Benarkah Syiah Meyakini Tahrif Quran? [ 2 ]

DUGAAN TAHRIF DALAM HADIST SYI’AH

Salah satu teknik Ustad FAO untuk menghujat Syi’ah – yang juga lazim digunakan oleh musuh – musuh dan para pembenci Syi’ah – ialah mengutip riwayat – riwayat Syi’ah dari kitab – kitab Syi’ah lalu menafsirkan riwayat tersebut seenaknya untuk menghantam Syi’ah, tanpa memperdulikan pendapat ulama Syi’ah tentang status dan penafsiran riwayat tersebut. Kita akan melihat bagaimana teknik ini digunakan oleh Ustad FAO  dalam kasus tahrif Al Qur’an.
Ustad FAO dalam makalahnya ( halaman 6 ) di bawah subjudul Pokok Pokok Penyimpangan Syi’ah Secara Umum, Ustad FAO menulis ( item no.3 ) : “ Syiah meyakini bahwa Al Qur’an sekarang ini telah dirubah ……. dst…….dst…… Karena itu mereka meyakini bahwa : Abu Abdillah as. ( Imam Syi’ah ) berkata : “Al Qur’an yang dibawa oleh Jibril as kepada Nabi Muhammad SAW adalah tujuh belas ribu ayat “. Pada catatan kaki, beliau mengutip riwayat ini dari kitab Al Kafi, Juz II, halaman 18.
Pernyataan seperti ini juga beliau sampaikan dalam acara Kajian Malam / Aqidah di Radio Dakta pada hari Selasa / 23 maret 2010, jam 21.45. Berikut transkripsinya.
………sehingga karenanya ajaran Syi’ah ini jelas mengandung penyimpangan dalam tauhidnya… belum lagi yang lainnya ya…yang ada mereka meyakini ada Qur’an lain yang jumlahnya dan itu diriwayatkan oleh kitab Ushul Kafi, kitab rujukan utama Syi’ah yaitu yang menyebutkan ayat – ayat di dalam Al Qur’an.. yang sebenarnya itu … menurut …………, Imam Syi’ah Abu Ja’far …Abu Abdillah Ja’far As Shodiq… yang dinukil oleh Al Kulaini di dalam Ushul Kafi juz 2 itu menyebutkan 17 ribu ayat, sementara Al Qur’an kita 6 ribu sekian ayat…. Sementara Al Qur’an menurut ajaran Syi’ah itu 17 ribu ayat.. berarti ada penambahan …ada penambahan yang tidak ada … nah ini keyakinan ada pada mereka …..makanya tauhid mereka ini rusak banget ……

Disinilah letak kesalahan fatal Ustad FAO. Coba perhatikan.
Hadis yang beliau sampaikan itu secara lengkap berbunyi :

“ Sesungguhnya Al Qur’an yang dibawa Jibril AS kepada ( Nabi ) Muhammad SAW adalah 17 ribu ayat ”
Memang benar, hadis di atas diriwayatkan Syeikh al Kulaini (RH) dalam Kitab Al Kâfi pada Kitabu Fadhli Al Qur’an, Bab An Nawâdir. Namun, yang luput dari perhatian Ustad FAU ialah kenyataan bahwa hadis di atas adalah hadis Âhâd (bukan mutawâtir) yang tidak akan pernah ditemukan di bagian lain di dalam kitab Al Kâfi maupun kitab-kitab hadis Syi’ah lainnya dengan sanad di atas.
For your information, Ustad. Bahwa al Kulaini (RH) memasukkan hadis di atas dalam Bab An Nawâdir. Dan, tahukah anda apa yang kami maksudkan dengan An Nawadir , Ustad ?. Seperti disebutkan Syeikh Mufîd bahwa para ulama Syi’ah telah menetapkan bahwa hadis-hadis nawâdir adalah tidak dapat dijadikan pijakan dalam amalan, sebagaimana istilah nadir ( bentuk tunggal kata Nawâdir) sama dengan istilah Syâdz. Dan para Imam Syi’ah AS. telah memberikan sebuah kaidah dalam menimbang sebuah riwayat yaitu hadis syâdz harus ditinggalkan dan kita harus kembali kepada yang disepakati al Mujma’ ‘Alaih.

Imam Ja’far as. bersabda:

يَنْظُرُ إلَى ما كان مِن رِوَايَتِهِم عَناّ فِي ذلك الذي حَكَمَا بِه الْمُجْمَع عليه مِن أصحابِك فَيُؤْخَذُ بِه من حُكْمِنَا وَ يُتْرَكُ الشَّاذُّ الذي ليْسَ بِمَشْهُوْرٍ عند أصحابِكَ، فإنَّ الْمُجْمَعَ عليه لاَ رَيْبَ فيه.

َ“Perhatikan apa yang di riwayatkan oleh mereka dari kami yang jadi dasar keputusan mereka. Diantara riwayat riwayat itu, apa yang disepakati oleh sahabat-sahabatmu, ambillah ! . Adapun riwayat yang syâdz dan tidak masyhur di antara sahabat-sahabatmu tinggalkanlah !. Karena riwayat yang sudah disepakati itu tidak mengandung keraguan ” ( HR. Al Kâfi, Kitab Fadhli Al ‘Ilmi, Bab Ikhtilâf Al Hadîts, hadis no. 10 )

Sementara hadis di atas tidak meraih kemasyhuran dari sisi dijadikannya dasar amalan dan fatwa, tidak juga dari sisi berbilangnya jalur periwayatannya. Ia sebuah riwayat Syâdz Nâdirah dan bertentangan dengan ijmâ’ mazhab seperti yang dinukil dari para tokoh terkemukan Syi’ah di antaranya Syeikh Shadûq, Syeikh Mufîd, Sayyid al Murtadha ‘Almul Hudâ, Syeikh ath Thûsi, Allamah al Hilli, Syeikh ath Thabarsi dll.
Hadis di atas tidak memenuhi syarat-syarat diterimanya sebuah riwayat dan kaidah-kaidah pemilahan antara hadis shahih dan selainnya yang telah ditetapkan Syeikh Al Kulaini sendiri dalam Al Kâfi.
Pendek kata, hadis tersebut – menurut ulama Syi’ah – berstatus syadz ( meragukan ) dan ditolak untuk diamalkan atau dijadikan pegangan , karena itu tidak pernah dijadikan dasar amalan dan keyakinan Syi’ah. Jadi, Ustad FAO secara semena – mena telah memaksa Syi’ah untuk meyakini tahrif Al Qur’an berdasarkan hadis yang sebetulnya tidak  dijadikan pegangan oleh orang – orang Syi’ah. Ustad FAO tidak  mau perduli dengan pendapat ulama Syi’ah tentang status dan tafsir hadis itu.  Pokoknya, Syi’ah harus percaya tahrif Qur’an. Titik. Lalu, kami kami akan bertanya : dimanakah letak amanah dan keadilan anda,ya Ustad ?.

Bersambung ……………………………

Comments
One Response to “Benarkah Syiah Meyakini Tahrif Quran? [ 2 ]”
  1. Soe Hendra says:

    dalam alquran manusia diciptakan pertama dari apa….dan didalam rahim dari setetes mani…jadi darah..tulang…dan daging…???? betullllll…………..
    ada sungai dibawah laut? betullllllll…di meksiko……….
    kitab2 yg ditulis dengan tangan mereka sendiri..??? betull…sudah banyak injil yang berlainann..
    apakah ada ayat alquran mengarah ke kejahatan?
    jika manusia mengikuti alquran..tentulah damai sejahtera bumi ini…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: