syi’ah wa al Qur’an dan Muhammad Mâlullah dalam asy Syi’ah wa Tahrîf  al Qur’an, kita hanya akan menemukan tiga alasan:

1)     Al Kuliani meriwayatkan banyak (?) hadis tentang Tahrîf .

2)     Al Kulaini menshahihkannya/tidak mencacatnya.

3)     Al Kulaini tidak menyebutkan hadis yang menentangnya.

v     Menukil Hadis Tidak Membuktikan Kayakinan Penukilnya

Adalah sebuah kesalahan dan bahkan mungkin kecurangan ketika kita menisbahkan kepada sekelompok ulama sebuah keyakinan/pendapat yang tidak pernah mereka nyatakan sendiri, melainkan berdasarkan sebuah atau beberapa hadis yang mereka nukil. Dan seperti telah berulang saya sebutkan bahwa menukilan sebuah riwayat tidak membuktikan keyakinan penukilnya, semala ia tidak menetapkan bahwa apa yang ia nukil itu shahih.

Dan demikianlah dasar penisbahan kayakinan adanya Tahrîf kepada para pembesar ulama Syi’ah, seperti al Kulaini, Ali ibn Ibrahim al Qummi dan al Ayyâsyi misalnya. Mereka menisbahkannya karena para tokoh itu meriwayatkan.

Apabila logika seperti ini yang dijadikan dasar penisbahan, maka tidaklah keliru jika ada yang mengatakan Imam Bukhari termasuk yang meyakini tahrîf, sebab ia telah meriwayatkan banyak hadis yang menunjukkan terjadinya tahrîf Al Qur’an!

o       Apakah al Kulaini Meyakini Keshahihan Seluru Hadis al Kâfi?

Salah satu yang menjadi dasar penisbahan kayakinan Tahrîf kepada al Kulaini adalah anggapan bahwa beliau telah menetapkan bahwa seluruh hadis yang beliau koleksi dalam kitab al Kâfi-nya adalah shahih dan benar-benar disabdakan oleh para imam Ahlulbait as.

Akan tetapi, penisbahan itu tidak benar, karena ia dibangun di atas dasar mukaddimah yang tidak benar pula, sebab:

A)   Al Kulaini tidak terbukti pernah menegaskan keshahihan seluruh hadis al Kâfi.

B)    Bahkan terdapat bukti bahwa beliau tidak memastikan keshahihan seluruh hadis al Kâfi.

Untuk membuktikan hal ini, kita dapat merujuk mukaddimah al Kâfi yang beliau tulis.

Perhatikan apa yang beliau katakana:

إعلم يا أخي –أرشدك الله- أنَه لا يسع أحدًا تمييز شيئ مِمَا اختلف الرواية فيه عن العلماء (عليهم السلام) برَأيِه إلاَ على ما أطلقه العالمُ (عليه السلام) بقوله: أعرضوها على كتاب الله، فما وافق كتاب الله فخذوه، و ما خالف كتاب الله فردُوه. وقوله(عليه السلام): دعوا ما وافق القومَ فَإِنَّ الرشد في خلافهم. و قوله: خذوا بالمُجمع عليه، فإِنَّ المُجمع عليه لا ريبَ فيه. و نحن لا نعرف من جميع ذلك إلاَّ أقلَّه، و لا نجد شيئا أحوط ولا أوسع من رد علم ذلك كُله إلى العالم (عليه السلام)، و قبول ما وسع من الأمر فيه بقوله(عليه السلام): بِأَيِّهما أخَذْتم من باب التسليم وَسِعَكم.

Ketahuilah wahai saudaraku, sesungguhnya tidaklah luas/boleh bagi seorang membedakan dengan pendapatnya sendiri sesuatu yang datang dari para imam as. berupa riwayat-riwayat yang berselisih, kecuali didasarkan atas apa yang disabdakan al ‘âlim (imam) as.: ‘Sodorkan riwayat-riwayat itu kepada Kitabullah (Al Qur’an) apa yang sesuai, ambillah dan yang menyalahi Kitabullah, tinggalkan!’ Dan sabda beliau as.: ‘Selisihi kaum itu (pengikut para  penguasa) karena kebenaran berada pada menyelisihi mereka.’ Dan sabda beliau as.: ‘Ambillah yang disepakati, sebab yang disepakati itu tidak mengandung keraguan.’ Dan kami tidak mengetahui dari semua itu melainkan sebagian kecil, dan kami tidak mendapatkan sesuatu yang lebih berhati-hati dan lebih luas dari mengembalikan semua itu kepada imam as., dan menerima perkara itu berdasarkan sabda beliau: ‘Maka dengan yang mana dari riwayat-riwayat itu kalian mengambilnya sebagai bukti kepatuhan itu boleh. ’

Beliau juga mengatakan dalam jawaban atas seorang yang meminta kepada beliau agar berkenan menulis sebuah kitab hadis yang merangkum semua cabang ilmu agama:

و قد يسَّر اللهُ – و له الحمد- تأليفَ سَأَلتَ، وأرجو أن يكون بحيث توَخَّيت.       و مهما كان فيه من تقصير فلم تقصر نِيَّتُنَا فِي إهداء النصيحة.

“Dan Allah telah memudahkan penulisan apa yang enkau minta, dan saya berharap ia sesuai seperti yang engkau harap. Dan betapa pun di dalamnya terdapat taqshîr/ketelodoran maka niatan baik kami untuk memberi nasihat tidaklah teledor.”[2]

Dalam kalimat mukaddimah di atas tidak terdapat kalimat yang dapat dijadikan bukti bahwa beliau menshahihkan seluruh hadis yang beliau koleksi dalam kitab al Kâfi yang beliau karang itu. Sebab apabila beliau meyakini keshahihan seluruh hadis al Kâfi, tentu beliau tidak akan menyebut-nyebut kaidah tarjîh hadis yang dibangun oleh para imam Ahlulbait as. dalam menyikapi riwayat-riwayat yang muta’âridhah (saling bertentangan) yaitu dengan menyodorkannya kepada Al Qur’an, dan mengambil hadis yang mujma’ ‘alaihi (disepakati).

Di samping itu kata-kata beliau (RH), “Dan kami tidak mengetahui dari semua itu melainkan sebagian kecil… , adalah bukti bahwa beliau tidak berani mamastikan datangnya seluruh hadis-hadis dalam kitabnya itu dari para imam as.

Dan andai kita mengatakaan bahwa seluruh hadis dalam al Kaîf telah diyakini keshahihannya oleh al Kulaini sendiri, maka hal ini belum cukup bukti untuk menuduh beliau meyakini Tahrîf , sebab penshahihan hadis tidak meniscayakan bahwa ia menerima petunjuk dan kandungan hadis tersebut.

Kenyataan ini dapat dibuktikan dengan, antara lain,  Syeikh al Kulaini dalam al Kâfi-nya meriwayatkan hadis yang mengatakan bahwa yang disembelih oleh Nabi Ibrahim as. adalah Ishaq, bukan Ismail. Sementara dalam hadis lain beliau meriwayatkan bahwa yang disembelih itu adalah Ismail bukan Ishaq.

Al Kulaini berkata, “Telah disebutkan dari Abu Bashîr bahwa ia mendengar Imam Abu Ja’far dan Imam Abu Abdillah as. mengatakan bahwa yang disembelih adalah Ishaq. Adapun Zurarah ia mengatakan bahwa ia adalah Ismail.”[3]

Lalu apakah kita mengatakan bahwa seluruh hadis di atas shahih dalam pandangan al Kulaini? Dan apabila ia shahih (dalam arti wutsûq/percaya akan datangnya dari para imam as.), apakah kita dapat memastikan bahwa beliau meyakini kandungannya bahwa Ishaq-lah yang disembelih oleh Ibrahim as.? Jika jawabnya, ya, lalu apa yang harus beliau perbuat dengan hadis-hadis lain yang mengatakan bahwa yang disembelih itu adalah Ismail? Atau kita akan mengatakan bahwa al Kulaini termasuk dari mereka yang tidak memastikan siapa dari kedua putra Ibrahim itu yan disembelih? Bukankah yang demikian itu bukti bahwa beliau tidak memastikan keshahihahn seluruh hadis al Kâfi?!

Jadi dengan demikian dapat dibuktikan bahwa anggapan/tuduhan bahwa al Kulaini meyakini Tahrîf  Al Qur’an dengan dasar alasan bahwa beliau meriwayatkannya dan berdasar karena beliau meyakini keshahihan seluruh riwayat al Kâfi adalah belum memenuhi bukti dan tidak berdasar!

o       Al Kulaini Meriwyatkan Hadis Yang Menolak Tahrîf

Anggap hadis-hadis yang diriwayatkan al Kulaini menunjukkan makna tahrîf dengan arti yang dipersengkatakan, akan tetapi hadis-hadis itu bertentangan dengan banyak hadis lain yang juga diriwayatkan oleh beliau dalam al Kâfi-nya. Dalam kitab al Kâfi, al Kulaini telah meriwayatkan banyak hadis yang membuktikan bahwa Al Qur’an yang beredar di kalangan umat adalah lengkap, dan terjaga dari pengurangan.

Hadis-hadis itu tersebar di berbagai bab yang beliau tulis, di antaranya pada bab Keutamaan pengemban Al Qur’an, Sesiapa yang belajar Al Qur’an dengan susah payah, Sesiapa yang menghafal Al Qur’an kemudian ia lupa, Pahala membaca Al Qur’an, Membaca Al Qur’an dengan melihat dalam mush-haf, Rumah-rumah yan dibaca di dalamnya Al Qur’an. Hadis-hadis tersebut jauh lebih kuat, lebih banyak dan lebih jelas petunjuknya.

Maka dengan demikian, berdasarkan kaidah tarjîh yang ditetapkan sendiri oleh al Kulaini maka apabila ada dua hadis yang saling bertentangan dan tidak dapat diharmoniskan dengan pemaknaan yang tepat, maka kaduanya harus disodorkan kepada Al Qur’an, yang sesuai dengannya kita ambil dan yang bertentangan harus dibuang!

Di bawah ini akan saya sebutkan sebagian darinya.

Al Kulaini meriwayatkan dari Al Fadhl ibn Yasâr dari Imam Ja’far as. beliau bersabda, “Rasulullah saw. bersabda:

تَعَلَّمُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ صَاحِبَهُ فِي صُورَةِ شَابٍّ جَمِيلٍ شَاحِبِ اللَّوْنِ فَيَقُولُ لَهُ أَنَا الْقُرْآنُ الَّذِي كُنْتُ أَسْهَرْتُ لَيْلَكَ وَ أَظْمَأْتُ هَوَاجِرَكَ وَ أَجْفَفْتُ رِيقَكَ وَ أَسْبَلْتُ دَمْعَتَكَ إِلَى أَنْ قَالَ فَأَبْشِرْ فَيُؤْتَى بِتَاجٍ فَيُوضَعُ عَلَى رَأْسِهِ وَ يُعْطَى الأَمَانَ بِيَمِينِهِ وَ الْخُلْدَ فِي الْجِنَانِ بِيَسَارِهِ وَ يُكْسَى حُلَّتَيْنِ ثُمَّ يُقَالُ لَهُ اقْرَأْ وَ ارْقَهْ فَكُلَّمَا قَرَأَ آيَةً صَعِدَ دَرَجَةً وَ يُكْسَى أَبَوَاهُ حُلَّتَيْنِ إِنْ كَانَا مُؤْمِنَيْنِ ثُمَّ يُقَالُ لَهُمَا هَذَا لِمَا عَلَّمْتُمَاهُ الْقُرْآنَ .

“Pelajarilah Alqur’an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat menjumpai temannya (yang mempelajarinya) dengan bentuk seorang pemuda tampan yang pucat, ia berkata, ”Akulah Alqur’an yangmembuatmu tidak tidur malam, membuatmu haus di siang hari, membuat kering kerongkonganmu, dan membuat air matamu bercucuran…Maka bergembiralah! Lalu didatangkan untuknya mahkota dan diletakkan di atas kepalanya, ia diberi keamaanan dengan tangan kanannya dan kekekalan dengan tangan kirinya, dan dipakaikan untuknya dua baju indah, kemudian dikatakan kepadanya, ’Baca dan naiklah!’ Maka setiap kali ia membaca satu ayat ia naik satu dejarat. Dan kedua orang tuanya jika mereka mukmin akan diberi dua baju, kemudian dikatakan kepada keduanya, ‘Inilah balasan kalian mengajarinya Alqur’an.’”[4]

Al Kulaini meriwayatkan dari Imam Ja’far as., beliau bersabda:

الْحَافِظُ لِلْقُرْآنِ الْعَامِلُ بِهِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ.

“Orang yang menghafal Alqur’an dan mengamalkannya ia bersama malaikat yang mulia.”

Dan dengan jalur yang sama Al Kulaini meriwayatkan dari Imam Ja’far as. beliau bersabda:

إِنَّ الَّذِي يُعَالِجُ الْقُرْآنَ وَ يَحْفَظُهُ بِمَشَقَّةٍ مِنْهُ وَ قِلَّةِ حِفْظٍ لَهُ أَجْرَانِ

“Sesungguhnya orang selalu membaca dan menghafal Alqur’an dengan susah dan berat akan mendapat dua kali lipat pahala.”

o       Klasifikasi Hadis-hadis Tahrîf Dalam al Kâfi

Pokok riwayat al Kulaini yang secara dzahir disinyalir menunjukkan tahrîf Al Qur’an dapat diklasifikasikan dalam dua kelompok:

Pertama, Perbedaan bacaan para imam as. dengan bacaan yang berlaku umum.

Kedua, yang menunjukkan gugurnya nama-nama para imam as. dan semisalnya.

Kelompok pertama tentunya keluar dari bahasan kita, sebab ia tidak termasuk bagian tahrîf yang diperselisihkan.

Kelompok kedua, -angggap saja shahih seluruh jalurnya- ia dapat digolongkan sebagai ta’wil dan tafsir yang disampaikan para imam Ahlulbait as., ia adaalah bagian dari tanzîl seperti telah dibahas sebelumnya.

Selain dua kelompok di atas, kita tidak akan menemukan hadis yang menunjukkan tahrîf kecuali hadis yang menyebut bahwa jumlah ayat Al Qur’an adalah 7000 atau 17000 ayat, seperti telah dijelaskan sebelumnya. Jadi adalah sangat tidak berdasar jika ada yang mengatakan bahwa al Kulaini telah banyak meriwayatkan hadis tahrîf dalam al Kâfi-nya.

(Bersambung)


[1] Al Akhbariyyûn adalah sebuah aliran pemikiran dalam mazhab Syi’ah yang menyebal dari kelompok mayoritas yang selalu mendominasi mazhab Syi’ah. Di antara pandangan kelompok Al Akhbariyyûn ini adalah pandangannya bahwa seluruh hadis dalam al Kutub al Arba’ah (Empat Kitan Hadis Standar Syi’ah; al Kâfi, Man  Lâ yahdhuru al Faqîh, al Istibshâr dan at Tahdzîb) adalah shahih, persis seperti pandangan Ahlusunnah terhadap Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. Kelompok ini mendapat penentangan keras dari pemuka Syi’ah sejak awal kemunculannya dan mendapat kritikan tajam dari paara pemikir dan ulama besar Syi’ah mayoritas (al Ushûliyyûn).

[2] Mukaddikah Ushûl al Kâfi,1/7.

[3] Al Kâfi,4/205-206.

[4] Al Wasâil,2/834, bab 7 hadis 1.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: